
Hari itu, pagi pagi sekali Faris yang sehabis pulang dari masjid bersama mertuanya alias ustadz Usman, berjalan pulang menuju rumahnya. Faris belum berangkat lagi ke kota Y, ia masih ingin bersama Silmi si istri tercinta. Bayu lah yang kini mengurus pekerjaan di kantornya.
Saat mereka berjalan, tidak sengaja bertemu dengan ustadz Soleh dan Riziq yang mau pergi ke kebun kebetulan ini adalah hari libur jadi tidak mengajar.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
"Baru juga pulang dari masjid kalian langsung ke kebun saja, memangnya tidak mau ngopi ngopi dulu" ucap ustadz Usman.
"Nanti saja ngopinya di kebun, kebetulan hari ini mau panen beberapa sayuran, kau tidak mau ke kebun Man" ujar ustadz Soleh.
"Iya nanti aku nyusul, mau sarapan dulu...
Faris kau mau ikut panen sayuran tidak?" tanya ustadz Usman. Faris pun mengangguk.
"Boleh papi"
"Kita pulang dulu ke rumah, nanti nyusul ke kebun, sekalian mau ngajak si Fadil juga. Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Faris dan ustadz Usman melanjutkan langkahnya menuju rumah. Sesampainya di rumah, sudah terlihat Nisa berdiri didepan untuk menyambut suaminya pulang, namun Faris terdiam karena istrinya tidak kelihatan.
"Si Mimi sayang ko gak nyambut kedatanganku sih?, apa dia ketiduran di kamar?" batin Faris yang sudah celingak celinguk mencari Silmi.
"Umi, si Mimi kemana?" tanya Faris.
"Silmi sedari tadi belum keluar kamar" jawab Nisa. Faris pun masuk ke rumah dan bergegas mencari Silmi di kamarnya. Dilihatnya kamar nampak sepi. Faris sudah memanggil manggil Silmi namun tidak ada jawaban.
"Si Silmi kemana ya, apa dia pergi ke rumahnya Hawa sama Anum?, tapi biasanya kalau dia mau pergi selalu izin dulu padaku" batin Faris.
"Mimi,,,, Mimi"
Faris pun mencari Silmi ke kamar mandi, ia nampak terkejut melihat istrinya itu sudah tergeletak di dalam kamar mandi.
"Astaghfirullah alazim Mimi"
Faris bergegas masuk ke kamar mandi dan langsung membawa Silmi.
"Silmi kau kenapa?"
Faris pun berteriak memanggil ustadz Usman.
"Papi si Mimi pingsan"
Seketika itu pula Ustadz Usman dan Nisa bergegas masuk ke kamarnya Silmi.
"Ada apa?"
Ustadz Usman dan Nisa begitu khawatir dengan teriakan menantunya itu apalagi melihat putri mereka pingsan.
"Si Mimi kenapa?"
"Aku menemukan Silmi pingsan di kamar mandi" jawab Faris.
"Astaghfirullah alazim. ayo kita bawa dia ke klinik"
Faris, ustadz Usman dan Nisa pun langsung membawa Silmi ke klinik, tentunya dengan menaiki mobil. Sepanjang perjalanan Faris terus berdo'a untuk keselamatan istrinya.
Ditengah jalan mereka bertemu dengan Zahira dan Aisyah, tentunya ada si Yura juga.
"Kalian mau kemana, kalau mau pergi liburan aku ikut" teriak Zahira karena mobil tak kunjung berhenti.
"SI MIMI PINGSAN" teriak ustadz Usman.
Zahira dan Aisyah yang mendengar pun langsung terkejut.
"Astaghfirullah, si Mimi pingsan. Jangan jangan dia dideketin makhluk halus" ucap Zahira. Aisyah langsung menepuk pundak adik iparnya itu.
__ADS_1
"Kalau bicara itu jangan aneh aneh. Kita lihat keadaan si Mimi yu" ajak Aisyah yang mulai cemas dengan kondisi keponakannya itu.
"Susulin ke klinik?" tanya Zahira.
"Ya iya, masa susulin ke mal" gerutu Aisyah. Akhirnya mereka pun menyusul ke klinik.
