
Masih dihari yang sama. Silmi nampak cantik ketika selesai didandani dan dirias pengantin. Hawa dan Anum selalu setia mendampingi.
Nisa sudah tersenyum melihat putrinya kini terlihat begitu cantik, matanya sudah berkaca-kaca, rasanya baru kemarin ia menggendong Silmi, kini putrinya itu sudah mau menikah.
Zahira pun datang bersama Erika dan Aisyah sambil menggendong Yura, kebetulan Silmi masih di rumahnya, karena rombongannya Faris masih dalam perjalanan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Zahira sudah menatap Silmi dari atas hingga bawah.
"Silmi, riasan mu begitu bagus dan sempurna, gaun pengantin mu juga begitu elegan, terlihat bau bau mahal. Tapi kenapa ya, ko kalau dilihat lihat masih cantikan aku sih. Terkadang aku suka heran sendiri deh, ko kecantikan ku itu gak hilang hilang ya" tutur Zahira. Semua sudah mengernyit heran, bahkan Silmi sudah cemberut.
"Tante Selebor kumat" ( Hawa).
"Terjadi pergeseran otak sebelah kanan" (Anum).
"Tante Ira ge'er nya KE BA NGE TAN" (Silmi).
Aisyah sudah mencubit pinggang adik iparnya itu.
"Kalau mau kumat itu lihat lihat sikon. Kalau mau menyanjung nyanjung diri sendiri cukup didepan cermin saja" gerutu Aisyah. Zahira sudah cemberut. Si trio kwek-kwek malah tertawa.
"Sirik tanda tak mampu. Kak Aisyah iri" gerutu Zahira.
Tiba tiba ustadz Usman menghampiri karena ingin melihat putrinya berdandan pengantin.
"Masya Allah Mimi sayang cantik pake banget. Gak salah, bibit unggulnya kebanyakan dari Abi hingga putriku ini terlihat seperti bidadari surga" tutur ustadz Usman. Nisa sudah mengernyit ingin memprotes.
"Apa maksudnya Bi, kalau bibit unggulnya kebanyakan dari Abi. Abi cuma 35%, selebihnya punya Umi" protes Nisa. Ustadz Usman sudah garuk garuk kepala.
"Sssttthhh, gak usah ribut rebutan siapa yang paling mirip. Mau miripnya 35%/65%, atau 50%/50%, mau mirip Uminya atau mirip Abi nya tidak ada masalah, yang masalah itu jika si Silmi dibilang mirip si Yuyu tersayang, baru itu namanya masalah besar" tutur Zahira.
"Eh Selebor apa maksudnya si Mimi mirip si Yusuf?" tanya ustadz Usman.
"Ya siapa tau pas Tante Nisa hamil si Mimi, om ustadz ngefans sama suamiku" jawab Zahira.
"Idiiih"
__ADS_1
Tidak lama kemudian datanglah Yudi dan Yuda yang kini sudah berdiri dihalaman rumah yang sudah banyak para tamu dan kerabat yang ingin menyambut dan menyaksikan pernikahan Silmi.
"Assalamualaikum. Ustadz Usman kita mau laporan" Yuda memberitahukan.
"Waalaikumussalam"
Ustadz Usman pun mendekati si kembar. Dilihatnya Yudi dan Yuda nampak kelelahan.
"Bagaimana kerjaan kalian?" tanya ustadz Usman.
"Alhamdulillah beres ustadz. Kita sudah keliling Indonesia. Jawa barat, Bali, Nusa tenggara barat, timur, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, pokoknya tidak ada yang terlewatkan" tutur Yudi.
"Yang bener, ko cepet banget beresnya. Itu kartu undangan gak dibuang sebagian kan?"
"Beneran ustadz, kita gak bohong. Kita mampir di Jakarta ke rumahnya si NILA GUSNA. Kita juga mampir ke Jambi ke rumahnya FITRIA MSP, kita disuguhi jamur sawit yang uenaknya pake pooool. Kita juga ke Purbalingga ke rumahnya si YANTI. terus belok lagi ke Kebumen ke rumahnya si SYIFA ASYAFIYAH N. Lalu ke Semarang ke rumahnya si EKA. Bahkan kita pergi ke candi Borobudur karena sudah ditunggu mba SARJIYATUN 92, ya udah kita piknik sekalian. Para reader udah nyiapin daun pandan buat kondangan, bahkan si AFRA TADAYANG AMAK udah nyiapin baju warna pink buat kondangan, amazing kan. Si NENG AMIRA aja udah nyiapin tape ketan di CIREBON KUNINGAN, mantap kan" tutur Yudi.
