
Setelah pulang dari klinik, mereka semua pulang ke rumahnya ustadz Usman kecuali Zahira dan Aisyah yang pergi ke kebun untuk menemui suami mereka disana.
Faris sudah mengelus ngelus perutnya Silmi, begitu juga Fadil yang mengelus ngelus perutnya Syifa. Ustadz Usman sudah menggaruk kepalanya melihat para lelaki yang ada dihadapannya itu sedang berbahagia sambil mengelus perut istri masing masing. Repleks ustadz Usman mengelus perutnya Nisa hingga Nisa langsung menepuk tangan suaminya itu.
"Mau ngapain?" tanya Nisa.
"Maaf Umi tanganku repleks" jawab ustadz Usman. Nisa malah menyipitkan matanya.
"Kalau ketahuan anak anak malu" bisik Nisa.
"Ekhem" Dewi sudah berdehem melihat kelakuan besannya itu.
"Apa besan, kau aham ehem begitu, kau keselek mesin ATM?" tanya ustadz Usman sambil menggerutu. Dewi malah mengerucutkan bibirnya.
"Katakan Mimi, kau ingin makan apa?" Faris terus saja memanjakan Silmi, apalagi sekarang istrinya itu sedang hamil. Silmi terdiam dan mulai berpikir. Syifa yang mendengar ucapannya Faris langsung menatap Fadil.
"Abang Fayang gak mau nanya aku pengen apa" ujar Syifa.
"Abang gak perlu nanya karena Abang tau kau mau apa" ucap Fadil yang mulai sok tau.
"Memangnya Abang tau aku mau apa?" Syifa kembali bertanya hingga Fadil mengangguk ngangguk.
"Apa?"
"Kau pasti pengen sate melon 100 tusuk kan kaya ngidam mu dulu saat mau melahirkan si Gemoy" ucap Fadil. Syifa malah menggeleng. Tiba tiba Dewi menepuk pundak menantunya itu.
"Fadil kau tidak peka banget deh. Sate melon kan itu waktu ngidam si Bilkis, sekarang pasti beda lagi ngidamnya. Pasti si Syifa ini ngidam bakakak ayam versi emas" tutur Dewi.
"Mertuaku ini selain hobby makan, dia juga mata DUI TAN" batin Fadil.
"Wi, si Syifa itu gak ngidam bakakak ayam, tapi putrimu itu ngidam pengen sate celengan Semar, tapi bukan yang terbuat dari emas, tapi yang terbuat dari semen" ucap ustadz Usman. Dewi kembali cemberut.
Faris pun menghubungi Bayu yang kini sedang berada di kantor.
"Hallo, assalamualaikum Bay"
__ADS_1
"Waalaikumussalam Bos, ada apa Bos?" tanya Bayu.
"Katakan pada seluruh karyawan kalau istriku ini sedang hamil, berikan mereka semua bonus. Aku ingin berbagi kebahagiaan bersama mereka" ucap Faris. Bayu yang mendengar pun langsung tersenyum, ia pun ikut merasa senang jika Bosnya itu akan segera memiliki momongan, Bayu juga senang jika para karyawan akan mendapatkan bonus, karena dia pun pasti kecipratan bonus juga.
Ustadz Usman, Dewi, bang Muklis, Fadil dan Syifa sudah menganga.
"Waaah mantuku benar benar Sultan bin dermawan, ia mau bagi bagi bonus untuk karyawannya. Beruntungnya si Mimi" batin ustadz Usman.
"Duuh seandainya si Fadil bersikap kaya si Faris yang royalnya kebangetan, pasti bahagia banget putriku, eh tapi ngomong ngomong, aku kecipratan bonus gak ya dari menantunya ustadz Usman itu" batin Dewi penuh harap.
Ustadz Usman yang melihat mimik wajahnya Dewi pun langsung tau isi pikiran besannya itu.
"Gak usah berharap ingin kecipratan bonus begitu, kau kecipratan minyak panas saja sudah kepanasan" ujar ustadz Usman. Dewi yang mendengar pun langsung mengernyit.
"Ko ustadz Usman bisa tau pikiranku ya, sungguh A JA IB" batin Dewi.
"Syifa sayang, katakan kau ingin apa?" tanya Fadil. Syifa mulai berpikir.
"Aku ingin ke CAPPADOCIA bang, my dream" jawab Syifa. Semua langsung mengernyit mendengarnya.
