SILMI

SILMI
Kebun.


__ADS_3

Keesokan harinya. Setelah Silmi merajuk pada Faris agar suaminya itu berhenti untuk menyelidiki kalender yang diberikan oleh Zahira sebagai hadiah pernikahan, akhirnya Faris pun menghentikan penyelidikannya. Namun rasa penasaran nya tidak hilang karena suatu saat ia berencana akan menanyakan langsung kepada istrinya si Yuyu tersayang itu.


Waktu menunjukan pukul 08:15, Silmi dan Faris sedang asik mengobrol didepan rumah. Mereka sudah merencanakan tentang honeymoon setelah acara resepsi pernikahan yang akan diadakan oleh keluarga Faris selesai, lebih tepatnya saat acara mengheningkan cipta selesai (12 hari 3 jam).


"Mas, pekerjaan mas Faris yakin bisa dihandle semua oleh si Bayu?" tanya Silmi. Faris mengangguk sambil meneguk kopi.


"Bayu orang yang cerdas, aku percaya padanya, dia pasti bisa mengatur semua selama aku masih disini" jawab Faris.


Tidak lama kemudian datanglah Syifa dan Fadil, tentu saja sambil membawa si gemoy Bilkis.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


Bilkis langsung mendekati Silmi.


"Tante Mi mi"


"Mimi, titip si gemoy ya. Kak Fadil sama kakak iparmu yang Semok ini mau menagih uang kontrakan dulu ya" ucap Fadil.


"Iya kak"


"Kak Fadil punya kontrakan?" tanya Faris.


"Alhamdulillah punya, lumayan aset buat masa depan si Bilkis" jawab Fadil.


"Kak, kalau kak Fadil mau, nanti aku kasih modal buat mengganti kontrakan menjadi apartemen. Nanti kalau perlu kak Fadil buat apartemen 7 tingkat"


"Apartemen 7 tingkat???"


Fadil dan Syifa sudah menganga, namun tiba tiba mereka tertawa.


"Ha ha ha, kalau kontrakannya diganti jadi apartemen, nanti siapa yang mau menempatinya. Kehidupan disini semuanya serba sederhana jauh dari kemewahan. Kalau disini dibangun apartemen 7 tingkat rasanya kurang cocok" tutur Fadil.


Tiba tiba Syifa berbisik.


"Abang bilangin sama si Faris, kalau uang dalam dompetnya sudah tidak muat atau sudah terlalu penuh, celengan semarku siap menampung"


"Sssttthhh, jangan semok. Cukup Abang yang menafkahi mu, jangan suka minta atau berharap pada orang lain. Uang Abang masih banyak, semangat Abang mencari nafkah sangat tinggi, cinta Abang juga jangan diragukan lagi, apalagi Abang punya sesuatu yang sangat besar tak tertandingi" tutur Fadil.


"Sesuatu yang besar tak tertandingi itu apa Bang?"


"Mertua Abang" jawab Fadil sambil tertawa. Syifa sudah menggeram lalu menepuk pundak suaminya itu.

__ADS_1


"Maaf Abang bercanda doang. Ayo kita berangkat. Mimi titip si Bilkis ya, nanti kalau nangis dikasih Umi saja, kak Fadil cuma pergi sebentar ko"


"Iya kak"


Syifa sudah mendadahi putrinya dengan raut wajah yang begitu sedih.


"Sayang, gak usah lebay. Kita cuma mau nagih uang kontrakan, bukan mau pergi keluar negeri" ucap Fadil. Syifa malah cengengesan.


Fadil dan Syifa pun pergi.


Tiba tiba ustadz Usman keluar sambil membawa cangkul, ia hendak pergi ke kebun.


"Eh ada si gemoy Ikis, mau ikut Mbah gak ke kebun?" ucap ustadz Usman sambil mencubit pipi cucunya itu. Bilkis langsung menggeleng menolak ajakannya.


"Papi mau kemana bawa bawa cangkul?" tanya Faris basa basi padahal ia tau kalau mertuanya itu mau pergi ke kebun.


"Mau ke kantor" jawab ustadz Usman sambil tertawa kecil.


Nisa pun datang mendekati, ia langsung menggendong cucunya itu.


"Mimi, si Bilkis sama siapa kesini?" tanya Nisa.


"Kak Fadil sama kak Syifa, mereka mau pergi nagih uang kontrakan"


Tiba tiba ustadz Usman menatap Faris yang kini sudah berdandan rapih menggunakan kemeja berwarna cream yang tangannya sudah digulung sampai siku.


