
Masih dengan Silmi yang sudah menaruh kalender ajaib itu di lemari, ia pun kembali duduk diujung ranjang, sementara Faris sedang menghubungi Bayu.
"Pokoknya besok kau datang kemari, sewa detektif profesional berapa pun bayarannya tidak masalah" ucap Faris yang sebelumnya dia menceritakan kalau Silmi mendapatkan hadiah pernikahan berupa barang MEN CU RI GA KAN.
"Sebenarnya barang apa yang diberikan sebagai hadiah pernikahan?, apa itu sebuah negosiasi, atau sebuah alat penyadap atau sebuah alat misterius yang bisa menjatuhkan dunia perbisnisan?" tanya Bayu penasaran.
"Pokoknya besok kau datang kemari, selidiki barang itu, aku takut itu adalah kiriman barang dari musuh (Saingan bisnis) yang sengaja dikirim lewat Tante Zahira yang bertujuan untuk menjatuhkan semua Bisnisku. Buktinya istriku saja sampai ketakutan melihat barang itu hingga ia langsung menyembunyikannya ke dalam lemari" tutur Faris.
Silmi yang mendengar pun langsung mengernyit.
"Apa hubungannya kalender itu dengan dunia bisnis. Lagi pula aku ketakutan bukan karena apa apa, hanya saja aku takut jika kau tau apa arti dan maksud serta tujuan dari kalender itu, kau tidak akan membiarkanku keluar kamar, secara suamiku inikan mantan buaya darat. apalagi Abi sedang menerapkan acara mengheningkan cipta selama 12 hari 3 jam. Sungguh ME NA KUT KAN" batin Silmi.
Setelah menutup telponnya, Faris pun menatap Silmi yang sedang menunduk namun dengan pikiran melayang.
"Mimi, kau kenapa?, apa kau tau arti dari kalender aneh itu?" tanya Faris.
Deg
Deg
Deg.
Silmi mulai bingung harus menjawab apa, tidak mungkin ia menjelaskan kalau tujuan kalender itu adalah * * * * * *.
"Mas Faris tidak boleh tau apa maksud dan tujuan kalender itu, kalau dia tau apa artinya, maka aku dalam BA HA YA" batin Silmi.
"Aku tidak tau mas, mas Faris jangan memikirkan soal kalender itu, itu Tante Ira cuma iseng doang, jadi tidak perlu menyewa detektif segala, buang waktu buang uang sama buang buang tenaga" tutur Silmi.
"Besok aku akan menemui Tante Zahira" ucap Faris. Silmi langsung menganga.
"JANGAN"
"Kenapa?"
"Sebaiknya jangan mas, nanti mas bisa migren kalau ketemu istrinya om Yuyu itu. kalau mas migren, nanti honeymoon kita gimana?" ucap Silmi yang keceplosan hingga ia langsung menutup mulutnya sendiri.
Faris malah tersenyum senyum melihat Silmi bicara tentang honeymoon.
"Aku salah ngomong, jangan dimasukan kedalam hati" ucap Silmi yang tiba tiba mulai takut, apalagi melihat tatapan matanya Faris yang tiba tiba meminta lebih.
"Rupanya putrinya ustadz Usman ini sudah tidak sabar ya. Wah wah wah, ayo kita mulai" goda Faris sambil memeluk Silmi erat.
"Maaas Faris. Ikh sabar, , , , , kata Abi jangan suka grasak grusuk. Kalau kita mau melakukan hubungan suami istri, itu ada caranya yang baik mas"
"Caranya????"
Faris malah mengeratkan pelukannya.
"Lepasin dulu" pinta Silmi.
seketika Faris langsung melepaskan pelukannya. Silmi pun memberikan selembar kertas pada Faris.
"Itu do'anya dan. . . . . . . . . ."
Faris pun mengangguk sambil membacanya.
Faris sudah menatap istrinya yang kini sedang menunduk malu, gugup dan lain lain.
"Kau kenapa Mimi?"
Silmi menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Apa kau gugup?, takut?, deg degan?, atau malu?" tanya Faris.
