SILMI

SILMI
kantor


__ADS_3

Malam harinya. Rombongan ustadz Usman sudah pulang sore tadi, itu juga harus sekuat tenaga membujuk Zahira yang tidak mau pulang dari tempat liburan. Belum lagi Dewi yang memanfaatkan membeli oleh oleh dengan geratis, tentunya ada campur tangan dari Faris hingga mereka bisa liburan dan berbelanja sepuasnya tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun. Faris hanya tersenyum melihat kehebohan keluarganya Silmi itu.


Malam itu Silmi sedang berdiri di balkon kamarnya. Ia asik melamun namun entah memikirkan apa.


"Faris ingin aku memberikan dia kesempatan. Mudah mudahan besok ada sedikit cerita tentang masa lalunya Faris. Setidaknya aku ingin mengenal salah satu mantan pacarnya, kenapa dia sampai ditinggalkan Faris" batin Silmi.


Silmi pun menatap kearah langit, bintang hanya terlihat beberapa saja, tidak seperti malam malam sebelumnya yang dipenuhi bintang .


Faris yang tidak sengaja melihat Silmi dari jendela kamarnya, ia pun tersenyum lalu ikut melihat ke arah langit meskipun sedikit sulit untuk melihat bintang karena dirinya masih berada didalam kamar. Faris terus tersenyum melihat putrinya ustadz Usman yang menurutnya berbeda dari yang lain. Bukan hanya penampilan saja yang berbeda, namun sikap Silmi yang terang terangan menolak dirinya sungguh membuatnya aneh hingga tertantang ingin mendapatkan nya. Faris juga sering merasa aneh jika dekat dengan Silmi hati dan perasaannya merasa tenang dan damai.


"Sedang apa putrinya ustadz Usman malam malam berdiri diluar?, apa dia sedang berdo'a?. Ya Allah jika dia memang benar sedang berdo'a, maka kabulkan lah apapun do'a yang ia pinta. Dan jika boleh aku meminta, kuingin dia menyebut namaku dalam setiap do'a do'anya" batin Faris dengan menatap Silmi yang masih setia berdiri.


Tidak lama kemudian Silmi pun masuk kedalam kamarnya, ia tidak menyadari kalau sedari tadi ada yang memperlihatkan dirinya diseberang rumah.


Keesokan harinya. Kegiatan hari ini yaitu berkunjung kembali ke perusahaannya Faris. Namun kali ini Silmi tidak hanya berdua dengan Yuda, karena Fadil, Syifa dan Bilkis pun ikut berkunjung ke perusahaan itu.


Sesampainya disana. Mereka sudah mengucapkan salam terlebih dahulu hingga beberapa sekuriti langsung menjawab salam mereka dengan sopan dan baik. Ini adalah perubahan besar yang terjadi di perusahaan itu. Saat mereka melewati lobi depan, tiba tiba Fadil langsung mengernyit melihat ada dua sekuriti baru yang sedang berdiri tegap.


"Ini sekuriti kaya kenal bin ingat alias tau. Tapi siapa ya?" batin Fadil.


Karena penasaran yang tiba tiba datang hingga naik ke ubun ubun, akhirnya Fadil pun mendekati kedua sekuriti itu. Matanya menatap lurus hingga kedua orang yang ditatapnya langsung menunduk.


"Dodo, , , Boim"


Dodo dan Boim sudah semakin menunduk takut dan tak berani menatap Fadil. Fadil sudah mau tertawa namun ditahannya.


"Duuuh ini orang masih kenal saja padahal kejadiannya udah lama pake banget. Duuuh jangan sampai orang ini memberitahu yang lain kalau aku sama Boim adalah mantan penculik" batin Dodo.


"Kalian Dodo sama Boim kan?, Kalian yang nyulik kak Selebor kan yang dikira si Anum binti Rasyid. Waah hebat ya, dari tukang culik kini menjadi seorang sekuriti perusahaan besar pula" tutur Fadil.


"Sssttthhh. Jangan keras keras, aku sudah tobat, jangan beritahu yang lain kalau kita adalah mantan napi alias penculik" bisik Boim.


"Jadi mereka ini yang sudah berani menculik nona Bos?" tanya Yuda sambil memicingkan matanya pada Dodo dan Boim.


"Waah keren ya, ini yang punya perusahaan mempunyai mantan 21 perempuan cantik, nah ini sekuritinya mantan seorang penculik. Tapi aku salut dengan kalian, kalian mau berubah dan meninggalkan pekerjaan buruk kalian"


"Tapi jangan kasih tau yang lain ya, kita takut dipecat" ucap Dodo.


"Tenang saja, semua aman asalkan kalian benar benar berubah menjadi orang yang baik. Tapi ngomong ngomong, kemarin kak Zahira ada kesini, kalau dia tau kalian kerja disini pasti dia akan senang" ucap Fadil.


Dodo dan Boim langsung menganga.


"Jadi kemarin si cantik ada disini?, inalillahi. Im, kalau mendengar si cantik, tiba tiba ngeri ingat teman temannya gado gado yang membobol dompet kita" ucap Dodo.

__ADS_1


"Hmmmm, mendadak ngeri"


"Ya sudah kita mau masuk dulu kedalam, kalian jaga yang benar" pinta Fadil yang kini sudah berjalan masuk diikuti Silmi, Yuda, Syifa dan Bilkis.


