
Masih dihari yang sama, Faris sudah tersenyum senyum bahkan hampir tertawa ketika melihat isi paper bag itu adalah baju koko, sarung, kopeah dan juga sorban.
"Kecurigaan ku benar kalau putrinya ustadz Usman itu ingin mengerjai ku. Dia pikir aku tidak berani memakai sarung saat miting" batin Faris sambil tersenyum senyum.
Dengan segera Faris mengganti pakaiannya yang basah dengan baju yang dibawakan Silmi. Tak lupa Faris pun menggunakan kopeahnya lalu menaruh sorban di pundaknya. Ia tersenyum sambil bercermin.
"Aku tau Silmi, kau memberikan ku pakaian muslim seperti ini, secara tidak langsung kau menginginkanku dan mengharapkan ku dengan penampilan seperti ini. Aku merasa ada sedikit harapan yang kau beri untuku" batin Faris.
Setelah selesai berdandan dengan pakaian muslim, Faris pun keluar dari kamar ganti.
Baru saja beberapa langkah, Silmi sudah menunduk, menahan senyum, Sementara Yuda sudah menahan tawanya. Jangan tanya bagaimana reaksinya Bayu, mulutnya mendadak menganga melihat penampilan Bosnya.
"Si Bos gak salah pake baju????" batin Bayu.
Bayu dengan sigap mendekati Faris lalu membisikan sesuatu.
"Bos. Apa Bos gak salah berpenampilan?. Kita mau miting bos, bukannya mau Jum'atan"
"Sssttthhh jangan komen. Ini semua kerjaan putrinya ustadz Usman, kita ikutin saja keinginan calon ibu bos mu itu" bisik Faris. Bayu sudah menggaruk kepalanya bingung.
"Si Bos mendadak jadi ustadz. Ini kalau karyawan pada lihat, pasti langsung teriak histeris, sudah pasti langsung viral dijagad media sosial, gempar satu perusahaan. Sungguh terlalu putrinya ustadz Usman ini, tidak bisa ditebak keinginannya" batin Bayu.
Faris berjalan mendekati Silmi, ia berdiri gagah sambil memamerkan penampilan nya.
"Bagaimana, apa aku sudah terlihat seperti ustadz?" tanya Faris sambil tersenyum senyum. Silmi hanya diam sambil menunduk, mau tersenyum takut Faris ge'er, mau tertawa takut dosa.
"Kau terlihat seperti ustadz Usman" ucap Yuda sambil menahan tawanya. Faris langsung mengernyit.
"Masa iya aku mirip ustadz Usman, calon mertuaku itu kan sudah ubanan" protes Faris. Lagi lagi Faris menatap Silmi.
"Kenapa kau melakukan semua ini, apa kau begitu ingin melihatku berpenampilan seperti ini?" tanya Faris.
"Maaf, bukannya aku ingin mempermalukan mu. Aku memang menyukai penampilan mu yang seperti ini, adem dilihatnya. Kau adalah seorang pemimpin di perusahaan mu, namun jangan lupa, suatu saat kau pun akan jadi pemimpin dalam keluargamu. Tidak ada yang salah kan sesekali kau berpenampilan alim seperti ini. Aku hanya ingin sedikit protes padamu, aku risih dan malu melihat penampilan karyawan perempuan yang begitu sexy hingga memperlihatkan auratnya. Sebagai pemimpin kau harus tegas pada mereka. Aku tau itu hak mereka ingin berpenampilan seperti apa, namun dengan menutup aurat, mereka sudah berusaha menjaga kehormatan mereka, menjaga dari mata mata lapar dan liar yang haus akan *****. Aku hanya sedikit kasih saran, tegas lah pada mereka" tutur Silmi. Faris pun terdiam, tidak lama kemudian ia tersenyum.
"Aku sudah memikirkan hal itu. Tapi kalau kau menginginkan mereka berpenampilan sepertimu, maaf itu sepertinya akan sulit, karena tidak semua karyawan ku beragama muslim, ada sebagian dari mereka yang non muslim" ucap Faris.
"Aku tidak memaksa mereka untuk berpenampilan sepertiku, tapi setidaknya berpenampilan lah yang sopan" tegas Silmi. Faris pun mengangguk.
"Kau tunggu disini, aku akan miting dulu" pinta Faris. Baru saja beberapa langkah Faris hendak keluar, tiba tiba Silmi menghentikan nya.
"Faris"
"Hmmm"
"Apa kau yakin akan mengadakan miting dengan pakaian seperti itu, tidak mau menggantinya dulu?" tanya Silmi.
__ADS_1
Faris pun menatap penampilannya lalu kembali menatap Silmi.
"Memangnya kenapa dengan penampilanku?, bukankah ini yang kau mau. Lagi pula aku harus menghargai usahamu yang memilihkan baju untukku"
"Tapi kau mau pergi miting" Silmi mengingatkan.
"Kenapa memangnya jika aku miting dengan penampilan seperti ini?. Lagi pula kata putrinya ustadz Usman, Lelaki sejati bukan dia yang memakai setelan jas lalu duduk dikursi kebesaran, tapi dia yang mau menggunakan sarung, baju Koko serta kopeahnya tak lupa juga dengan sorban yang ada dipundaknya sambil duduk diatas sajadah" tutur Faris mengulang kembali ucapannya Silmi. Silmi pun tersenyum.
"Apa kau tidak takut ditertawakan?" tanya Silmi.
