SILMI

SILMI
Jawaban.


__ADS_3

Hari terakhir Silmi liburan pun tiba. Kini putrinya ustadz Usman itu sedang duduk sendirian dipinggir pantai. Yuda pun masih memperhatikannya dari jauh, membiarkan Silmi sendirian biar bisa memantapkan hatinya dengan keputusan yang akan diambil sebagai jawaban atas keputusan perjodohan.


Silmi hanya diam sambil menatap deburan ombak yang kini ada dihadapannya. Fadil dan Syifa pun masih asik bermain air bersama Bilkis.


Kini ada nama lain yang ada dihatinya putri bungsunya ustadz Usman itu, selain nama Abi nya, kini ada nama Faris yang singgah. Meskipun dia gengsi untuk mengakuinya, namun hatinya Silmi tidak bisa berbohong kalau Silmi kini menyukai putranya pak Edi itu.


"Hari ini hari terakhir ku disini, gak tau kapan bisa kesini lagi" batin Silmi.


"Ehem"


Tiba tiba seseorang berdehem dibelakangnya. Silmi langsung menengokan wajahnya, dilihatnya Faris berdiri dibelakangnya.


"Faris"


"Boleh aku ikut duduk?" tanya Faris.


Meski sedikit ragu, namun Silmi mengangguk. Faris duduk disebelahnya Silmi namun masih menjaga jarak aman. Yuda pun ikut mendekat begitu juga dengan Bayu.


Mengheningkan cipta pun dimulai. Bayu dan Yuda sudah saling lirik.


"Mereka lagi kumat" bisik Bayu.


"Hmmm"


"Apa kau kesini ingin meminta jawaban ku?" tanya Silmi tiba tiba. Faris hanya tersenyum.


"Masih ada waktu beberapa jam lagi. Yakinkan dulu hatimu seyakin yakinnya biar kau tidak menyesal dengan keputusan yang kau ambil itu" ucap Faris. Silmi langsung diam menunduk.


"Ayo mba Silmi, bilang iya aja sekarang, takutnya nanti terlambat, terus ketikung sama si mba Pretty. Eh ngomong ngomong nama Pretty itu kaya nama anaknya Tante Suketi ya. di salah satu film horor. Eh kau ini bicara apa sih Yuda. Hi hi hi" batin Yuda.


"Ayo mba Silmi, terima saja si Bos, nanti nyesel loh kalau mantan mantan si Bos minta balikan, nanti mba Silmi ketikung disepertiga sore. Kan mba Silmi sore ini mau pulang" batin Bayu.


"Apa yang akan kau lakukan jika aku menolakmu?" tanya Silmi. Faris terdiam mendengar pertanyaan itu lalu menatap Silmi sambil tersenyum.


"Mungkin aku akan kecewa, namun aku harus menerima kenyataan, mungkin kau bukan jodohku. Namun apapun keputusan mu kuharap siapapun jodohmu dia bisa menjagamu dengan baik" jawab Faris.


"Kalau seandainya aku menerimamu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Silmi kembali.


Faris malah tersenyum.


"Tentu saja aku akan mengucapkan Alhamdulillah, bersyukur pada Allah jika benar kau mau menerimaku" jawab Faris.


"Hanya mengucapkan syukur?" Silmi bertanya kembali.


"Tentu saja aku sangat bahagia seandainya kau mau menerimaku. Selain itu, jika kau mau aku akan langsung melamar mu saat ini juga. Seperti keinginanmu, jika kau memberiku kesempatan, aku tidak akan menyia-nyiakannya" tutur Faris.

__ADS_1


Silmi langsung tersenyum menunduk.


"Bagus Bos, luluh lantakkan hatinya mba Silmi" batin Bayu.


"Waaah si Faris berhasil bikin mba Silmi hatinya LUMEEEERRR. Asiiiik" batin Yuda.


_ _ _ _ _ _ _ _


Sore pun tiba. Silmi sudah membereskan barang barang miliknya, memasukannya kedalam koper dan beberapa oleh oleh yang sengaja dibelinya untuk saudara dan sahabat sahabatnya. Begitu juga dengan Fadil dan Syifa yang sudah berkemas.


Yuda sedang asik memasukan barang barang milik Silmi, Fadil dan Syifa. Ia sendiri mempunyai barang barang yang sengaja dibeli sebagai oleh oleh untuk keluarganya terutama kembarannya Yudi. Selama ini ia dan Yudi jarang sekali berpisah jauh, namun kali ini atas perintah ustadz Usman, Yuda harus berpisah dengan Yudi selama dua Minggu.


Fadil sudah keluar dari rumah sewaan itu bersama Bilkis, ia menatap rumah itu.


"Kenapa mas Fadil?" tanya Yuda.


"Rasanya gak rela ninggalin rumah sebagus ini. Kalau boleh memilih, ingin rasanya aku membawa pulang rumah ini sebagai oleh oleh" ucap Fadil. Yuda sudah menahan tawanya.


"Kantongi saja rumahnya mas"


"Eh ngomong ngomong si Mimi sama si Semok belum keluar?" tanya Fadil.


"Belum mas. Itu mba Silmi masih berdiri di balkon kamarnya, kayanya dia belum rela deh liburannya berakhir. Kalau mba Syifa, aku curiga dia masih berbaring ditempat tidurnya, gara gara gak mau pergi dari rumah ini" tutur Yuda. Silmi memang terlihat berdiri di balkon kamarnya.


"Si Mimi mungkin lagi meyakinkan hatinya. Tapi kalau si Semok masih berbaring ditempat tidur. Itu artinya dia ngajakin perang di kamar, sungguh TER LA LU" batin Fadil.


