
Masih dihari yang sama. Ketika Dokter Aini keluar dari ruangannya Syifa, semua langsung memberikan pertanyaan yang sama.
"Dokter, ko bisa bayinya si Syifa lahir disertai dengan gempa?"
Pertanyaan itu membuat Dokter Aini tertawa kecil namun enggan untuk menjawab hingga akhirnya ia pergi meninggalkan mereka. Rombongan itu langsung masuk kedalam semua kebetulan ruangannya Silmi belum terbuka.
Ustadz Usman sudah tidak sabar melihat cucunya, ia berpikir jika lahirnya bayi itu yang disertai dengan gempa adalah sebuah anugrah karena ustadz Usman menyangka bayinya sangat kuat dalam fisiknya.
"Laki laki apa perempuan?"
"Bayinya perempuan" jawab Fadil.
"Prinses lagi ya. Gemoy kau ada temennya" ujar ustadz Usman yang kini sudah mendekatkan Bilkis pada adik bayinya. Bilkis terlihat sangat senang.
Zahira sudah mendekati Syifa.
"Syifa, kau keren ya. Bayimu lahir disertai penomena alam. Ada gempa buminya" ujar Zahira. Fadil dan Syifa sudah cengengesan sementara Dewi sudah menggeram.
"Ini akan menjadi cerita bersejarah dalam dunia melahirkan. Si Yura ketika dilahirkan langsung mengeluarkan bunyi kentut, sementara bayinya si Syifa ketika dilahirkan disertai penomena alam, yaitu gempa" ujar ustadz Usman.
"Itu bukan gempa Abi, tapi itu suara dan getaran ibu mertuaku yang jatuh terpeleset saat gembira melihat cucu barunya" ujar Fadil.
Semua sudah menganga mendengarnya, sementara Dewi sudah cemberut malu bercampur kesal.
"So imut banget sih Wi, udah tau badanmu lain dari yang lain, pake jingkrak jingkrak segala" gerutu ustadz Usman. Sekali lagi Dewi kembali cemberut.
Setelah melihat Syifa dan bayinya mereka pun bergilir melihat Silmi dan bayinya. Nampak Faris begitu bahagia dengan anak pertamanya.
"Bayinya laki laki" ujar Faris memberitahu ketika semua bertanya jenis kelaminnya.
"Wah aku kedatangan sepasang cucu" ujar ustadz Usman.
Zahira sudah mendekati Dokter Ayu yang masih berada di ruangan itu.
"Dokter Ayu coba Dokter periksa lagi perutnya si Mimi, takutnya ada Dede Yura ngumpet" ujar Zahira membuat semua orang yang mendengar langsung mengernyit.
"Ibu Silmi tidak melahirkan bayi kembar" ujar Dokter Ayu.
"Coba dicek lagi Dok, aku yakin Dede Yuri berenkarnasi di rahimnya si Mimi" Zahira kekeh. Kembali Dokter Ayu mengernyit.
"Eh Selebor apa maksudmu si Yuri berenkarnasi di rahimnya si Mimi?" tanya ustadz Usman.
__ADS_1
"Om ustadz, aku hanya takut Dede Yuri kembarannya Dede Yura mau berojol di perutnya si Mimi. Aku yakin saat aku melahirkan Yura, aku melahirkan bayi kembar, hanya saja waktu itu Dede Yuri ngumpet karena malu harus terlahir dari seorang ibu yang cantik jelita seperti diriku hingga akhirnya dia berenkarnasi di perutnya si Mimi untuk menemui si Yura kembarannya" tutur Zahira.
Riziq sudah mencubit pinggang adiknya itu, sedikit kesal, bisa bisanya dia bicara seperti itu.
"Otakmu minta dipanggang ya. Bisa bisanya bicara seperti itu" gerutu Riziq.
"Dokter Ayu, tolong digered si Zahira keruang bedah otak. Nanti biar aku yang bayar seluruh biayanya" ujar ustadz Usman. Dokter Ayu hanya tersenyum saja.
"Ngomong ngomong siapa nama bayinya ini?" tanya ustadz Soleh.
"Namanya Fahmi" jawab Faris.
Semua tersenyum mendengarnya.
"Namanya bagus"
"Ngomong ngomong Fahmi nya pake BO gak?" tanya Zahira. Mendengar itu Ustadz Usman langsung menggeram sambil mendelikan matanya pada Zahira.
"Bercanda doang om ustadz, matanya jangan diruncingin begitu" ujar Zahira.
"Fahmi Faris Ramadhan" ujar Faris. Semua tersenyum kembali.
"Bayinya kak Syifa, laki laki atau perempuan Mi?" tanya Silmi pada Nisa.
"Bayinya perempuan. Namanya Zulfa Aulia Zahrani" Nisa memberitahu.
