
Hari itu, Silmi pagi pagi sekali ngidam ingin makan bubur. Nisa sudah menyiapkan bubur untuknya dan ditaruhnya dimeja makan.
"Mimi buburnya sudah jadi, ayo sarapan dulu" ujar Nisa sambil membereskan dapur.
Silmi dan Faris pun datang dan duduk di meja makan, begitu juga dengan ustadz Usman. Ustadz Usman langsung mengernyit ketika sarapan pagi ini bubur ayam.
"Tumben sekali sarapan kali ini bubur?" ujar ustadz Usman sedikit heran karena biasanya Nisa jarang menghidangkan bubur sebagai sarapan.
"Si Mimi lagi ngidam pengen sarapan bubur ayam"
"Oh"
Ustadz Usman kembali mengernyit karena melihat daging ayamnya cuma sedikit, hanya cukup untuk Silmi dan Faris saja.
"Umi, ko dagingnya cuma dikit, nanti kita gak kebagian" ujar ustadz Usman.
"Umi belum belanja daging, Umi pikir Silmi gak akan ngidam bubur ayam. Abi jangan ngambil dagingnya ya, Abi buburnya aja sama kerupuk, takutnya Silmi dan Faris gak kebagian" tutur Nisa. Ustadz Usman langsung mengernyit.
"Jadi Abi makannya cuma buburnya doang sama kerupuk?" tanya ustadz Usman.
"Iya Bi, tapi kalau Abi pengen makan dagingnya Abi pergi saja ke rumahnya mang Ilham, disana banyak ayam" ujar Nisa kembali. Lagi lagi ustadz Usman mengernyit.
"Gak kira kira ini istriku, masa aku harus makan bubur yang ayamnya masih hidup" batin Ustadz Usman.
Silmi dan Faris sudah menunduk menahan tawanya.
"Ayo Mimi, dimakan buburnya, nanti keburu dingin. Biar mas yang suapin" ujar Faris. Silmi malah menggeleng.
"Aku gak mau bubur yang ini. Aku maunya makan bubur yang diambil dari gerobak tukang buburnya langsung" pinta Silmi.
Semua langsung terdiam.
"Tenang Mimi sayang, sekarang juga Abi beli gerobak nya" ujar ustadz Usman. Nisa malah menepuk pundak suaminya itu.
"Ngapain beli gerobaknya. Langsung saja beli di tukang bubur yang mangkal dipinggir jalan, kan banyak tuh yang jualan" Nisa memberi ide. Ustadz Usman tersenyum lalu mengangguk ngangguk.
"Kau benar juga Nis, sebentar ya, Abi kedepan dulu untuk beli bubur"
"Jangan papi, papi tidak usah repot-repot, biar ini menjadi urusanku, nanti aku hubungi Bayu untuk mengirim tukang bubur beserta gerobaknya yang dari Malaysia, buburnya enak banget" ujar Faris.
Mendengar itu, Nisa dan ustadz Usman sudah menganga sementara Silmi langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Itu yang dikirim dari Malaysia nanti kapan nyampenya ya?, keburu ileran itu bayinya si Mimi" ujar ustadz Usman.
"Mas jangan aneh aneh deh. Didepan pesantren kan banyak pedagang bubur yang mangkal, beli didepan saja biar cepat" ujar Silmi sedikit memprotes.
"Baiklah, mas hubungi Bayu untuk segera kesini membeli bubur"
Lagi lagi Silmi protes.
__ADS_1
"Mas, sekarang itu posisinya Bayu ada di kota Y, dia kalau datang kesini memakan waktu kurang lebih tiga jam, keburu rasa laper ku hilang" gerutu Silmi. Faris malah nyengir.
"Kalau mas yang pergi kedepan takut kesasar. Kalau nyuruh papi yang beli rasanya kurang sopan" ujar Faris.
"Sudah sudah, biar aku menghubungi Yuda untuk membeli bubur didepan"
Seketika itu pula ustadz Usman menghubungi Yuda yang kini sedang berjaga di pos depan.
"Assalamualaikum, hallo Yud, sekarang juga kau belikan si Mimi bubur yang rasanya super duper mantap, kalau perlu bawa sama gerobak gerobaknya sekalian" pinta ustadz Usman.
"Waalaikumussalam, siap ustadz Usman"
Seketika itu pula Yuda langsung OTW keluar mencari tukang bubur.
Silmi, Faris, ustadz Usman dan Nisa sudah menunggu Yuda didepan rumah sambil duduk duduk. Faris sedari tadi sudah mengelus ngelus perutnya Silmi, dengan sedikit menggodanya. Tidak lama kemudian datanglah Fadil dan Syifa juga si gemoy Bilkis.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Ustadz Usman langsung menggendong cucunya dengan rasa gemas.
"Gemoy, kau sudah makan?"
Bilkis pun langsung mengangguk ngangguk.
Ustadz Usman pun menatap Syifa yang kini sedikit kurusan. Kata Fadil Syifa jarang makan karena nafsu makannya hilang ketika ia hamil muda.
Syifa hanya menggeleng. Jangankan makan, bicara saja dia mulai irit.
"Si semok kalau ditanya apa apa pasti jawabnya gak mau Bi. Dia katanya gak ngidam apa apa" ujar Fadil.
