
Masih dengan keluarga Silmi yang mengobrol di ruang tamu. Silmi masih diam dan tak mau berkomentar apa apa mengenai masalah perjodohan itu. Nisa dan ustadz Usman sudah berusaha untuk meyakinkan putrinya itu kalau Faris kini sudah berubah menjadi lelaki baik.
Tiba tiba terdengar suara telepon rumah yang membuat Syifa terkaget hingga loncat ke pangkuan suaminya.
KRING KRING KRING, JRENG JRENG JRENG DHUAAAR.
"Astaghfirullah alazim Abang"
Syifa langsung loncat kepangkuan suaminya. Mendadak Fadil menjerit kesakitan ketika Syifa berhasil duduk di pangkuannya dengan hentakan tinggi.
"Huaaaaaa. Aduh semok sakit"
"Maaf Abang aku kaget. Nada dering telepon nya ajaib, lain dari yang lain, suara terakhirnya kaya suara geranat" ucap Syifa sambil turun dari pangkuan suaminya dengan senyum malu.
Ustadz Usman pun langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum. Hallo"
"Inalillahi wa innailaihi Raji'un"
Ustadz Usman nampak terkejut dan langsung menatap Nisa serta putra putrinya. Mereka ikut terdiam sambil bertanya tanya.
"Kenapa Bi?, siapa yang meninggal?" tanya Nisa.
"Pak Edi meninggal Mi" jawab ustadz Usman yang kini diliputi rasa syok yang luar biasa. Dan hampir tak percaya ketika Bu Santi mengabari kalau suaminya meninggal. Nisa dan yang lain ikut terkejut.
"Inalillahi wa innailaihi Raji'un"
"Pak Edi meninggal?"
Ustadz Usman terdiam sambil duduk. Dirinya masih tidak percaya kalau sahabatnya itu meninggal, karena belum lama ini pak Edi mengobrol dan bercanda bersamanya. Apa lagi pak Edi baru pulang dari rumahnya.
"Umi tadi ngasih minum apa sama pak Edi?" tanya ustadz Usman.
"Umi cuma ngasih teh manis. Gak dikasih racun" jawab Nisa.
"Pak Edi punya penyakit diabetes tingkat akut kali?"
"Itu namanya takdir. Kita tidak akan tau nasib seseorang bagaimana. Do'akan saja semoga pak Edi Khusnul khatimah"
"Aamiin"
"Sebaiknya sekarang kita ke rumahnya pak Edi untuk melayat"
Beberapa waktu kemudian, keluarga ustadz Usman sudah berkumpul begitu pun dengan Ustad Soleh dan Sarah, mereka berencana untuk pergi melayat ke rumahnya Bu Santi.
Meski begitu kaget dan hampir tidak percaya atas meninggalnya pak Edi yang begitu mendadak, namun ustadz Usman dan ustadz Soleh selalu mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya itu. Pada kenyataannya harta yang berlimpah, kekuasaan setinggi apapun tidak menjamin hidup lebih lama sesuai keinginan.
Tiba tiba saja Silmi mendadak tidak mau ikut, karena Syifa juga tidak ikut dikarenakan harus menjaga Bilkis yang mendadak rewel.
"Bi, aku tidak ikut ya, di rumah saja nemenin Dede Bilkis" ucap Silmi yang tidak mau bertemu dengan Faris.
"Mimi ikut dong, gak enak sama Tante Santi" pinta Nisa.
"Ikut aja Mi, sekalian kau bisa berkenalan dengan Faris" ucap ustadz Usman. Silmi langsung cemberut.
"Justru karena aku tidak mau ikut, sebab tidak mau ketemu si Om Om itu" batin Silmi.
"Kalau anak tidak mau dijodohkan jangan suka dipaksa" gerutu ustadz Soleh.
__ADS_1
"Aku tidak memaksa, hanya saja sedang memberi mereka kesempatan untuk saling mengenal. Kalau sudah saling mengenal, mau menolak atau menerima itu urusan mereka. Yang penting saling mengenal sewajarnya saja (Jaga batasan)" tutur ustadz Usman.
"Ayo kita berangkat" ajak Nisa.
Mau tidak mau, Silmi pun akhirnya ikut. Mereka berangkat dari kota A hingga kota Z yang harus melewati kota B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y barulah sampai di kota Z yang lumayan melelahkan.