"Akan ku pecat bagi siapapun yang berani menertawakanku" tegas Faris lalu menatap Bayu. Sebenarnya Bayu dan Yuda sedari tadi sudah menunduk menahan tawanya.
"Bayu, sekarang kau beritahu pada semua karyawan jika ada yang berani menertawakan penampilanku hari ini, langsung pecat" tegas Faris.
"Siap Bos"
Bayu sudah berjalan keluar untuk memberitahukan perintah Faris. Tiba tiba Faris langsung menyipitkan matanya ketika melihat punggungnya Bayu bergerak gerak, pertanda Bayu sedang tertawa tanpa suara.
"BAYUUUUUU"
"Iya Bos"
Bayu menghentikan langkahnya lalu menatap Faris.
"AMPUN BOOOOS"
Bayu langsung berlari kabur.
Silmi dan Yuda sudah tertawa melihat Bayu yang ketakutan dipecat.
"Kau tunggu disini, aku miting cuma sebentar, mama juga nanti menemanimu" ucap Faris. Silmi hanya mengangguk. Faris pun keluar dari ruangannya.
"Mba Silmi, aku salut loh sama si Faris itu, dia berani menanggung malu hanya untuk menyenangkan mba Silmi" ucap Yuda. Silmi pun terdiam. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penampilan Faris yang menggunakan sarung serta baju Koko, hanya saja penampilan nya sedikit kurang tepat jika digunakan di kantor apalagi mau miting.
"Mba Silmi, Om Yuda tunggu diluar ya, mba Silmi tunggu disini saja, sebentar lagi pasti Bu Santi kesini" ucap Yuda yang kini langsung keluar dan menunggu di luar ruangannya Faris.
Sementara dengan Bayu yang kini sudah ada di dalam ruangan miting, belasan karyawan sudah menempati posisi masing masing baik perempuan maupun laki-laki.
"Selamat siang, ada pengumuman sedikit. Jika Bos Faris masuk dengan berpenampilan baru. Tolong jangan ditertawakan, karena kalau kalian sampai tertawa, maka uang pesangon langsung melayang sekarang juga. Kalian akan dipecat tanpa penghormatan" tutur Bayu dengan tegasnya.
Semua karyawan yang ada di ruangan itu sudah saling lirik satu sama lain.
"Memangnya sekarang penampilan si bos seperti apa hingga kami tidak boleh tertawa, lagi pula kan penampilan si Bos biasanya kan membuat kami terpesona" ucap salah satu karyawan perempuan.
"Iya penampilan si Bos yang keren kadang membuatku iri. Masa iya kami harus tertawa, pasti kami akan kagum dengan penampilan si Bos" ucap salah satu karyawan laki laki.
__ADS_1
"Pokoknya aku tegaskan sekali lagi jika si Bos masuk dengan penampilannya yang baru, jangan ada yang tertawa kalau masih ingin bekerja di perusahaan ini. Ingat ya jangan TER TA WA" tutur Bayu kembali.
"Baru kali ini kita dilarang tertawa"
"Siap pak Bayu, kita tidak mungkin menertawakan si Bos ganteng, paling juga kita klepek klepek terpesona melihatnya. Si Bos kan ganteng, Maco, keren, memakai pakaian seperti apapun akan terlihat memesona" ucap karyawan perempuan.
Tiba tiba pintu terbuka dan masuklah Faris dengan penampilan alim nya.
"Selamat siang" ucap Faris sambil berjalan menuju kursinya.
Semua karyawan yang ada disana sudah menganga, bengong dan hampir tidak percaya melihat penampilan Bos nya.
"Si Bos mendadak jadi ustadz"
Semua sudah saling berbisik bisik.
"Hari ini hari Jum'at ya?" tanya si A.
"Bukan, hari ini hari Selasa" jawab si B.
"Ko si Bos penampilan nya kaya mau Jum'atan"
"Sssttthhh, jangan protes nanti uang pesangon melayang ke wajah kita"
"Ehemm"
Faris sudah berdehem ketika melihat karyawannya saling bisik bisik, ia tau pasti mereka sedang membicarakan tentang penampilannya.
"Bayu, apa kau sudah memberitahu mereka tentang ucapan ku barusan?" tanya Faris.
"Sudah Bos. Siapa pun yang menertawakan Bos akan langsung dapat pesangon dan dipecat dengan tidak hormat" jawab Bayu.
Semua karyawan yang ada di ruangan itu menunduk takut. Mereka masih bisa tahan jika diomeli oleh Bayu, namun kini mereka sedang berperang melawan pikiran sama hatinya agar tidak tertawa meskipun merasa lucu melihat penampilan Faris.
Miting pun dimulai seperti biasa. Pembahasan pembahasan materi pun berjalan sesuai rencana hingga miting selesai.
Saat para karyawan di ruangan miting itu mau bubar, Faris menghentikan nya.
"Tunggu dulu. Ada miting dadakan sebentar" ucap Faris.
Semua kembali duduk.
"Dengarkan saya. Mulai sekarang untuk karyawan khususnya perempuan, diwajibkan bagi kalian untuk berpenampilan sopan. Tidak boleh ada yang menggunakan rok diatas lutut, tidak boleh ada yang menggunakan baju ketat dan sexy, jika masih ada yang melanggar, maka akan langsung kena sanksi atau dipecat. dan untuk karyawan laki laki, jika ada matanya yang jelalatan dan tidak menjaga pandangan terhadap perempuan yang bukan mahramnya, maka akan dikenai sanksi yang sama. Kalian mengerti?" tutur Faris.
"Mengerti Bos"
__ADS_1