
Masih dengan Silmi, Anum dan Hawa yang kini berada di butiknya Anisa. Anisa sudah memberikan beberapa contoh disain baju pengantin pada Silmi. Sementara dengan Anum dan Hawa sudah diukur ukur badannya oleh Elina.
"Wa, apa kau cuma mau diukur untuk bikin baju seragam doang?, kapan kau mau ukur buat baju pengantin?" tanya Zahira pada Hawa. Hawa langsung cemberut.
"Tante jangan ngomongin soal baju pengantin deh, aku kan jodohnya juga belum kelihatan, lagian aku belum siap untuk menikah sekarang" jawab Hawa.
"Buruan cari sebelum jodohmu dipatok pelakor"
"Gak usah nyuruh si Hawa nyari nyari jodoh. Insyaallah sudah ada, Tante Ira nanti cukup duduk manis saja nanti jodohnya si Hawa nongol dengan sendirinya" ucap Anum. Zahira malah mengernyit.
"Siapa jodohnya si Hawa, mendadak aku jadi lupa begini. Duuuh masa sih aku jadi pikun begini perasaan usia masih 25 tahun lebih, mungkin aku terlalu banyak menggoda kak Yusuf jadinya rada rada hilang ingatan" batin Zahira.
"Ini untuk para santri putri dan santri putra langsung ukur satu persatu atau nentuin sais saja?" tanya Elina.
"Nentuin sais saja, kalau diukur satu satu nanti ribet, acaranya Silmi kan sebentar lagi. Gak ada waktu buat ngukur anak anak" jawab Anisa.
"Si AZ juga dibuatin ya" pinta Zahira hingga semua langsung mengernyit.
"Si Fawwaz kan masih di Kairo Tante, dia belum boleh pulang sama kiyai Mansyur sebelum dia menjadi laki laki soleh, macho, keker dan gak melehoy melehoy" tutur Anum. Zahira malah cemberut.
"Tante Rindu sama si AZ. Rindunya berat, beraaaat pake banget" Zahira sudah berkaca kaca menahan rindu pada putranya, ia hanya bisa Vidio call pada Fawwaz itu pun pada waktu waktu tertentu saja karena kiyai Mansyur melarang untuk menghubungi Fawwaz setiap hari, karena itu bisa mengganggu konsentrasi belajarnya Fawwaz.
Anum dan Hawa langsung mendekati dan mencoba menenangkan tantenya.
"Tante jangan sedih ya. Aku lebih baik melihat Tante marah, melihat Tante narsis dan melihat Tante genit dari pada melihat Tante sedih karena itu akan membuat penomena alam bersejarah. Sungguh ME RE SAH KAN" tutur Anum. Zahira langsung mengernyit.
"Iya Tante, lebih baik Tante marah marah saja, mungkin itu lebih baik dari pada Tante bersedih begitu. Marah marah saja pada patung manekin, mungkin itu lebih baik. Kalau Tante Zahira Rahmadia Alfiqri bersedih, maka bukan hanya keluarga yang ikut bersedih, satu pesantren bisa ikut bersedih, bukan hanya itu saja, para reader pun bisa ikut bersedih" tutur Hawa.
"Sedih dan bahagianya Tante Ira itu sangat berpengaruh bagi seluruh penghuni pesantren" Silmi ikut nimbrung. Anisa dan Elina hanya tersenyum.
"Benarkah kalau Tante ini begitu berpengaruh di pesantren?" tanya Zahira. Si trio kwek-kwek langsung mengangguk ngangguk.
__ADS_1
"Benar sekali Tante"
Zahira tiba tiba merasa tersentuh.
"Oh benarkah aku sangat berpengaruh bagi para penghuni pesantren. Oh Zahira kau memang istimewa, kau adalah perempuan paling istimewa yang pesonanya sudah melanglang buana meskipun sekarang kau sudah emak emak" tutur Zahira hingga semua langsung mengernyit.
"Kumat" (Silmi).
"Kumat" (Anum).
"Kumat" (Hawa).
Setelah selesai diukur badannya, Hawa melihat lihat baju di butik itu bersama Anum sementara Silmi masih sibuk miting bersama Anisa.
"Bagus bagus ya Wa, gamis gamisnya pada cantik cantik" Anum sudah melihat lihat dan menempelkan gamis itu ke badannya.