Sesampainya di depan rumah pak Edi yang begitu megah dan mewah, namun kini nampak sesak dipenuhi orang orang yang datang untuk melayat, sudah seperti lautan manusia. Berbagai karangan bunga berukuran besar nampak berjejer dengan tulisan turut berdukacita.
Ustadz Usman memarkirkan mobilnya ditepian jalan karena banyaknya mobil terparkir disana hingga membuat sesak.
Mereka semua turun dari mobil.
Rumahnya almarhum Pak Edi sudah seperti lautan manusia. Mulai dari rekan bisnis, keluarga, sahabat, karyawan bahkan awak media pun nampak berkumpul dan memenuhi pelataran rumah.
"Selebriti aja kalah inimah. Tidak diragukan lagi kalau Om Edi adalah pengusaha hebat. Untung rumahnya besar dan luas, jadi orang orang yang datang masih bisa tertampung, coba kalau rumahnya Segede rumahku, sudah pasti para tamu duduknya diatas genteng gara gara kekurangan tempat" tutur Fadil.
"Ayo masuk" ajak ustadz Soleh
Silmi mendadak tidak mau masuk ketika melihat kedalam banyak orang yang berdesak desakan, bahkan laki laki dan perempuan pun saling berbaur.
"Abi, aku tunggu di mobil saja ya" pinta Silmi.
Ustadz Usman langsung mengernyit.
"Jangan nunggu diluar dong Mimi. Kan gak enak sama Bu Santi"
"Ikut ya, cuma sebentar ko" bujuk Nisa. Silmi pun terpaksa ikut masuk kedalam. Mereka berenam sudah celingak celinguk, bingung karena tidak ada yang dikenali disana. Apalagi yang datang kebanyakan dari kalangan atas. Mereka sudah mengucapkan salam.
Mereka pun berdiri didepan rumah bersama tamu tamu yang lain. Tiba tiba mas Cipto supir pribadi pak Edi datang menghampiri.
"Ustadz Usman beserta keluarga?" tanya mas
"Iya benar, saya ustadz Usman beserta keluarga"
"Silahkan masuk. Bu Santi sudah menunggu didalam" ucap mas Cipto mempersilahkan. Semua pun masuk kedalam. Silmi sudah berdo'a sedari tadi.
"Jangan sampai ketemu Om Faris, jangan sampai ketemu Om Faris, aamiin aamiin aamiin"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Bu Santi pun tersenyum, lalu memeluk Nisa sambil terisak. Ia pun tidak menyangka jika suaminya kini telah tiada.
"Kami turut berdukacita atas meninggalnya Pak Edi"
"Semoga beliau ditempatkan disisinya Allah. Aamiin"
"Yang sabar ya"
Ucapan demi ucapan serta do'a sudah diberikan. Bu Santi kini sudah memeluk bahkan mencium pipinya Silmi.
"Aku turut berdukacita Tante"
"Terimakasih sayang"
Ustadz Usman, ustadz Soleh dan Fadil sudah mengaji dan mendo'a kan almarhum pak Edi.
Saat jenazah selesai dimakamkan. Silmi lebih memilih duduk di mobil. Do'anya terkabul, iya tidak bertemu atau melihat sosok Faris. Bukan Faris tak ada, hanya saja karena begitu banyaknya orang, hingga Faris susah terlihat.
__ADS_1
"Faris kemana, ko gak kelihatan?" tanya ustadz Usman.
"Sejak pulang dari pemakaman, Faris mengurung dirinya di kamar. Sepertinya dia sangat terpukul atas kepergian papanya. . . . Boleh kita bicara sebentar" pinta Bu Santi.
"Tentu"
Bu Santi mengajak keluarganya ustadz Usman ke sebuah ruangan yang tidak ada orang lain. Semua sudah duduk di sebuah ruangan mewah di rumah itu. Hanya Silmi yang tidak hadir karena lebih memilih menunggu di mobil.
"Suamiku meninggal ketika dia sedang bersujud shalat" ucap Bu Santi.
"Subhanallah"
Pak Edi meninggal dalam keadaan solat.
