
Seekor kucing tak lain ialah pungki kembali muncul di langit, entah tujuan apa sehingga hewan itu kembali datang ke dasar langit dan tepat berpasasan dengan peri cantik yakni Xiuzhen.
Xiuzhen meraut wajah keheranan, ia pun segera menghampiri kucing itu yang tengah berdiri seperti kucing pada umumnya.
"Ya ampun, pungki. mengapa kau tiba-tiba disini? untung saja kekuatan ku tak kena di tubuh mu" ucap Xiuzhen sembari menjongkok.
Lirikan mata kucing menandakan sinyal di pikiran Xiuzhen, ia tampak paham sekali apa maksud hewan itu dengannya.
"Aku harus apa? sementara kakak ku tak mengizinkan ku turun ke bumi, ingin rasanya aku menolong Chu Xia di Kerajaan Gold itu" gumam Xiuzhen sembari menatap di kelopak mata kucing.
Seekor kucing itu bergerak loncat tepat di pundak Xiuzhen.
"Hahahah, kamu ini, iya ya, Aku paham kok apa maksud mu tapi untuk detik ini aku belum berpikir keras bagaimana cara meloloskan Chu Xia dari sana"
Seketika Xiuzhen terlamun sembari memikir keras untuk mendapati ide yang pas menurut nya.
...
"Chu Xia"
Sontak An Chu Xia kaget dan reflek menoleh ke arah belakang.
Terlihat raja Fang tengah berdiri di sana dengan raut mengherankan.
"Eh raja" ucap An Chu Xia.
"Kenapa kau mengendap seperti itu?"
"Tadi aku tak sengaja mendengar suara teriak di sekitar sini, apakah kau mendengar raja?"
"Suara apa? aku sedari tadi di kamar mandi, tidak ada suara apapun di sini"
"Sudahlah, layanin aku sekarang" sambung nya.
Sontak mata An Chu Xia membelalak matanya ketika ia mendengar barusan dari kata suaminya.
"A-apa? ini masih siang raja, mengapa kau-"
"Jangan membantah!"
An Chu Xia seketika memasang raut ketakutan disertai murung di wajahnya, namun ia lagi-lagi hanya pasrah saja saat ini.
•
•
Hongli tengah beristirahat sejenak di tepi pohon rindang yang ada di sana, seperti biasa, Hongli merasa lelah dan duduk sebentar untuk merefresh tubuhnya yang mulai lelah.
__ADS_1
Satu pekerja kebun itu juga beristirahat tepat di dekat Hongli dan duduk langsung di samping nya.
"Mau ngisap?" menawarkan sebuah satu batang rokok di hadapan Hongli.
"Tidak, kau saja" tolak Hongli.
Di tengah menikmati perteduhan yang tengah panas terik matahari yang membara itu, pria bernama Wenwen itu melirik kembali ke arah Hongli.
"Eh, kau asal mana sih?"
Hongli tengah asik memandang istana itu ia pun reflek menoleh ke pria itu di sampingnya.
"Aku asal dari desa An Shi, kau asal mana?"
"Ohh satu desa dong? tapi kok kita gak sejalur ya pas balik? dan Aku juga tidak lihat wajah kau tiap jalan kesana" ucap Wenwen.
Hongli terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban yang logis terhadap pria satu itu.
"Eh, Aku lewat motong yang lebih dekat, jadi ya begitu sekaligus berburu di hutan dulu sebelum pulang"
"Oh begitu, wah! kalau begitu ajak-ajak dong saya, kan asik tuh berburu bareng terus yang dapat banyak bagi-bagi kita" ucap Wenwen bersumringah.
"Iya, kapan-kapan ya" senyum Hongli lalu mengalihkan pandangannya ke depan.
Hari pun telah petang, Weiheng kembali balik ke istana asal nya, seperti biasa pada prajurit menyambuti dengan hormat kedatangan tuan nya sudah tiba di istana.
Tampak ekspresinya mengkerut setelah melihat perjagaan asing di istana nya yang tampak beda dari prajurit lainnya.
"Kalian bukannya dari pasukan nyonya Erlina?" ucap Weiheng.
Seketika pasukan setuju belanda merapat dan memberi rasa hormat dengan pria yang baru saja datang itu.
"Benar tuan, kita diamanahkan oleh nyonya Erlina untuk berjaga sementara disini"
Weiheng berpikir sejenak saat ini, tidak ada pemberitahuan jelas dari nyonya Erlina di saat perbincangan kemarin.
