
Setelah mengerjakan shalat Maghrib, semua sudah berkumpul di rumahnya ustadz Usman, tentu bukan hanya rombongan Faris yang ada disana, hampir tokoh tokoh utama di pesantren itu berkumpul di rumahnya ustadz Usman. Kalau diabsen satu persatu bisa penuh satu bab, wk wk.
Anum dan Hawa merasa senang mendengar sahabatnya itu mau dilamar. Mereka sedang mendandani dan merapihkan kerudung Silmi di kamarnya.
"Selamat ya Silmi, aku senang dengarnya kalau sekarang kau mau dilamar om om" ucap Anum.
"Hei Anum, meskipun si Faris itu om om, tapi bagi si Silmi dia itu masih BE RON DONG" goda Hawa. Silmi sudah merasa malu sendiri, yang awalnya ia menolak jika dijodohkan dengan pria dewasa, kini ia sendiri yang menerima Faris sebagai calon suaminya.
"Gak nyangka ya Wa, kemarin kemarin si Silmi menolak keras, bahkan dia rela berdandan jelek didepan si Faris dengan menghitamkan giginya, juga berdandan kaya orang orangan sawah hanya ingin membuat Faris ilfil padanya, tapi kini dia nyerah sendiri dengan pesonanya putra pak Edi yang membuatnya klepek-klepek" tutur Anum, ada nada mengejek sekaligus menggoda Silmi.
"Klepek klepek terpesona ya Num, bukan klepek klepek meninggal" Hawa ikutan menggoda hingga Silmi langsung mengerucutkan bibirnya.
Setelah selesai membenarkan kerudungnya Silmi, mereka pun keluar kamar karena semua sudah menunggu di ruang tamu. Saat Silmi akan mendekati mereka, tiba tiba Fadil menghentikan langkahnya, lalu memeriksa penampilan adik perempuannya itu.
"Tunggu dulu Mimi"
"Kenapa kak?"
"Coba lihat gigimu" pinta Fadil.
"Gak perlu khawatir kak Fadil, giginya si Silmi aman, putih pake banget, gak di item itemin lagi" ucap Hawa.
"Bagus kalau begitu. Pokoknya malam ini si Mimi harus terlihat seperti bidadari keluar dari surga, bukan seperti si Suketi beranak dalam pohon" tutur Fadil yang masih takut Silmi berdandan seperti dulu.
"Tenang, kali ini penampilan si Mimi dijamin amaaaan, sudah pasti si Faris yang klepek klepek" ucap Anum.
Silmi pun ikut berkumpul disana karena acara lamaran pun hendak dimulai. Kyai Husen, ustadz Usman, Fadil dan ustadz Soleh serta Riziq serta yang lainnya sudah berkumpul. Nisa, Aisyah, Sarah, Syifa, Umi Salamah serta Anum dan Hawa sudah didalam menemani Silmi. Jangan ditanya bagaimana hebohnya di luar rumah ustadz Usman. Zahira yang kini menggendong Yura, serta Dewi yang mengintip di jendela karena kepo ingin tau namun tidak bisa masuk dikarenakan sesak penuh dengan rombongan kedua belah pihak.
"Duuuh rasanya ingin mendobrak pintu rumahnya om ustadz deh. Gereget pake banget gak bisa lihat dan dengar acara lamarannya" gerutu Zahira.
"Iya, aku kepo pake banget, kira kira rombongan besannya ustadz Usman bawa bakakak ayam gak ya?" ucap Dewi penasaran.
"Duuuh kenapa tiba tiba aku pengen dilamar lagi ya sama kak Yusuf" ucap Zahira hingga Dewi mengernyit.
"Gak usah ngomong yang aneh aneh" gerutu Dewi.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh"
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh"
Acara lamaran pun dimulai hingga semua acara satu persatu selesai.
"Alhamdulillah"
Semua mengucap syukur ketika Silmi menerima lamaran itu dengan malu malu hingga Faris tersenyum senang.
__ADS_1
"Kira kira kapan acara nikahnya?" tanya ustadz Usman.
"BESOK" jawab Faris hingga semua langsung menganga terutama ustadz Usman.
"Besook????"
"Kau sudah kebelet Nikah Faris?" tanya ustadz Usman.
"Bagus Bos, gercep itu lebih bagus. Takut ada yang nikung disepertiga sore" batin Bayu.
"Bagaimana Silmi, apa kau siap besok menikah dengan Faris?" tanya Kiyai Husen.
