SILMI

SILMI
Melahirkan


__ADS_3

Hari hari pun terlewati sudah. Kini usia kandungan Silmi sudah menginjak bulan kesembilan, begitu juga dengan Syifa. Faris banyak menemani istrinya, pekerjaannya di kantor ia serahkan pada Bayu. Silmi kadang kadang banyak mengeluh, namun berbeda dengan Syifa, seperti kehamilan Bilkis dulu, Syifa tidak ngidam apapun.


Hari ini Faris sedang asik bermain bola didepan rumah ustadz Usman tentunya bersama Fadil. Ustadz Usman sendiri hanya duduk memperhatikan mereka. Silmi dan Syifa pun duduk diteras depan juga dengan Bilkis, ikut menatap kedua orang lelaki dewasa yang kini sedang bermain bola.


Nisa datang sambil membawa minuman dan beberapa cemilan, dan ditaruhnya di atas meja.


Ustadz Usman sudah tersenyum melihat keluarganya kumpul seperti ini, apalagi akan menambah dua personil baru, tentunya akan membuat tidak sabar.


Tiba tiba perutnya Silmi berasa mulas. Silmi sudah mengaduh sambil memegangi perutnya.


"Kau kenapa Mimi?" tanya Nisa.


"Perutku mulas Umi."


Silmi sudah berkeringat.


"Apa kau mau melahirkan?" tanya Nisa kembali namun kali ini Nisa berasa cemas.


"Gak tau umi tapi perutku mulas banget" jawab Silmi.


"Bi, perut si Mimi mulas, sepertinya dia mau melahirkan"


Mendengar itu ustadz Usman terkejut.


"Mimi kau mau melahirkan?" ujar ustadz Usman. Faris yang mendengar pun ikut terkejut, ia langsung berlari mendekati istrinya.


"Mimi, kau kenapa, apa benar kau mau melahirkan?" tanya Faris yang kini sudah panik.


"Ayo kita bawa Silmi ke rumah makan" pinta ustadz Usman yang panik pake banget.


"Rumah sakit Abi, si Mimi mau melahirkan bukannya mau makan" gerutu Nisa.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit terdekat saja," pinta ustadz Usman.


"Jangan papi, aku khawatir fasilitasnya kurang lengkap, Silmi akan melahirkan anak pertama kami, jadi harus dibawa ke rumah sakit yang bagus" ujar Faris.


"Dimana rumah sakitnya, ayo kita bawa si Mimi kesana"


"Di Jepang ada rumah sakit yang bagus, peralatannya juga canggih, kita bawa si Mimi kesana" pinta Faris. Semua langsung terdiam mengernyit mendengarnya.


"Keburu berojol kalau si Mimi dibawa ke rumah sakit yang ada di Jepang" gerutu Nisa.


"Emangnya di Indonesia gak ada rumah sakit yang bagus hingga harus dibawa ke Jepang?" gerutu ustadz Usman.


"Aduuuh perutku...."


Silmi sedari tadi sudah meringis.


"Ayo buruan bawa si Mimi ke rumah sakit" ujar Fadil yang mulai gemas dengan mereka yang malah memperdebatkan drama kolosal rumah sakit di Jepang.


Faris sudah menggendong Silmi ke mobil. Ustadz Usman panik, ia pun duduk untuk mengemudi. Nisa pun ikut naik.


"Dil, beritahu yang lain jika si Mimi mau melahirkan" pinta ustadz Usman. Fadil mengangguk ngangguk. Dan tiba tiba Syifa ikut meringis merasakan perutnya yang mulas.


"Aduh Abang, perutku mulas" ujar Syifa.

__ADS_1


"Yu, Abang antar ke toilet" ujar Fadil. Syifa langsung mengernyit.


"Ko ke toilet sih Bang, aku ini mau melahirkan. Si Faris saja yang tau kalau istrinya mau melahirkan dia langsung mau membawa si Mimi ke rumah sakit yang ada di Jepang. Ko Abang malah mau membawaku ke toilet, emangnya aku mau melahirkan di toilet" gerutu Syifa. Fadil pun terkejut.


"Jadi kau mau melahirkannya?"


"Hmmm, sepertinya begitu"


Seketika itu pula Fadil langsung berteriak.


"SI SEMOK MAU MELAHIRKAN"


Ustadz Usman yang mendengar pun langsung menghentikan mobilnya.


"Si semok mau melahirkan?" tanya ustadz Usman memastikan.


"Sepertinya begitu Bi, ayo putar balik lagi, sekalian kita bawa si Syifa ke rumah sakit" pinta Nisa. Ustadz Usman memutar balikan mobilnya mendekati Fadil dan Syifa.


"Sabar ya Mimi sayang, kita sekalian bawa si Syifa juga, nanti berojolnya barengan biar kompak"


Ustadz Usman dan Nisa turun dan langsung menghampiri Syifa yang kini sedang merintih mulas.


"Ayo kita sekalian bawa si Syifa ke rumah sakit"


Ketika mau masuk ke mobil, rupanya mobil hanya bisa membawa 4 orang saja, maklum saja itu mobil mewahnya Faris hanya cukup untuk empat orang.


"Nggak muat Bi"


"Bawa mobil Abi saja, Fadil kau yang bawa mobil, nanti umi yang naik mobil bersama kalian. Jangan lupa si gemoy diajak"


Ustadz Soleh, Sarah, Umi Salamah, Aisyah, Riziq, Hawa, Anum, Zahira, Yusuf, Athar, Adam, Cahaya, Dewi, bang Muklis, Anisa, Ibra Erika, Hasan, ustadz Rasyid, ustadz Azam dan para penghuni pesantren lainnya ikut menyusul ke rumah sakit. Mereka berangkat kesana menggunakan mobil ustadz Soleh, mobilnya ustadz Rasyid selebihnya naik angkot.


