
An Chu Xia pun memutuskan untuk bangun dari tempat tidur nya dan perlahan menyibakkan selimut di tubuhnya dengan hati-hati agar pria di samping itu tidak terbangun.
Setelah mencoba buka pintu itu, Gadis itu pun memasang wajah cemberut dan gagal untuk keluar saat ini.
"Duh, malah di kunci... "
Dan seketika An Chu Xia baru sadar, ia pun sebelum nya juga diajarkan kekuatan dari peri Xiuzhen, ia kini sampai kelupaan akan hal itu.
"Aduh, bodohnya sekali kau Chu Xia! kenapa tidak coba aja dengan kekuatan dari milik Peri!" ucap An Chu Xia.
Dan kini, salah satu tangan kanan nya reflek mengangkat tepat hadapan di kuncian itu.
Slrrrrppp...
Terukir senyuman puas di bibir gadis itu, ia pun sangat senang dan akhirnya tak menyangka jika kekuatan baru nya bisa merobohkan kuncian itu sekejap.
Tak ingin berlama lagi, An Chu xia itu pun segera keluar dan suasana di luar ruangan itu sangat sunyi dan padam cahaya.
"Duh, ini kok pada matiin lampu sih kalo begini gimana mau lihat sana sini, ish..." kesal sendiri.
Mendengar suara aneh di sudut sana, Si gadis itu pun panik dan segera berlari entah menuju kemana.
Setelah An Chu Xia menghilang, kini suara langkah itu ternyata ialah sosok hewan berupa seekor kucing.
...
Raja Fang mengalihkan posisi nya ke samping kanan, dengan keadaan setengah sadar, tangan kiri nya meletakkan ke tubuh wanita itu agar lebih nyaman tentunya, namun naasnya telapak tangan nya merasakan spray dan terasa aneh disentuh.
Seketika raja Fang terbangun dan melihat wanita di sampingnya tiba-tiba sudah tidak ada.
"Dimana dia"
Raja Fang seketika panik dan bergejolak kesal, karna bisa saja isteri kecil nya melarikan diri.
"Kurang ajar, awas aja kalau dia berani kabur"
An Chu Xia menaiki sebuah tangga menuju ke suatu tempat di atas balkon, ia membuka pintu lebar itu untuk melihat pandangan malam yang sangat indah di dini hari.
Perlahan langkah nya menuju ke balkon sambil menikmati suasana malam yang cukup adem dan tenang.
"Paman, apa kabar... aku merindukan suasana istana ku di sana, bagaimana keadaan di sana ya" batin An Chi Xia. tanpa Sadar air matanya berkaca-kaca tanpa kedip sedikitpun.
__ADS_1
"Meounggg..."
Reflek An Chu Xia kaget dan segera menoleh ke sumber suara itu, terlihat hewan yang ia rindui sudah ada di depan matanya dan terlihat heran mengapa Pungki bisa terbebas dari tahanan itu.
"Pungki!??"
...
"An Chu Xia! dimana kau?" meneraung seisi sudut, terdengar suara itu ia pun tambah panik dan berusaha menyembunyikan hewan yang ada pada dirinya.
"Gawat, pasti raja sudah mengetahui jika aku sudah tidak ada di kamar, Pungki... kau pergi lah jauh-jauh jangan sampai orang-orang disini bisa menangkap mu balik! ayo pergi lah!" tegas An Chu Xia, merenggangkan pelukan hewan miliknya dan melepaskan ke sembarang arah.
"Meounggg..." dengan ekspresi membinar menatap majikannya.
"Pungki, aku mohon! pergi lah dari sini, aku sudah cukup bahagia kau sudah bebas, tapi ini juga belum aman jika kau belum pergi di istana ini, ayo cepat! pergilah!" pinta An Chu Xia, lalu hewan itu pun tampak paham apa yang di katakan majikan nya, kemudian hewan itu pun berlari kencang agar raja Fang tidak mengetahui hal itu.
Setelah Pungki telah pergi dan menghilang, kini raja Fang sudah datang dan menghampiri isteri nya di balkon itu.
Terlihat raut wajah nya cukup cemas serta amarah pada dirinya, dan kini ekspresi nya meredam seratus derajat, berubah menjadi tenang setelah isteri itu berada di sana.