Sesampainya mobil Faris di klinik, Faris bergegas menurunkan Silmi dari mobil, Silmi masih belum juga sadarkan diri.
"Hati hati"
Baru saja mau masuk ke klinik, mereka kembali terkejut melihat Fadil dan bang Muklis datang sambil membawa Syifa yang juga pingsan.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumussalam"
Ustadz Usman dan Nisa kembali cemas melihat keadaan menantunya yang ikut pingsan juga.
"Astaghfirullah alazim, itu si Syifa kenapa?" tanya ustadz Usman sambil mendekati.
"Si semok sayang pingsan Abi" ujar Fadil.
Ustadz Usman dan Nisa kembali terkejut.
"Pingsan????. . . .
Ko bisa si Mimi sama si Syifa pingsannya barengan. Kompak amet" ujar ustadz Usman.
"Emangnya si Mimi kenapa Bi?" tanya Fadil.
"Si Mimi juga pingsan di kamar mandi. Itu si Syifa pingsan dimana?"
"Istriku pingsan ditempat tidur Bi" Fadil memberitahu. Ustadz Usman malah mengernyit lalu mendekati Fadil dan berbisik ditelinga putranya itu.
"Mainnya biasa saja Dil, jangan suka gurung gusuh begitu, itu anak orang dibikin pingsan begitu gimana ceritanya" ujar ustadz Usman. Kini giliran Fadil yang mengernyit.
"Idiih Abi ngomong apaan, orang aku belum nyolek nyolek si Semok dari semalem, dia dari semalem kepalanya pusing" gerutu Fadil.
Akhirnya Silmi dan Syifa di bawa masuk ke dalam klinik, tentunya Dokter Husna sigap menangani mereka.
Ustadz Usman dan bang Muklis sudah duduk kebingungan.
"Aneh ya, ko mereka bisa pingsan barengan begitu, apa sebelumnya mereka janjian terlebih dahulu" ucap ustadz Usman.
"Dari pada berpikiran yang aneh aneh, lebih baik do'akan saja putri dan menantu kita biar cepat sembuh" ucap Nisa.
Tidak lama kemudian datanglah Zahira dan Aisyah yang memang mengikuti mereka dari belakang.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
"Bagaimana keadaannya Silmi, apa dia sudah sadar?" tanya Aisyah. Belum juga mendapatkan jawaban, tiba tiba datanglah Dewi dengan tergesa-gesa.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Dewi berusaha mengatur nafasnya yang kini sudah terengah-engah, maklum saja ia sedikit berlari menuju klnilik karena khawatir dengan putrinya.
"Bagaimana keadaannya si Syifa, apa dia baik baik saja?" tanya Dewi. Zahira dan Aisyah langsung mengernyit heran kenapa tiba tiba Dewi menanyakan Syifa, setau mereka yang pingsan itu adalah Silmi. Zahira sudah mendekati Dewi.
"Tarik nafas, terus hembuskan secara perlahan. Tetap pokus dan jangan panik, sekali lagi JA NGAN PA NIK" ucap Zahira. Kini Dewi yang mengernyit.
"Eh Selebor, kau kira aku mau melahirkan" gerutu Dewi.
"Idiiih lagian kak Dewi ngapain nanya nanyain si Syifa, orang yang pingsan itu si Mimi" ujar Zahira. Lagi lagi Dewi mengernyit.
"Ko si Silmi sih, yang pingsan itu si Syifa" ucap Dewi.
__ADS_1
"Si Silmi" (Zahira).
"Si Syifa" (Dewi).
"Silmi"
"Syifa"
Zahira dan Dewi malah berdebat antara Silmi dan Syifa. Ustadz Usman sudah kesal melihatnya.
"Ini lama lama aku ngambil batu bata, terus ku jedotkan ke kepala kalian berdua biar kalian ikutan pingsan juga. Di suasana genting begini kalian sempat sempatnya ribut. Yang pingsan itu si Mimi sama si Syifa. Jadi kalau kalian mau ikutan pingsan, sana daftar dulu sama Dokter Husna" tutur ustadz Usman.
