
Masih di hari yang sama. Silmi dan Fadil dibuat kebingungan setelah ustadz Usman memutuskan untuk melihat keadaan Silmi di kota Y, mereka juga curiga kalau Abi mereka itu pasti akan membawa bala tentaranya yang akan menghebohkan liburannya.
"Ingat ya Mi, jangan sampai keceplosan. Sekali lagi ingat ya, jangan KE CEP LO SAN. Karena kalau sampai itu terjadi, si Abi akan langsung menggered kita pulang, selain itu Abi juga pasti ngomel ngomel sama kak Fadil gara gara gak bisa menjagamu hingga kau tenggelam di laut" tutur Fadil. Silmi hanya mengangguk ngangguk.
"Iya mba Silmi, karena kalau ustadz Usman tau, bukan hanya mas Fadil yang kena, aku sama Yudi juga ikutan kena. Bukan hanya tidak akan di kasih kasbon, kita juga pasti akan disuruh menghafal surah Yasin" tutur Yuda.
"Aku juga pasti ikutan kena. Aku kan yang tidak sengaja menyenggol si Silmi. Abi Usman pasti marah pake banget" kini giliran Syifa ikutan takut.
"Iya aku akan jaga rahasia" ucap Silmi.
Tiba tiba bel rumah berbunyi.
Ting nong.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Semua sudah celingak celinguk.
"Ustadz Usman cepet amet nyampenya, baru saja nelpon sudah nyampe saja di kota Y. Padahal dari kota A sampai kota Y kan jauh banget, pasti bahan bakar mobilnya dikasih ramuan ajaib" tutur Yuda.
"Sssttthhh. Hati hati jangan sampai keceplosan" Fadil mengingatkan kembali.
Yuda pun membukakan pintu. Dilihatnya Faris yang sedang berdiri didepan rumah sambil membawa parsel buah buahan.
"Eh kirain ustadz Usman yang datang"
Yuda pun tersenyum senyum melihat parsel yang dibawa oleh Faris.
"Ehem. Faris, itu parsel buat Om Yuda ya?" ucap Yuda penuh harap.
"Buat Silmi. Tapi kalau Om Yuda mau nanti aku bawakan khusus, tapi ada syaratnya" ucap Faris. Mata Yuda sudah berbinar.
"Apa itu syaratnya?"
"Syaratnya Om Yuda harus tenggelam dulu di laut, baru nanti aku bawakan parsel" jawab Faris. Yuda sudah mengernyit.
"Gak jadi pengen parsel nya" ucap Yuda sambil mempersilahkan masuk.
Faris pun mendekati Silmi yang kebetulan sedang berkumpul di ruang tamu bersama Fadil, Syifa dan Bilkis.
"Hai, bagaimana keadaanmu?" tanya Faris.
"Alhamdulillah sudah baikan"
"Kalau saja aku tau kau tidak bisa berenang, aku tidak akan mengajakmu ketengah laut. Maaf kalau liburannya sedikit ada masalah" tutur Faris. Silmi hanya mengangguk saja.
"Jangan merasa bersalah seperti itu. Ini namanya musibah. Silmi memang tidak bisa berenang, tapi tenang saja setelah pulang dari sini, si Mimi akan dimasukan les memasak" ucap Fadil. Silmi langsung mengernyit. Namun Syifa langsung menepuk pundak suaminya itu.
"Ikh Abang, apa hubungannya les memasak sama gak bisa berenang. Silmi itu harusnya belajar berenang, bukan belajar memasak" ucap Syifa. Fadil hanya tertawa kecil.
"Eh ngomong ngomong itu si Rian tidak apa apa?" tanya Fadil.
"Rian baik baik saja. Dia sudah pulang bersama Radit" jawab Faris. Lalu di
detik itu pula Faris melirik Silmi lalu berbisik.
"Bagaimana dengan kejadian barusan, apa kau tetap dan masih terobsesi dengan berondong?" tanya Faris. Silmi hanya diam menunduk dan tak bisa menjawab apa apa.
Selang beberapa jam kemudian. Rombongan ustadz Usman sudah sampai di komplek perumahan itu. Mereka semua sudah menganga melihat rumah rumah yang berjejer nampak mewah semua.
"Masya Allah. Rumahnya pada bagus bagus semua" ucap Hawa takjub.
"Rumah di sini memang mewah semua. Tapi rumah di wilayah pesantren, meskipun sederhana tapi banyak cinta didalamnya" tutur Aisyah.
