SILMI

SILMI
Ke butik


__ADS_3

Hari itu Faris sudah berdandan rapi menggunakan sarung serta baju Kokonya, semenjak Silmi mengatakan kalau Faris lebih tampan dan gagah menggunakan baju Koko dan sarung ketimbang setelan jas, Faris jadi lebih senang berpenampilan seperti ayah mertuanya.


"Mas, ikut Abi ya pengajian di masjid bersama yang lain" pinta Silmi. Faris pun tersenyum lalu memeluk isterinya itu.


"Aku ingin terus bersamamu dikamar" goda Faris hingga Silmi langsung mencubit pinggang suaminya.


"Jangan genit, ini bukan waktunya"


Faris malah tertawa mendengar jawaban Silmi yang takut bercampur malu namun tak bisa dibohongi kalau dirinya mau.


"Abi sudah menunggumu diluar" bujuk Silmi agar suaminya itu cepat keluar dari kamar karena kalau tidak, bisa jadi dikamar itu akan terjadi SE SU A TU, apalagi sedari tadi Faris terus menggoda Silmi bahkan selalu memeluk istinya dengan erat.


"Papi pasti sabar menunggu, diakan lagi mendambakan cucu baru"


"Sudah sana berangkat, nanti pengajiannya selesai, mas baru nyampe" Silmi terus membujuk. Faris pun perlahan melepaskan pelukannya.


"Ya sudah, mas berangkat dulu. Nanti sore kita shopping ya. Kau mau belanja kemana?" tanya Faris hingga Silmi langsung tersenyum berbinar merasa senang ditawari belanja tanpa diminta.


"Mas mau ngajakin aku belanja?"


"Hmmm. Mas kan sekarang sudah tau arti dan tujuan kalender itu. Om Yusuf yang kasih tau, jadi kau boleh belanja kapan pun dan dimana pun"


Meskipun rada rada aneh dan menaruh curiga dengan jawaban Yusuf yang dibisikkan pada suaminya namun Silmi sangat senang jika ia diajak shoping semaunya.


"Apapun yang dikatakan Om Yusuf, aku yakin itu gak sesuai dengan yang ada dipikirannya Tante Zahira. Dan yang penting aku shoping yes yes yes" batin Silmi.


"Mimi, Mas berangkat dulu ya. Sepertinya si papi sudah menunggu"


"Iya Mas, aku antar ke depan"


Silmi sudah menggandeng lengannya Faris berjalan kedepan menemui Abinya, ada Nisa juga disana.


Ustadz Usman pun tersenyum.


"Assalamualaikum, pagi papi" sapa Faris.


"Waalaikumussalam, pagi juga mantuku. Eh kalau dilihat lihat Faris itu mirip Abi waktu muda dulu" ucap ustadz Usman.


"Massaa???"


Nisa protes.


"Mas, pagi ini aku izin ya mau pergi ke butiknya Tante Anisa, mau membicarakan tentang seragam acara resepsi kita" ucap Silmi. Faris pun mengangguk.


"Mau mas antarkan?"


"Tidak usah mas, butiknya Deket ko, ada di sebrang jalan, nanti aku minta antar Hawa sama Anum"


Lagi lagi Faris mengangguk.


Kini Faris dan ustadz Usman pergi ke masjid karena ada pengajian. Lalu Silmi pun mencium tangannya Nisa, meminta izin untuk pergi.


"Hati hati ya Mimi"


Silmi pun terlebih dahulu pergi ke rumahnya Hawa, dilihatnya ada Aisyah yang sedang menyapu halaman.


"Assalamualaikum Tante Aisyah"

__ADS_1


"Waalaikumussalam. Eh ada Silmi"


Silmi pun membuka pagar bambu rumah itu.


"Tante Hawa nya ada gak?"


"Hawa ada, sedari tadi dia gak keluar kamar. Gak tau lagi ngapain" jawab Aisyah. Silmi pun langsung mengernyit lalu meminta izin masuk untuk menemui sahabatnya itu.


"Aku masuk ya Tante"


Silmi pun masuk dan langsung menerobos kamarnya Hawa, kebetulan Riziq sedang pergi ke masjid untuk ikut pengajian juga. Dilihatnya Hawa sedang berbaring ditempat tidur sambil memegangi ponselnya.


"Aduuuh anak perawan jam segini malah berleha-leha ditempat tidur, nanti yang ada jodohmu bekuburu kepatok tetangga loh" ucap Silmi sambil mendekati dan ikut duduk di ranjang. Tentu saja Hawa terkejut dengan kedatangannya.


"Silmi, kau pagi pagi sudah kesini, memangnya kemana si Om Faris?" tanya Hawa.


"Suamiku lagi ikutan pengajian. Anterin aku yu" ajak Silmi.


"Kemana?"


"Kebutik calon mertuamu" Silmi menjawabnya dengan nada menggoda hingga Hawa langsung mengernyit.


"Maksudmu?"


"Ke butiknya Tante Anisa. Ceritanya sih mau bikin seragam buat acara resepsi di kota Y. Semua kebagian termasuk para santri"


"Benarkah?"


"Hmmm"


Hawa merasa senang.


"Ayo kita samper si Anum, aku sudah menghubunginya tadi, katanya dia juga mau ikut"


Akhirnya mereka berdua pun pergi ke rumahnya Anum. Sesampainya disana dilihatnya Anum sedang duduk berdua diteras depan rumahnya bersama Athar.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


"Ayo Num, kau jadikan ikut ke butiknya Tante Anisa?" tanya Silmi. Anum pun mengangguk, sebelumnya ia memang sudah izin terlebih dahulu pada suaminya, kebetulan Hasbi sedang diajak main oleh neneknya.