"Menantuku kau sudah rapih begini mau kemana?"


"Mau pergi tapi bingung mau pergi kemana. Jadi di rumah saja biar gak buang tenaga" jawab Faris, Silmi malah mengernyit.


"Idiih jawaban apaan itu" batin Silmi.


"Daripada di rumah saja, lebih baik ikut Abi ya ke kantornya Abi alias kebun. Abi kenalin sama temen temennya Abi" ucap ustadz Usman.


"Tapi Abi, mas Faris itu sudah kenal sama Om Berondong, sama Pakde Soleh, sama ustadz Athar, sama Adam, ustadz Ibrahim dan Om Yuyu" tutur Silmi.


"Bukan teman teman yang itu Mimi"


"Terus teman teman Abi yang mana lagi?" Silmi penasaran.


"Ya tentu saja, Tomat, Cabe, Sawi, mentimun, wortel dan beberapa sayuran yang ada di kebun kita"


Silmi dan Faris langsung saling lirik.

__ADS_1


"Keren ya teman teman ayah mertuaku itu" goda Faris sambil berbisik pada Silmi. Silmi sudah menunduk malu.


"Abiku memang paling keren" bisik Silmi juga.


"Heei kalian malah bisik bisik tetangga begitu. Ayo mau ikut gak" ajak ustadz Usman kembali.


Akhirnya Faris dan Silmi pun ikut pergi ke kebun.


Sesampainya di perkebunan, disana sudah ada Riziq, Ustadz Rasyid, ustadz Azam, Adam, Ustadz Soleh dan Yusuf.


"Waah perkebunan nya luas banget ya Papi, kalau aku boleh tau, berapa persen saham papi diperkebunan ini?" tanya Faris hingga ustadz Usman langsung mengernyit.


"Jangan tanya soal saham, jujur Abi tidak mengerti. Disini selain lumayan menghasilkan rupiah, mereka yang berada di kebun ini sedang mengerjakan hobby mereka. Jadi jika kalian datang kemari, anggap saja kalian sedang liburan" tutur ustadz Usman.


"Liburan di kebun sayuran????"


"Assalamualaikum"


Silmi, Faris dan ustadz Usman memberi salam.


"Waalaikumussalam"


Adam sudah menatap pengantin baru itu.


"Pengantin baru mau pada pergi kemana?" tanya Adam.


"Adam, biarkan saudara sepupumu ini mengenal jenis jenis sayuran. Dia sudah lelah dengan bisnis bisnisnya. Kini dari CEO mau merangkak menjadi seorang petani dalam sehari" tutur ustadz Usman. Faris hanya tersenyum saja.


"Man, kalau kau mau mengajarinya menjadi seorang petani, jangan lupa menyuruhnya pake baju petani, bukan pake kemeja bagus, apalagi pake sepatu pantofel mahal begitu. Kurang cocok" tutur ustadz Soleh.


"Kak Soleh, sebentar lagi tahun 2022, penampilan seperti itu sah sah saja. Ayo Mantuku, kau bantu panen buah tomat, abis itu bantu Abi menggali tanah, kita tanam bibit mentimun. Jangan lupa beri pupuk sayuran paling ujung. Tapi jangan sampai kau ganggu kebun cabe, nanti si berondong bisa ngamuk" tutur ustadz Usman kembali. Faris hanya mengangguk tersenyum lalu menarik tangan Silmi untuk menemaninya.


Faris merasa senang bisa ikut berkebun disana, ia bisa mengenal bagaimana cara menanam bibit dan memberinya pupuk.


Silmi pun ikut membantu, ikut bahagia juga karena bisa berduaan dan bercanda bersama suaminya.


Ustadz Soleh sudah mendekati adiknya itu.


"Man, kalau almarhum si Edi masih hidup, dia pasti nangis melihat putranya disuruh metikin buah tomat, apalagi menggali tanah sama memberi pupuk sayuran. Si Faris itu lulusan dari luar negri loh S3 pula" tutur ustadz Soleh.


"Kak. Aku bukannya mau ngerjain menantuku, aku hanya sedang mengajarkan hidup sederhana disini. Dia itu kebanyakan uang, sekali kali butuh hiburan seperti ini. Biar dia bisa berpikiran kalau hidup sederhana juga bisa bahagia. Siapa tau dia itu sedang setres karena kebanyakan uang" tutur ustadz Usman.


"Iya Man, sakarepmu"

__ADS_1


__ADS_2