
Diperjalanan menuju kota A, Silmi terus memikirkan tentang jawaban yang ia berikan kepada Faris yang ia tulis disebuah kertas yang dititipkannya pada Bu Santi. Silmi tidak menyangka yang awalnya terobsesi dengan berondong, kini ia malah jatuh hati pada laki laki dewasa seperti Faris yang mantan kucing garong alias buaya darat (mata keranjang dan hidung belang).
Fadil terus melirik adiknya itu dari kaca sepion mobil, dilihatnya Silmi sedang senyum senyum gak jelas.
"Ehem, uhuk uhuk"
Fadil pura pura berdehem dan batuk batuk hingga Silmi menunduk malu, ia tau kalau kakaknya itu sedang memperhatikannya.
"Om Yuda, nanti di apotek berhenti sebentar ya" pinta Syifa.
"Kau mau beli apa sayang?" tanya Fadil.
"Mau beli obat batuk buat Abang, tadi Abang batuk batuk. Kalau Abang nyampe pesantren masih batuk batuk, nanti Abang bisa di isolasi sama Abi Usman" tutur Syifa. Silmi dan Yuda sudah menahan tawanya sementara Fadil sudah mengernyit.
"Diih si semok gak ngerti maksudku batuk batuk. Duuuh dasar S Ese M omOK binti Muklis" batin Fadil.
"Semok sayang, yang penting berat badanmu gak turun, karena kalau berat badanmu sampai turun, Abang bisa diisolasi sama ibumu" tutur Fadil. Syifa sudah cekikikan sendiri.
Kini perjalanan yang cukup melelahkan dari kota Y sampai ke kota A, akhirnya sampai juga.
Sesampainya di depan gerbang pesantren. Yudi sudah bersorak gembira melihat saudara kembarnya datang.
"Horeeeeee si Yuda pulang" teriak Yudi.
Seketika itu pula Yuda langsung keluar dari mobil dan memeluk saudara kembarnya.
"Yudi aku rindu. Tapi gak berat, karena yang berat cuma istrinya bang Muklis sama istrinya mas Fadil doang" tutur Yuda. Fadil sudah menggeram.
"Kenapa bawa bawa istriku" gerutu Fadil.
Yuda dan Yudi sudah berjingkrak jingkrak seperti anak kecil meskipun mereka sudah berumur.
"Wooooy Yudi, Yuda, kutinggal ya" Fadil mengambil alih mengemudi mobil itu meninggalkan gerbang utama.
"Mas Fadil aku jangan ditinggal, itu barang barang sama oleh oleh masih di bagasi" teriak Yuda.
Ketika mobil melewati persimpangan jalan, tiba tiba Fadil melihat ibu mertuanya yang baru pulang dari kantin bersama Aisyah.
Tiiiid tiiiid tiiiid.
"Semok sayang kau sudah pulang" teriak Dewi.
Mobil pun mendadak berhenti.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
"Silmi sudah pulang?" tanya Aisyah. Silmi nengangguk tersenyum.
__ADS_1
"Sudah Tante. Hawa ada di rumah?" tanya balik Silmi.
"Ada, tadi sih lagi ngobrol ngobrol sama Adam" jawab Aisyah. Silmi pun mengangguk ngangguk.
"Syifa, ibu rindu padamu pada si gemoy juga. Eh ngomong ngomong berat badanmu tidak turunkan sayang?" tanya Dewi sambil melirik Fadil.
"Tenang aja Bu, si S Ese M omOK tidak turun berat badannya, tapi malah naik, makin lebar badannya. Aku hebat kan Bu?" ucap Fadil.
"Ikh Abang, cuma naik 2 ons aja bangganya dunia akhirat. Yang harusnya bangga itu ketika seorang istri berhasil membuat perut suaminya buncit" tutur Syifa. Dewi pun melirik barang barang yang ada didalam mobil.
"Syifa, itu oleh oleh ya?" tanya Dewi kepo.
"Hmmmm"
Tiba tiba Dewi langsung membuka pintu mobil dan masuk begitu saja.
"Fadil, ibu ikut ke rumah ustadz Usman, takut gak kebagian oleh oleh" ucap Dewi hingga semua langsung mengernyit.
"Hadeuuuh bukan mertuaku namanya kalau gak heboh lihat makanan" batin Fadil.
"Aisyah, kau pulang sendirian ya, aku rindu pada cucuku" ucap Dewi.
"Kalau ngomong rindu pada cucu, gak tau nya rindu oleh oleh" sindir Aisyah yang kini pulang sendirian.
Sesampainya mobil didepan rumahnya ustadz Usman.
