
Hari ini adalah kepulangan Silmi dan Faris ke pesantren setelah selesai dengan acara resepsi dan honeymoon nya. Silmi merasa senang bisa kembali ke lingkungan itu, dimana Keluarga dan sahabatnya berada. Silmi juga merasa bahagia hidup bersama Faris yang selalu menyayanginya dan juga memanjakannya, apalagi kalau urusan belanja semaunya sesuai fungsi kalender ajaib versi Yusuf.
Ustadz Usman sudah meniup terompet sebagai penyambutan kedatangan anak menantunya itu. Sebenarnya mau niup Pluit, karena pluitnya diumpetin si Bilkis jadi terpaksa niup terompet.
PREEEEEEEEEEETTTT.
Yudi dan Yuda sigap membukakan gerbang utama.
"Selamat datang kembali mba Silmi, mas Faris" ucap Yuda dan Yudi yang begitu antusias. Bayu yang kini mengendarai mobil pun langsung tertawa kecil melihat si kembar.
"Kau kenapa tertawa begitu Bay?" tanya Yuda.
"Percuma mengadakan penyambutan apapun, tuh orangnya lagi pada tidur di belakang, mungkin mereka kecapean setelah perjalanan jauh" jawab Bayu. Dilihatnya Silmi dan Faris tertidur di kursi belakang, maklum saja perjalanan dari kota Y ke kota A memakan waktu yang lumayan lama hingga bisa membuat orang merasa lelah.
"Berarti percuma dong ustadz Usman niup terompet, gak akan didengar mba Silmi sama si Faris" ucap Yudi.
"Sudah tidak apa-apa Yud, yang penting ustadz Usman meniup terompet bukan untuk menyambut datangnya tahun baru" Bayu ikut bicara.
Ustadz Usman pun mendekati mereka, namun mobil Faris melaju menuju rumahnya ustadz Usman.
"Yud, ko mereka gak berhenti sih, memangnya mereka gak tau aku menyambut kedatangan mereka, sampai niup terompet segala" ustadz Usman sedikit menggerutu.
"Mba Silmi sama mas Faris nya ketiduran di mobil ustadz" Yudi memberitahu.
"Duuh si Mimi, gak tau Abinya udah nunggu di gerbang kali, dia malah ketiduran di mobil. Hadeuuuh"
Ustadz Usman pun pulang ke rumahnya untuk menemui putri bungsunya itu, ia merasa rindu dengan Silmi karena sejak terakhir bertemu waktu acara resepsi di kota Y.
Ustadz Usman berjalan pulang sedikit tergesa, ia tidak sabar ingin bertemu Silmi. Dijalan ia bertemu dengan Zahira yang sedang menggendong Yura. Zahira terheran melihat ustadz Usman berjalan sedikit terburu buru.
"Itu om ustadz sakit perut kali ya, jalannya buru buru begitu. MEN CU RI GA KAN" ucap Zahira yang kini berpapasan dengan ustadz Usman.
"Assalamualaikum om ustadz"
"Waalaikumussalam"
"Om ustadz, kalau sekiranya sudah gak kuat, jangan maksain nyampe rumah, numpang di toilet tetangga saja, pasti dikasih pintu" ucap Zahira. ustadz Usman langsung mengernyit.
"Ini si Selebor ngomong apaan ya?. Waah sepertinya dia mulai meriang otaknya. Perlu direndem air panas atau kalau perlu disembur sepirtus ubun ubunnya" batin ustadz Usman.
"Eh Ira, apanya yang gak kuat?, aku ini lelaki kuat, buktinya aku gak pernah absen tiap malam Jum'at" ucap ustadz Usman. Kini giliran Zahira yang mengernyit.
"Ini si Om ustadz ngomong apaan ya?, sepertinya otaknya rada konsleting nih. Orang ngomongin toilet dia ngomongin kalender ajaib. Sungguh TER LA LU" batin Zahira.
"Om ustadz sehat?" tanya Zahira.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, ya tentu saja aku sehat wal'afiat, Alhamdulillah. Badanku seger burger begini Ira, wajahku pun terlihat bercahaya dan berseri seri. Kalau kau tidak percaya, tanya saja pada si Yura"
Zahira langsung menatap putrinya.
"Yura sayang, apa om ustadz kelihatan bercahaya dan berseri seri?" tanya Zahira.
