
Masih dengan Silmi dan Faris yang kini sedang menikmati pacaran setelah menikah. Mereka nampak bahagia menjalani masa masa awal berumah tangga. Silmi selalu mengingatkan untuk hati hati menjaga mata dan hidungnya, terutama dengan hatinya. Silmi sudah menerima Faris apa adanya termasuk menerima masa lalunya yang mata keranjang dan hidung belang alias buaya darat.
Pagi itu, Silmi sudah mendandani suaminya dengan penampilan berbeda dari biasanya. Ia sudah menyuruh Faris memakai sarung, baju Koko serta kopeahnya.
"Disini biasakan berpenampilan seperti ini ya mas, biar gak berbeda dengan orang orang disini. Lagi pula mas lebih kelihatan tampan dengan penampilan begini" ucap Silmi sambil memakai kan kopeah. Faris pun tersenyum lalu memeluk Silmi erat.
"Pake baju apapun aku pasti kelihatan mempesona" ucap Faris sambil tersenyum senyum percaya diri.
"Tapi aku gak klepek klepek" Silmi pura pura.
"Massa????"
"Hmmm"
Faris hanya tersenyum senyum.
"Aku mau pergi ke asrama putri akh, mau lihat santri mana yang tidak terpesona melihat ku, jika ada santri yang tidak terpesona nanti kukasih uang yang ada di bawah tempat tidurnya si papi" ucap Faris sengaja ingin menggoda Silmi, tak lupa ia tertawa kecil diakhir kalimatnya. Seketika itu pula Silmi langsung memicingkan matanya sambil dibumbui tatapan menusuk.
"Mas jangan macam-macam ya. Jaga mata jaga hati. Jangan lagi jadi buaya darat, apalagi kucing garong" tegas Silmi sambil menggerutu. Faris malah tertawa melihat reaksi istrinya itu.
"Aku cuma bercanda Mimi sayang. Aku kan sudah janji mau jaga mata sama jaga hati untukmu. Aku kan cuma mantan buaya darat sama kucing garong, insya Allah tobat nasuha" ucap Faris.
"Aku pegang ya omongannya mas Faris"
"Ko cuma Faris doang, Sayangnya juga disebut dong" pinta Faris menggoda.
"Iya mas Faris sayang" Silmi mengalah hingga Faris tersenyum senang.
Saat Silmi dan Faris keluar rumah, ia bertemu dengan ustadz Usman dan Nisa didepan. Ustadz Usman pun tersenyum melihat penampilan menantunya yang begitu berbeda dari biasanya.
"Duuuh menantuku tampan banget kalau berpenampilan seperti itu. Si Syakir saja kalah tampan, si Adam kalah manis, si Yusuf kalah unyu, si Athar juga lewat apalagi si Fadil kelelep dia" tutur ustadz Usman. Faris hanya tersenyum.
"Si Abi, anak sendiri gak disanjung, giliran menantunya disanjung sanjung. Nanti pas Fadil dengar bisa ngamuk dia" batin Nisa.
"Mau pada kemana Mimi sayang?"
"Kita mau keliling aja Bi, mas Faris pengen lihat suasana pesantren" jawab Silmi.
"Iya Mimi, ajak suamimu keliling, tapi ingat jangan mampir dirumahnya si Ira, BA HA YA. Abi sama umi mu belum nyiapin obat migren"
__ADS_1
Faris langsung mengernyit, padahal ia berencana mau ke rumahnya Zahira untuk menanyakan maksud dan tujuan kalender ajaib itu.
"Si papi kaya tau isi dalam pikiranku. Aku tadinya memang ingin pergi kerumahnya Tante Ira, mau ngajakin miting soal kalender" batin Faris.
"Abi, aku sama mas Faris jalan jalan dulu" pamit Silmi.
"Mau Abi temenin?. Abi bisa jadi bodiguard dadakan, takutnya kalian digangguin si Ira" ucap ustadz Usman.
"Tidak usah Bi, nanti Abi ganggu, kita pergi ya, Assalamualaikum" pamit Silmi dan Faris.
Silmi sudah menggandeng lengan suaminya. Ustadz Usman dan Nisa pun tersenyum melihat mereka.
"Alhamdulillah ya Bi, si Mimi sudah dapat jodohnya" ucap Nisa.
"Iya, jodohnya si Mimi CEO Soleh, meskipun dulunya mantan kucing garong"
"Mudah mudahan si Faris gak bawa putri kita untuk tinggal di rumahnya ya, nanti kita bisa rindu terus pada si Silmi"
Sementara dengan Silmi yang mengajak Faris ke tepi perkebunan, tentunya duduk dikursi legendaris yang terbuat dari bambu yang sudah berdiri bertahun tahun dan hanya terjadi sekali roboh, itu pun gara gara Fadil dan Syifa.
Faris nampak tersenyum, ini bukan pertama kalinya dia ketempat itu, karena pertama kali dia bertemu Silmi ya disana, saat Silmi memperjelek dirinya bahkan menghitamkan giginya hanya untuk membuat Faris tidak menyukainya, lebih tepatnya menolak rencana perjodohan itu. Namun pada ujung ujungnya tetaplah Silmi klepek klepek pada putranya pak Edi itu.
"Indah ya tempatnya, sejuk, kita bisa memandang perkebunan yang luas itu" ucap Faris sambil menyapu pemandangan disana, ia merasa bosan karena hampir setiap hari yang sering ia lihat hanyalah suasana perkantoran yang kadang kadang membuatnya jenuh, hanya sesekali saja ia pergi ke pantai.