"Semuanya" jawab Silmi membuat Faris tersenyum.
"Waah wah wah, putrinya ustadz Usman ini ternyata serakah ya, gugup, takut, deg degan, sampai malu pun diborong semuanya"
Silmi langsung cemberut lalu mencubit lengannya Faris hingga putranya pak Edi itu langsung tertawa. Perlahan Faris pun membuka kerudungnya Silmi, menempelkan tangannya ke ubun ubun istrinya, lalu membacakan do'a sesuai yang ia baca di kertas yang diberi Silmi.
"Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah berkahilah dia untukku dan berkahilah aku untuknya"
__ADS_1
"Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa Khaira ma jabaltaha' alaihi wa a-udzubika min syarriha wa min Syarri ma jabaltaha' alaihi" Faris membacakan do'a.
Perlahan, Faris mengangkat dagunya Silmi hingga Silmi langsung memejamkan matanya. Saat Faris mulai mencari retsleting bajunya Silmi, Silmi sedikit mendorongnya menjauh.
"Kenapa?" tanya Faris heran.
"Janji dulu kalau kau tidak akan lirik lirik perempuan lain, jangan berhubungan lagi sama mantan mantanmu itu apalagi sama si Neng Amira sama si Yanti Junianti. Nanti aku bisa CEM BU RU" tutur Silmi. Faris pun tersenyum.
"Aku janji"
Faris dan Silmi pun mengikatkan jari kelingkingnya masing masing. Tiba tiba Faris tanpa Aba aba langsung mendorong Silmi ditempat tidur hingga putrinya ustadz Usman itu terkejut bahkan sampai menjerit memanggil Abinya.
"ABI"
Seketika itu pula Faris langsung membungkam mulutnya Silmi.
"Sssttthhh, jangan teriak, nanti semua orang berpikir aku menganiayamu. Cukup diam dan mengheningkan cipta saja" ucap Faris sambil menarik selimut menutupi tubuh mereka.
Diluar tepatnya di kamar sebelah, teriakan Silmi menembus telinganya Ustadz Usman dan Nisa.
"Mi, itu si Mimi kayanya teriak manggil Abi. Apa jangan jangan si Mimi minta ditemenin ya" ucap ustadz Usman. Nisa langsung menepuk pundak suaminya itu.
"Gak usah aneh aneh, lebih baik tidur istrirahat. Nanti kita diprotes tetangga gara gara bikin gaduh, padahal kita sendiri menyuruh para tetangga untuk tidak berisik" tutur Nisa. Akhirnya ustadz Usman pun menurut.
Silmi dan Faris pun melewati malam pertama mereka dengan begitu indah.
* * * * * *
Pagi pagi sekali rambutnya Silmi sudah basah. Faris hanya tersenyum sambil menatapnya.
"Jangan menatapku seperti itu, sana pergi ke masjid sama Abi. Shalat subuh dulu" pinta Silmi.
"Iya Mimi sayang"
Faris sudah mencubit gemas pipinya Silmi.
"Baiklah, aku ke masjid dulu. Assalamualaikum"
Setelah selesai mengerjakan shalat subuh dan juga sarapan, Ustadz Usman sudah duduk bersama Nisa didepan teras rumah, sementara Faris sedang bercanda bersama Silmi di kamar.
Tiba tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah.
"Siapa itu Mi?, pagi pagi sudah datang bertamu" bisik ustadz Usman.
"Umi tidak tau"
Dari dalam mobil itu keluarlah Bayu dan dua orang lelaki yang sudah menggunakan jas hitam serta kaca mata hitam, tak lupa kedua orang itu membawa kaca pembesar ditangan masing masing.
"Bukannya itu sekertaris nya si Faris"
"Assalamualaikum ustadz Usman" Bayu memberi salam.
"Waalaikumussalam"
Ustadz Usman sudah menatap mereka.
"Kau sekertaris nya si Faris kan?, ngapain pagi pagi datang kesini, jangan bilang mau mengajak Faris untuk pergi ke kantor. Ingat ya menantuku itu sedang bulan madu, jadi jangan disuruh kerja dulu" tutur ustadz Usman.
