SILMI

SILMI
Pertemuan


__ADS_3

Sekitar dua Minggu lebih setelah meninggalnya pak Edi. Bu Santi pun mengabarkan kalau dirinya dan Faris akan datang berkunjung, lebih tepatnya berkenalan dengan Silmi. Tentu saja ustadz Usman dan Nisa nampak senang mendengarnya, dan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Faris. Tak lupa juga ustadz Usman memberitahu Fadil kalau Faris akan datang.


"Waah kita harus siap siap nih, sebentar lagi titisannya almarhum Junaedi akan datang kesini. Nis, siapkan cemilan yang enak. Dan kau Silmi, bersikaplah yang manis ya sayang. Bukan cuma kau yang harus klepek klepek kalau bertemu Faris, tapi Faris pun harus berguling guling saat melihatmu" tutur ustadz Usman. Nisa dan Silmi langsung mengernyit.


"Ngapain si Faris guling gulingan?, kurang kerjaan dia" ucap Nisa.


"Terpesona maksudnya. Kalau si Edi punya istilah klepek klepek, aku punya istilah guling guling" ucap ustadz Usman. Silmi hanya diam saja, namun otaknya sudah mulai berencana.


"Aku harus meminta Anum dan Hawa untuk menyusun rencana. Pokoknya Om Faris itu harus menolaku saat pertama kali kita bertemu" batin Silmi.


"Bi, aku ke rumahnya Hawa dulu ya, ada perlu" izin Silmi.


"Kau mau kemana Mimi, nanti akan ada Tante Santi sama putranya kemari, kau jangan pergi" pinta ustadz Usman.


"Sebentar saja Bi. Lagi pula kan kota Z itu lumayan jauh, jadi gak akan sampai dengan waktu yang singkat"


"Ya sudah, tapi jangan lama lama ya Mi, kalau Tante Santi dan Faris sudah datang kau harus sudah ada di rumah" pinta ustadz Usman.


"Iya Abi"


Setelah berpamitan Silmi pun langsung pergi. Silmi sudah menghubungi Hawa dan Anum untuk bertemu di tepi perkebunan dengan membawa beberapa barang.


Tidak lama kemudian datanglah Anum dan Hawa, tak lupa Anum membawa putranya Hasbi. Hawa sudah membawa dasternya Dewi, sementara Anum sudah membawa beberapa alat alat make up yang ia pinjam dari Yusuf, tentunya punya Zahira karena tantenya itu punya banyak alat makeup yang komplit, maklum saja Zahira itu hobbynya godain suami.


"Kalian sudah membawa barang barang yang ku minta?" tanya Silmi. Hawa dan Anum mengangguk.


"Sudah, aku sudah pinjam dasternya Tante Dewi, sedikit Basah Karena aku baru ngambil dari jemuran" ucap Hawa.


"Aku juga sudah bawa alat alat makeup punya Tante Ira, tapi aku izinnya sama Om Yusuf, Tante Ira nya lagi gak ada" ucap Anum.


"Kau cari masalah Num, kalau Tante Ira tau dia bisa ngamuk" ucap Hawa.


"Itukan kalau Tante Ira nya tau, kalau gak tau kan aman. Aku sudah kong kalikong sama Om Yusuf, jadi tenang saja, aman" tegas Anum.


"Dandanin aku sesuai yang aku minta ya, buat wajahku jadi sejelek mungkin biar Om Faris tidak suka dan langsung pergi dari sini" pinta Silmi.


"Siap Silmi, itumah urusan gampang. Kalau soal membuat wajah jelek jadi cantik, itu sudah jelas kami tidak bisa, tapi kalau soal membuat wajah cantik jadi jelek sudah pasti itumah gampil, kecil" tutur Anum. Silmi sudah tersenyum senyum.


"Ayo mulai, buat aku sejelek mungkin ya, jangan lupa giginya di itemin biar kelihatan ompong" pinta Silmi.


Anum sudah menaruh Hasbi ke pangkuannya Silmi, ia dan Hawa mulai berkutat menghancurkan kecantikannya Silmi dengan memberinya makeup secara amburadul.