"Cocok Num. Eh aku kebelet pipis"
"Tante Elina aku minta izin ke toilet"
"Oh silahkan Hawa, tapi toilet yang diatas ya, yang dibawah pintunya lagi rusak, kebetulan belum dibenarkan" ucap Elina. Hawa pun mengangguk.
"Tapi Om Panji gak ada disini kan?" tanya Hawa.
"Om Panji lagi ngantor, jadi diatas aman"
Seketika itu pula Hawa langsung naik ke lantai dua untuk mencari toilet. Setelah melihat ada kamar mandi, Hawa langsung bergegas masuk. Setelah selesai dengan rutinitas di kamar mandi, Hawa pun membenarkan penampilannya lalu bergegas keluar, tiba tiba saat ia melewati sebuah kamar yang diketahuinya kamar itu dulunya adalah kamar Anisa, Hawa terdiam ketika mendengar ada suara aneh di kamar itu.
"Setahuku ini dulu kamarnya Tante Anisa, kamar Tante Elina ada didekat tangga. Om Panji kan lagi ke kantor, Om Ibra juga ada di toko buku, lalu siapa yang ada di dalam kamar ini???, masa iya ada hantu disiang bolong begini???. . . . Jangan jangan ada maling didalam. Gawat" batin Hawa.
Hawa langsung mencari cari sesuatu hingga ia melihat ada sapu lidi yang menyender di tembok dekat tangga, seketika itu pula Hawa langsung mengambil sapu itu dan kembali berdiri di depan pintu kamar, tangannya sudah siap siaga jikalau itu benar benar maling ia akan segera memukulnya dengan sapu.
__ADS_1
Cekleek.
Tiba tiba pintu perlahan terbuka, mata Hawa langsung menyipit, ia sudah siap siaga. Mungkin ia bukan Anum yang mempunyai berbagai ilmu ajian, namun Hawa tau bagaimana cara memukul maling pake sapu.
Saat seseorang keluar dari kamar itu, Hawa langsung mengarahkan dengan sekuat tenaga sapu itu, namun si target begitu sigap menahan sapu itu hingga sapu itu tidak mengenainya. Hawa langsung menganga, terkejut bukan main ketika melihat bahwa yang ia pikir maling itu adalah AL (Akmal Malik Ibrahim).
"AL!!!!!"
AL hanya tersenyum, tangannya masih memegang ujung sapu. Hawa pun masih bengong dan hampir tidak percaya kalau laki laki yang ia anggap maling itu adalah putranya ustadz Ibrahim.
AL pun memberikan kode dengan melirikan matanya pada ujung sapu yang ia pegang, seketika itu pula Hawa langsung melepaskan sapu itu, ada rasa terkejut, bingung dan malu.
"Kenapa kau mau memukulku?" tanya AL.
Hawa hanya diam saja dan malah mundur dua langkah menjauhi AL.
"Kenapa diam?, apa kau hanya pura pura mau menangkap maling padahal hanya modus ingin mengintipku?" tanya AL kembali, ada nada menggoda dalam ucapannya. Seketika itu pula Hawa langsung menggeleng.
"Kalau tidak mau mengintipku, lalu sedang apa kau disini?. Kau tau jika umi ku atau Abi ku lihat kita berduaan disini, sudah pasti kita langsung digeret ke KUA sekarang juga" tutur AL kembali. Hawa langsung menganga. Dan yang dikatakan AL itu memang benar, jika ada yang melihat mereka berduaan disana sudah pasti kejombloan mereka langsung musnah dan berakhir di KUA.
Seketika itu pula Hawa langsung mengangkat sedikit rok gamisnya hingga AL langsung menutup matanya. Seketika itu pula Hawa berlari kabur hingga saat AL membuka mata ia tersenyum melihat kembarannya Adam itu sudah kabur.
Hawa pun berlari menuruni anak tangga hingga sampailah ia di butik dan tak sengaja menabrak Anum.
"Aduh Hawa kenapa lari lari?" tanya Anum heran.
"Maaf Anum, sepertinya aku harus pulang sekarang. Maaf ya aku buru buru, assalamualaikum" Hawa kembali berlari keluar butik. Silmi dan Anum merasa aneh dengan sikap sahabatnya itu.
"Si Hawa kenapa itu?" tanya Silmi.
Di jendela kamar atas, AL tersenyum ketika melihat Hawa berlari menyebrang jalan dengan terburu buru.
__ADS_1
"Hawa Khoerunissa binti Riziq"