Dewi dan Zahira langsung menganga, begitu juga dengan Aisyah yang baru mengetahui jika yang pingsan itu Silmi dan Syifa.
"Astaghfirullah alazim, jadi yang pingsan itu Silmi sama Syifa?, ko bisa mereka pingsan barengan?" tanya Aisyah.
"Si Silmi sama si Syifa mendadak kompak" ucap Dewi.
"Harusnya yang pingsan itu si Syifa sama kak Dewi, biar ngimbang gitu bawanya" ucap Zahira. Aisyah sudah mencubit lengan adik iparnya itu, sementara Dewi sudah menggeram.
"Terus keadaan mereka sekarang gimana?" tanya Aisyah.
"Lagi di periksa sama Dokter Husna. Ada Faris sama Fadil yang menemani mereka di dalam"
Tidak lama kemudian datanglah Dokter Husna menghampiri mereka. Tentu saja Dewi dan Nisa langsung menghampiri karena mereka begitu khawatir dengan putri mereka masing masing.
"Dokter Husna, bagaimana keadaannya Silmi?" tanya Nisa.
"Si Syifa semok sudah sadar belum?" tanya Dewi. Tiba tiba Zahira yang menjawab.
"Kalau si Syifa belum sadar juga, kompres saja keningnya pake bakakak ayam, dijamin pasti langsung sadar"
Lagi lagi Aisyah mencubit lengannya Zahira.
"Ikh kak Aisyah, dari tadi aku dicubitin mulu, dikira aku sedang kesemutan" gerutu Zahira. Dewi langsung menggeram pada Zahira.
"He he, bercanda doang kak Dewi, gak usah menatapku dengan tatapan lapar begitu, serem tau lihatnya. ME NYE RAM KAN" ucap Zahira takut.
"Dok apa mereka berdua sudah sadar?" tanya Aisyah.
"Alhamdulillah mereka berdua sudah sadar" jawab Dokter Husna.
"Alhamdulillah"
"Dok, kalau boleh tau mereka pingsan gara gara apa ya, apa karena kekurangan oksigen atau kekurangan makan?" tanya ustadz Usman.
"Yang jelas sih bukan kekurangan duit" ucap Zahira.
"Alhamdulillah mereka berdua tidak kenapa-kenapa, dan tidak sakit apa apa. Mereka berdua sedang hamil" ucap Dokter Husna. Semua yang mendengar pun langsung terkejut gembira.
"Alhamdulillah, aku mau punya cucu lagi, langsung dua sekaligus" ucap ustadz Usman yang begitu senang mendengarnya jika putri dan menantunya kini sedang hamil.
"Lagi lagi mereka berdua KOM PAK. Duuuh kapan Dede Yuri nongol, ko mendadak aku pengen hamil lagi" ucap Zahira sambil mengelus perutnya.
"Kalau kau hamil lagi, itu artinya akan ada drama pisang Ambon lagi"
Sementara yang ada didalam, Faris sudah mengelus kepalanya Silmi bahkan mengecup keningnya, ia merasa bahagia mendengar Istrinya hamil.
"Terima kasih ya sayang"
Silmi sudah tersenyum, ia tidak menyangka ia akan hamil secepat itu, mungkin ini ada hubungannya dengan kalender ajaib. Fadil dan Syifa pun sedang merayakan kebahagiaan mereka.
"Selamat ya semok sayang, akhirnya si Bilkis punya adek juga" ucap Fadil.
"Iya Abang, sebentar lagi kita punya bayi lagi"
Silmi pun membukakan gorden pembatas antara tempat tidurnya dengan Syifa.
"Kak Fadil, kak Syifa, selamat ya, kalian mau punya bayi lagi" ucap Silmi yang juga ikut bahagia.
__ADS_1
"Selamat juga buat kalian berdua, jaga kehamilanku ya Mimi. Pingsannya kompak, hamilnya kompak, jangan lupa ngidamnya juga harus kompak sama Abi Usman, biasanya si Abi suka mendadak baik pake banget kalau urusan cucu. Jadi manfaatkanlah situasi dengan sebaik baiknya" tutur Fadil.