SILMI

SILMI
Kado


__ADS_3

Masih dihari yang sama. Resepsi pun usai dilaksanakan hanya saja tinggal acara mengheningkan cipta yang akan diadakan 12 hari 3 jam di rumah dan sekitaran rumahnya ustadz Usman. Mengheningkan cipta itu bertujuan agar bulan madu putrinya tidak ada yang mengganggu.


Untuk 12 hari 3 jam kedepan siapapun yang lewat rumahnya ustadz Usman diharapkan tidak mengeluarkan suara agar Silmi dan Faris tidak terganggu.


Setelah selesai mengerjakan shalat isya, Silmi dan Faris berkumpul di ruang keluarga bersama ustadz Usman, Nisa, Fadil, Syifa dan Bilkis.


"Alhamdulillah ya, acara pernikahan dan acara resepsi nya lancar bin mulus" ucap ustadz Usman.


"Selesai hajatan kita mendadak punya kebun ya Bi. Banyak yang kondangan isinya daun pandan" ucap Fadil. Faris hanya mengernyit.


"Kenapa banyak orang kondangan pake daun pandan?, apa daun pandan itu mempunyai nilai yang sangat tinggi di dunia perbisnisan atau dunia perdapuran?" tanya Faris yang belum mengerti.


"Om Faris gak usah kepo, daun pandan itu gak ada hubungannya sama dunia perbisnisan, apalagi dunia saham saham" ucap Silmi.


"Mimi, akukan sudah bilang jangan panggil aku Om. Panggil aku Faris sayang, ingat ya pake Sayang S A sa Y A yaNG Sayang, itu wajib" tegas Faris. Silmi pun mengangguk ngangguk.


Tiba tiba Nisa membawa satu piring kue bolu sebagai pelengkap ngopi mereka.


"Cemilannya datang, ayo Faris silahkan dicoba ini buatan umi sama Syifa" ucap Nisa menawari.


"Iya makasih umi"


Faris pun mengambil satu potong kue bolu dan langsung memakannya, tiba tiba ia tersendat keselek hingga terbatuk.


"Uhuk uhuk oho oho"


Semua sudah saling lirik, Silmi sudah mendekati.


"Mas Faris kenapa?" tanya Silmi khawatir.


Faris sudah menjawab, hingga ia hanya menunjuk nunjuk tenggorokannya. Sementara Fadil dan ustadz Usman sudah saling lirik.


"Kode itu Bi kode" bisik Fadil yang curiga pada adik iparnya. Ustadz Usman pun mengangguk ngangguk.


"Iya itu kode buat alasan biar segera masuk kamar" jawab ustadz Usman sambil berbisik pula.


Silmi sudah nampak khawatir.


"Mas Faris kenapa?" Silmi sudah mengusap ngusap pundak suaminya itu.


"Sepertinya si Faris sangat menyukai kue nya" pikir Syifa.


"Hi hi hi hi" (Bilkis).


"Tenggorokan ku Mimi, uhuk uhuk" Faris kembali terbatuk batuk membuat Silmi semakin khawatir.


"Ternyata adik iparku itu bukan hanya jago berbisnis, tapi dia juga jago acting. To the poin saja kalau mau ngajak si Mimi ke kamar" batin Fadil.


"Mas Faris keselek kue bolu?" tanya Silmi. Faris pun mengangguk ngangguk hingga Silmi langsung memberikan satu gelas air putih, saat itu pula Faris langsung meneguknya.


"Mimi sayang, cepetan ajak suamimu ke kamar, kayanya putranya pak Edi ini sudah tidak sabar buka segel" ucap ustadz Usman.


"Mimi, suamimu itu ngasih kode, kau jangan terlalu khawatir begitu, harusnya kau itu peka kalau si Faris sudah gak sabar ngajakin ke kamar" tutur Fadil.


Silmi sudah mengernyit hingga ia menepuk pundak kakaknya.


"Kak Fadil ini ngomong apaan sih, suamiku ini keselek kue bolu, bukannya ngasih kode" gerutu Silmi.


Fadil dan ustadz Usman langsung khawatir.

__ADS_1


"Jadi si Faris ini keselek kue bolu???, astaghfirullah alazim, perlu di impus gak?" tanya ustadz Usman ikut khawatir.


"Mas Faris gak apa apa?" tanya Silmi.


"Aku gak apa apa Mimi"


"Mimi, cepat ajak suamimu istirahat di kamar, lama lama dia bisa senewen dengan sikap Abi dan kakakmu" ucap Nisa. Silmi pun mengangguk dan langsung mengajak Faris ke kamar.


Diluar rumah, tepatnya dijalan samping rumah ustadz Usman yang nampak begitu sepi, lewatlah Zahira, Yusuf dan juga Yura yang baru pulang dari rumahnya Aisyah.


Zahira sudah mengernyit mendengar keributan di rumahnya ustadz Usman.


"Katanya di suruh mengheningkan cipta selama 12 hari 3 jam, ini di rumahnya sendiri terdengar keributan. Dasar om ustadz" gerutu Zahira.


"Biarkan saja Ira" ucap Yusuf.


"Aku rada kesel kak, para tetangga sama yang lewat depan rumahnya di suruh mengheningkan cipta, keluarganya sendiri malah heboh. Kan aku jadinya pengen bersuara" tutur Zahira.