Setelah selesai. Hawa dan Anum sudah berdiri menatap Silmi yang kini sudah menggunakan dasternya Dewi dengan make-up serba hancur.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Silmi sambil berputar putar. Anum dan Hawa langsung tersenyum getir, lalu mengacungkan jempol.


"Dijamin si Faris langsung kabur"


Anum dan Hawa sudah saling berbisik.


"Si Silmi udah kaya orang orangan sawah, masih cantikan ondel ondel dari pada dia, mukanya ancur begitu. Kalau si Faris sampai tidak kabur, itu artinya si Faris luar biasa pake banget" bisik Silmi.


"Hmmm"


"Sil coba kau nyengir" pinta Hawa. Silmi pun cengengesan sambil memperlihatkan giginya yang hitam.


"Ikh ngeriiii" ucap Anum dan Hawa.


Tiba tiba ponsel Silmi berbunyi, dilihatnya Yuda menghubunginya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam. Mba Silmi, ada mobil mewah masuk gerbang, sepertinya itu orang yang mba Silmi maksud" ucap Yuda memberitahu.


"Ok Om Yuda, terus pantau ya"


"Siap"


Sebelumnya Silmi sudah meminta Yuda untuk memberitahunya jika ada tamu datang dari jauh menggunakan mobil mewah.


"Om Faris sudah datang" Silmi memberitahu Anum dan Hawa.


"Siap. Rolling action"


Anum dan Hawa sudah menunggu dijalan yang menuju rumahnya Silmi. Ketika mobil mewah itu lewat, seketika Anum dan Hawa langsung menghentikan nya. Mobil mewah yang berhenti itu mempunyai kaca berwarna hitam pekat hingga Anum dan Hawa tidak bisa melihat siapa saja yang berada di mobil itu.


Ketika seorang lelaki yang duduk didepan itu keluar, mata Anum dan Hawa langsung membulat.


"Astaghfirullah alazim, mirip Tante Dewi banget" bisik Hawa.

__ADS_1


Lelaki bertubuh gemuk itu menghampiri Anum dan Hawa.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


"Boleh saya tanya sesuatu?" ucap laki laki berjas hitam yang kini menghampirinya.


"Tentu"


"Ustadz Usman sama keluarganya ada di rumah ?" tanya laki laki itu dengan ramah. Anum langsung berbisik pada Hawa.


"Tuh kan dia nanyain ustadz Usman, pasti mau ketemu si Silmi"


Hawa mengangguk ngangguk.


"Tentu saja ustadz Usman dan keluarganya ada di rumah. Tapi sebelum Om ke rumahnya ustadz Usman, orang yang Om cari sedang menunggu ditepi perkebunan. Sebaiknya Om temui dulu, biar jelas masalahnya" tutur Anum. Lelaki itu pun terdiam mengernyit lalu mengangguk setuju. Sebelum pergi mengikuti Anum dan Hawa, lelaki itu sempat kembali masuk ke dalam mobil dan berbicara sesuatu pada orang yang ada di dalam. Setelah keluar lagi dari mobil, lelaki itu mendekati Anum dan Silmi lalu mengikuti mereka dari belakang, tentunya masih menjaga jarak. namun mobil itu melaju pergi menuju rumahnya ustadz Usman.


Anum dan Hawa kembali saling berbisik.


"Mereka kalau bertemu pasti langsung pada pingsan. Yang satu pingsan gara gara syok melihat lelaki yang akan dijodohkan ya berbadan besar, dan yang satu pingsan gara gara ngeri melihat penampilan Silmi yang hancur dan mengerikan" bisik Anum.


"Dan kita pasti akan dihukum kalau ketahuan pakde Usman yang mau membantu Silmi memblokade pertemuan antara Silmi dan Faris" ucap Hawa.


Setelah sampai ditepi perkebunan, Silmi sudah terlihat berdiri membelakangi.


"Itu orang yang Om cari" tunjuk Anum pada Silmi.


"Siapa dia?" tanya lelaki itu.


"Silmi putrinya ustadz Usman"


Saat Silmi berbalik sambil tersenyum hingga memperlihatkan gigi hitamnya, seketika itu pula lelaki berbadan gemuk itu syok hingga hampir meloncat melihat penampilan Silmi yang mengerikan.


