
Di perjalanan, Zhenglie tiba-tiba mengelak setelah panah itu hampir saja kena di sisi tubuhnya, reflek matanya menyorot ke belakang dengan ekspresi tampak tegang. Tetapi tidak ada sama sekali orang atau wujud itu di belakang dirinya, namun ketika beralih ke depan alhasil panah itu tertancap ke lengan Zhenglie.
"Ahhh... ssst.. " runtuh Zhenglie reflek memegang panah itu tertancap di tubuhnya itu.
"Sial, siapa kalian! keluar jangan pengecut!" pekik Zhenglie sembari berusaha melepaskan panah nya di lengan nya.
Tak lama suara berbunyi kresek krusuk itu menandakan sosok tersebut melangkah di pendengaran Zhenglie lalu ia pun mencari sumber suara langkah tersebut disekitar nya.
"Bagaimana, spesial bukan? untuk anda Kaisar!" ujar sosok itu telah berada di belakang nya, sontak Zhenglie sedikit kaget dan menoleh ke belakang nya.
"Dewa Xie Fei? mau apa anda hadang saya?" ucap Zhenglie.
Pria yang menghadang Kaisar ia pun melangkah mendekati lebih jelas.
"Harusnya aku yang tanya sama kau, ada gerangan apa hingga kau bisa masuk di area hutan seperti ini?" timbal Xie Fei ke pemuda di hadapannya.
"Ada urusan apa kau menanyakan itu? ini urusan ku jangan anda ikuti atau mengusik hidup ku, dewa Xie Fei!"
"Oh udah lantang rupanya kau dengan ku? baik, seperti nya kita perlu bertarung dalam detik kedepan" ujar nya.
"Ah, pria ini harus diberi pelajaran" batin Zhenglie dengan cukup geram.
•••
Singkat ceritanya, An Chu Xia tengah di ambang titik kewalahan menghadapi sang nenek sihir itu, sementara Xiuzhen terjatuh lemah ulah kekuatan dahsyat oleh sihir itu.
kini, Chu Xia berada di tangan sihir itu dan berusaha untuk memberontak agar bisa lepas dari genggaman nya..
"Lepasin aku nenek jahat! aku gak Sudi ikut dengan kau!" pekik An Chu Xia.
"Sudahlah mending kau nurut saja, atau aku kutuk mulut mu agar tak bicara lagi, mau!?" ancam Si nenek sihir itu, sontak An Chu Xia ketar-ketir dan seketika terpaku diam.
__ADS_1
Membuat An Chu Xia nurut dengan nya, beliau pun merasa senang dan puas walau sedikit rumit untuk menangkap diri sang gadis itu.
Dalam hitungan detik tiba-tiba sang nenek sihir itu hilang bersama An Chu Xia.
"Chu xiaaaaa...." pekik Xiuzhen yang kini terbaring lemah akibat peperangan tersebut.
Pungki melihat aksi itu, ia tampak tak tenang dan tak bisa tinggal diam lagi, ia pun juga segera pergi da nhilang seketika.
"Semoga aja hewan itu bisa menyelamatkan si gadis itu..." gumam Xiuzhen sembari raut wajah frustasi dan menahan rasa sakit di ulu hati nya.
Di sisi lain, raja Fang masih masih mewanti-wanti di dalam kamar nya untuk menunggu kabar oleh sang sihir itu.
dalam waktu sekejap, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kamar nya. Sontak raja Fang melirik dan segera membuka pintunya.
Ceklek...
"Yang mulia... ada dua orang wanita satu paruh baya dan satu lagi wanita cantik dan masih muda tentunya..." ucap Chen Farzan, sembari menunduk untuk memberi rasa hormat kepada nya.
"Hm... terimakasih" balas raja Fang.