Ustadz Usman dan Nisa pun tersenyum atas kepulangan putra putrinya, serta menantu dan cucunya.
"Mimi sayang kau sudah pulang"
Ustadz Usman dan Nisa memeluk Silmi. Melihat adik perempuannya dipeluk, mendadak Fadil ingin bernyanyi.
"🎶AKU CEMBURUUUU. . . TRA LA LA LA LA🎵"
"Fadil masa kau cemburu sama si Mimi" ucap ustadz Usman. Nisa pun tersenyum lalu memeluk putranya itu.
"Umi juga sayang padamu" ucap Nisa hingga Fadil tersenyum senang.
"Abi baru bilang sayang sama si Mimi saja kau sudah bernyanyi, gimana kalau Abi bilang sayang sama si Semok, kau pasti langsung kejejeran" gerutu ustadz Usman. Fadil sudah mengerucutkan bibirnya.
Saat Dewi keluar dari mobil, ustadz Usman langsung mengernyit heran, lalu mencari cari Yuda.
"Besan, kenapa tiba-tiba kau yang keluar dari mobil?, mana si Yuda?" ucap ustadz Usman.
"Si Yuda sudah kutelan" jawab Dewi. Lagi lagi ustadz Usman mengernyit, lalu menatap Fadil.
"Om Yuda turun di pos depan, dia lagi kangen kangenan sama om Yudi"
Ustadz Usman pun menatap Silmi sambil menggendong si gemoy.
__ADS_1
"Mimi sayang, Mimi sudah punya keputusan?" tanya ustadz Usman. Silmi mendadak malu hingga wajahnya memerah.
"Aku cape Bi, mau istirahat dulu ya" Silmi mendadak kabur.
"Umi, kenapa si Mimi mendadak malu begitu?" bisik ustadz Usman.
"Perempuan kalau ditanya langsung seperti itu pasti suka malu Bi, nanti saja kita tanyakan langsung" ucap Nisa. Karena tidak sabar ustadz Usman menatap Fadil meminta jawaban.
"Tentu saja si Mimi mau. Si Faris nya mantan kucing garong, si Mimi nya malu malu kucing, ngeklop, sama sama ada kucingnya" jawab Fadil.
"Abang, kalau si Silmi malu malu kucing, lalu Abang apa?" tanya Syifa.
"Ma lu ma lu in" tiba tiba Bilkis menjawab hingga semua tertawa.
"Ha ha ha ha"
"Eh tapi beneran si Mimi Nerima perjodohan itu?" tanya ustadz Usman kembali.
"Hmmm"
"Waaah benar kata almarhum si Edi, kalau si Faris punya pesona yang luar biasa hingga si Mimi klepek klepek. Tapi bukan klepek klepek meninggal, tapi klepek klepek TER PE SO NA" ucap ustadz Usman, namun dirinya merasa senang mendengar Silmi mau menerima Faris dengan masa lalunya itu.
Nisa pun masuk ke kamarnya Silmi, dilihatnya putrinya itu sedang membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Mimi"
Nisa sudah mengelus kepalanya Silmi.
"Kata kakakmu, kau menyukai Faris"
Silmi kembali malu, namun kepalanya mengangguk ngangguk. Nisa kembali tersenyum, merasa bahagia dengan keputusan yang Silmi ambil.
"Mimi gak terobsesi lagi sama berondong?" tanya Nisa. Silmi menggeleng.
"Alhamdulillah. Karena kata Abi mu kalau kau masih terobsesi ingin menikah dengan berondong, Abi merekomendasikan Fawwaz untuk jadi calon suamimu" tutur Nisa dengan sedikit menahan tawanya. Silmi langsung mengernyit lalu mengerucutkan bibirnya.
"Gak ada kandidat lain selain Fawwaz" gerutu Silmi. Nisa malah tertawa.
"Cuma bercanda. Tapi umi senang banget dengar keputusanmu. Alhamdulillah kau mau menerima Faris"
"Iya Mi, Om Faris orangnya baik, dia juga bertanggung jawab. Mudah mudahan dia jodoh yang dikirim Allah untukku" ucap Silmi.
Nisa tersenyum lalu kembali mengelus kepalanya Silmi.
"Jangan panggil dia Om, panggil dia mas atau abang. Sekarang kau istrirahat dulu ya. Umi mau beres beres dulu" pamit Nisa.
Silmi mengangguk lalu kembali merebahkan tubuhnya, tiba tiba hapenya bergetar, dilihatnya ada pesan masuk.
:Tunggu aku 15 menit lagi: (Faris).
__ADS_1