
Masih dengan Silmi yang kini mengernyitkan keningnya merasa heran dan tidak mengerti dengan pesan yang dikirimkan putranya pak Edi itu.
"Apa maksudnya 15 menit lagi???" batin Silmi.
Tiba tiba Nisa memanggilnya dari luar.
"Mimi, makan dulu sayang"
"Iya Umi, tunggu 15 menit lagi" jawab Silmi sedikit berteriak, namun setelah itu ia langsung menutup mulutnya.
"Astaghfirullah, jadi ikut ikutan 15 menit lagi, padahal aku sendiri gak ngerti apa maksud 15 menit itu" gumam Silmi.
Dari depan gerbang utama ada 5 mobil mewah meluncur.
Tiiiid tiiiid tiiiid.
Bang Muklis, Yuda dan Yudi sedikit heran karena banyak mobil mewah yang datang.
"Siapa mereka?" tanya bang Muklis.
"Mungkin ada keluarga Sultan yang nyantri disini" ucap Yudi. Yuda pun terdiam ketika melihat mobil Faris berhenti paling depan.
"Itu kaya mobilnya si Faris"
Yudi pun membukakan gerbang utama.
"Assalamualaikum, maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya Yudi yang belum mengenal Faris dan Bayu. Bayu malah tertawa.
"Idiiiih baru saja beberapa jam kita tidak bertemu sudah melupakan kita" tutur Bayu yang menyangka itu adalah Yuda.
"Idiiiiiiiih, dirimu sok kenal sok dekat deh. Kita belum juga kenalan masa sudah saling melupakan sih" ucap Yudi. Tiba tiba Yuda menghampiri.
"Bayu, ko bisa ada disini?" tanya Yuda. Bayu dan Faris sudah menganga melihat Yuda ada dua.
"Gak usah syok begitu, ini Yudi saudara kembarku" ucap Yuda menjelaskan.
"Oh"
"Ngomong ngomong, kalian mau ngapain datang kemari pake bawa rombongan?" tanya Yuda. Faris dan Bayu pun tersenyum. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya ke pesantren hingga membuat Yuda menganga, akhirnya Faris dan rombongannya melanjutkan perjalanan menuju rumahnya ustadz Usman.
Sesampainya di rumah ustadz Usman. Beberapa mobil mewah itu membunyikan klakson mobilnya.
Tiiiid tiiiid tiiiid.
seer seer seer
Silmi yang mendengar banyak suara mobil berhenti di depan rumahnya langsung terdiam.
"Sepertinya banyak mobil yang datang" batin Silmi.
Ustadz Usman dan Nisa pun ikut terdiam.
__ADS_1
"Bi, itu kayanya banyak mobil didepan rumah?" tanya Nisa.
"Iya Mi, ko Abi tiba tiba deg degan ya. Perasaan Abi gak pernah korupsi deh. Ko rumah kita di kepung begini" ucap ustadz Usman hingga membuat Nisa ketakutan. Lalu keluarlah Silmi dari kamarnya.
"Kenapa Bi?" tanya Silmi penasaran.
"Rumah kita dikepung Mimi. Tadi si Yuda nabrak orang gak di jalan?" tanya ustadz Usman. Silmi pun menggeleng.
"Umi takut Bi, coba hubungi kak Soleh sama Riziq, kalau perlu suruh ustadz Ibrahim juga datang kesini. Takutnya ada apa apa" pinta Nisa. Mereka di rumah hanya bertiga, kebetulan Fadil dan Syifa sudah pulang ke rumahnya. Mereka bertiga tidak ada yang mau mengintip dari jendela hanya untuk mencari tau siapa yang datang.
"Ko suasana mendadak horor ya. Abi kaya berasa jadi bandar narkoba dikepung begini. Idiiiih amit amit" ucap ustadz Usman.
"Aku hubungin om Yuda ya" ucap Silmi. Seketika itu pula Silmi langsung menghubungi Yuda.
"Assalamualaikum mba Mimi" ucap Yuda.
"Om Yuda cepat datang ke rumah, rumahku dikepung, gak tau sama siapa, suasana mendadak genting gak karuan. Detak jantungku udah dah Dig dug gak karuan. Buruan om Yuda datang kesini" pinta Silmi. Yuda malah cekikikan, ia yakin kalau Silmi tidak tau kalau Faris yang datang.
"Dasar, Sholehah Silmi Kaffah putrinya ustadz Usman" batin Yuda.
"Mba Silmi tidak usah takut, segerombolan orang orang yang datang itu adalah orang orang misterius, tapi niat mereka baik, jadi mba Silmi tidak usah takut, mereka datang bukan untuk mencuri uang gepokan yang ada di bawah tempat tidurnya ustadz Usman, tapi mau mencuri hati putrinya ustadz Usman" tutur Yuda hingga membuat Silmi mengernyit.