"Oh, di sini rupa nya kau, kenapa bisa berada di tempat ini? apa kamu mencoba kabur? hm?"
Raja Fang hanya tersenyum sinis lalu mendekati ke sang isteri nya.
"Tumben bijak? apa kau sudah berubah pikiran?" deep voice, mendekati bibir nya di telinga gadis itu, hal itu An Chu Xia bergidik ngeri dan mencoba tenang.
"Tidak, aku....aku sudah menerima mu, suamiku," ucap An Chu Xia dengan cukup berat hati menyampaikan nya.
"Mari kita lanjutkan permainan kemarin, sungguh dahsyat nya aku bisa merasakan nikmat dengan tubuh mu"
"Sudah lah raja, jangan kau menyampaikan itu kepada ku, aku sangat malu" ucap nya, dengan membuang muka.
Raja Fang hanya terkekeh saja lalu membawa isteri nya balik ke dalam kamar.
Sementara itu, Seekor kucing telah berhasil meloloskan dirinya dari istana gold, namun langkah nya terhenti begitu saja sembari melihat ke kastil tersebut.
"Apa aku tenang tanpa dirimu balik bersama ku? aku tak bisa tenang putri, kau sungguh berharga bagiku... tetapi untuk saat ini aku belum bisa menyelamatkan mu di sana..."
Tanpa rasa berat hati, hewan itu pun segera pergi entah menuju kemana.
•
__ADS_1
•
•
3 hari kemudian...
Weiheng kembali melanjutkan pencarian putri nya yang kini masih menduga jika benar gadis perak itu terperangkap di dalam istana gold, namun untuk kali ini beliau menyamarkan diri dan berubah penampilan serendah-rendahnya agar orang-orang di sana tidak mengenali siapa dirinya.
Di rasa cukup untuk keperluan nya sebelum berangkat, kini Weiheng sudah bertampilan beda dari sebelumnya, ia menyamar seorang warga desa biasa dan berpakaian sedikit kotor dan berkoyak.
Seorang kusir dan juga pelayan nya, mereka menghampiri tuan nya yang kini bersiap-siap untuk pergi keluar.
"Tuan, apakah anda siap menyusupi di kerajaan Gold seorang diri? bagaimana jika terjadi apa-apa dengan anda nanti, tuan" ucap Yin, seorang kusir untuk mengantarkan tuan nya ke kerajaan Gold.
Weiheng hanya tersenyum dan tekad pada dirinya, ia pun meyakinkan dirinya dan pasti akan berhasil dengan misinya itu.
"Kau jangan ragukan aku, Yin! saya yakin dengan berpenampilan seperti ini, saya pasti bisa mencari informasi tentang putri ku disana"
Karna di rasa yakin, kini mereka pun bersiap-siap untuk berangkat sementara pelayan itu menawarkan secangkir teh kepada tuan nya.
"Tuan, minum dulu biar di saat perjalanan tidak haus dan capek" ujar nya.
...
Tiba di kerajaan Gold, Yin meminggirkan kuda miliknya tepat di pepohonan depan kerajaan Gold, namun masih tak terlihat jika prajurit sana memantau sejauh itu.
"Nah, saya pinggirin di sini aja, tuan. supaya penjaga sana tidak curiga dengan kita" ucap Yin.
Weiheng pun segera turun dan mengamati terlebih dahulu suasana di kerajaan itu.
"Hm... terimakasih Yin, nanti kau jangan jemput aku, biar urusan saya saja akhir waktu" pinta Weiheng.
"Eem... tidak mengapa tuan? ini kan cukup jauh jarak nya" cukup amatir pada diri Yin.
"Urusan mudah itu, sudah! kau boleh pergi"
Lalu Yin pun mengangguk dan kembali naik ke pangkuan kuda miliknya.
Sedangkan Weiheng kini fokus ke kastil tersebut dan mengumpulkan mental pada dirinya untuk menjalankan rencananya itu.
"Jika benar itu kamu Chu Xia, Paman tak akan menyerah hingga kau bisa lolos dari kerajaan itu" tekad Weiheng lalu kini beliau melangkah perlahan menuju ke istana itu.
__ADS_1