"Astaghfirullah alazim"


Anum dan Hawa sudah menunduk menahan tawanya melihat reaksinya lelaki itu.


"Gak salah ini putrinya ustadz Usman yang katanya cantik seperti bidadari, tapi kenapa terlihat mengerikan di mataku, apa aku terlalu banyak dosa hingga tidak bisa melihat perempuan cantik" batin lelaki itu.


"Assalamualaikum, senang berkenalan denganmu" ucap Silmi sambil tersenyum senyum. Lelaki itu langsung bergidik ngeri.


"Hai, aku Silmi. Nama lengkap ku Sholehah Silmi Kaffah. Biasa dipanggil Silmi. Hobby ku dandan, kebiasaan ku suka kentut sembarangan, suka ngupil juga, kadang matanya suka kedip kedip gak jelas, kalau kata orang tua jaman dulu mah cacingan" tutur Silmi. Lelaki itu sudah tersenyum getir.


"Ini Om Edi sebelum meninggal matanya kelilipan kali ya, katanya putrinya ustadz Usman itu cantik jelita, ko kaya orang orangan sawah begini, aku gak yakin si Faris naksir perempuan aneh ini" batin si Lelaki.


"Bagaimana Om aku cantik gak?" tanya Silmi. Lelaki itu sudah menelan ludahnya dengan kasar.


"Cantik, cantik BANGET" jawab lelaki itu bohong.


"Kalau bohong itu dosa loh, nanti bisa masuk neraka" ucap Hawa.


"Aku tanya Om, melihat penampilan ku seperti ini, apa Om masih mau menikah denganku?" tanya Silmi. Lelaki itu langsung mengernyit lalu menggeleng dengan hentakan keras. Silmi, Anum dan Hawa langsung tertawa.


"Tidak mau?" tanya Silmi meyakinkan.


Lelaki itu mengangguk ngangguk membuat Silmi semakin senang.


"Yakin tidak mau?" tanya Silmi kembali.


"Yakin BANGET"


"Anum, Hawa kita berhasil, si Om Faris gak mau menikahiku. Yes yes yes" batin Silmi senang bukan main.


"Aku mana berani menikahimu Silmi, bisa bisa aku diamuk si Faris" ucap lelaki itu. Si trio kwek-kwek langsung mengernyit.


"Kau bukan Faris?????"


Lelaki itu menggeleng.


"Aku Radit, keponakannya Om Edi, sepupunya Faris" jawab Radit si lelaki gemuk itu. Mata Silmi, Anum dan Hawa langsung membulat.


"Jadi kau beneran bukan Faris????" tanya si trio kwek-kwek. Radit kembali menggeleng. Silmi langsung menyipitkan matanya menatap Anum dan Hawa.


"Anum, Hawa, kenapa kalian membawa sepupunya Om Faris. Aku kan menyuruh kalian untuk membawa Om Faris kesini" gerutu Silmi.


"Mana kita tau kalau dia itu bukan Faris. Bukannya kau yang bilang kalau Faris itu mirip Om Edi. Ini Om Radit mirip Om Edi" tutur Anum.


"Kenapa aku sama Faris dipanggil Om, kita kan masih muda" protes Radit.

__ADS_1


"Aduh si Anum sama si Hawa bikin malu deh, pake salah orang segala" batin Silmi.


"Asal kalian tau saja ya, Faris itu badannya tidak gemuk, badannya bagus, mukanya pun ganteng. Nah tuh orang nya kesini" tunjuk Radit pada Faris yang sedang berjalan mendekati.


Mata Silmi, Anum dan Hawa nampak membelalak. Faris terlihat tampan dengan setelan jas kekinian. Benar kata pak Edi, pesona putranya itu bikin klepek-klepek.


"Masya Allah. Silmi, Om Faris ganteng pake banget"


Anum dan Hawa sudah menunduk untuk menjaga pandangan. Hawa sudah menutup matanya Silmi.


"Jaga pandangan Silmi"


Tak bisa dibohongi, Silmi sempat terpesona, namun ego nya setinggi langit hingga kembali pokus pada berondong.


"Astaghfirullah alazim Silmi. Tetap pokus pada berondong. BRONDONG BERONDONG BERONDONG" batin Silmi.


