
Zhenglie kembali berutinitas di halaman villa nya, dengan itu ia turun dari tangga menuju ke perpohonan dimana disitu tempat yang cocok untuk memanah.
Sssslashhh.... Slusssshhhh....
Zhenglie terus menerus melesatkan anak panahan itu ke tempat panahan di sana, sudah 3 dan 4 kali nya anak panahan itu tertancap tepat di bagian tengah bersimbol merah hingga terakhir kali nya berhasil membelah anak panah tersebut. ia pun terukir senyuman.
"Yess, aku berhasil!"
Prok...
Prok...
Prok...
Zhenglie menoleh asal suara itu dan ternyata sosok berbadan kecil tak lain ialah seorang anak kecil berusia 9 tahun lebih jauh muda darinya.
"Heh, ada kau bocil?" ucap Zhenglie tersenyum miring.
"Heleh, kau udah sombong dengan panahan itu?"
"Hais, memangnya kau mau taruhan? hm?" ucap Zhenglie.
"Tentu! tapi sebelum itu kita mau silatan dulu!" ucap nya.
"Hais ni anak, sombong betul"
"Bukan sombong paman! tapi ingin menguji kemampuan kita sampai mana" ujar nya.
"Oke, siapa takut!"
Seorang anak kecil itu bernama Li Jun berasal dari warga biasa, namun hal itu ia memiliki kebakatan yang cukup leluhur yakni menguasai ilmu silat dan juga memanah sebagai hobi nya dari sejak berusia 5 tahun yang sudah di ajarkan oleh sang kakeknya.
Beberapa menit kemudian, titik keseimbangan mereka hampir sebelas dua belas, namun karna lebih kuat di sisi tenaga dari Zhenglie ia pun mampu mengalahkan untuk terakhir pertarungan itu. sontak anak kecil itu terpental jauh ke tanah akan tetapi untung lah telapak tangan nya dengan gerak cepat menjadi tumpuan nya.
"Hahahaha, menyerah?" ucap Zhenglie.
"Hisss, kau jangan senang dulu karena aku baru belajar dari kakek, ya belum leluasa benar dari kekuatan ku!"
"Oh ceritanya gak mau kalah ni? tapi gapapa berarti kamu berjiwa pendekar kuat di masa remaja nanti dan juga dewasa kelak!" ucap Zhenglie tersenyum.
"Ya pasti itu! memang nya cuman anak kerajaan doang harus belajar beladiri? hehhehe, aku sebagai warga biasa harus bisa itu!"
Zhenglie pun menggeleng kepalanya sekaligus tertawa kekeh sembari mengacak rambut si anak kecil itu.
"Ah elah, ya sudah, mau lanjut panahan gak?"
__ADS_1
"Ya! ayok!"
...
Di sore hari, An Chu Xia cukup bosan berada di dalam istana walaupun sudah mengelilingi seisi seluruh istana tersebut, namun akhirnya ia pun memutuskan untuk berkelilingi ke sebuah taman yang berada di halaman luar yang sungguh luas itu.
Tengah menikmati memandangi dan juga menghirup aroma bunga dengan antusias, An Chu Xia masih belum menyadari bahwa pekerja kebun itu sedang mengamati dirinya.
"Chu Xia, apakah sudah saatnya aku ingin menghampiri mu detik ini juga? tapi kenapa rasanya aku belum siap dengan itu, takut nya nanti di pandang prajurit curiga jika aku berdekatan oleh istri dari raja itu" gumam Hongli.
Namun pandangan An Chu Xia tak sengaja melihat ke arah sosok pria tua itu, ia pun mengernyitkan dahinya dan merasa janggal oleh sosok pekerja kebun itu.
Merasa ketahuan oleh wanita itu, Hongli segera mengalihkan ke tempat lain dan lanjut fokus bekerja pada dirinya.
Namun An Chu Xia tak memikirkan hal itu ia segera mengalihkan pandangannya dekat tumbuhan itu berupa bunga mawar yang sungguh mekar dan harum di hirup.