"Kau terlalu banyak nonton film Syifa. Gak usah jauh jauh pengen ke Turki, disini saja nanti Abi belikan balon yang banyak, nanti kita terbang terbangin kalau perlu kau diikatkan di balon biar kau bisa terbang, pasti kau akan merasakan sensasi yang luar biasa, pesantren berasa seperti Cappadocia" tutur ustadz Usman.
_____________
Keesokan harinya. Silmi benar benar dimanjakan oleh Faris, mau apa apa pasti langsung dituruti, Faris juga menunda keberangkatannya menuju kota A, ia ingin menemani istrinya terlebih dahulu.
Pagi itu Silmi sudah muntah muntah, ia berasa mual dan pusing, mungkin itu hal biasa untuk ibu hamil diawal kehamilannya, tapi tidak biasa dengan Faris. Ia langsung menghubungi Bayu untuk segera mendatangkan seorang Dokter ternama.
"Bay, kau panggilkan seorang Dokter kandungan ternama, paling handal urusan ibu hamil, istriku dari subuh hingga pagi ini terus saja muntah muntah, bahkan dia bilang dia mual melihatku pake setelan jas yang biasa aku pake" tutur Faris. Bayu yang mendengar pun langsung cekikikan.
"Berarti mulai sekarang hingga beberapa bulan ke depan, Bos harus pake sarung terus biar mba Silmi gak muntah muntah" ujar Bayu sambil tertawa kecil. Faris malah kebingungan sendiri.
"Bay, pokoknya hari ini juga Dokternya harus segera sampai kesini, aku tidak mau istriku kenapa napa. Tapi ingat ya, Dokter kandungannya harus perempuan, kalau kau bawa Dokter kandungan laki laki, ku gorok lehermu" tegas Faris.
"Siap Bos, Aku akan datangkan Dokter Muhinie Kapoor Dokter ahli kandungan dari kota Jepang"
__ADS_1
Faris sempat terdiam dan merasa aneh.
"Namanya orang India tapi dia berasal dari Jepang?????"
"Si Bos sempat sempatnya cemburu jika ada Dokter laki laki yang memeriksa istrinya" batin Bayu.
Faris sudah mengelus ngelus pundaknya Silmi.
"Mas bawain air hangat ya"
Silmi mengangguk hingga Faris langsung keluar kamar dan pergi ke dapur untuk mengambil air hangat.
"Si Mimi masih muntah muntah?" tanya Nisa tiba tiba.
"Iya Umi, aku mau bawain air hangat untuknya"
"Dibawa ke Dokter saja"
"Aku sudah menghubungi Bayu, dia akan membawa Dokter kandungan dari Jepang" jawab Faris. Ustadz Usman yang mendengar pun langsung menganga.
"Ya ampun ini menantuku malah mau bawa Dokter kandungan dari Jepang, ini nanti kapan datangnya dari Jepang kesini kan jauhnya pake banget" batin ustadz Usman.
"Abi mau kemana?" tanya Nisa yang melihat suaminya sudah rapih sambil menjinjing satu plastik
"Abi mau berbagi sama anak anak santri dulu, sama anak anak kampung sebelah mau berbagi kebahagiaan" jawab ustadz Usman. Nisa mengangguk sambil menatap plastik berwarna hitam yang dibawa suaminya.
"Itu apa Bi?" tunjuk Nisa.
"Ini uang yang Abi ambil dari bawah tempat tidur. Nanti kalau umi mau tidur siang, jangan tidur dipinggiran kasur ya, soalnya Abi ngambil uangnya dipinggiran kasur, takutnya sekarang posisi kasurnya tidak rata alias tinggi sebelah, kalau kata orang mah jinjet , kan uangnya diambil sebagian sama Abi. Nanti habis pulang bagi bagi, Abi mampir ke bank buat ambil uang, nanti ditaruh lagi dibawah tempat tidur biar posisinya rata seperti semula" tutur ustadz Usman. Nisa hanya mengangguk ngangguk, padahal ia sudah ingin tertawa melihat ucapan suaminya.
"Ya sudah Abi pergi dulu ya, Assalamualaikum" pamit ustadz Usman.
"Waalaikumussalam. Hati hati Bi, takutnya ada begal di jalan" ujar Nisa sambil menahan tawanya.
"Abi mau kemana Mi?" tanya Silmi.
__ADS_1
"Ada urusan. Masih mual tidak?" tanya Nisa. Silmi mengangguk ngangguk.
"Sebentar lagi Dokter yang dari Jepang akan segera datang Umi" ujar Faris. Nisa hanya mengangguk, terkadang ia suka pusing dengan suami dan menantunya itu.