"Mas, aku nganter Silmi dulu ya ke butiknya Tante Anisa" Anum kembali minta izin. Athar mengangguk.


"Jangan terlalu lama, takutnya nanti Hasbi nangis" pinta Athar. Anum hanya mengangguk.


"Kita pergi ya, Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


Athar hanya tersenyum menatap kepergian istrinya, ia sudah biasa melihat istrinya pergi dengan kedua sahabat istrinya itu (si trio kwek-kwek).


Sesampainya di tepi jalan raya, lebih tepatnya di sebrang butik. Silmi, Anum dan Hawa sudah bersiap untuk menyebrang.


"Mau pada kemana?" tiba tiba seseorang bertanya pada mereka yang tidak lain adalah Ibra yang kebetulan sedang berada didepan toko bukunya.


"Assalamualaikum ustadz. Kita mau ke butiknya Tante Anisa. Mau nganter si Silmi mau fitting baju pengantin, sama mau bikin baju seragam buat acara resepsi nanti" jawab Anum. Ibra hanya tersenyum lalu mengangguk.

__ADS_1


"Resepsi nya diadakan dimana Silmi?" tanya Ibra.


"Di kota Y Om Ibrahim" jawab Silmi.


"Mudah mudahan acaranya lancar ya. Aamiin" Ibra mendoakan Silmi.


"Om Ibrahim, jangan hanya mendoakan Silmi. saja, tapi do'akan juga Hawa biar dia cepet dapet jodohnya. Ya minimal yang berseragam gitu" goda Anum hingga Ibra tersenyum, ia tau betul kalau putranya itu menyukai Hawa. Sementara Hawa langsung mencubit pinggangnya Anum, ia tau kalau sepupunya itu sedang menggodanya.


"Om Ibrahim do'ain, siapapun jodohmu semoga dia adalah laki laki Sholeh" ucap Ibra pada Hawa. Hawa hanya mengangguk tersenyum.


"Terima kasih Om"


"Ustadz Ibrahim ngasih kode itu Wa, dia pasti sedang merekomendasikan putranya" bisik Anum. Hawa kembali mencubit pinggangnya Anum.


"Ayo kita ke butik" ajak Silmi.


Anum dan Hawa pun mengangguk.


"Om Ibra kita ke butik dulu ya, assalamualaikum"


"Waalaikumussalam, hati hati nyebrang nya"


Si trio kwek-kwek pun menyebrang jalan hingga mereka langsung sampai didepan butik. Dilihatnya disana ada Anisa, Elina, Bu Erni dan juga ada Zahira serta si Yura.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


Anisa tersenyum melihat kedatangan mereka.


"Waah kedatangan pengantin baru nih" goda Anisa.


"Eh ada Tante Ira sama Dede ma na hong" goda Anum ada nada mengejek dalam kalimatnya hingga Zahira langsung menggeram.


"Princess Yura ya, bukan manahong" gerutu Zahira hingga si trio kwek-kwek tertawa.


"Tumben kalian kesini?" tanya Anisa.


"Kedatangan kita kesini mau melamar AL buat Hawa" ucap Anum yang begitu hobby menggoda Hawa. Hawa mengernyit dan langsung menyubit lengan sepupunya itu. Anisa hanya tersenyum.


"Duuuh pengantin baru ko gak gandengan sama suaminya sih. Pasti kau melarang si Faris ikut kesini karena ada Zahira Rahmadia Alfiqri ya, takut suamimu terpesona padaku makanya dilarang ikut" tutur Zahira. Semua langsung mengernyit.


"Tante Ira, aku mau ngucapin banyak terima kasih pada Om Yuyu soal arti kalender itu. Alhamdulillah mas Faris membolehkan ku untuk shoping kapan saja dan dimana saja" tutur Anum. Zahira yang mendengar pun langsung mengernyit heran karena kalender ajaib buatannya, tidak ada hubungannya dengan shoping.


"Sebenarnya si Yuyu ku tersayang bisikin apa pada si Faris, ko artinya jadi beda begini. MEN CU RI GA KAN" batin Zahira.


"Eh Mimi. Kalender itu gak ada hubungannya sama shopping, sepertinya ka Yusuf salah membisikan artinya" ucap Zahira.


"Ssttth jangan suka ngomongin yang namanya kalender" protes Anum yang selalu merasa malu kalau sudah berhubungan dengan kalender ajaib.


"Kalian mau pada shoping apa adu mulut sama si Ira?" tanya Elina.


"Maaf Tante Elina, sebenarnya kita datang kesini karena ada perlu sama Tante Anisa dan Tante Elina. Mas Faris mau mengadakan resepsi pernikahan kami di kota Y. Kita sepakat mau membuat seragam untuk para kerabat dan sahabat, termasuk seragam untuk para santri. Dan kita ingin Tante Anisa dan Tante Elina yang mendesain semuanya" tutur Silmi. Zahira langsung berbinar.


"Waah, Tante Ira kebagian juga kan?. Pastinya harus" ucap Zahira.


"Insya Allah semuanya kebagian"

__ADS_1


Silmi dan Anisa pun berunding untuk mengurusi proyek baju seragam hingga semuanya dil dan langsung memilih bahan untuk proses pembuatan.


__ADS_2