SILMI

SILMI
Kesepakatan


__ADS_3

Pagi pagi sekali Silmi, Fadil, dan Syifa serta Bilkis sudah bersiap untuk pergi berlibur ke pantai. Syifa dan Fadil sudah menggunakan kacamata hitam, takut kepanasan di pantai.


"Mimi, ayo buruan" ucap Fadil yang kini sudah menggendong Bilkis.


Silmi pun mendekati.


"Siapa yang kecetit kak?" tanya Silmi hingga Fadil langsung mengernyit.


"Dateng dateng ko malah nanya siapa yang kecetit" ucap Fadil heran.


"Ya itu kalian berdua pada pake kaca mata hitam kaya tukang pijet. He he bercanda" Silmi sudah tertawa kecil. Fadil dan Syifa sudah mengerucutkan bibirnya. Yuda pun datang mendekati.


"Mas Fadil, mobilnya sudah siap, ayo kita cus ke pantai" ucap Yuda.


"Siap Om Yuda"


"Horeeee kita ke pantai" teriak Silmi dan Syifa merasa senang karena selama ini mereka hanya bisa melihat perkebunan.


Setelah semua masuk ke dalam mobil, Yuda pun melajukan mobilnya setelah mereka berdo'a terlebih dahulu. Namun baru saja keluar gerbang rumah, mobilnya tiba tiba ban nya kempes.


"Kenapa Om Yuda?" tanya Fadil.


"Sepertinya bannya kempes mas"


Silmi dan Syifa langsung mengernyit lalu mengerucutkan bibirnya. Hingga akhirnya mereka turun terlebih dahulu dari mobil. Dilihatnya ban belakang kempes.


"Ban belakang nya kempes mas"


Yuda, Silmi dan Fadil langsung menatap Syifa.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu. Jangan bilang kalau kalian menyalahkan ku atas kempesnya ban mobil. Sungguh aku TER LE NA" gerutu Syifa.


"Nggak ko semok sayang. Mungkin ini sudah takdir. Tapi bukan TER LE NA, tapi TER SING GUNG"


"Massa"


"Sebentar ya, ban mobilnya mau diganti dulu" ucap Yuda. Namun tiba tiba mobil Faris keluar gerbang rumahnya dan berhenti dibelakang mobilnya Fadil.


Seer seeer seer.


Bayu sekertaris Faris sudah membunyikan klakson. Silmi langsung menyipitkan matanya. Faris pun turun dari mobil.


"Mobil orang kaya suara klakson nya see ser ser, udah kaya perasaan yang lagi jatuh cinta, deg deg ser" batin Yuda.


"Assalamualaikum, selamat pagi" sapa Faris.


"Waalaikumussalam. Pagi juga Faris" Fadil sudah ikut menyapa dengan ramah, namun Silmi hanya diam saja, menjawab salam pun hanya terdengar samar-samar.


"Mobilnya kenapa kak?" tanya Faris.


"Mobilnya mendadak kempes, padahal kita mau pergi ke pantai" jawab Fadil.


"Kalau kalian mau, kalian boleh ko menumpang di mobilku" Faris menawarkan. Baru saja Fadil mau menjawab bersedia, namun Silmi malah langsung menolak.


"Tidak terima kasih, lebih baik kita jalan saja, dari sini ke pantai kan tidak begitu jauh" tolak Silmi.


"Silmi, meskipun tidak begitu jauh tapi kalau jalan itu berasa capek" protes Syifa.


"Nggak apa apa kak Syifa, itung itung kak Syifa bakar lemak, siapa tau bisa langsing" ucap Silmi kembali.


"Hei Mimi, kau lupa dengan ancaman ibu mertuaku. Kalau kakak iparmu ini pulang pulang berat badannya turun sudah pasti ibu Dewi ngamuk padaku" tutur Fadil.

__ADS_1


"Mba Silmi juga jangan kecapean, karena kalau terjadi apa apa dengan mba Silmi, ustadz Usman bisa marah, nanti si Yudi yang jadi taruhannya" tutur Yuda.