Silmi banyak bercerita dan mengobrol, sesekali ia bercanda bersama Faris, tidak seperti Anum dan Athar yang awal awal pernikahan selalu mengheningkan cipta ditempat itu.
"Mimi, beberapa hari lagi acara resepsi kita akan diadakan, nanti aku akan mengajakmu ke butik langganan ku di kota Y, designer nya sudah terkenal disana. Nanti kita fitting baju pengantin ya" ucap Faris.
"Mas, aku sudah terbiasa dan sudah cocok dengan design yang dibuat Tante Anisa, gimana kalau kita fitting baju pengantin nya di butiknya Tante Anisa saja, design nya bagus bagus ko" pinta Silmi. Faris pun terdiam, tadinya mau protes, tapi karena Silmi yang minta akhirnya ia setuju.
"Ya sudah, nanti kita fitting baju pengantin di butiknya Tante Anisa" Faris setuju.
"Tapi mas, gimana kalau kita bikin baju seragam untuk keluarga sama kerabat dekat, terutama sahabat sahabatku, Anum dan Hawa" pinta Silmi penuh harap.
"Tentu saja boleh, kalau perlu semua santri putra dan Santi putri kebagian seragam semua" ucap Faris hingga Silmi tersenyum senang.
"Beneran mas???"
"Tentu"
__ADS_1
Silmi pun bersorak gembira. Setelah beberapa lama mengobrol disana, akhirnya Silmi mengajak pulang.
"Ayo mas kita pulang"
Mereka pun berjalan kembali menuju rumahnya, tiba tiba di jalan bertemu dengan Zahira, Yusuf dan Yura. Faris merasa senang, karena ia sangat berharap sekali bisa bertemu dengan Zahira untuk menanyakan maksud dan tujuan kalender itu.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Saat Zahira mau menyapa dan mengajak ngobrol, tiba tiba Silmi langsung memotong bahkan ia sengaja biar Zahira tidak banyak bicara apalagi membicarakan hal yang aneh aneh.
"Sssttthhh, Tante jangan banyak bicara dulu, aku tau Tante mau ngomong apa, Tante pasti mau bilang kan kalau Tante adalah perempuan paling cantik imut dan menggemaskan, itukan yang ingin Tante bicarakan. Karena aku sudah tau apa yang ingin Tante katakan, jadi aku sama mas Faris pamit dulu" tutur Silmi. Faris malah mengernyit begitu juga dengan Zahira, sementara Yusuf hanya tersenyum saja.
"Heiii Mimi, 1000 rupiah untukmu yang begitu benar mengungkapkan fakta kalau diriku ini cantik imut dan menggemaskan, tapi kenapa kau begitu cepat ingin pergi?. Waah jangan jangan kau pasti merasa cemburu takut si Faris terpesona padaku ya. Kau tenang saja Mimi, meskipun si Faris begitu terpesona padaku, aku tetap akan setia pada si Yuyu ku tersayang. Jadi kau tidak perlu khawatir apalagi merasa curiga karena itu buang buang waktu" tutur Zahira.
Silmi dan Faris kembali mengernyit heran, sementara Yusuf, lagi lagi ia hanya tersenyum.
"Sssttthhh, Tante jangan banyak bicara, perbanyak saja zikir sama beramal, biar masuk surga. Mas Faris gak akan suka sama Tante, yang suka sama Tante cuma Om Yusuf seorang, yang lainnya mah kelilipan. Kita permisi dulu ya Tante, om Yusuf" Silmi menarik tangan Faris untuk pergi, namun Faris sedikit menahannya.
"Tunggu sebentar Mimi, aku ada perlu sedikit sama Tante Ira" ucap Faris. Silmi terdiam, ia merasa aneh tiba tiba Faris ada perlu dengan tantenya si Anum dan si Hawa itu.
"Ada perlu apa mas?"
"Maaf ya Tante Ira, boleh aku tanya sesuatu" ucap Faris.
"Tentu saja boleh pake banget, tapi kalau kau mau tanya dari mana asal muasal kecantikan ku ini maka jawabannya aku sudah cantik dari lahir" jawab Zahira. Faris pun mengernyit, sementara Silmi sudah menepuk jidatnya.
"Astaghfirullah alazim Tante Ira, istighfar" batin Silmi.
"Begini Tante, aku ingin tanya tentang hadiah yang Tante berikan pada Silmi. Sebenarnya apa maksud dan tujuan kalender ajaib yang Tante berikan pada Silmi?" tanya Faris. Silmi sudah menganga sementara Zahira malah tertawa.
"Ha ha ha, jadi sejauh ini kau belum faham tentang kalender itu?"
Faris hanya menggeleng. Silmi sudah memberi kode untuk tidak menjelaskan arti kalender ajaib pembuat rusuh itu.
"Sini Tante bisikin" Zahira mendekati Faris, namun baru saja dua langkah ia langsung berhenti.
"Astaghfirullah alazim, lupa gak boleh Deket deket, bukan mahram he he. Biar ka Yusuf saja ya yang jelaskan, karena kalau aku yang jelaskan nanti yang disebelah bisa HA RE DANG" ucap Zahira.
__ADS_1
Zahira pun melirik Yusuf, Silmi kembali mengisyaratkan agar tidak ada yang menjelaskan tentang kalender itu. Yusuf hanya tersenyum lalu ia mendekati Faris dan berbisik ditelinga suaminya si Silmi itu.
"Arti kalender itu adalah. Setiap hari suami harus mengajak shoping istrinya biar dia gak jenuh, jangan lupa kasih bonus uang belanja setiap bulan, kalau bisa setiap Minggu. Dijamin istri nempel setiap hari" bisik Yusuf.