__ADS_1
"Kak Yusuf, kita kalau honey moon yang ketiga, nginep ya disini ya kak" pinta Zahira penuh harap. Yusuf hanya mengangguk ngangguk.
"Sewanya mahal Ira, lebih baik di kebun saja bikin tenda, itu terasa romantisnya pake pol" ucap ustadz Usman. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.
"Ikh Om ustadz, pelit pake banget deh. Masa rekomendasi di kebun sih, tar yang ada ditonton ulet sama hama sayuran. Om ustadz berbagi itu indah loh. Gak mau nyumbangin uang gepokan yang ada dibawah tempat tidur?"
"Sssttthhh, udah nyampe"
Sesampainya di depan gerbang, sekuriti pun langsung membuka gerbangnya lalu mobil pun masuk. Setelah semua keluar dari mobil dan menatap rumah sewaan yang kini ditempati Silmi. Mereka kembali menganga merasa takjub dengan rumah mewah itu.
"Mencurigakan, si Usman gak mungkin menyewa rumah sebagus ini dengan uang nya. Pasti ada udang di balik batu" batin ustadz Soleh.
"Gak usah norak, biasa saja ekspresinya. Tidak usah menganga begitu, nanti kita ketahuan banget dari kampung" tutur ustadz Usman.
"Rumahnya kaya istana ya Mi" ucap Hawa.
"Hmmm"
Mereka pun berjalan menuju pintu rumah itu, tiba tiba ustadz Usman mengelus pintu yang mewah dan mengkilat itu.
"Waaah ini pintu licin banget, berapa harganya ya, aku bisa ngaca begini" ucap ustadz Usman sambil membenarkan peci yang ada dikepalanya, tentunya dengan melihat pantulan dirinya di pintu. Seketika semuanya langsung menyoraki.
"HUUUUUUUUUUUU"
"Kalau ngomong jangan norak. Sendirinya lebih norak" gerutu Aisyah. Nisa hanya tersenyum saja. Ustadz Usman sudah cengengesan malu.
"Om ustadz bikin malu deh" gerutu Zahira.
"Ssssttthh, ayo masuk" ucap Nisa.
Dewi pun mengetuk ngetuk pintu Dengan sedikit keras, karena ia pikir dengan rumah sebesar dan lumayan luas itu akan terasa sulit terdengar ketukan pintu hingga akhirnya Dewi mengetuk dengan kekuatan penuh.
TOK TOK TOK TOK.
"Assalamualaikum"
"Huuuh sama aja noraknya. Mana ada bel ditiup, dikira kopi panas. Bel nya diteken, dipencet ustadz Usman" gerutu Anum.
"Dimaklum saja Anum. Didepan pintu rumahnya kak Usman gak ada bel, adanya kentongan" tutur Aisyah sambil tertawa kecil. Ustadz Usman sudah menggeram.
TING NONG.
Tidak lama kemudian Yuda membukakan pintu setelah Anum menekan belnya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
"Waaah ustadz Usman mau ngebesan kemana?, rame banget kayanya" ucap Yuda yang kini celingak celinguk mencari saudara kembarnya.
"Si Yudi gak diajak. Mobilnya sempit, Ha Re Rin" ucap ustadz Usman seolah tau Yuda sedang mencari siapa.
"Silahkan masuk. Anggap saja rumah sendiri" ucap Yuda sambil tertawa kecil.
"So gaya, padahal cuma rumah sewaan"
Yuda kembali tertawa tawa.
"MIMIIIII"
Silmi pun langsung meloncat dari kursi ketika melihat keluarganya datang.
"Abii, Umiii"
Teriak Silmi sambil memeluk kedua orang tuanya. Ustadz Usman sudah membolak balikan tubuh putrinya itu.
__ADS_1
"Kau tidak apa apa kan Mimi, tidak ada yang sakit?" tanya ustadz Usman cemas. Silmi sudah menggeleng gelengkan kepalanya.
"Aku baik baik saja Abi. Abi terlalu berlebihan. Aku cuma bersin saja" ucap Silmi.
Dewi sudah memeluk putri dan cucunya, ia sudah merasa rindu meskipun baru beberapa hari ditinggalkan Syifa.
"Semok ibu rindu"
"Sama Bu"
Silmi juga merasa senang dengan kedatangan kedua sahabatnya yaitu Anum dan Hawa. Yuda langsung berbisik pada Faris yang kebetulan masih berada di rumah itu.