"Aku gak mau naik mobil Om Faris, lagi pula tidak akan muat" bisik Silmi pada Fadil, namun Faris dapat mendengarnya hingga Faris tersenyum.


"Tenang saja Silmi, kalian tidak akan ikut mobilku karena aku harus ke kantor, nanti akan kusuruh mas Cipto untuk mengantar kalian ke pantai, kebetulan mama masih di rumah saudara" tutur Faris.


"Tuh kan Mimi, si Faris ini baik dan tulus. Dia tidak memanfaatkan keadaan hanya untuk mendekatimu" ucap Fadil. Silmi hanya diam saja sambil menunduk.


Faris langsung menghubungi mas Cipto, dan seketika itu pula mas Cipto keluar rumah dengan membawa mobil.


Tiiiid.


Mas Cipto sudah membunyikan klakson mobilnya.


"Silahkan kak Fadil, kalian bisa diantar mas Cipto sampai ke pantai" ucap Faris.


"Duuh terima kasih pake banyak ya Faris"


Awalnya Silmi menolak, namun karena Fadil terus membujuknya hingga akhirnya ia mau.


"Silmi jika kau mau kau boleh naik mobilku, ku khususkan kau kuantar langsung sampai ke pantai" ucap Faris.


"NGGAK"


Silmi pun masuk ke mobil yang dikendarai mas Cipto, bersama Fadil, Syifa dan Bilkis, sementara Yuda mengganti ban mobil terlebih dahulu baru menyusul.


Sesampainya di pantai. Setelah semua turun, mas Cipto pun pulang kembali ke rumahnya Faris.


"Terima kasih mas Cipto"


Silmi, Fadil, Syifa dan Bilkis menatap takjub melihat pantai yang indah itu.


"Masya Allah, indahnya ciptaan Allah"


"Mimi sini main air" ajak Fadil. Silmi malah tersenyum sambil menggeleng. Sesekali terdengar suara teriakan dan tawa Bilkis disana. Orang orang yang berlibur pun terlihat berlalu lalang dipantai itu masih dengan pakaian yang sopan.


"Kapan ya aku punya keluarga kaya mereka yang terlihat begitu bahagia" batin Silmi penuh harap.


Tiba tiba ada yang berdehem dibelakangnya Silmi.


"Ehem, Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


Silmi pun terkejut ketika melihat Faris ada disana, tepatnya berdiri disebelahnya dengan jas yang sudah ditenteng ditangan kirinya, tak lupa Bayu sekertaris nya kini berdiri tidak jauh di belakangnya Faris berbarengan dengan datangnya Yuda yang kini sudah sigap di dekat Silmi.


"Boleh aku ikut duduk disini?" ucap Faris yang kini langsung duduk disebelahnya Silmi namun masih menjaga jarak. Silmi hanya diam saja sambil menatap Fadil dan Syifa.


Lama Silmi dan Faris saling diam sambil menatap deburan ombak. Sementara Yuda dan Bayu sudah saling lirik.


"Ini mereka malah mengheningkan cipta dipinggir pantai" batin Yuda.


"Si Bos tumben tumbenan amat kalem ngedeketin perempuan" batin Bayu.


Bayu merasa aneh dengan sikap Bos nya itu, biasanya tanpa didekati pun para perempuan datang sendiri mendekatinya berbeda dengan Silmi yang selalu menunjukan sikap penolakan.


"Mudah mudahan mba Silmi ini jodohnya si Bos. Sepertinya mba Silmi adalah perempuan idaman yang selama dua tahun ini dicari si Bos" batin Bayu.


Silmi sempat melirik pada laki laki yang ada disebelahnya itu.


"*In*i putranya pak Edi katanya kaya raya, apa dia gak punya baju buat ke pantai hingga harus menggunakan setelan jas begitu. Sungguh TER LA LU" batin Silmi.

__ADS_1


Faris yang sadar kalau Silmi sedang memperhatikan penampilannya langsung tersenyum.


"Apa kau merasa heran melihat penampilanku?" tanya Faris.


"Aneh saja, ada orang pergi ke pantai pake setelan jas"


Faris malah tertawa kecil mendengar ucapannya Silmi.


