SILMI

SILMI
Bersin


__ADS_3

Karena sudah merasa baikan, akhirnya Silmi pun diizinkan pulang dan beristirahat di rumah. Awalnya Faris melarang biar Silmi dirawat sampai sembuh total, namun karena Silmi memaksa, akhirnya mereka pun pulang ke rumah sewaan.


Liburan hari ini berakhir karena terjadi tenggelam nya Sholehah Silmi Kaffah putrinya ustadz Usman. Diperjalanan tentunya didalam mobil, Silmi hanya diam saja merasa sedang bimbang dengan pikirannya.


"Silmi, jangan ngadu ngadu sama Abi Usman ya kalau kau kesenggol kak Syifa hingga hampir tenggelam. Om Yuda juga jangan sampai keceplosan ya didepan Abi" ucap Syifa.


"Mana mungkin aku ngadu sama ustadz Usman, sudah pasti si Yudi yang jadi taruhannya. Kalau pun keceplosan, paling paling si Yudi di gantung di pohon mangga ustadz Azam, atau gak dikasih kasbon. Dan untuk mba Syifa paling ****** bannya langsung dicabut, ciuuuuuuus langsung kempes" tutur Yuda keceplosan.


Syifa sudah menggeram sementara Fadil sudah memicingkan matanya.


"Kau kira istriku yang semok ini ban mobil" gerutu Fadil hingga Yuda tertawa kecil.


"Ampun mas Fadil, aku cuma bercanda"


Setelah sampai di depan rumah sewaan, Syifa sudah membantu memapah adik iparnya itu.


"Hati hati" ucap Syifa.


"Kak Syifa, aku tidak apa apa, aku baik baik saja, jangan perlakukan aku seperti orang sakit" protes Silmi.


"Ayo Mimi kau istirahat dulu" pinta Fadil.


Silmi pun menurut namun ia hanya berbaring di sofa. Faris dan keluarganya pun pulang ke rumahnya, tidak mau mengganggu Silmi dulu.


Saat semuanya beristirahat, mereka hanya santai santai di ruang tamu sambil nonton TV. Yuda sedang asik bermain dengan Bilkis. Tiba tiba hapenya Silmi berdering, dilihatnya Ustadz Usman yang menghubunginya(Vidio call).


"Siapa yang Vidio call Mi?" tanya Fadil.


"Abi yang Vidio call"


Seketika itu pula Silmi langsung menerimanya. dan mengarahkan padanya, Fadil, Bilkis dan Syifa.


"Assalamualaikum Bi"


"Waalaikumussalam, Mimi sayang, ko seharian ini Mimi gak ngasih kabar sih, Abi sama Umi khawatir, biasanya kan Mimi nelpon kesini sehari dua kali" tutur ustadz Usman.


"Duuuh maaf ya Bi, aku terlalu menikmati liburan hingga lupa ngasih kabar" jawab Silmi. Syifa dan Yuda sudah merasa deg-degan, takut Silmi keceplosan tentang kejadian tenggelamnya di laut.


"Jangan sampai keceplosan Silmi. Abi bisa ngamuk mendengar mu tenggelam" batin Syifa.


"Duuuh mba Silmi remnya jangan sampai blong ya, nanti kasihan si Yudi yang jadi sasaran" batin Yuda.


"Tapi Mimi baik baik saja kan?. Duuh Abi sama Umi udah rindu nih" ucap ustadz Usman. Fadil sudah mengerucutkan bibirnya mendengar ustadz Usman bilang rindu pada Silmi, kebetulan Silmi mengarahkan hapenya pada Fadil.


"Diiih si Abi tega teganya bilang rindu pada si Mimi doang, emangnya padaku gak rindu. Aku CEM BU RU" batin Fadil.

__ADS_1


"Aku baik baik saja Bi. Aku juga rindu sama umi sama Abi"


"Abi gak rindu padaku sama si Semok dan si gemoy Bilkis?" tanya Fadil.


"Duuuh masa iya kau cemburu pada si adikmu sih. Ya tentu saja Abi rindu pada kalian" jawab ustadz Usman


"Terus gimana sama Faris?, lancar kenalannya?" tanya ustadz Usman kembali.


"Silaturahmi nya lancar aja. Om Faris juga baik, tapi gak segampang itu dia bisa nyuri hatiku. Aku mau kenal dia luar dalam" jawab Silmi.


"Iya Mimi. Si Faris bin Edi pasti selalu sabar menunggu kau membuka hatimu"


Setelah lama mengobrol ngobrol, akhirnya rasa rindu pun terobati sudah.


"Bi, udah dulu ya, aku mau istrirahat. Nanti besok gak akan telat ngasih kabar"


"Iya Mimi, hati hati disana"


"Assalamualaikum Bi"


"Waalaikumussalam"


Saat Silmi mau menutup Vidio call nya tiba tiba ia bersin hingga membuat ustadz Usman panik setengah mati.


"ASTAGHFIRULLAH ALAZIM MIMI kau kenapa?" tanya ustadz Usman yang kini sudah terlihat panik yang nampak berlebihan.


"Mimi sakit?. Buruan ke Dokter" pinta ustadz Usman.


"Duuuh Abi, aku cuma bersin doang. Abi terlalu berlebihan" protes Silmi.


"Abi gak usah lebay, si Mimi cuma bersin bukan terkena serangan jantung" gerutu Fadil.