"Bibirnya tersenyum, sangat terlihat kebahagiaan diwajahnya yang tiba-tiba nampak berseri seri. Aku dan Faris begitu terkejut, namun inilah yang namanya takdir. Sebelum beliau meninggal, sesaat sebelum dia mengerjakan shalat. Dia sempat bicara kalau dia sangat berharap sekali jika Faris bisa berjodoh dengan Silmi. Dia sangat bahagia jika itu terwujud. Untuk itu bolehkah aku berharap dan sangat berharap jika Silmi mau menerima Faris sebagai calon suaminya" tutur Bu Santi. Semua terdiam, tidak mungkin mereka semua memaksa Silmi.
"Maaf Bu Santi, tolong berikan waktu untuk Silmi agar ia bisa mengenal luar dan dalam pada diri Faris, hingga Silmi yakin kalau Faris lah jodoh yang dikirim Allah untuknya" tutur ustadz Usman.
"Apa Bu Santi yakin kalau Faris juga akan menerima Silmi dengan kekurangan serta kelebihannya?" tanya Nisa.
"Aku sudah bicarakan ini sebelumnya dengan Faris. Dan dia sangat setuju jika dia di jodohkan dengan Silmi. Faris tidak pernah menolak keinginannya papanya, apalagi dia begitu mendambakan calon istri yang Solehah. Hanya tinggal menunggu Silmi untuk setuju" tutur Bu Santi.
"Nanti kita akan bicarakan masalah ini dengan Silmi. Yang penting Faris mau bersabar menghadapi putriku. Dia tidak akan menerima begitu saja sebelum ia mengenal luar dan dalam tentang lelaki yang akan menikahinya" tutur ustadz Usman.
"Faris pasti akan sabar menunggu Silmi"
Setelah mengobrol ngobrol, keluarga ustadz Usman pun pamit pulang. Karena semakin lama disana semakin banyak tamu yang datang.
"Terima kasih sudah menyempatkan datang kemari" ucap Bu Santi yang kini mengantar mereka sampai ke mobil.
"Sekali lagi kita turut berduka cita atas meninggalnya pak Edi"
Fadil sudah mengetuk pintu mobil belakang. Berharap Silmi mau keluar untuk berpamitan. Fadil sudah mengetuk ngetuk beberapa kali karena Silmi tak kunjung juga keluar. Fadil pun terpaksa membukakan pintu mobil dan dilihatnya Silmi ketiduran.
"Astaghfirullah alazim, si Silmi malah ngorok di mobil, untung tidak ileran sama mangap mangap gak jelas" batin Fadil.
"Mimi bangun"
Fadil sudah menggoyang goyangkan pundaknya Silmi.
"Mi ayo bangun, pamitan dulu sama Tante Santi" pinta Fadil yang kini melihat Silmi sudah bangun sambil mengucek ngucek matanya. Silmi pun keluar menemui Bu Santi.
"Tante aku pamit dulu ya, maaf tadi aku tidak ikut kedalam" ucap Silmi. Bu Santi tersenyum lalu mencium keningnya Silmi.
"Hati hati ya"
Silmi pun tersenyum. Hari ini adalah hari pertama ia bertemu dengan Bu Santi, namun meskipun baru bertemu, sepertinya Bu Santi sangat menyayangi Silmi.
"Secepatnya Tante sama Faris akan berkunjung ke rumahmu" ucap Bu Santi.
Deg
Deg
Deg.
"Duuuh tahun depan saja deh ke rumah nya. Aku belum siap ketemu Om Faris" batin Silmi.
Diperjalanan pulang, ustadz Usman. yang kini sedang menyetir pun terus memikirkan tentang keinginan terakhir pak Edi, yaitu ingin menikahkan Silmi dengan Faris. Di satu sisi, ustadz Usman ingin mewujudkan keinginan sahabatnya itu, namun ia juga tidak ingin memaksa putrinya.
__ADS_1
"Aku harus meyakinkan Silmi untuk bisa mengenal dan menilai Faris dengan baik, hingga ia ia tidak akan menolak jika dijodohkan dengan Faris. Mungkin aku sedikit gereget pada putriku itu, kenapa dia harus terobsesi dengan yang namanya berondong. Pasti si Silmi suka ngintipin si Aisyah sama ustadz Riziq. Berondong nya si Aisyah itu memang dari kecil sudah dewasa sebelum waktunya. Jadi pas sudah dewasa beneran, pikirannya jadi tambah matang. Dan belum tentu semua berondong bisa bersifat seperti ustadz Riziq. Dasar Mimi,,,, Mimi"