***
Ketika Silmi dan Syifa sudah berada di ruang perawatan yang sama, para penghuni pesantren masih setia disana, sementara Bayi Fahmi dan Zulfa sudah berada di ruangan bayi.
"Eh ngomong ngomong, itu bayinya si Mimi sama si Syifa udah dikasih tanda belum, takutnya pas mau pulang ketuker" ujar Zahira.
"Iya bahaya, nanti jadi sinetron yang judulnya putri yang tertukar"
"Belum, nanti pas mau pulang akan kuberi karet gelang warna merah pada tangannya bayi Zulfa, sementara bayi Fahmi biar dikasih karet gelang warna kuning" ujar Dewi. Ustadz Usman langsung mengernyit.
"Sembarangan dikira cucu cucuku bungkusan nasi uduk dikasih karet gelang sebagai tanda. Karena aku orang kaya raya pake banget, akan kutandai bayinya si Mimi pake cincin berlian warna putih, sementara bayinya si Syifa aku paketkan cincin berlian warna merah, biar mereka berdua tidak tertukar" tutur ustadz Usman.
"Jangan dong kak, nanti cucu cucunya kak Usman di incar maling" ujar Aisyah.
"Kau benar Aisyah, bisa bisa cucu cucuku terancam diculik"
__ADS_1
"Iya om ustadz jangan dipakein berlian, nanti predikat si ratu korban penculikan akan hilang dalam diriku, karena yang boleh diculik itu cuma diriku seorang. Pesona si Zulfa sama si Fahmi belum kelihatan, masih kalah jauh oleh pesonaku" ujar Zahira. Tiba tiba Yusuf menggenggam tangan istrinya itu.
"Ira, cuma kak Yusuf yang boleh menculikmu" bisik Yusuf hingga Zahira tersenyum senyum.
"Ya sudah gimana kalau mereka ditandai spidol saja. Bayi si Mimi dicoret satu, bayinya si Syifa dicoret dua" Zahira memberi ide.
"Dikira cucu cucuku kertas pake dicoret coret segala" gerutu ustadz Usman.
Zahira dan Dewi kembali memberi ide untuk menandai Fahmi dan Zulfa, begitu pun ustadz Usman yang ikut mencari ide. Ustadz Soleh sudah menggeleng gelengkan kepalanya, bingung dengan kelakuan mereka.
"Apa perlu aku mengirim dokter kesini untuk memeriksa otak kalian. Ngapain pake ngasih tanda segala biar mereka tidak tertukar. Bukankah sudah jelas jelas kalau mereka itu berbeda kelamin. Bayinya Syifa perempuan dan bayinya Silmi laki laki, lalu takut ketukannya dari mana, jelas jelas kelaminnya saja BER BE DA" tutur ustadz Soleh yang sedikit gereget.
Ustadz Usman, Dewi dan Zahira langsung terdiam lalu tersenyum malu.
"Kau benar juga ya kak, aku sampai lupa jika cucu cucuku itu berbeda jenis kelamin" ujar ustadz Usman.
***
Tiga bulan kemudian. Silmi dan Faris sangat menikmati peran mereka sebagai seorang ibu dan seorang ayah. Faris banyak menghabiskan waktunya bersama Silmi dan juga Fahmi, sesekali ia pergi ke kota Y untuk mengurusi perusahaan nya. Namun tak pernah lama ia pasti akan kembali ke kota A untuk menemui istri dan putranya.
Hari ini Silmi mengajak Faris pergi ke tepi perkebunan, tentunya mengajak Faris duduk berdua dikursi bambu legendaris. Fahmi sedang tertidur dijaga Nisa dan juga Bu Santi, mereka berdua meminta untuk menjaga cucunya itu.
Silmi dan Faris sudah berpegangan tangan sambil menatap ke arah perkebunan yang nampak luas miliknya kiyai Husen.
"Kau masih ingat mas Faris, ditempat ini kita pertama bertemu" ujar Silmi.
"Mas tidak mungkin lupa, apalagi ketika mengingat dandanan mu sudah seperti Suketi beranak dalam pohon, gigimu hitam, eyeshadow mu warna pelangi" ujar Faris sambil tertawa lucu mengingat Silmi menjelekan dirinya sendiri agar ditolak. Silmi yang melihat suaminya tertawa ia malah cemberut kesal.
"Jangan marah. Itu kan kenyataannya, meskipun kau memperjelek wajahmu, aku tetap akan menyukaimu, kau akan selalu terlihat cantik. Terima kasih kau telah membuatku berubah" ujar Faris. Silmi pun tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Aku bahagia mas"
"Terimakasih ya Allah sudah menghadirkan mas Faris dalam hidupku hingga kami mempunyai malaikat kecil kami"Fahmi". Aku bersyukur memilikinya, tak perduli seberapa usianya, tak perduli masa lalunya yang penting sekarang dia sudah berubah" (Silmi).
_
_
_
TAMAT
__ADS_1