
Setelah acara lamaran selesai, rombongan Faris pun pulang sekitar pukul 21:15. Awalnya Bayu meminta untuk menginap karena sudah malam dan perjalanan pun lumayan jauh, namun karena ustadz Usman memicingkan mata padanya sambil komat kamit menggerutu.
"Bos, ini sudah malam, sepertinya juga mau hujan, gimana kalau kita menginap saja malam ini di rumahnya ustadz Usman, pulangnya besok pagi" ucap Bayu.
Tiba tiba ustadz Usman memicingkan matanya pada Bayu sambil menggerutu.
"Tidak ada istilah menginap, nanti terjadi fitnah. Kau mau si Faris ditelanjangi terus diarak arak keliling pesantren" gerutu ustadz Usman. Bayu sudah tersenyum malu.
"Bercanda ustadz"
"Si Faris kan orang kaya raya pake banget, uang gepokannya pasti bukan hanya ada dibawah tempat tidur, pasti dibawah jok mobil pun banyak uang gepokannya. Menginap saja di hotel berbintang, selain lebih nyaman pasti lebih aman dari fitnah" tutur ustadz Usman kembali. Faris dan Bayu sudah mengangguk ngangguk, sementara Bu Santi hanya tersenyum.
"Iya, nanti kalau kemaleman kita akan menginap di hotel berbintang" ucap Faris.
"Hotel bintang 7 ya Bos" Bayu memberi ide.
Ustadz Usman malah mengernyit.
"Hotel bintang 7, kalah obat p*yer bintang 7"
Nisa langsung mencubit pinggang suaminya.
Faris pun berpamitan karena hari semakin malam.
"Ustadz, kita semua pamit, terima kasih atas semuanya. Terima kasih juga karena sudah menerima lamaran ku" ucap Faris.
"Kami juga ikut terima kasih, tak disangka kau datang untuk melamar si Mimi, meskipun ada drama kolosalnya hingga aku dan Nisa berdansa lalu bernostalgia" tutur ustadz Usman.
Faris pun mendekati Silmi ketika mereka berada dihalaman rumah saat mau menaiki mobil.
"Silmi, aku pamit. Semoga acara besok lancar ya" ucap Faris. Silmi sudah mengangguk malu.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam. Hati hati"
__ADS_1
Faris pun tersenyum, lalu menaiki mobil dan pergi dari rumahnya ustadz Usman bersama rombongan.
* * * * * *
Keesokan harinya. Pagi pagi buta setelah mengerjakan shalat subuh, ustadz Usman sudah memanggil Yuda dan Yudi ke rumahnya.
"Ada apa ustadz Usman, kita dipanggil kesini?, jangan jangan kita mau dikasih bonus ya" ucap Yudi ge'er.
Ustadz Usman langsung mengernyit.
"Kenapa kau ge'er pake banget. Aku bukannya mau ngasih bonus, aku mau ngasih kalian kerjaan" ucap ustadz Usman lalu memberikan beberapa gepok kartu undangan pada Yudi dan Yuda.
"Yuda, tolong kau bagikan undangan ini pada semua reader novel berantai. Dan untukmu Yudi, kau bagikan undangan untuk para sahabat dan seluruh keluarga, tanpa terkecuali. Aku ingin berbagi kebahagiaan pada semuanya meskipun waktunya sangat mepet pake banget" tutur ustadz Usman lalu memberikan dua lembar uang seratus ribuan pada Yudi dan Yuda.
"Seratus seratus untuk kalian"
Yudi dan Yuda langsung mengernyit dan saling lirik.
"Ini gak salah ustadz, kartu undangannya bergepok gepok, kenapa ngasih uangnya cuma satu lembar. Sungguh KE BA NGE TAN" protes Yuda.
Yudi dan Yuda sudah menganga.
"Ustadz Usman, itu hajatan 12 hari 3 jam ada acara apa saja?" tanya Yudi kepo.
"Gak macem macem ko, cuma mengheningkan cipta doang" jawab ustadz Usman membuat si kembar kembali menganga.
"Itu mah sama saja bohong. Mau ngadain satu bulan tujuh hari pun gak ada masalah kalau cuma mengheningkan cipta mah. Kirain 12 hari 3 jam itu mau ngadain marawisan, kasidahan, layar tancep, organ tunggal, topeng baskom, kalau perlu ngadain ceramah yang dibawakan ustadz Abdul S, atau sewa penyanyi religi kaya Syakir Daulay atau paling nggak sewa si Abang Sule buat menghibur. Inimah cuma mengheningkan cipta doang, auto tepok jidat" gerutu Yuda.