Nisa pun sudah mengelus ngelus pundak menantunya itu, merasa prihatin melihat Syifa yang tidak mau makan.
"Duuuh sekarang gak ngidam apa apa, gak mau makan apa apa. Tiba tiba aku jadi takut nanti pas mau teng berojol dia baru ngidam yang aneh aneh. Yang lebih mengkhawatirkan lagi jika melahirkan nya bareng sama si Mimi. Sudah pasti repot satu wilayah pesantren" batin ustadz Usman.
Tiba tiba datanglah Yuda yang diikuti 4 gerobak tukang bubur. Yang pertama tukang bubur ayam, yang kedua tukang bubur kacang ijo, yang ketiga tukang bubur Sumsum, dan yang keempat tukang bubur Candil.
Semua yang ada di rumahnya ustadz Usman langsung menganga. Si Yuda disuruh beli bubur malah datang membawa 4 gerobak tukang bubur yang berbeda beda.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Ustadz Usman mendekatinya.
"Eh Yud, aku menyuruhmu membeli bubur tapi kenapa kau bawa penjual sama gerobaknya juga?, mentang mentang aku ngomong bawa sekalian sama gerobak gerobaknya, eh beneran kau bawa sama gerobaknya bonus pake penjualnya langsung dibawa kesini, bawa empat gerobak pula" ujar ustadz Usman.
"Iya dong ustadz Usman, aku kan selalu siap dan nurut dengan perintah ustadz, disuruh beli bubur sama gerobaknya, tentunya aku langsung bawa gerobak bubur plus bonus penjualnya" ujar Yuda.
__ADS_1
Silmi sudah tertawa tawa.
"Ajaib semua ya orang orang disini" bisik Faris. Silmi hanya mengangguk ngangguk.
Tiba tiba ustadz Usman mengernyit melihat tulisan yang ada di semua gerobak itu.
"Bubur ayam, bubur kacang hijau, bubur Sumsum, bubur Candil....... Eh Yuda, aku kan menyuruhmu membeli bubur ayam, kenapa kau bawa bubur beraneka ragam begini" ujar ustadz Usman sedikit protes.
"Kan ustadz Usman tadi cuma nyuruh beli bubur doang gak nyebutin bubur ayam. Jadi ya aku bawa beberapa tukang bubur, biar mba Silmi yang milih pengen bubur apa. Negara kita kan negara yang beraneka ragam suku dan budaya"
"Tapi si Mimi itu pengennya makan bubur ayam"
"Yes yes yes" ujar tukang bubur ayam merasa senang jika dagangan dirinyalah yang diinginkan.
Tukang bubur kacang hijau, tukang bubur Sumsum, dan tukang bubur Candil mendadak cemberut.
"Abi tadi lupa nyebutin ayamnya" Silmi mengingatkan.
"Mimi mungkin ayamnya ketinggalan di kandangnya mang Ilham" ujar Fadil.
"Terus ini gimana sama pedagang yang lain ustadz?" Yuda mulai bingung, ia takut diprotes oleh pedang yang tiga itu, karena ketiga pedagang yang lain mulai mendelik padanya meminta pertanggungjawaban.
"Tapi si Mimi maunya makan bubur ayam doang. Ini bubur ayam saja satu gerobak nanti siapa yang makan sisanya" ujar ustadz Usman.
Faris pun mendekati.
"Tidak apa-apa papi, jangan khawatir, biar semuanya aku yang bayar" ujar Faris.
Keempat pedagang itu langsung tersenyum gembira karena dagangannya mau diborong menantunya ustadz Usman.
"Waah mantuku sudah tidak bisa diragukan lagi kalau dirinya adalah Sultan" batin ustadz Usman.
"Kalau diborong semua nanti siapa yang mau makan mas?" tanya Silmi.
"Panggil saja semua penghuni pesantren, kalau masih banyak, panggil semua para santri untuk makan bareng disini. Anggap saja kita sedang berbagi. Bukankah kata papi berbagi itu indah" tutur Faris.
Akhirnya ustadz Usman memerintahkan Yuda memanggil penghuni pesantren untuk datang ke rumahnya ustadz Usman, ada jajanan geratis disana. Seketika itu pula penghuni pesantren berbondong bondong datang sambil membawa mangkuk.
Zahira, Dewi, Ustadzah Ulfi, ustadzah Yasmin, Aisyah, Anisa, Cahaya, Anum, Hawa, Ibra, Riziq, Adam, ustadz Rasyid, Yusuf, ustadz Azam, ustadz Soleh dan yang lainnya datang.
Bahkan Dewi sudah membawa empat mangkuk karena ia mau mencicipi semuanya.
Faris dan Silmi sudah mengambil bubur ayamnya langsung dari gerobaknya. Faris selalu setia menemani dan memanjakan istri tercintanya itu.
Yang bengong disini cuma Syifa doang. Fadil sudah membujuknya untuk mengambil salah satu makanan itu, namun Syifa tetap tidak mau.
"Sedikit saja ya semok, kau belum makan" bujuk Fadil.
Dewi pun menghampiri.
__ADS_1
"Fadil, kau jadi suami gak peka deh. Si Syifa itu pengen makan bubur ayam yang ditaburi berlian, bukan ditaburi kacang" ujar Dewi. Fadil lebih mengernyit.
"Mertuaku penyakit matanya kumat. MA TA DUI TAN"