Sesampainya rombongan Silmi dan Syifa sampai di rumah sakit, mereka pun turun. Faris langsung menggendong Silmi masuk kedalam. Melihat itu Fadil pun tidak mau kalah. Fadil ikut bergegas menggendong Syifa, namun apalah daya karena badan istrinya itu yang badannya lumayan semok ditambah lagi hamil, membuat Fadil tidak kuat menggendong istrinya.


"Aduuuh berat."


Ustadz Usman sudah menepuk pundak putranya itu.


"Gak usah sok jago, istrimu gak hamil saja kau tidak kuat menggendongnya, apalagi sekarang sedang berbadan dua" gerutu ustadz Usman. Fadil hanya cengengesan malu, hingga akhirnya ada seorang perawat yang membawakannya kursi roda. Seketika itu pula Fadil langsung duduk disana.


Kini giliran Nisa yang menepuk gemas putranya itu.


"Kenapa kau yang naik kursi rodanya," gerutu Nisa.


"Astaghfirullah alazim, Umi maaf, aku sedang panik jadi pikiranku muter-muter," ujar Fadil yang turun dari kursi roda lalu mendudukkan Syifa di kursi itu.


"Abang menyebalkan deh," ujar Syifa.


"Maaf semok sayang."


Setelah mendaftar, kini Silmi dan Syifa sudah mendapatkan ruang persalinan. Ruangannya bersebelahan membuat Ustadz Usman dan Nisa bolak balik melihat putri dan menantunya itu.


Tidak lama kemudian datanglah rombongan para penghuni pesantren yang sudah seperti mau ngebesan.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumussalam."


Zahira langsung mendekati ustadz Usman.


"Om ustadz, bayinya laki laki apa perempuan?" tanya Zahira yang mulai kepo.


"Belum juga berojol Ira, do'akan saja lancar semuanya. Duuh aku deg degan banget seperti dapat bonus berlipat-lipat. Dulu aku sulit sekali mempunyai cucu, tapi sekarang langsung mau launcing 2 cucu sekaligus," tutur ustadz Usman.


"Berarti sekarang tangannya si Bilkis aman, gak akan ditarik sana tarik sini," ujar ustadz Soleh.


"Mereka berdua sudah mendapatkan tindakan?" tanya Aisyah.


"Sudah, Silmi ditangani dokter Ayu, sementara Syifa ditangani oleh Dokter Aini," jawab Nisa.


Dewi dan Fadil sudah menemani Syifa di ruangannya, sementara Nisa dan Faris berada di ruangannya Silmi. Yang lain hanya menunggu didepan termasuk ustadz Usman dan bang Muklis. Riziq menerobos masuk menemui Fadil, tanpa izin ia mengambil sorban yang ada dipundaknya Fadil.


"Aku sita, takut kecekik. Kau tidak perlu cemas dan risih karena sekarang aku tidak akan menyuruhmu untuk menanyakan pada Dokter tentang arti pembukaan karena aku sudah tau artinya meskipun tidak paham." ujar Riziq yang langsung keluar dari ruangan itu lalu masuk ke ruangannya Silmi.


Riziq sudah mendekati Faris.


"Mana sorban mu biar aku sita," ujar Riziq. Faris langsung mengernyit.


"Maaf ustadz Riziq, aku kan memang gak pake sorban," jawab Faris.


Riziq baru sadar kalau suaminya si Silmi ini seorang pengusaha bukan seorang ustadz. Tapi Riziq melihat jika di lehernya Faris ada dasi yang terpasang rapi di kemejanya.


"Buka dasi mu takut nanti kecekik," pinta Riziq yang kini sudah membantu Faris membuka dasi itu. Faris hanya menurut meskipun ia tidak tau apa maksud dari semuanya.


"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyuruhmu untuk memberikan pertanyaan pada Dokter Ayu."


Riziq pun keluar sambil membawa sorban Fadil dan membawa dasinya Faris.


"Le, kau bawa sorban sama dasi siapa?," tanya Aisyah.


"Punya Fadil sama Faris. Takutnya mereka kecekik," jawab Riziq.


"Si Mimi sama si Syifa gak bakal nyekik suaminya, emangnya si Aisyah, pas anaknya mau berojol dia langsung menganiaya suaminya," tutur ustadz Usman. Aisyah langsung mengerucutkan bibirnya.


"Sssttthhh, jangan berisik," pinta ustadz Soleh.


Telinga mereka pun langsung berpokus ketika mendengar suara tangis bayi yang berada di ruangannya Syifa.


"Oaaaaa oooooooooaaaaa oooaaaaa. BRUUUGH."


"Alhamdulillah."


Ustadz Usman dan bang Muklis sangat senang mendengar suara tangisan cucunya. Namun mereka semua terdiam mendengar sesuatu yang jatuh mengguprak keras sekali, bahkan Zahira menyangkanya itu sebuah gempa. Lahirnya bayi Syifa disertai dengan gempa.


"Ini pertanda baik apa pertanda buruk ya, ko bayinya si Syifa berojolnya disertai dengan gempa," ujar Zahira.


Semua merasa bingung hingga tidak bisa bicara apa apa. Lalu terdengar pula suara tangisan bayinya Silmi.


"Oaaaa oaaaaa oooooooooaaaaa."


"Alhamdulillah."

__ADS_1


"Bayinya si Mimi lahir langsung wangi duit" ujar Zahira memberi kode minta ustadz Usman membagikan uang untuk anak-anak.


__ADS_2