"Abang, itu tadi siapa?" tanya Syifa kepo.


"Jangan kepo semok, nanti kau cepat langsing" ucap Fadil yang kini sudah menggandeng Syifa, sementara Bilkis sudah digendong Yuda.


Mereka pun berjalan melewati lobi depan, nampak para karyawan menyapa dengan sopan. Silmi sudah tersenyum melihat penampilan karyawan perempuan yang berpenampilan sopan bahkan tertutup, tidak ada lagi rok mini apalagi penampilan sexy.


"Alhamdulillah penampilan mereka sudah berubah" batin Silmi.


Saat mereka sudah sampai di ruangannya Faris.


Tok tok tok.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam. Masuk"


Silmi, Fadil, Syifa, Yuda serta Bilkis pun masuk. Sepanjang perjalanan menuju ruangannya Faris, Fadil sudah merasa takjub.


"Oh kalian sudah datang, silahkan duduk" pinta Faris. Bayu pun mengangguk sopan atas kedatangan mereka.


"Silahkan diminum. Duuuh neng geulis, kita ketemu lagi" ucap ibu itu. Silmi hanya tersenyum.


"Bos kapan acara resminya. Udah gak sabar pengen ikut ngebesan" ucap ibu itu sambil tersenyum senyum.


"Santai aja Bu, nanti dijemput buat jadi pagar ayu" jawab Faris bercanda.


Yuda langsung menganga, sementara Bayu sudah menunduk menahan tawanya.


"Inalilahi, ibu ibu ini mau dijadikan pagar ayu. Ubannya udah pada nongol begitu. Sungguh TER LA LU" batin Yuda.


Mereka pun mengobrol ngobrol santai disana sebelum Faris mengadakan miting seperti biasa.


"Eh Faris, tiba tiba aku mendadak kepo banget, boleh aku tanya berapa penghasilanmu sebagai pemilik perusahaan?" tanya Fadil.


Silmi sudah mengernyit lalu mencubit pinggang kakaknya itu.


"Kak Fadil, pertanyaan macam apa itu, jangan bikin malu deh" gerutu Silmi.


Faris hanya tertawa kecil begitu juga dengan Bayu.

__ADS_1


"Kalau kak Fadil penasaran dengan penghasilanku, kak Fadil boleh tanya pada sekertaris ku" jawab Faris hingga Fadil langsung menatap Bayu.


"Mas Fadil ingin tau berapa gajinya si Bos?' tanya Bayu memastikan. Fadil mengangguk ngangguk.


"Mas Fadil hafal suara lebah madu bagaimana?" tanya balik Bayu.


"Tentu saja tau, suaranya itu Mmmmmmmmmmmm, sedikit mendengung" jawab Fadil sambil menirukan suara lebah. Bayu sudah tersenyum.


"Itulah penghasilan si Bos. Mas Fadil bisa merangkumnya sendiri" ucap Bayu. Fadil langsung terdiam dan mulai berpikir.


"Penghasilan si Faris sama dengan suaranya lebah madu, yaitu Mmmmmmm. Masya Allah itu artinya penghasilan si Faris bisa sampai M M M M M. Waah gak kehitung M nya berapa, apalagi kalau lebahnya terbang, M nya pasti panjang pake banget" batin Fadil.


"Abang, ko aku gak ngerti sih" ucap Syifa.


"Penghasilannya itu M M an, kaya suara lebah" jawab Fadil. Syifa masih kurang mengerti.


"Maksudnya M M itu manis manja?" tanya Syifa kembali.


"Ssttthhhh, Abang bilang kau jangan kepo, nanti cepat langsing"


Silmi sudah cemberut kesal dengan pertanyaan kakaknya itu.


Akhirnya Fadil, dan Syifa serta Bilkis izin untuk berkeliling perusahaan itu. Silmi menolak ikut, ia ingin duduk saja di ruangannya Faris.


"Kau yakin tidak apa apa sendirian disini?, aku mau miting dulu" ucap Faris. Silmi hanya mengangguk. Faris pun hendak berjalan keluar, tiba tiba Silmi berkata.


"Aku suka penampilan karyawan perempuan yang sekarang, terima kasih, dengan peraturan yang kau buat itu, setidaknya kau telah menjaga kehormatan mereka dari mata mata jahil penuh *****" tutur Silmi. Faris pun tersenyum lalu menatap putrinya ustadz Usman itu.


"Kalau kau menyukai penampilan karyawan ku, lalu apa kau menyukai penampilan Bosnya?" tanya Faris. Silmi langsung terdiam, pura pura tidak mengerti.


"Maksudmu?"


"Apa kau menyukai penampilan ku?"


Bukannya menjawab, Silmi malah menunduk malu hingga Faris kembali tersenyum. Karena tidak ada jawaban dari perempuan yang ada di depannya itu akhirnya Faris kembali melangkahkan kakinya.


"Aku ke ruangan miting dulu, Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


Silmi menjawab salamnya masih dengan menundukan wajahnya.


Sebelum keluar pintu, Bayu sempat berbisik pada Bos nya itu.

__ADS_1


"Sepertinya Silmi itu menyukai penampilan mu Bos, cuma dia masih gengsi dan M A ma L U lu malu"


__ADS_2