
Keesokan harinya.
Silmi, Fadil, Syifa, Yuda serta Bilkis sudah berkumpul didepan rumah, tentunya mereka sudah bersiap untuk pergi ke tempat liburan yang belum dikunjungi, tentunya Faris yang merekomendasikan tempat itu.
"Kemarin katanya meriang. Giliran diajak liburan geratis mendadak sembuh. Kak Fadil sungguh TER LA LU" batin Silmi.
Faris, Bayu serta Bu Santi pun sudah siap untuk berlibur. Faris sudah nampak keren dengan penampilannya yang santai, ia berjalan menuju rumahnya Silmi.
"Assalamualaikum, pagi semuanya" sapa Faris.
"Waalaikumussalam. Pagi juga"
"Pagi Silmi, , , sayang" bisik Faris. Silmi langsung memicingkan matanya.
"Jangan pake sayang" protes Silmi. Faris hanya tersenyum saja.
"Kenapa gak boleh pake sayang. Kan aku emang sayang pada putrinya ustadz Usman" ucap Faris kembali.
"Pagi pagi itu ngasihnya sarapan, jangan ngasih rayuan gombal"
Faris hanya tersenyum, ia merasa gemas dengan sikap protes dan penolakan Silmi.
"Kak Fadil sudah sembuh. Yakin mau ikut, cuaca disana lumayan panas loh" ucap Faris mengingatkan.
"Alhamdulillah tiba tiba aku mendadak sembuh pake banget. Cuaca panas itu sudah biasa, yang penting si semok tersayang gak ada yang godain, kalau ada yang godain aku pasti mendadak panas membara" tutur Fadil.
"Kapan kita berangkat?" tanya Yuda yang sudah tidak sabar, ia sudah menggunakan pakaian pantai yang nyentrik serta kaca mata hitam yang sudah terpasang di kepalanya, tidak perduli dengan uban yang sudah numbuh cantik dikepalanya.
"Ayo kita berangkat" ucap Faris.
Bayu sudah mengeluarkan mobilnya, tentunya Bu Santi sudah ada di dalam mobil. Silmi, Fadil, Syifa dan Bilkis sudah masuk ke mobil, tentunya Yuda yang menyetir.
"Bismillahirrahmanirrahim"
"Cuus berangkaaaaaatt"
Kedua mobil itu pun berangkat menuju tempat tujuan. Hampir setengah jam lebih dalam perjalanan, kini mereka sudah sampai di sebuah pantai cantik.
Fadil dan Yuda sudah menganga merasa takjub dengan keindahan pantai itu.
"Masya Allah. Betah banget kalau tiap hari kesini" ucap Yuda.
"Om Yuda pikir datang kesini geratis" ucap Silmi.
Fadil masih setia menganga hingga Syifa langsung menepuk mulut suaminya itu.
"Kondisikan mulutnya Abang, entar lumba lumba loncat masuk semua" ucap Syifa.
Faris, Bayu dan Bu Santi pun mendekati mereka.
"Ayo, aku sudah siapkan tempat, biar kita bisa beristirahat" ucap Faris.
Semua berjalan menuju sebuah rumah kecil yang disewa hanya untuk beristirahat. Faris sudah berjalan disampingnya Silmi.
"Duuuh ini si Om Faris ngapain sih deket deket terus" batin Silmi.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Faris ketika melihat reaksinya Silmi.
"Jaga jarak aman 3 kilo meter" ucap Silmi.
Faris malah tertawa.
"Jauh banget. Kalau aku jauh jauh takutnya ada yang nikung" jawab Faris hingga Silmi mengernyit.
Tiba tiba ada seorang lelaki menghampiri mereka, usianya lebih muda dari Silmi(berondong).
"Hallo semuanya" sapa lelaki itu.
"Kau sudah datang?" ucap Faris.
"Hmmm. Mana perempuan yang kau maksud?" tanya si lelaki berondong itu.
Faris tersenyum lalu melirik Silmi.
"Kenalkan, ini Silmi. Dan Silmi ini Rian sepupuku, adiknya Radit. Dia laki laki yang akan kukenalkan padamu kemarin" ucap Faris.
"Oh jadi ini berondong yang mau dikenalkan denganku. Orangnya ganteng, tapi sayang, penampilannya gak banget. Celananya aja robek robek begitu" batin Silmi.
"Aku Rian"
Rian memperkenalkan diri sambil merentangkan tangannya untuk bersalaman.
"Aku Silmi"
Silmi sudah mengatupkan tangannya hingga Rian mengernyit dan langsung mencium aroma tangannya.
"Gak bau, wangi malah. Kenapa dia gak mau salaman denganku ya. Menyebalkan" batin Rian. Faris pun tersenyum melihat ekspresi sepupunya itu.
"Siapa mahram??" tanya Rian.
"Sssttthhh, ayo kita ketempat istirahat" pinta Faris sambil menepuk pundaknya Rian.