"Hi hi hi MA NA HONG"
Yura mengeluarkan kalimat keramatnya sambil bertepuk tangan. Ustadz Usman langsung mengernyit, sementara Zahira sudah tertawa tawa.
__ADS_1
"Anak sama emak 11 12. Sudahlah aku lagi buru buru, si Mimi baru pulang dari kota Y, aku mau menemuinya, rindu. Assalamualaikum" pamit ustadz Usman.
"Waalaikumussalam. Waah si Mimi sudah pulang?, itu artinya dia banyak bawa oleh oleh, itu sudah pasti. Aku harus ngasih kabar ini pada semua orang biar mereka semua kebagian oleh oleh. Berbagi itu kan indah" ucap Zahira yang kini sudah menghubungi satu satu penghuni pesantren.
"Hallo assalamualaikum kak Dewi, ada berita penting nih. Si Mimi sudah pulang dari kota Y, dia bawa oleh oleh banyak, itu serius dan bukan hoak. Kalau kak Dewi ingin kecipratan oleh oleh, segera serbu rumahnya om ustadz"
"Hallo assalamualaikum kak Aisyah, Di rumah om ustadz lagi rame berbagi oleh oleh, segera kak Aisyah pergi kesana, jangan lupa ajak Adam sama Hawa"
"Hallo Assalamualaikum Erika, sekarang juga kau buatkan ketring untuk beberapa orang, akan ada makan bersama di rumahnya om ustadz, si Mimi baru pulang, pasti dia laper. Ketring nya yang banyak ya, biar kita semua kebagian"
"Hello assalamualaikum Anum. Num, sahabatmu si Mimi sudah pulang dari Honeymoon nya, segera kau ke rumahnya, sepertinya dia ingin curhat tentang fungsi kalender ajaib. Si Mimi juga pasti banyak bawa oleh oleh, buruan datang karena aku sudah menghubungi kak Dewi, kalau ada kak Dewi, bisa diembat semua oleh oleh sama dia"
"Hallo assalamualaikum Syifa. Syifa buruan datang ke rumah mertuamu, adik ipar mu sudah pulang dari kota Y, dia bawa oleh oleh banyak, siapa tau dia bawa celengan Semar untukmu"
"Siapa lagi ya yang harus kuhubungi???" Zahira mulai berpikir.
"Mau menghubungi kak Lita, jauh di Medan. Mau menghubungi si Abah, jauh di Purwakarta, mau hubungin si Santi jauh di Bekasi, mau hubungin si Eka, jauh di Semarang, mau hubungin si Feby jauh di Padang. Apa aku harus menghubungi semua reader novel berantai biar bisa kumpul di rumahnya om ustadz biar mereka kebagian oleh oleh dari si Mimi?" gumam Zahira.
Zahira kini sudah menghubungi para penghuni pesantren, hingga semua mulai berdatangan ke rumahnya ustadz Usman.
Akhirnya Zahira segera pergi ke rumahnya ustadz Usman. Di jalan ia bertemu dengan Dewi, Aisyah, Hawa, Syifa, Anum, Cahaya, Anisa, Yudi dan Yuda, ustadzah Yasmin, ustadzah Ulfi, Bi Ratna, Ibra, Yusuf, Riziq, Athar, Adam, Fadil, ustadz Azam, ustadz Soleh, ustadz Rasyid, bang Muklis dan mang Ilham. Semua berdatangan ke rumahnya ustadz Usman atas instruksi dari Zahira.
"assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Zahira sudah menganga, rupanya orang yang ia hubungi begitu banyak, tinggal si Erika belum datang.
"Ira, untuk apa kita di suruh ke rumahnya ustadz Usman?" tanya Aisyah kembali memastikan.
"Yakin ustadz Usman ngajakin kita makan makan?" tanya Anum tidak percaya.
"Hei Anum binti Rasyid. Kalau Om ustadz tidak mau ngajakin makan makan, kita geser keseblaah kanan, kan ada si Faris yang sultan. Ayo kita ke rumahnya si Mimi" pinta Zahira. Mau tidak mau mereka pun mengikuti Zahira.
Sementara dengan Silmi dan Faris yang sudah memeluk Nisa dan Juga Ustadz Usman karena Rindu hampir 3 Minggu tidak bertemu.
"Abi, Umi aku rindu" ucap Silmi.