"Saya datang kesini bukan mau menjemput si bos untuk ke kantor, tapi saya datang kemari disuruh si bos untuk menyelidiki sebuah benda mencurigakan yang diberikan sebagai hadiah pernikahan dari salah satu kerabat mba Silmi"
"Benda mencurigakan?"
"Hmmm"
"Memangnya benda apa itu?" tanya ustadz Usman merasa kepo.
"Kurang jelas benda apa itu, makanya saya dan dua orang detektif ini mau menyelidiki nya, takutnya benda itu bertujuan untuk memporak porandakan saham perusahaan yang sengaja dikirimkan musuh"
Ustadz Usman sudah mengernyit tidak mengerti.
"Benda apa sebenarnya itu, ko bisa membuat dunia bisnis di Faris porak poranda. Mencurigakan" batin ustadz Usman.
__ADS_1
"Itu benda bukan narkoba kan?. Si Faris tidak bisnis narkoba kan?" tanya ustadz Usman.
"Astaghfirullah alazim. Ya tentu saja tidak ustadz, bisnis si bos mah bersih dari barang haram itu" tegas Bayu.
Nisa pun berbisik.
"Sebenarnya ada apa ini Bi?"
"Ada detektif datang ke rumah kita katanya mau menyelidiki barang hadiah pernikahan si Mimi. Abi kira mereka datang untuk kondangan"
Ustadz Usman pun berjalan menuju kamarnya Silmi.
Tok tok tok.
Silmi langsung membuka pintu kamarnya.
"Mimi ada yang mencari suamimu" ucap ustadz Usman. Silmi tiba tiba merasa khawatir, takut ada mantannya Faris yang datang.
"Cantikan siapa Bi, aku apa dia?" tanya Silmi. Ustadz Usman hanya mengernyit.
"Dia siapa?"
"Dia yang mencari mas Faris"
Lagi lagi ustadz Usman mengernyit.
"Ya tentu saja cantikan putrinya Abi kemana mana"
Tiba tiba Faris menghampiri.
"Ada apa Papi?" tanya Faris.
"Siapa yang kau panggil papi?"
"Tentu saja ayah mertuaku yang keren ini" ucap Faris sedikit tertawa. Silmi sudah mau memprotes.
"Biar keren Mimi"
"Sudah sudah. Itu ada detektif yang mencarimu diluar. Temuilah" pinta ustadz Usman.
"Jadi salah satu mantannya mas Faris adalah seorang detektif' batin Silmi.
Mereka pun menemui Bayu dan dua orang detektif itu.
"Pagi Bos" sapa Bayu.
"Pagi"
"Mana barang yang mencurigakan itu Bos, biar kita selidiki" ucap Bayu.
"Sebentar"
Faris pun masuk kembali ke kamarnya dan mengambil kalender ajaib itu di lemari, setelah itu memberikannya pada Bayu.
"Ini barangnya. Selidiki barang ini bertujuan untuk apa, aku tidak mau saham perusahaan ku terganggu" ucap Faris.
Silmi dan ustadz Usman sudah menganga menatap kalender itu, apalagi saat kedua detektif itu mulai mendekatkan kaca pembesar pada tiap nama hari dan tanggal yang tertera.
"Astaghfirullah alazim, kelakuan si Selebor inimah" batin ustadz Usman.
"Ikh Tante Ira bikin heboh aja deh. Kalau mereka tau apa arti dan tujuan kalender itu aku kan bisa malu bin gugup" batin Silmi.
"Menantuku Faris. Kenapa kau buang buang uang untuk menyelidiki kalender ini. Langsung tanya Abi saja, Abi tau ko artinya apa" ucap ustadz Usman.
"Jadi Papi tau artinya?"
"Hmmm"
Silmi sudah menggeleng memberi isyarat agar Abinya itu tidak memberitahu.
"Plis kumohon jangan dikasih tau, nanti tiap malam aku dalam bahaya"
__ADS_1