"Yud, kita 12 hari 3 jam disuruh merhatiin si Silmi sama si Faris doang, dikira bakalan kenyang kali" Yudi ikut menggerutu.
"Kenapa kalian malah protes begitu" gerutu ustadz Usman.
"Iya ustadz, kita akan bagiin kartu undangan ini pada semua keluarga dan para reader novel berantai. Tapi ngomong ngomong gak ada tambahan satu lembar lagi gitu biar tambah semangat" tutur Yuda.
__ADS_1
"Yang ikhlas kalau kerja Yud. Kau tau dari beberapa gepok kartu undangan untuk para reader, itu ada satu lembar undangan untuk mantan pacarmu, setidaknya kau bisa bersilaturahmi" ucap ustadz Usman.
"Siapa mantan pacarku?" tanya Yuda tak mengerti.
"Siapa lagi kalau bukan si NITA ANANTA, diakan mantan pacarmu dari jaman si Selebor naksir sama si Yusuf"
"Ikh ustadz Usman, aku kan gak punya mantan. Si Nita nolak cintaku waktu itu, Apalagi si MILA KAMILA, belum juga ditembak udah nolak duluan" tutur Yuda.
"Ternyata nasib percintaan mu sungguh mengenaskan ya Yud" Yudi sedikit mengejek.
"Kaya sendirinya punya mantan saja" gerutu Yuda.
"Sudah sudah jangan banyak berdebat, cepat kalian bagikan kartu undangan itu, waktunya sudah mepet. Acara pernikahan si Mimi nanti siang. Jadi itu undangan nanti siang harus sudah beres" pinta ustadz Usman yang kini sudah meninggalkan si kembar.
Kini giliran Yudi dan Yuda yang mulai kebingungan.
"Yud, ini uang seratus ribu kira kira cukup nggak ya buat bagiin undangan, secara reader berantai kan ada yang dari Jawa barat, ada yang dari Jawa tengah, Sumatera, Kalimantan, dari NTT juga ada"
"Gini saja kau keliling pulau Jawa sampai Bali, aku bagiin dari pulau Sumatera sampai Kalimantan, sisanya kita kirim lewat paket" tutur Yudi.
"Ok, ayo kita beraksi. Dari Karawang aku mau loncat ke Bekasi, abis itu ke Bandung lalu belok ke Semarang, terus mampir ke Cirebon"
"Aku juga mau ke Medan, terus lampung abis itu ke Kuala lumpur" ucap Yudi.
"Ngapain ke Kuala lumpur, itu kan udah termasuk daerah Malaysia, kau kesasar Yud"
"Ini kira kira uang seratus ribu bisa sampai gak ya keliling pulau Jawa?"
Silmi kini sudah didandani oleh Anisa dan Elina, tentu dengan riasan cantik dan elegan. Silmi memprotes kalau ustadz Usman membuat hajatan 12 hari 3 jam, ia ingin acara pernikahannya sederhana seperti yang sudah sudah dilakukan beberapa orang disana.
"Mimi kenapa tidak mau resepsi pernikahannya dirayakan meriah?. Mimi kan putri satu satunya Abi. Abi ingin membahagiakan Mimi" ucap ustadz Usman.
"Abi, selama ini di pesantren kita tidak ada yang menggelar acara resepsi meriah apalagi sampai 12 hari 3 jam. Itu akan merepotkan dan melelahkan. Dari jaman Tante Aisyah, Tante Anisa, Tante Selebor, kak Syakir, kak Syifa, Adam bahkan Anum, semua caranya dilaksanakan secara sederhana, aku pun ingin seperti itu" tutur Silmi.
Ustadz Usman tidak bisa berbuat apa apa jika Silmi menolak acara resepsi pernikahannya dilaksanakan secara meriah dan mewah.
__ADS_1
"Tapi Mi, si Faris itu kan orang kaya dan terpandang. Pasti keluarganya ingin membuat acara resepsi pernikahan yang sangat meriah. Mimi gak boleh nolak ya jika keluarga si Faris membuat acara mewah di kota Z atau kota Y" tutur ustadz Usman.
Silmi mengangguk pasrah.