"Om Yuda sudah gila. Apa maksudnya??"
Tiba tiba terdengar suara musik biola didepan rumah hingga Nisa, Silmi dan ustadz Usman langsung saling lirik.
"Itu bukan mau Ngepung rumah kita, tapi mereka mau ngamen" ucap Silmi.
"Sekarang banyak sultan yang menyamar buat bikin konten"
Suara musik biola pun terdengar merdu mendayu dayu hingga ustadz Usman mengajak Nisa berdansa.
"Romantis ya Mi"
"Hmmm"
Yang didalam rumah sedang menikmati alunan musik yang sengaja dibawakan oleh violinist ternama yang disewa oleh Faris, sementara dengan rombongannya Faris sudah garuk garuk kepala karena tidak ada respon dan sambutan dari keluarganya Silmi.
"Lebih kencang lagi musiknya, mungkin keluarganya Silmi tidak mendengar" pinta Faris.
Seketika pemain biola itu langsung memainkan musiknya dengan sedikit keras. Bukannya keluar, Silmi, Nisa dan ustadz Usman malah menikmati irama musik itu "Sungguh TER LA L U".
Dan pada akhirnya dengan tidak sabarnya Faris menggedor pintu rumahnya Silmi.
"ASSALAMUALAIKUM"
Silmi dan orang tuanya langsung terdiam dan kembali merasa takut setelah Faris menggedor pintu lebih keras.
"Waalaikum salam"
"Buka pintunya Bi" bisik Nisa takut.
__ADS_1
"Berdo'a semuanya" pinta ustadz Usman yang kini mendekati pintu depan untuk dibuka, ia juga sudah menghubungi Ustadz Soleh, Riziq, Ibra dan juga Yusuf.
"Bismillahirrahmanirrahim"
Perlahan ustadz Usman membuka pintunya. Tiba tiba ia terdiam, lebih tepatnya terkejut ketika melihat rombongannya Faris berdiri didepan rumahnya sambil membawa bingkisan mewah.
"Faris"
"Assalamualaikum" ucap Faris kembali.
"Wa waalaikumussalam"
Faris sudah tersenyum pada Silmi. Silmi hanya diam saja belum mengerti apa maksud kedatangan rombongannya Faris.
"Kenapa tiba tiba kau ada disini?" tanya Silmi. Faris kembali tersenyum.
"Maaf sebelumnya ustadz Usman, aku beserta rombongan datang kesini dengan niat yang baik. Aku mau melamar Silmi" ucap Faris. Silmi, Nisa dan ustadz Usman langsung menganga, namun tidak bisa dibohongi kalau mereka nampak senang.
"Kau mau melamar si Mimi?" tanya ustadz Usman memastikan.
"YA"
Nisa sudah tersenyum lalu memeluk putrinya itu.
"Mimi, kau mau dilamar"
"Ni orang gercep pake banget"
Tiba tiba datang Riziq, Ibra, Yusuf, ustadz Soleh, Athar, Fadil dan ustadz Rasyid. Riziq sudah membawa satu kilo cabe merah, Yusuf sudah membawa parang begitu juga dengan ustadz Soleh, bahkan Ibra hampir saja mengeluarkan cerulitnya ketika mendengar kalau rumahnya ustadz Usman mau diserang dan dikepung.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
"Man, siapa yang mau bikin rusuh di rumahmu?. Kita sudah siap membelamu" teriak ustadz Soleh. Ustadz Usman malah menganga.
"Astaghfirullah alazim, salah faham ini"
Rombongan Faris sudah saling lirik tidak mengerti.
"Maaf semuanya, sepertinya ini ada salah faham. Kak Soleh, tidak ada yang mau menyerang rumahku, ternyata ini si Faris sama rombongannya datang mau melamar si Mimi" tutur ustadz Usman.
Semua yang mendengar pun merasa senang.
"Alhamdulillah. Si Mimi laku juga"
"Maaf kalau kedatangan kami membuat gaduh, tapi kami datang kesini benar benar dengan niat yang baik, yaitu mau melamar Silmi" tutur Bu Santi.
"Mimi sayang, kau mau dilamar" ucap ustadz Usman yang senangnya bukan main. Silmi sudah menunduk malu.
"Begini, sebentar lagi azan magrib, gimana kalau acara lamarannya dilaksanakan setelah shalat magrib" pinta ustadz Soleh. Semua mengangguk tersenyum.
__ADS_1
"Jadi ini maksudnya si Om Faris yang menyuruhku menunggunya 15 menit lagi. Aku baru bilang menerimanya saja dia sudah gercep melamarku, duuuh jangan jangan besok dia mau menikahiku" batin Silmi.