"Bersuara apa?"


Zahira langsung berteriak sekencang kencangnya.


"AUUUUOOOO UOOOOOOOOO" (Zahira).


Keluarganya ustadz Usman yang mendengar pun langsung terdiam.


"Umi itu suara apaan???"


"Suaranya aku kaya gak kenal, tapi kalau liriknya kaya lirik si TARZAN" ucap Syifa.


"Masa iya ada Tarzan datang kemari mau kondangan"


"Dasar si Selebor, orang orang pada mengheningkan cipta, dia malah Auuuuuooo uooooo" gerutu ustadz Usman.


Sementara dengan Silmi yang kini sudah masuk kamar bersama Faris.


"Istirahat dulu mas" pinta Silmi.


Dilihatnya ada satu kotak besar berisi amplop.


"Apa itu Mimi?" tanya Faris.


"Itu amplop kondangan, kita buka yu" pinta Silmi. Faris malah melarangnya.


"Nanti saja, kita buka yang lain dulu" Faris sudah memeluk Silmi dalam pangkuannya hingga Silmi tersenyum malu.


"Mas tidak apa-apa tidur di rumahku yang tidak mewah seperti rumahmu?" tanya Silmi.


"Kenapa memangnya?, aku baik baik saja tinggal disini" Faris mulai mengelus pipi istrinya itu hingga Silmi tertawa geli.


"Mas, geli"


Tiba tiba Silmi terdiam melihat kado dari Zahira, hingga membuatnya kepo setengah mati.


"Aku buka dulu ya kado dari Tante Zahira, penasaran pake banget" Silmi sudah berdiri namun Faris malah menarik tangannya.


"Besok saja bukanya" pinta Faris.


"Tapi aku penasaran mas, takutnya isinya itu anak kucing, kalau dibukanya besok, bisa mati anak kucingnya"

__ADS_1


Faris langsung mengernyit.


"Masa iya sih isi kadonya anak kucing, emang Tante Zahira itu bekerja di ragunan ya???" batin Faris.


"Boleh ya mas, cuma sebentar" Silmi memohon. Faris pun mengangguk dan melepaskan tangannya Silmi.


Setelah mengambil kado dari atas meja, Silmi kembali duduk bersama Faris disisi ranjang.


"Apa isinya?" tanya Faris.


"Gak tau, masih misteri" jawab Silmi yang kembali menggoyang goyangkan kado itu ke dekat telinganya.


"Jangan digoyang goyangkan begitu, kalau benar itu isinya anak kucing, bisa bisa dia geger otak" goda Faris yang tangannya mulai memeluk Silmi kembali serta dagunya ditaruh dipundaknya Silmi.


Perlahan Silmi pun membuka kado itu, dilihatnya isinya sebuah kalender ajaib. Silmi sudah menganga, sementara Faris sudah mengernyit.



"Kalender ajaib!!!!!!"


"Kalender????. Hadiah pernikahan cuma sebuah kalender???. Kalo cuma sebuah kalender doang sih aku punya percetakan sendiri" ucap Faris.


"Ini bukan sebuah kalender biasa mas. Ini yang cetak Tante Ira sendiri. Lihat saja harinya cuma Jum'at semua, anehkan"


Faris pun mulai memperhatikan kalender itu, ia kembali mengernyit.


"Ini kalender jaman kapan???, apa Tante Zahira nyetak kalendernya pada zaman batu???" ucap Faris yang mulai berpikir dan menaruh curiga.


"Katanya sih ini kalender khusus pengantin baru" Silmi memberitahu tapi ia sendiri belum mengerti. Lagi lagi Faris mengernyit.


"Apa hubungannya???. Sebentar aku hubungi si Bayu biar dia menyelidiki asal usul kalender ini, takutnya ini kalender bertujuan untuk memporak porandakan saham perusahaan" tutur Faris yang mulai menghubungi Bayu, sementara Silmi sudah menghubungi Hawa.


"Assalamualaikum Hawa"


"Waalaikumsalam. Kenapa Silmi?"


"Wa, kau ngerti nggak dengan kalender ajaib yang dibuat Tante Zahira?" tanya Silmi.


"Aku gak ngerti Sil, coba kau hubungi si Anum, sepertinya dia mengerti"


Seketika itu pula Silmi langsung menghubungi Anum.


"Assalamualaikum Num"


"Waalaikum salam, kenapa Silmi. Kau mau menyuruhku nonton malam pertama mu ya" goda Anum, Silmi langsung mengernyit.


"Apaan. Aku cuma mau tanya soal kalender ajaib yang dibuat Tante Ira, kebetulan dia ngasih kado kalender, tapi aku belum mengerti apa maksudnya"


Mendengar kalender ajaib, wajahnya Anum mendadak merah karena malu.


"Jelaskan ya Num. Aku kepo, bahkan mas Faris mau menghubungi sekertaris nya, takutnya kalender itu bertujuan untuk memporak porandakan saham perusahaan" tutur Silmi. Anum malah tertawa.


"Sini aku bisikin"


Anum pun membisikan sesuatu pada Silmi dibalik telepon.


"$&@?*^π¢£€×[✓}{°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°"


Silmi langsung menganga, hingga ia mengambil kalender itu dan menyembunyikannya di lemari.

__ADS_1


__ADS_2