"Apa aku harus menggunakan ****** ***** saja untuk pergi ke pantai?" tanya balik Faris hingga Silmi mengernyit.


"Bagiku penampilan lelaki sejati itu bukan dia yang menggunakan setelan jas dan berpangkat tinggi, tapi bagiku penampilan lelaki sejati adalah dia yang mau menggunakan sarung serta kopeah dan duduk di masjid, bukan dia yang duduk dikursi kebesaran" tutur Silmi. Faris pun tersenyum. Mereka kembali diam sambil menatap deburan ombak.


"Drama mengheningkan cipta kembali dimulai" batin Yuda.


"Ayo Bos, tunjukan pesonamu, buat mba Silmi kelepek kelepek" batin Bayu.


"Boleh aku tanya sesuatu?" ucap Faris memulai pembicaraan.


"Kalau Om Faris mau nanya soal miting di perusahaan jujur aku tidak mengerti" ucap Silmi hingga Faris tertawa kecil.


"Kudengar kau sangat terobsesi dengan berondong?" tanya Faris.


"Kalau ia memangnya kenapa?"


"Aku hanya ingin tau apa alasannya?" tanya Faris kembali, sekilas menatap Silmi lalu kembali menatap deburan ombak sambil menunggu jawaban. Silmi langsung terdiam.


"Apa ya alasanku terobsesi dengan berondong??, aku sendiri tidak tau. Apa aku terlalu sering melihat kemanisan, keromantisan, keharmonisan bahkan kelucuan Tante Aisyah sama Om Riziq hingga munculah obsesi ku yang ingin mempunyai suami berondong" batin Silmi.


"Kenapa diam?" tanya Faris.


"Aku tidak tau"


"Mba Silmi mungkin suka ngintipin Tante nya sih, makanya tumbuhlah benih benih obsesinya" batin Yuda.


"Mba Silmi belum nyadar sih kalau pesona si Bos mengalahkan berondong" batin Bayu.


"Boleh aku tau, kenapa kau suka memanggilku Om, jelas jelas aku masih muda" ucap Faris melayangkan protes dengan cara halus.


"Om Faris kan 7 tahun lebih tua dariku"


Faris malah tersenyum mendengar jawabannya Silmi.


"Apa aku terlihat seperti Om Om?" tanya Faris. Silmi hanya diam sambil menunduk.


"Aku tau kau menolak perjodohan itu karena usiaku lebih dewasa darimu. Tapi asal kau tau Silmi, terkadang usia bisa menipu. Tidak semua orang yang usianya matang bisa bersikap dewasa, dan tidak semua usia yang lebih muda selalu bersikap kekanak-kanakan. Namun tidak semua usia bisa menentukan sikap kedewasaan, setiap orang punya ciri khas diusianya masing masing. Kita hanya tinggal bisa menilainya sendiri" tutur Faris. Silmi hanya diam menunduk.


"Silmi, aku tau usiaku bertentangan dengan obsesi mu. Tapi aku akan berusaha untuk meyakinkan mu kalau aku bisa menjadi suami yang bertanggung jawab. Untuk itu beri aku kesempatan" tutur Faris kembali.


"Ayo mba Silmi, beri si Faris ini kesempatan. Jangan sampai mba Silmi menyesal dikemudian hari" batin Yuda.


"Kesempatan???" ucap Silmi.


"Ya kesempatan untuk saling mengenal. Selama kau liburan disini, biarkan kita saling mengenal hingga tau sikap pribadi masing masing. Setelah liburan berakhir, keputusan ada padamu. Jika kau menerima, aku akan sangat bersyukur, tapi jika kau tetap menolak, aku akan terima dengan lapang dada, dan tidak akan lagi mengganggumu"


Silmi pun terdiam.


"Jika aku tetap menolak, kau tidak akan lagi menggangguku?" tanya Silmi hingga Faris menggeleng.


"Aku janji tidak akan mengganggumu"


"Baiklah, aku beri kesempatan untuk kita saling mengenal sampai liburan berakhir, tapi hanya sewajarnya" ucap Silmi. Faris pun mengangguk tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih"


__ADS_2