Silmi hanya diam bingung, dengan datangnya Faris untuk melamar saja rasanya terkejut dan hampir tidak percaya, kini ditambah lagi besok diajak nikah.
"Mimi sayang, bagaimana jawabanmu. Itu putranya pak Edi besok ngajak nikah?" tanya ustadz Usman. Lagi lagi Silmi diam, merasa malu dan bingung.
"Jawab Silmi" bisik Hawa yang kini ada dibelakangnya.
Karena Silmi diam saja, tiba tiba Anum mencubit pinggangnya dari belakang hingga Silmi menjerit.
"AWWWWW"
Semua ikut terkejut dan merasa aneh kenapa Silmi malah menjerit.
"Ko jawabannya AW sih?" tanya Bu Santi.
"Dasar Anum binti Rasyid"
Nisa sudah mengelus kepalanya Silmi.
"Sayang, Mimi siap gak besok nikah sama Faris?" tanya Nisa.
Silmi mengangguk ngangguk dengan malu malu.
"Siap Umi"
Mendengar jawaban dari Silmi semua nampak tersenyum.
"Alhamdulillah"
Jangan ditanya bagaimana perasaan Faris, tentu saja dia sangat senang.
Kini kedua belah pihak sedang asik mengobrol setelah mengerjakan shalat isya.
Para perempuan sedang asik mengobrol diteras depan, sementara para lelaki berada didalam rumah ustadz Usman.
__ADS_1
"Mimi, kalau kau butuh bimbingan, butuh pengarahan tentang malam pertama kau hubungi saja Zahira Rahmadia Alfiqri. Aku siap membantumu" tutur Zahira. Silmi malah mengernyit.
"Tante Ira buka biro jasa honeymoon ya?" sindir Anum.
"Jangan mengejekku seperti itu Num. Harusnya kau berterima kasih pada Tantemu yang cantik imut menggemaskan ini karena telah memberimu kalender ajaib. Buktinya tuh si Hasbi nongol" tunjuk Zahira pada putranya Anum yang kini sedang dipangku oleh Athar.
Mendengar kalender ajaib, tiba tiba Anum merasa malu sendiri.
"Tante jangan suka ngomongin kalender ajaib deh. Tiba tiba aku suka mendadak malu pake banget kalau ingat insiden hilangnya itu kalender" tutur Anum.
Tiba tiba Aisyah menepuk pundak adik iparnya itu.
"Jangan suka ngomongin yang aneh aneh. Disini ada Hawa, dia belum mengerti apa apa" ucap Aisyah.
Zahira langsung menatap Hawa yang kini sedang mengerucutkan bibirnya hingga Zahira tertawa.
"Ha ha ha, aku lupa kalau disini ada the Queen of jomblo" ucap Zahira sambil tertawa tawa.
"Tapi aku bahagia" gerutu Hawa.
"Dengarkan tante, Hawa. Besok itu pernikahannya si Faris, sudah pasti teman teman bisnisnya pada datang. Besok kau dandan yang cantik, siapa tau ada yang menyukaimu" tutur Zahira.
"Target menikahiku usia 26 tahun" tegas Hawa.
"Hawa, kalau target menikah mu usia 26 tahun, nanti kau keburu ditikung si Yura. Benarkah Yura sayang?" ucap Zahira yang kini sudah menciumi Yura yang ada di pangkuannya.
"MA NA HONG"
Tiba tiba Yura menjawab seperti itu hingga semua langsung mengernyit menatap Yura.
"Ira, si Yura ngomong apa itu?" tanya Aisyah tidak mengerti. Zahira sendiri pun bingung karena dirinya pun tidak mengerti.
"Tidak tau kak, ini pertama kalinya Yura bicara" ucap Zahira.
"Biasanya Ibu, atau Ayah Umi atau Ayah kalau pertama bicara. Ini kenapa si Yura malah kalimat Manahong yang keluar" Anum merasa heran.
"Putriku memang kreatif" ucap Zahira.
"Kreatif dari Hongkong. Manahong bahasa apaan?. Lalu artinya apa?"
Zahira pun bertanya pada Yura.
"Yura sayang ngomong apa?"
"Ma na hong"
__ADS_1
Yura kembali mengulang kalimat itu sambil bertepuk tangan. Semua kembali mengernyit heran karena tidak mengerti.
"Mungkin itu bahasa keramatnya si Yura" ucap Anum.