Sesampainya di rumah sewaan, Radit sudah ada disana.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Semua sudah beristirahat terlebih dahulu sebelum pergi bermain ke pantai. Fadil sudah menahan tawanya melihat Radit hingga ia berbisik pada Syifa.
"Semok sayang, badannya si Radit mirip denganmu"
"Ikh Abang, masa iya si Radit badannya semok" gerutu Syifa.
Setelah beristirahat sebentar, kini Faris mengajak semuanya untuk pergi ke laut menggunakan perahu pinisi.
Fadil sudah menganga kembali ketika perahu itu mulai melaju.
"Ikh Abang dari tadi menganga mulu. Mingkem bang mingkem" ucap Syifa.
"Tau tuh kak Fadil, norak deh, biasa aja ekspresi nya. Biasa naikin si Beky, jadi ketika naik perahu mendadak syok" tutur Silmi.
__ADS_1
"Semok, ayo kita berdiri keujung yu. Biar kita kaya si Jack dan si Rose di film TITANIC, biar si Bilkis si Mimi yang gendong" tutur Fadil. Silmi sudah mengernyit.
"Ayo Abang, biar kita kelihatan romantis. Duh kalau ada kak Zahira dia pasti iri pake banget hingga berguling guling dilaut" ucap Syifa sambil menggandeng tangannya Fadil lalu berjalan menuju ujung perahu.
"Ingat ya, ini cuma perahu pinisi bukan kapal pesiar" gerutu Silmi.
Fadil dan Syifa sudah berdiri berdua bersama Syifa. Sementara Silmi berdiri berdiri di pinggiran perahu. Bilkis sedang asik bermain dengan Bu Santi. Bayu sedang asik mengobrol dengan Yuda sambil memandangi laut yang nampak biru. Faris dan Rian pun mendekati Silmi.
"Hai. Suka tempatnya?" tanya Faris. Silmi hanya mengangguk.
"Kita ngobrol ngobrol sambil ngopi yu" ajak Faris. Kini Silmi, Faris dan Rian sudah duduk disebelahnya Bu Santi dan Bilkis.
"Kak Silmi, suka pergi dugem?" tanya Rian. Silmi langsung mengernyit.
"Ini anak nanyanya suka yang aneh aneh deh" batin Silmi.
"Aku tidak suka pergi ke tempat seperti itu. Lagi pula di pesantren tidak ada tempat seperti itu, kami lebih senang pergi ke majlis untuk pengajian dari pada joged joged kaya orang cacingan" tutur Silmi. Faris hanya tersenyum saja.
"Kak Silmi punya mantan berapa?, ini kak Faris mantannya ada 21" ucap Rian kembali. Faris hanya diam sengaja biar Silmi dan Rian bisa mengobrol biar putrinya ustadz Usman itu bisa menilai mana yang lebih baik dari seorang berondong atau seorang yang lebih dewasa.
"Aku tidak punya mantan. Aku dilarang untuk pacaran, lagi pula aku tidak suka pacaran. Bagiku pacaran setelah menikah itu lebih indah" jawab Silmi.
"Idiiih perempuan ini gak asik deh. Tumben tumbenan kak Faris naksir perempuan model begini" batin Rian.
"Apa sekarang aku boleh tanya sesuatu padamu?" ucap Silmi.
"Tentu" jawab Rian.
"Apa kau suka pake sarung?"
Kini Rian mulai mengernyit mendengar pertanyaan dari Silmi lalu tertawa karena merasa lucu.
"Ha ha ha. Ya tentu saja aku tidak suka, masa iya seorang Rian pake sarung. Nanti dikira aku mau ngeronda" jawab Rian. Silmi sudah mengernyit mendengar jawaban dari sepupunya Faris. Faris malah menunduk menahan tawanya.
"Apa maksudnya pake sarung dikira ngeronda. Ni anak gak pernah ke mesjid apa ya" batin Silmi.
"Orang yang pake sarung itu bukannya mau pergi ngeronda, tapi mau pergi ke masjid. Kau seorang muslim kan?"
"Ya tentu saja aku muslim. Tapi aku lebih senang nongkrong di cafe dari pada di masjid" jawab Rian.
"Sepupuku ini Islam KTP, ucap Faris sambil tertawa kecil.
"Menurut mu apa arti pernikahan untukmu?" tanya Silmi.
"Aku belum memikirkan tentang pernikahan, bagiku yang masih muda masih ingin bersenang senang diluar sana. Nanti kalau sudah menikah dilarang larang sama istri, duuh itu kan gak asik" jawab Rian. Silmi kembali mengernyit.
"Duuh ini si berondong otaknya kurang dewasa. Ternyata gak semua berondong bisa bersikap dewasa kaya Om Riziq" batin Silmi.
_
_
_
_
__ADS_1
_
Assalamualaikum temen temen reader. Maaf ya aku liburnya kelamaan he he. Makasih banyak untuk yang sudah mendoakan. Alhamdulillah acaranya lancar.