"Kita juga pergi ke Karawang ke rumahnya si author, baru saja ngasih kartu undangan, eh udah disuruh pulang lagi, katanya jangan lama lama, dianya lagi sibuk, bulan madunya belum selesai. Ya udah kita terpaksa pulang, untung di Karawang masih ada reader yang lain, kita mampir ke rumahnya kak Rosesyta (bibu), katanya dia udah nyiapin beras satu karung buat kondangan, kebetulan katanya baru panen" tutur Yuda.
"Bilangin sama si Author, kalau sampai dia gak datang ke pernikahan si Mimi sayang, ustadz Usman sama penghuni pesantren mogok SYU TING" tutur ustadz Usman.
Ustadz Usman pun memberikan beberapa lembar uang sebagai bonus untuk si kembar.
"Alhamdulillah. Terima kasih banyak ustadz Usman. Semoga acaranya lancar, terutama acara mengheningkan cipta yang 12 hari 3 jam, semoga sukses" tutur Yudi.
"Ya sudah, kalian boleh berjaga kembali"
"Siap ustadz Usman"
Yudi dan Yuda pun berjalan menuju pos sekuriti.
"Alhamdulillah ya Yud, kita dapat bonus. Mungkin ustadz Usman membobol uang gepokan yang ada di bawah tempat tidurnya"
"Gara gara mba Silmi nikah kita jadi keliling Indonesia ya. Kereeeeeen"
* * * * * * *
Rombongan Faris pun datang, sekitar ada 8 mobil yang datang, hanya beberapa keluarga, dan sahabat. Karena yang lainnya akan datang diresepsi yang akan diadakan Faris di kota Y, resepsi Silmi terlalu mendadak hingga belum ada persiapan untuk beberapa kenalannya Faris.
Musik pengiring pengantin pun terdengar menggema saat rombongan Faris berjalan menuju rumahnya Silmi. Penyambutan penyambutan pun begitu meriah. Hingga tiba saatnya ijab qobul yang diadakan di masjid besar pesantren.
__ADS_1
Silmi sudah duduk berdampingan dengan Nisa dan Umi Salamah, tak lupa juga dengan Aisyah dan Sarah. Anum, Hawa dan Syifa sudah ada dibelakangnya Silmi, mereka nampak bahagia karena sahabatnya itu mau menikah.
Zahira, Anisa dan Erika ikut berbahagia.
"Kenapa kita duduknya dibelakang sih, kan gak begitu jelas lihatnya" protes Zahira.
"Sssttthhh, gak usah macam macam. Kau itu biangnya rusuh, kalau kau duduk paling depan, nanti kau dikira pengantin perempuannya, belum lagi nanti si Yura bikin heboh dengan kalimat keramatnya, entar penghulunya migren duluan" gerutu Erika.
Faris terlihat gagah dan tampan, jangan ditanya lagi bagaimana pesonanya saat itu karena putrinya ustadz Usman pun sudah klepek klepek.
Faris tersenyum melihat Silmi nampak cantik dengan riasan pengantinnya, Silmi hanya menunduk malu, tidak bisa dibohongi kalau dirinya nampak terpesona melihat ketampanan putranya pak Edi itu.
Acara demi acara telah dilewati kini Faris sudah menjabat tangannya ustadz Usman. Ustadz Usman pun mengucapkan ijab dengan lantang semangat 45. Setelah selesai barulah kini giliran Faris, meskipun dengan sedikit gugup namun masih bisa diatasi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sholehah Silmi Kaffah binti Usman Ibrahim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" (Faris).
"Bagaimana sah?"
Saksi pun mengucapkan sah.
"SAH"
"SAH"
"SAH"
"SAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHH"
ustadz Usman berteriak karena merasa senang dan bahagia putri tercintanya itu sudah sah menjadi istrinya Faris.
"PUTRIKU SUDAH MENIKAAAAAHH" (ustadz Usman).
"Ma na hong" (Yura).
"Alhamdulillah"
Semua sudah berdo'a.
Silmi nampak bahagia karena dia resmi menjadi istrinya Faris.
__ADS_1