"Apa maksud nyonya itu? katanya ingin membantu putri Chu Xia yang hilang, mengapa jadi pasukannya yang berjaga ketat di sini" gumam Weiheng.
"Aku harus menghubungi nyonya Erlina secara jelas" sambung nya.
•
•
•
"Iya Weiheng, Aku sengaja bawa pasukan ku kesana agar keamanan di sana terjaga ketat dan juga harmonis dengan orang-orang yang ada di istana itu" tersenyum tipis di balik telepon itu.
__ADS_1
"Tapi kau tak perlu berlebihan nyonya! Aku juga punya hak di sini, jadi akulah yang mengatur perancangan di istana ini, bukan anda, nyonya"
"Kenapa tidak? Kau juga bukan ahli tahta di sana, dan kau hanya tumpangan dan diberi amanah dari almarhum, tapi apa? kau tidak menjalani sesuai amanah dari pewaris nya dan malah kau tidak berjaga 24 jam di istana itu"
"Apa maksud mu nyonya? kau berkata lain di saat telepon, tapi yang katakan anda memang benar, namun itu ada bencana yang tak bisa ku hadapi secara langsung"
"Hmmmf... terserah apa katamu Weiheng, intinya Aku akan memantau istana itu dengan baik, supaya kerajaan-kerajaan lain tidak semena-mena mengusai di istana perak itu"
Weiheng terdiam bisu, lalu beliau pun segera mengakhiri percakapan antara nyonya itu begitu saja.
"Kurang ajar, seperti nya ada rencana lain dari nyonya licik itu" gumam Weiheng.
Di sisi lain, Kerajaan monarki. Nyonya Erlina tersenyum puas dan memiliki rencana pas untuk memanfaatkan situasi di istana perak itu.
"Kedua pewaris itu telah musnah, dan lagi keturunan nya juga hilang dari sana, sedangkan pengabdi istana saja tidak becus menjaga istana nya dengan baik, lalu apalagi yang bisa diharapkan di sana? Hengh. dasar payah"
Lalu Nyonya Erlina tengah duduk si singgasana nya sembari menyeruput kopi ala bubuk buatan belanda kesukaan nya.
"Cepat atau lambat, aku akan kuasai wilayah istana perak itu di tangan ku, dan ku aluni dengan waktu yang berjalan saat ini hingga mereka yang di istana itu akan tertunduk dengan ku" gumam Erlina dengan senyuman seringai di bibirnya.
•
•
•
Malam pun telah tiba, An Chu Xia masih merasakan sensasi yang amat sakit di bagian area sensitif nya, sehingga dirinya tak mampu berdiri ataupun berjalan saat ini.
Raja Fang hanya tinggal enak nya saja beliau tak peduli jika permainan nya tadi cukup buas ketika dilanda hilang terkendali di saat ingin berhasrat.
"Kau enak tinggal bersihkan badan saja, sedangkan Aku apa? aku harus menanggung lagi sensasi ini dari mu, dasar pria mesum!" geram An Chu Xia menatap geram oleh suaminya itu.
Raja Fang cukup kaget ketika istrinya langsung menyerbu amarah dengan nya, bukannya panik atau merasa bersalah malah ia hanya tersenyum saja dengan ekspresi menggoda.
"Lah, bukannya kamu juga keenakan sayang? kok jadi emosi gitu ke aku?" menghampiri ke istri nya masih berada di atas ranjang.
"Iya kau laki, aku wanita! jadi kau ga tau rasanya sakit di kelamin wanita! Sudah lah kau pergi sana keluar, aku tak ingin lihat wajah mu sekarang" ucap An Chu Xia kini berubah marah-marah yang tak seperti biasanya dia seperti itu.
"Kamu ngambek? sini biar aku mandiin kamu"
An Chu malah menepis dengan kasar dan memukulnya di dada bidang suaminya.
"Aaaagh... sana pergi! aku jijik melihat mu di sini, sana pergi, pergiii" pekik An Chu Xia sembari memejam matanya dan juga menutup kedua telinga nya itu.
Raja Fang tampak heran melihat tingkah istrinya kali ini, tak biasanya An Chu Xia bersikap emosional di saat dirinya dipuasin setelah nya.
"Aneh, mengapa dia mengamuk seperti itu? apa karna efek hormon nya?" gumam Raja Fang.
__ADS_1