Faris pun mendekati mereka.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


Silmi masih menunduk dan tidak mau menatap Faris yang kini berdiri dihadapannya. Anum dan Hawa sudah saling lirik.


"Duh kalau aku jadi si Silmi, pasti sudah malu banget. Dihadapan lelaki ganteng malah berdandan super jelek" batin Anum.


"Silmi, sekarang kau pasti menyesal dunia akhirat" batin Hawa.


Faris pun tersenyum melihat Silmi yang masih menunduk dengan penampilan yang seperti itu.


"Kau Silmi?" tanya Faris.


"Hmmm"


Silmi menjawab dengan sedikit ketus.


"Aku tidak menyangka kalau putrinya ustadz Usman secantik ini" ucap Faris sambil tersenyum. Silmi langsung mengernyit sementara Anum, Hawa dan Radit langsung menganga.


"Ternyata penyakit matanya Om Faris belum sembuh. Dia masih katarak, atau sepertinya rabun ayam" batin Silmi.


"Matamu gak bermasalah kan?" tanya Silmi.


"Alhamdulillah mataku sehat" jawab Faris.


"Matanya sehat, berarti jiwanya yang sakit" batin Silmi heran.


"Bagaimana pun penampilanmu, bagiku kau terlihat cantik. Karena aku tidak melihat penampilan mu, tapi aku melihat isi hatimu" ucap Faris sambil tersenyum senyum. Silmi masih dengan gengsinya yang meluap luap.


"Massa???"


"Hmmm"


"Aku ini jutek, judes, galak, jorok, hobbyku kentut sama ngupil. Aku tanya, setelah melihat penampilan ku seperti ini, tau hobby dan kebiasaan ku, apa kau akan tetap memilih ku sebagai calon istrimu?" tanya Silmi. Faris tersenyum.


"Tentu saja, aku akan tetap memilih mu sebagai calon istriku. Aku suka penampilanmu, aku suka gayamu, aku suka sifat judes mu, aku juga suka semua hobby mu. Penolakan mu bagiku tantangan. Dan bagiku kau sangat istimewa" ucap Faris yang kini berjalan pulang menuju rumah ustadz Usman diikuti oleh Radit. Silmi hanya bengong sambil menganga, tak menyangka kalau Faris akan bersikap seperti itu.


Faris menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Silmi.


"Aku tunggu di rumahmu, kita belum berkenalan secara pribadi, dari hati ke hati" ucap Faris yang kini kembali berjalan meninggalkan tempat itu.


Si trio kwek-kwek masih belum percaya dengan apa yang terjadi.


"Silmi, penampilanmu yang seperti ini saja dia bilang cantik. Kayanya kalau kambing di bedakin pun dia akan bilang cantik" ucap Anum.


Tiba tiba datanglah Fadil yang sedari tadi mencari cari Silmi.


"Mimi, Mimi, sedari tadi kakak mencarimu. Itu keluarga nya si Faris sudah menunggumu di rumah" ucap Fadil mendekati. Namun saat melihat penampilan adiknya seperti itu, Fadil langsung terkejut.


"Astaghfirullah alazim Mimi, kenapa kau berpenampilan menyeramkan seperti ini. ko bisa gigimu hitam begitu?" ucap Fadil heran. Silmi sudah cemberut. Anum dan Hawa sudah mundur takut diomeli. Fadil langsung menarik tangan Silmi untuk pulang.


" Kenapa kau berpenampilan seperti Tante Suketi begini. Abi sama Umi kalau lihat penampilanmu pasti langsung pingsan. Apalagi si Faris, dia pasti syok melihat calon istrinya seperti ini" ucap Fadil sambil berjalan pulang menarik Silmi.


"Syok bagaimana. Om Faris malah bilang aku cantik dengan penampilan seperti ini. Kayanya penyakit matanya belum sembuh deh"


Fadil pun terdiam lalu menghentikan langkahnya. Dan tiba-tiba pula Fadil tertawa.


"Ha ha ha, tentu saja dia bilang cantik. Tadi si Faris sempat ke rumah dan melihat Poto mu didinding rumah" ucap Fadil memberitahu. Silmi langsung menganga hingga akhirnya menggeram.


"Me nye bal kan"

__ADS_1


__ADS_2