"Jangan sepelekan penyakit bersin dan pilek. Asal kalian tau saja penyakit bersin sama pilek itu lebih bahaya dari penyakit kanker, lebih menakutkan dari penyakit asma, lebih melelahkan dari Anemia, dan lebih menggelikan dari pada Batuk, karena bersin bersin bisa mengundang ingus keluar" tutur ustadz Usman. Silmi dan Fadil sudah saling lirik, sementara Syifa sudah cekikikan tak bersuara.


"Inilah uniknya ayah mertuaku. Cuma penyakit bersin saja serasa menjadi penyakit paling mematikan dan paling memalukan" batin Syifa.


"Fadil, buruan kau bawa adikmu ke klinik, suruh Dokter untuk memeriksa keadaannya. Sebentar lagi Abi akan kesana untuk melihat kondisi si Mimi" ucap ustadz Usman hingga Silmi dan Fadil sudah mengernyit.


"Abi gak usah lebay deh. Si Mimi cuma butuh istirahat aja. Ngapain Abi kesini, perjalanan nya jauh Bi. Emang Abi gak punya kerjaan" tutur Fadil.


"Abi Cansel semua untuk acara hari ini. Abi akan melihat kondisi si Mimi sekarang juga" tutur ustadz Usman sambil mematikan hapenya.


"Diih si Abi lebay ya kebangetan deh" gerutu Silmi.


"Kak Fadil gak jamin kalau Abi datang kesininya cuma sendirian, dia pasti bawa bala tentaranya" ucap Fadil curiga.

__ADS_1


Sementara dengan ustadz Usman yang kini benar benar panik setingkat dewa.


"SI SHOLEHAH SILMI KAFFAH bersin, itu artinya si Mimi meriang" teriak ustadz Usman didalam rumah.


"Kenapa Bi?" tanya Nisa.


"Si Mimi meriang. Ayo kita berangkat ke kota Y" pinta ustadz Usman. Tak lupa ustadz Usman memberitahu ustadz Soleh tentang keberangkatannya untuk menyusul Silmi.


"Kenapa kau nampak panik begitu?" tanya ustadz Soleh.


"Si Mimi meriang, tadi dia bersin. Sekarang aku mau menyusulnya ke tempat liburan, kak Soleh ikut ya. Aku juga mau ngajak si Aisyah" ucap ustadz Usman.


"Si Silmi itu cuma terkena pilek, kenapa kau sepanik itu hingga si Silmi serasa terkena penyakit jantung" gerutu ustadz Soleh.


"Sstthhh, kau tidak akan mengerti kak. Si Silmi itu putriku tersayang. Aku khawatir pake banget"


"Sekalian saja kau umumin di toa masjid kalau si Silmi meriang, biar semua orang pada ikut untuk menjenguknya" gerutu ustadz Soleh.


Dan pada akhirnya. Yang kini ikut pergi ke tempat liburan adalah, ustadz Usman, Nisa, ustadz Soleh, Aisyah, Hawa, Anum, Athar, Zahira, Yusuf, Yura tak lupa dengan De E de Wi wi DEWI.


Semua sudah berkumpul didepan rumahnya ustadz Usman.


"Duuuh si Silmi kenapa gak tiap hari saja sih bersinnya, kan lumayan kita bisa pergi ke tempat liburan geratis" ucap Zahira. Ustadz Usman sudah menggeram.


"Kalau ngomong jangan suka sembarangan. Bersin itu sangat menyakitkan, serasa 20 tulang bengkok dipatahkan" ucap ustadz Usman hingga semua langsung mengernyit.


"Ko bersin kaya dilema melahirkan. Serasa 20 tulang bengkok dipatahkan. Kalau dengar kata kata melahirkan mendadak ingat sama pisang Ambon" tutur Zahira.


"Sssttthhh, ayo berangkat. Nanti takut telat, nanti nyampe kesana si Silmi sudah sembuh" ucap Aisyah.


"Sebentar, Tante Dewi belum datang" ucap Hawa.


Tidak lama kemudian Dewi datang sambil membawa tas besar.


"Assalamualaikum, maaf telat" ucap Dewi.


"Waalaikumussalam. Satu detik lagi gak nongol kau kita tinggal" ucap ustadz Usman. Dewi sudah cemberut. Semua melirik tas Dewi yang nampak besar itu.


"Wi, badanmu saja sudah membuat sesak mobil, ditambah lagi kau bawa tas besar. Makin tambah sesak, memangnya kau bawa apa Wi, kita kesana mau nengokin si Mimi, bukan mau liburan, jdi gak usah bawa baju ganti" tutur ustadz Usman.


"Aku gak bawa baju ganti, ini isinya makanan semua. Pasti ditempat liburan seperti itu harga makanan sama cemilan mahal mahal semua" tutur Dewi.


"Astaghfirullah alazim, besan kau malah bawa bawa warteg dalam tasmu. Sungguh terlalu"


Semua pun naik mobil, lalu berangkat menuju rumah sewaan Silmi dan Fadil. Sebenarnya mereka merasa sikapnya ustadz Usman terlalu berlebihan karena Silmi cuma bersin doang, namun karena Silmi berada dikawasan liburan, akhirnya mereka dengan senang hati ikut. Bersinnya Silmi membawa berkah.

__ADS_1


__ADS_2