"Sini Bilkis sayang, putrinya mba Semok binti Muklis" ucap Yuda sambil menggendong si gemoy, tiba tiba Bilkis langsung menarik dan mencolok lubang hidungnya Yuda sambil tertawa kecil.


"Addduh gemoy, jangan dicolok colok lubang hidungnya, BA HA YA" ucap Yuda. Tiba tiba Bu Santi dan Faris datang menemui.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


"Sudah pada siap untuk pulang?" tanya Bu Santi.


"Lagi nungguin mba Silmi sama mba Syifa Bu, mereka masih didalam" jawab Yuda. Faris pun terdiam ketika melihat Silmi sedang berdiri di balkon kamar. Faris sudah mempersiapkan hatinya jika Silmi menolak atau menerima perjodohan itu.


Saat Fadil masuk ke kamarnya, dilihatnya Syifa sedang berbaring ditempat tidur, seolah tidak mau meninggalkan kamar itu.


"Astaghfirullah si Semok beneran lagi berbaring ditempat tidur. Ngajakin perang lagi atau gak rela ninggalin rumah ini. Atau jangan jangan dia ingin membawa pulang tempat tidur ini" batin Fadil.


"Sayang, kenapa kau masih berbaring ditempat tidur. Sarung Abang udah rapih begini, masa mau melorot lagi sih" ucap Fadil hingga Syifa mengernyit.


"Ikh Abang ngomong apaan sih. Aku susah move on sama tempat tidurnya, bagus nyaman pake banget. Kita bawa pulang ya bang" pinta Syifa hingga Fadil langsung mengernyit.

__ADS_1


"Abang bawa istri Abang yang semok sama putri Abang yang gemoy aja udah berat, apalagi harus bawa bawa kasur, badanku bisa remuk sampai ke tulang tulang" tutur Fadil. Syifa sudah mengerucutkan bibirnya.


"Ayo kita pulang, hari sudah semakin sore" pinta Fadil. Syifa pun mengangguk pasrah. Setelah menyuruh Syifa turun, kini Fadil menemui adik perempuannya itu. Silmi masih setia berdiri.


"Masih bimbang ya, sama keputusan yang akan kau ambil?" tanya Fadil. Silmi pun sedikit terkejut dengan kedatangan Fadil yang tiba tiba.


"Menurut kak Fadil, Faris itu orangnya gimana?" tanya Silmi.


Fadil sudah berdiri disebelahnya Silmi.


"Faris yang kak Fadil kenal sekarang sih baik, sepertinya juga bertanggung jawab, mapan, alhamdulilah sekarang dia sedang berusaha memperbaiki kualitas agamanya. Dan soal masa lalunya yang kurang baik, seperti yang kak Fadil sering bilang, semua orang pasti punya masa lalu, yang penting dia sudah berubah sekarang. Turuti saja kata hatimu Mimi. Kita tidak akan memaksamu jika kau masih ragu pada si Faris" tutur Fadil.


"Aku menyukainya kak"


Tiba tiba Silmi memeluk kakaknya malu malu. Fadil tersenyum mendengar jawabannya.


"Alhamdulillah jika kau setuju. Sekarang turunlah, nanti temui Faris untuk memberikan jawabannya, dia dan Bu Santi pasti sangat senang"


"Tapi aku malu bilangnya, kak Fadil saja yang memberitahu mereka" pinta Silmi hingga Fadil langsung mengernyit.


"Ko kak Fadil sih" Fadil sedikit memprotes. Silmi malah turun dan pergi meninggalkan kakaknya itu. Dibawah ia pun bertemu dengan Faris dan Bu Santi. Bu Santi sudah memeluknya.


"Kau mau pulang sekarang?" tanya Bu Santi. Silmi hanya mengangguk. Faris sudah menatapnya, tak bisa dibohongi kalau dirinya menunggu jawaban dari putrinya ustadz Usman itu.


"Aku pulang dulu ya Tante" pamit Silmi sambil diam diam memberikan sebuah surat pada Bu Santi.


"Hati hati ya sayang"


Silmi pun mendekati Faris.


"Terima kasih sudah memberi fasilitas liburan disini, aku juga senang melihat perubahan di kantormu. Aku pulang dulu, assalamualaikum" ucap Silmi sambil masuk kedalam mobil karena Syifa, Bilkis dan Yuda sudah ada didalam mobil, mereka sudah berpamitan lebih dulu. Kini tinggalah Fadil yang berpamitan.


"Bu Santi, Faris, terima kasih ya sudah melengkapi keistimewaan liburan kami, semoga kita bisa bertemu lagi dilain tempat. Aku pamit dulu Assalamualaikum" ucap Fadil.


"Waalaikumussalam"


Fadil pun masuk, dan seketika itu pula mobil melaju meninggalkan rumah sewaan itu. Tak lupa Yuda membunyikan klakson ketika melihat Bayu dan mas Cipto berdiri di sebrang rumah.


Tiiiid tiiiid tiiiid.


Bayu dan Mas Cipto pun mengangguk sopan. Faris menatap kepergian mobil itu dengan rasa kecewa karena Silmi tak memberikan jawabannya. Tiba tiba Bu Santi menepuk pundak putranya itu hingga Faris langsung menoleh.


"Dari Silmi"


Bu Santi memberikan surat itu pada Faris, dan seketika itu pula Faris langsung membuka dan membacanya, tiba tiba ia langsung tersenyum.

__ADS_1


"Aku menerima perjodohan itu. Semoga kau dan aku berjodoh. Ana uhibbuka Fillah"


__ADS_2