
Hari yang ditunggu tunggu pun kini telah tiba dimana Silmi dan Faris menggelar acara resepsi yang begitu megah dan meriah di kota Y. Silmi dan Faris sudah berangkat sehari sebelum acara dimulai. Kini para penghuni pesantren yang sedang heboh ketika mau pergi ke kota Y.
Mobil mobil sudah berjejeran di pelataran pesantren, beberapa bus mewah pun ikut terparkir yang akan membawa para santri putra dan santri putri ke kota Y. Silmi ingin berbagi kebahagiaan bersama semua orang yang ada di pesantren itu. Semua sudah menggunakan seragam yang sengaja diberikan Faris untuk semua orang yang ikut.
Anum, Athar, ustadz Rasyid dan Ustadzah Yasmin serta Hasbi sudah satu mobil. Syakir pun ikut beserta Juwita dan kedua anaknya, Riziq, Aisyah, Adam, Hawa serta Cahaya dan putra putrinya sudah menyewa satu mobil. Zahira dan Yusuf sudah ikut keluarganya Ibra. Ustadz Usman satu mobil bersama keluarganya, begitu juga dengan ustadz Soleh.
Ngomong ngomong soal paper bag yang diberikan Bu Santi untuk Ustadz Usman dan Fadil, mereka berdua nampak menganga ketika tau kalau didalam paper bag itu berisi setelan jas mewah dari Perancis. Namun mereka berdua sempat tidak percaya diri menggunakan pakaian seperti itu, karena biasanya mereka selalu menggunakan sarung serta baju Koko dalam keseharian mereka.
Sebelum berangkat, ustadz Usman sempat tersenyum entah senang atau malu ketika ia menggunakan setelan jas mewah pemberian dari Bu Santi yang sengaja dipesan khusus dari Perancis.
Ustadz Usman sudah menemui orang orang di pelataran pesantren. Semua nampak bengong melihat penampilan barunya, Fadil pun sama menggunakan setelan jas dengan warna dan corak yang sama dengan Abinya.
"Bagaimana penampilan ku?, apa aku sudah terlihat seperti pengusaha, CEO" tanya ustadz Usman pada semua.
"Idiiih pakde terlihat keren" ucap Hawa Sambil mengacungkan jempolnya.
"Abi kaya mafia" ucap Fadil hingga ustadz Usman langsung mengernyit bahkan sampai terkejut.
"Astaghfirullah"
Nisa langsung menepuk pundak putranya itu.
"Jangan sembarangan kalau bicara" gerutu Nisa. Semua sudah menunduk menahan tawanya.
"Kak Usman mirip mafia tanah" goda Aisyah. Ustadz Usman langsung menggeram.
"Bukan mafia tanah Umi, tapi mirip pembawa acara uang kaget" Adam ikut ikutan.
"Itu Om ustadz kalau dikasih kumis pasti mirip sama TUAN TAKUR" Zahira ikut ikutan mengejek. Lagi lagi ustadz Usman menggeram.
"Eh Selebor, sembarangan aku dibilang tuan Takur, gak lihat apa aku terlihat macho begini dengan setelan jas" gerutu ustadz Usman.
__ADS_1
"Om ustadz, emangnya Om ustadz doang yang punya setelan jas. Si Yuyu ku tersayang pun punya banyak setelan jas, cuma dipake ya pas hujan doang" tutur Zahira.
"Itu sih namanya jas hujan" gerutu ustadz Usman. Zahira malah tertawa.
"Ha ha ha ha"
"Sudah sudah ayo kita berangkat, takut telat. Pasti Silmi sedang menunggu kedatangannya kita" ucap ustadz Soleh. Semua sudah masuk mobil masing masing. Para santri sudah naik bus masing masing, nampak kompak dengan seragam batik yang di disain oleh Anisa langsung.
Mobil mobil sudah melaju keluar gerbang pesantren. Bang Muklis, Yudi dan Yuda sudah ikut dengan mobil para santri. Ada sebagian orang pesantren yang tidak ikut dan akhirnya di suruh berjaga.
Perjalanan dari kota A hingga kota Y yang lumayan cukup menyita waktu membuat mereka nampak kelelahan. Tak sedikit para santri yang mabuk kendaraan hingga Yudi dan Yuda sigap memberi obat sekaligus kantong plastik.