"Sayang"
An Chu Xia reflek mendongak kebelakang dan terkejut tiba-tiba tubuhnya menyentuh eratan berupa pelukan erat dari sang raja itu.
"Raja, mengapa kau begitu lancang memeluk ku? ada banyak orang loh di sini" ucap An Chu Xia berusaha lepas dari pelukan nya namun dipererat oleh raja Fang.
"Kenapa? di dalam juga bosan mesraan, apa salah nya mencoba hal baru di luar ini?" ucap raja Fang.
An Chu Xia hanya bisa pasrah hal itu ia lagi-lagi merasakan tertekan bukan malah menikmati dalam adegan romance tersebut.
•
•
"Selamat datang kembali, tuan Weiheng!" spontan Cio menunduk dan juga prajurit lainnya.
"Iya ,terimakasih"
Baru saja Weiheng hendak melalui mereka, namun Cio barus saja ingat pesan tadi selama menjaga di istana itu.
"Eh, tunggu tuan! ada hal yang harus aku sampaikan dengan anda, tuan" ucap Cio.
Sontak Weiheng terhenti langkah, dan menoleh ke arah Cio.
"Ya, ada apa itu?"
"Tadi siang, seorang nyonya asal Belanda tersebut kembali datang kesini lagi, tuan!"
Weiheng cukup kaget setelah mendengar perkataan oleh kepala prajurit itu.
__ADS_1
"Siapa? Nyonya Erlina?"
"Benar tuan!"
"Ada apa beliau datang kesini?"
"Katanya ingin menemui tuan, dan juga menanyakan kembali kabar sang putri perak ketika beliau tahu jika sang putri sudah tidak ada di dalam istana" jelas Cio.
Weiheng terdiam ia tak tahu bagaimana menjelaskan kejadian ini dengan nyonya Belanda, memang nyonya itu sudah berhubungan dekat dengan istana perak sejak Ghuo Liu alias ayah dari An Chu Xia sedang memegang jabatan semasa muda nya.
•
•
Keesokan harinya, Nyonya asal Belanda itu kembali datang tepat jam 9 pagi, untuk saat ini Weiheng berizin tak hadir bekerja di istana gold karna ada alasan yang harus diurus dengan kedatangan tamu nya berdasarkan informasi dari anak prajurit nya kemarin.
Erlina turun dari kereta kuda dan mengamati suasana istana penuh adem dan terlihat tenang di pandang.
Namun muncul lah sosok Weiheng bersama panglima baru nya dan juga beberapa prajurit di dekat nya.
Erlina memandang pria itu dengan senyuman lalu menghampiri maju agar lebih cepat menemuinya.
"Selamat datang di istana perak, mohon maaf untuk kemarin aku tak bisa menemui secara langsung" ucap Weiheng.
"Iya, tidak apa-apa"
"Mari masuk dulu, nyonya"
Erlina bersama kawalan di samping nya bergerak maju menuju ke dalam istana tersebut.
Setiba nya di kursi tamu istana, tanpa basa basi lagi mereka duduk dan segera berbincang secara langsung.
"Tujuan ku kesini sama seperti sebelumnya, bagaimana keadaan mu dan juga putri mu itu?" ucap Erlina tersenyum renyah.
Weiheng perlahan menghembus nafasnya lalu mengarah pandangan nya ke arah nyonya itu.
"Aku baik, dan tentang putri ku ... "
"Dengan bagaimana tuan Weiheng? apakah kau sudah beres menjadi panutan untuk putri anak raja Ghuo Liu?" ucap Erlina dengan menyinggung secara halus
"Aku sudah sadar hal itu, tapi ketahuilah aku sedang berusaha untuk mencari putri ku sampai berhasil dipulangkan ke istana ini"
"Kau ini sebenarnya bagaimana cara memimpin mu di istana ini? mengapa menjaga putri perak saja kau tidak bisa" ucap Erlina dengan tatapan sinis.
"Baiklah, aku akan menceritakan kronologi nya bagaimana kejadian itu, dan mohon tenang dulu, nyonya"
__ADS_1
Lalu Nyonya Erlina pun menuruti saja dan menyimak dari penjelasan dari Weiheng.