"Umi juga rindu, Mimi sehat kan?" tanya Nisa sambil mengelus-elus kepalanya Silmi.
Ustadz Usman sudah mendekati Faris.
"Faris, kali kali nanti ajakin Abi sama Umi ke kota Y, kita juga mau honeymoon seperti kalian, siapa tau si Mimi nanti punya adik" ucap ustadz Usman. Faris sudah tertawa kecil.
"Siap papi, nanti ada pelayanan VVIP untuk papi" jawab Faris.
"Ayo masuk dulu ke dalam, kalian pasti capek kan" ajak Nisa.
"Mimi sayang capek gak, kalau capek nanti mas Faris gendong nyampe kamar" ada nada menggoda dalam kalimatnya. Silmi langsung mencubit pinggang suaminya itu.
"Jangan suka genit dihadapan Abi, nanti dia suka ikut ikutan genit sama umi" bisik Silmi.
"Tidak apa-apa, si papi lagi buat program biar kau punya adik katanya" bisik Faris juga. Silmi langsung mengernyit.
Baru saja mereka mau masuk ke rumah, tiba tiba pasukan Zahira datang.
__ADS_1
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Silmi, Faris, ustadz Usman dan Nisa nampak bengong melihat kedatangan mereka.
"Kalian mau pada kemana rame rame begini, sudah seperti satu RT masuk rumahku semua"
"Kita mau bertamu om ustadz, rindu dengan Silmi" jawab Zahira setengah pura pura.
"Oh jadi kalian datang kesini karena rindu dengan si Mimi, kirain mau pada demo ke rumahku" ucap ustadz Usman.
Dewi langsung menepuk pundaknya Zahira.
"Gak usah bertele-tele, kita to the poin saja kalau kita datang kesini mau berburu oleh oleh sama si Silmi" ucap Dewi.
"He he" Zahira tertawa kecil.
Ustadz Usman sudah menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kenapa tidak sekalian saja kalian ajak seluruh santri untuk datang ke rumahku, biar penuh seisi rumahku" gerutu ustadz Usman.
"Gak apa apa Abi, aku memang bawa oleh-oleh banyak banget, sengaja mau dibagi bagikan" ucap Silmi.
"Waah si Mimi baiknya kebangetan deh, gak kaya om ustadz yang pelitnya naudzubilah" ucap Zahira. ustadz Usman sudah menggeram.
"Ayo kita duduk rame rame disini" ajak Nisa.
mereka pun berbondong bondong duduk diteras depan. Sebenarnya sebagian datang bukan untuk berburu oleh oleh, namun karena Zahira bilang suruh kumpul di rumahnya ustadz Usman, akhirnya mereka datang. Anum dan Hawa sudah memeluk Silmi. Si trio kwek-kwek itu merasa rindu sudah lama tidak bertemu.
Silmi dan Faris sudah membagi bagikan oleh oleh yang sengaja dibawanya pulang untuk dibagikan.
"Terima kasih banyak ya Silmi, Faris, duuh oleh olehnya banyak banget" ucap Aisyah.
"Om ustadz, mumpung kita lagi kumpul disini kita makan makan yu" ajak Zahira.
"Duuh maaf Ira, kita belum masak. Kalau masak dulu pasti lama" ucap Nisa.
"Tante Nisa tenang saja, gak perlu repot-repot. Aku sudah memesan ketring pada Erika" ucap Zahira.
Tiba tiba Erika datang bersama Hasan sambil membawa banyak ketring dari rumah makannya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Erika dan Hasan menaruh ketring itu disana. Wangi makanan nya begitu tercium membuat orang jadi laper.
"Duuh Ira, tak kusangka kau begitu baik pake banget, mau traktir kita makan" ucap ustadz Usman. Zahira malah mengernyit.
"Ih om ustadz, bukan aku yang nlaktir" jawab Zahira. Ustadz Usman terdiam dan perasaannya mulai tidak enak.
"Terus yang tlaktir ini makanan siapa?"
"Ya tentu saja om ustadz. Ingat loh om ustadz, berbagi itu IN DAH" ucap Zahira.
__ADS_1
Ustadz Usman sudah menepuk jidatnya hingga semua tertawa tawa. Akhirnya mereka makan makan bersama, tak lupa juga dengan Umi Salamah dan kiyai Husen yang juga ikut berkumpul.