Sesampainya di sebuah gedung pernikahan yang begitu luas serta megahnya bukan main. Para penghuni pesantren turun dari mobil masing masing. Ustadz Usman sudah memperingati semuanya agar bersikap sopan dan jangan norak.
Satu persatu mereka memasuki gedung itu. Dewi sudah menganga melihat langit langit gedung itu berkilauan seperti emas dan berlian.
"Eh besan gak usah norak, biasa saja melihatnya, gak usah menganga begitu" ucap ustadz Usman. Dewi langsung cemberut.
"Aku cuma kagum, ini pertama kalinya aku masuk ke gedung pernikahan seperti ini. Waah si Silmi beruntung pake banget dapetin si Faris yang kaya raya bin Sultan. Sayang sekali si Syifa kurang beruntung tidak seperti si Silmi" tutur Dewi. Ustadz Usman langsung mengernyit.
"Tidak usah sensi begitu, bercanda doang" ucap Dewi.
"Sssttthhh, kenapa kalian malah pada ribut sih. Malu tuh banyak yang lihat, ada CCTV juga" Aisyah memperingatkan.
Anum sudah bergandengan tangan dengan Athar, Adam dengan Cahaya, Riziq dengan Aisyah, Ibra dengan Anisa, Fadil dengan Syifa, Syakir dengan Juwita, Zahira dengan Yusuf, ustadz Usman dengan Nisa, ustadz Soleh dengan Sarah, ustadz Rasyid dengan ustadzah Yasmin, Ustadz Azam dengan Ustadzah Ulfi, Dewi dengan bang Muklis, Elina dengan Panji. Sementara Hawa sedang celingak celinguk karena dirinya hanya sendirian, mencari teman tapi semuanya sudah bergandengan tangan dengan pasangan masing masing.
"Sabar ya Hawa, nasib jomblo memang seperti ini" batin Hawa yang kini mulai cemberut gak jelas.
"Apa kau butuh gandengan?"
Tiba tiba seseorang bertanya disebelahnya. Hawa langsung terkejut bukan main, siapa lagi kalau bukan Akmal Ibrahim alias AL.
__ADS_1
"Kau!!"
Hawa sedikit bergeser dari posisinya.
"Jaga jarak aman" ucap Hawa ketus. AL hanya tersenyum, ia pun sedikit bergeser.
"Seberapa jauh pun jarak diantara kita, bagiku kita tetap berdekatan" ucap AL, yang tidak pernah hilang senyuman dibibirnya. Hawa hanya mengernyit.
"Apa putranya ustadz Ibrahim ini sedang menggodaku????. pokus Hawa pokus kalau kau tidak suka sama berondong. Jangan berkhianat seperti si Silmi yang suka Berondong tapi menikah sama Om Om" batin Hawa.
"Apa kau sedang menggodaku?" tanya Hawa, ada nada jutek dalam ucapannya.
"Aku tidak berani menggoda putrinya ustadz Riziq, tapi aku suka menggoda kembarannya Adam" ucap AL sambil menahan tawanya.
"Sama saja" gerutu Hawa sambil berjalan lebih cepat hingga meninggalkan AL yang kini berjalan sendirian.
Semua tersenyum dan merasa takjub melihat Silmi yang seperti seorang ratu diacara itu, ia nampak cantik dan anggun. Nisa yang melihatnya pun sudah berkaca kaca.
"Masya Allah putriku cantik sekali"
"Subhanallah si Mimi kaya bidadari ya" ucap ustadz Usman yang kini berjalan bersama Nisa mendekati Silmi dan Faris.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Silmi tersenyum lalu memeluk orang tuanya.
"Mimi kau cantik sekali sayang" Nisa sudah mengelus dan mencium putrinya.
"Siapa dulu bibit unggulnya kan berasal dari Abi" ucap ustadz Usman. Nisa malah memprotes.
__ADS_1
Mereka semua sudah berpoto Poto bersama. Silmi merasa bahagia bukan main, apalagi saat melihat keluarganya juga bahagia. Silmi pun tersenyum ketika melihat para santri sedang menikmati hidangan, ia merasa senang jika bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
"Ya Allah, terima kasih atas semuanya"