
Setelah diizinkan balik lebih awal, Waktu pun sudah menunjukkan pukul 04:40 p.m. Ya Weiheng telah berada di istana nya sekitar setengah lima lewat sore, biasanya paling lama jam setengah tujuh malam.
Beliau berpapasan kembali dengan sosok panglima nya di ambang pintu istana, lalu Weng Qi menghampiri tuan nya yang tengah berjalan menuju nya.
"Salam tuan, seperti nya anda pulang lebih awal"
Weiheng pun tersenyum saja lalu berkata.
"Ya, karna aku tak ingin berlama-lama disana setelah aku telah berhasil menemui putri ku"
Sontak Weng Qi sedikit kaget dan terbelalak menatap tuan nya.
"Eee, apa tuan sudah berhasil melepaskan putri perak dari sana tuan?" ucap Weng Qi.
Weiheng perlahan berjalan mendahului nya lalu berbicara sembari melipatkan kedua tangannya di punggung.
"Dia sudah resmi menjadi bagian keluarga gold di sana, tetapi dia juga memiliki rencana entah apa yang ia lakukan nantinya"
"Jadi, putri perak tak ingin pergi dari sana ya tuan?"
"Heem. begitu lah, saya juga kurang paham bagaimana konsep nya itu, tapi ya sudahlah, saya berharap dia berhasil dengan misi nya itu" ucap nya.
"Iya tuan saya harap juga begitu, oh ya tuan, saya ingin menyampaikan soal nyonya Erlina seharian disini"
"Oh ya, bagaimana perkembangan nya, apa dia mau menerima buku kuno itu?"
"Seperti nya dengan berat hati tuan, tapi dia akan tetap menerima dengan hal itu"
Weiheng pun menggangguk pelan lalu bersegera masuk ke dalam istana.
•
•
Erlina tengah duduk singgasana nya beserta Jackson di sampingnya, hal itu Weiheng hanya tersenyum tipis dengan tatapan kurang suka ketika Erlina duduk di sana.
Melihat kepulangan Weiheng tepat waktu di jam segini, Erlina cukup heran dan beliau berdiri tegap menatap Weiheng berjalan menuju nya begitupun Jackson.
"Kau sudah balik tepat waktu? ada apa gerangan?" ucap Erlina.
"Tidak ada, urusan ku sudah kelar di luar sana"
__ADS_1
Erlina pun teringat dengan pesan-pesan Jackson sebelum nya, beliau berjalan menghampiri Weiheng di tengah berdiri di sana.
"Oh ya, ada hal yang ingin ku bicarakan dengan mu, Weiheng"
"Apa?"
"Mari kita duduk di ruangan tamu dulu, jika berdiri kau pasti kelelahan"
Ya mereka bertiga pun berjalan menuju ke ruangan tamu, akan tetapi Weiheng memutuskan untuk melangkah terlebih dahulu menuju ke kamar nya untuk menggantikan pakaian yang terasa gerah dan lengket di tubuhnya, sementara Erlina & mendahului dan duduk di kursi tamu.
Setelah itu, Weiheng kini kembali dengan berpakaian seperti layaknya seorang jendral yang sudah di pakai sehari-hari di dalam istana itu.
"Katakan lah, apa yang kau bicarakan lagi dengan ku?"
"Ya, saya masih belum puas dan masih kepikiran dengan kabarnya putri perak itu berada, jadi izinkan pasukan ku asal Belanda untuk membantu putri mu yang hilang itu"
Sontak Weiheng cukup menganga dan kaget setelah pembicaraan dari nyonya Erlina.
"Kau berlebihan nyonya, biar aku saja mengurus itu kasus jika g putri ku, karna aku lah penanggung jawabnya"
"Kenapa? apa kau sudah berhasil membawa gadis itu kemari? buktinya sampai sekarang kau belum ada membawakannya ke istana dan entah ada urusan apa kau bolak-balik di luar sana, sebenarnya apa kerjaan mu Weiheng? sampai-sampai kau menyamar dengan warga biasa"
"Nyonya saya menghargai Anda ada batas nya, tetapi masalah putri ku, kau tak usah melibatkan urusan itu dengan anda"
"Kau sungguh keras kepala Weiheng, sudah kurang amanah tapi kau begitu sok pahlawan dengan usaha mu sendiri, apa kau bisa tanpa dibantu orang lain?"