Beliau pun berjalan cepat agar penasaran tak lagi di tahan, sesampainya di permulaan kerajaan, tampak lah seorang nenek sihir tengah menceloteh terhadap gadis di samping nya seperti nya di antara mereka tak berkompromi satu sama lain.
melihat Raja Fang muncul, reflek kedua wanita itu menoleh ke arahnya.
Tampak kegemetaran serta takut pada diri gadis itu hal itu semakin senang dan puas melihat gadis nya bisa kembali lagi dihadapan nya.
"Ahahaha.... akhirnya kamu kembali lagi sayang ku" ucap Raja Fang.
"Yang mulia, aku sudah berhasil mendapati si gadis ini di dasar langit, dengan kekuatan sihir ku sudah terjamin terdeteksi ke jaringan sana" ujar Nenek sihir itu.
"Oh...jadi kamu bersembunyi di langit ya? waw sungguh dahsyat nya bisa sampai kesana" ujar raja Fang.
__ADS_1
"kenapa aku kembali ke sini lagi, aku tidak mau tinggal bersama pria tua ini"
"Chen Farzan! bawa gadis ini di kamar kemarin dan pastikan semua di ruangan tidak ada kecolongan atau lengah sedikitpun!" perintah raja Fang.
Chen Farzan yang berdiri patung belakang raja Fang, ia pun segera bergegas mencekal lengan si gadis itu.
"Hegkss .... tuan! jika anda punya perasaan, tolong jangan lakuin ini dengan saya tuan... saya ingin bebas di usia muda saya... saya ingin kembali ke istana saya tuan, saya mohon!" memelas di raut wajah An Chu Xia, namun hal itu tak mempan pada diri raja Fang olehnya, yang ada di hati dan pikiran nya ialah segera menikah, keturunan, untuk mencapai tujuan nya hingga menjadi generasi makmur di kerajaan kelak nanti.
"Diamlah! seribu kali kau memohon kepadaku tidak akan berubah di benak ku! dan ingat ya Chu Xia! kau sebentar lagi akan menjadi istriku! dan maka dari itu bersiap-siap lah memikirkan resepsi di pernikahan kita jatuh di hari lusa besok!" tegas raja Fang.
Hal itu An Chu Xia tambah syok dan tak bisa berkata-kata lagi, tampak hati nya tersentak mendengar ucapan sang raja itu.
"Apalagi kau tunggu? cepat bawa dia ke dalam!" tegas raja Fang.
"Eh! maaf raja, baik!" ucap Chen Farzan.
Setelah sang gadis itu di bawa masuk ke dalam, raja Fang mengalihkan pandangannya ke nenek sihir itu.
"Terimakasih atas kerja sama nya, saya tak salah pilih dengan kinerja amat bagus seperti anda, nyai" ucap raja Fang.
"Anda tak perlu sungkan yang mulia ... saya dengan senang hati dan masalah ini hanya kecil bagi ku" ucap nenek sihir sedikit menyombongkan diri.
Lalu nenek sihir pun segera pergi dan tak lupa pamit oleh raja tersebut.
Setelah berada di kamar tersebut, Chen Farzan memastikan di dalam ruangan tersebut tidak ada yang bisa melewati atau lengah sedikit pun di ruas jendela tersebut.
"Nona, anda jangan lah bersedih ataupun menangis lagi, terima lah takdir mu berdamping dengan raja kami, jika anda menurut dan tidak ada melanggar sedikit pun, sang raja tidak akan melampaui batas atau kasar dengan nona" ujar Chen Farzan.
Lirikan mata An Chu Xia tampak tak terima dan kurang senang dengan pendapat oleh si panglima itu.
"Kau sama saja dengan raja rakus itu! kalau kau tak bisa memberi saran, tak usah pura-pura baik di depan saya" ucap Chu Xia dengan tatapan amarah serta sembab di wajahnya.
__ADS_1
Chen Farzan tak ambil pusing hal itu, ia pun hanya menghela nafas lalu segera balik dan tak lupa mengunci pintu itu.