"Kau lihat Faris, mba Silmi cuma bersin saja ustadz Usman sudah panik setengah mati dan langsung menyusul kemari sambil membawa bala tentaranya. Apalagi kalau mendengar putrinya dipermainkan oleh laki laki, sudah pasti ustadz Usman datang kemari sambil membawa perkakas kebun sama cerulitnya ustadz Ibrahim. Jadi jika kau benar benar menyukai putrinya ustadz Usman buang masalalu mu yang kurang baik itu. Terutama penyakit mata sama penyakit hidungmu itu" tutur Yuda.
Faris pun mengangguk ngangguk.
"Aku serius dengan putrinya ustadz Usman. Insyaallah aku sudah berubah dan selalu berusaha untuk lebih baik lagi" jawab Faris sambil berbisik pula.
"Eh ada Faris putranya pak Edi" goda ustadz Usman sambil membisikan sesuatu pada telinganya Faris.
"Bagaimana pendekatan mu pada Silmi, lancar kan?"
Faris langsung mengacungkan jempolnya hingga ustadz Usman tersenyum senang.
Semua sudah duduk di ruang tamu. Mengobrol ngobrol sambil bercanda. Bilkis, Yura dan Hasbi sudah main boneka dan mobil mobilan.
"Silmi, kamar di rumah ini ada berapa?" tanya Zahira. Fadil yang tau arah pembicaraan ia langsung menjawab.
"Kamarnya sudah penuh semua kak Ira. Jadi kak Ira tidak usah menginap ya" ucap Fadil. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.
"Mi, Mimi ko bisa bersin begitu, emangnya Mimi kebanyakan main air ya?" tanya ustadz Usman. Silmi sudah melirik Fadil hingga Fadil langsung mengangguk.
"Iya Bi, mungkin aku terlalu lama main airnya jadinya bersin bersin" jawab Silmi.
Tiba tiba.
"Tan te Mi mi, , , , teng ge lem" ucap Bilkis sambil menepuk nepuk boneka yang ada di pangkuannya.
Semua terkejut dengan ucapan sepontan si gemoy Bilkis.
"Aduuuh, aku sudah miting untuk memperingatkan si Mimi, Syifa, Yuda sama si Faris buat tidak keceplosan, eh rupanya aku lupa buat ngajak kompromi si Bilkis" batin Fadil.
"Aduuuh kenapa si gemoy pake ngomong segala sih, runyam entar urusannya" batin Yuda.
"Duuh Bilkis sayang kenapa pake ngomong segala sih, nanti ibu kena omel Abi Usman" batin Syifa takut.
"Duuuh gimana nih, aku gak mau pulang sekarang" batin Silmi.
"Bilkis sayang, Tante Mimi emangnya tenggelam?" tanya ustadz memastikan namun hatinya sudah cemas gak karuan. Bilkis sudah mengangguk ngangguk. Kini giliran ustadz Usman melirik Silmi dan Fadil yang kini mukanya sudah terlihat tegang.
"Mimi, apa benar kau tenggelam?"
Silmi hanya diam saja, bingung mau menjawab apa. Lalu ustadz Usman melirik Fadil.
Fadil, apa benar adikmu tenggelam di laut?" tanya ustadz Usman dengan menaikan level suaranya. Fadil pun bingung harus menjawab apa. Tiba tiba Yuda lah yang menjawabnya.
"Begini ustadz Usman. Yang dikatakan Bilkis itu memang benar. Tapi mba Silmi bukan tenggelam di laut, tapi mba Silmi tenggelam dalam buaian cintanya si Faris" tutur Yuda terpaksa berbohong.
Silmi sudah mengernyit, dan mau melayangkan protes pada Yuda, namun Fadil melarangnya.
"Sssttthhh, Mimi kau jangan protes. Biarkan saja, yang bohong kan si Yuda, nanti dosanya dia yang nanggung. Nanti kalau Abi tau yang sebenarnya, kita semua yang kena" bisik Fadil. Akhirnya Silmi hanya bisa diam.
Ustadz Usman yang mendengar kalau Silmi tenggelam dalam buaian cintanya si Faris, ia sudah tersenyum senyum senang.
"Cieeee Mimi sayang sudah mulai suka ya sama Faris" goda ustadz Usman.
__ADS_1
Faris hanya tersenyum, merasa lucu dengan kebohongan yang dibuat Yuda. Silmi hanya mengerucutkan bibirnya, merasa pasrah dengan pendapat masing masing.
"Om Yuda kenapa bicaranya begitu, nanti yang ada Om Faris bisa ge'er" batin Silmi.