"Ya karna saya masih punya tangguh dengan pendirian saya nyonya, jika bisa sendiri mengapa harus terlibatkan dua objek? sudahlah saya juga tak bisa berlama-lama dengan layanan anda nyonya, saya permisi"
...
Perwujudan seorang Yiu Shang kini telah berubah menjadi seorang peri dengan wujud aslinya, tentu saja si makhluk aneh itu cukup takjub melihat penampilan nya di depan mata.
Ya dirinya terpaksa berganti dengan asli agar jurus kekuatan nya lebih leluasa untuk menyerang dengan makhluk aneh.
Seketika peperangan antarindividu tersebut terhenti begitu saja ketika makhluk aneh merasa terkesima dengan wujud nya.
"Oh, jadi kau asal khayangan ya? menarik"
"Jangan banyak omong, ayo serang dengan kekuatan mu itu!"
"Hmm... Aku merasa bimbang dengan kesempatan di mataku"
__ADS_1
"Hah?.maksud kau apa? katanya mau serang ayo jangan banyak bicara!"
"Tidak, aku punya syarat untuk mu cantik" ucap wanita itu.
"Hah, apa?"
"Pasti seorang Bidadari punya kekuatan murni dong, jadi serahkan Mustika milik mu itu di hadapan ku"
Xiuzhen reflek menganga dan kaget apa yang dimintakan barusan oleh sosok wanita itu kepadanya.
"Hey, Kau kira aku akan menyerahkan dengan cuma-cuma? jangan mimpi kau!"
"Ayolah peri, kau boleh apa saja kau lakukan di bumi ini asal mustika milik mu kau serahin dengan ku" ucap nya tersenyum miring.
"Tidak, itu akan pernah terjadi dengan orang penjahat seperti mu, maka seebaliknya aku yang akan musnahkan kau darisini".
"Baiklah, kita tunjukan kekuatan mu itu, apakah sebanding dengan tongkat sihir ku ini"
Lambat lain telah usai, kini di antaranya mereka menjadi pertimbangan sehingga Xiuzhen tak ingin mengiya-nyikan kesempatan nya ia pun dengan berkalilipat untuk menekan kembali dengan kekuatan nya. Reflek si sosok makhluk itu terpental hingga tersungkur ke tanah.
Xiuzhen tak berfikir lama lagi ia mengangkat tongkat miliknyabke atas dengan cahaya yang sangat terang sehingga sosok makhluk tak bisa melihat akibat kesilauanmya.
"Ahhh...hentikan pencahayaan kau itu, aku sudah kalah dengan mu!"
"Kau pikir aku sebodoh itu? jangan harap kau bisa hidup kembali nyonya! Rasakan ini!!"
BDUAAARRRRRR.....
Ya keefekan tongkat mustika milik nya sudah hancur lebur membuat makhluk itu tak berdaya dan seketika jasadnya otomatis menghilang sekejab. Hal itu Xiuzhen tersenyum tipis lalu dengan cepat wujud nya kembali menyamar dengan gadis biasa.
"Seperti nya aku harus menjelajahi di tempat yang paling aman dari sini" gumam nya.
...
Zhenglie keluar dari villa kayu itu dan berduduk santai di halaman teras nya, sembari melihat bintang-bintang yang menjadi pemandangan indah di suatu malam.
Namun ia masih teringat dengan gadis itu ketika mengikuti lomba dan menjadi lawanan nya di saat bertarung, ia pun tak habis pikir sampai saat ini, ia merasakan ada kejanggalan dengan sisi wanita itu.
"Hais... aku kenapa jadi bayangin wanita itu ya? AGRHH... Zhenglie, kau lupakan saja dengan nya, dan terima lapang dada bahwa kau kalah dengan dia" gumam nya.
Tiba-tiba rasa berpetualangan pada dirinya muncul, Zhenglie ingin menghilang rasa jenuhnya untuk berjalan-jalan mengelilingi hutan, dan tak lupa ditemani dengan lampion.
__ADS_1