
Yiu Shang berhenti sejenak tepat di bawah pohon rindang itu, karna ia sangat penat sekali sedari tadi berkeliling terus di seputar hutan itu.
Seekor hewan yang selalu ia bawa alias Pungki mengeong terus di hadapan majikannya lantaran hewan itu merengek kelaparan karna waktu ini sudah tiba setelah mentari pagi muncul di permukaan daerah situ.
Untung saja Yiu Shang tak lupa untuk membeli whiskas untuk hewan peliharaan nya. ia dengan cepat mengeluarkan kantongan plastik di sakuan nya dan memberi langsung terhadap hewan itu.
Di saat Yiu Shang tengah memberi makanan untuk pungki. namun tiba-tiba ada kejanggalan suara aneh di balik semak itu.
Yiu Shang menyadari suara-suara aneh di balik semak namun ia tak memperdulikan kejanggalan itu, akan tetapi suara itu semakin keras membuat dirinya tak bisa tenang di posisinya.
Sssskrerrttt..ssskkrt....
"Siapa itu!?" sontak Yiu Shang berdiri tegap sembari celingak-celinguk sumber suara itu.
Namun tidak ada apa-apa yang muncul di situ, akan tetapi Yiu Shang melangkah melalui ke arah rimba-rimba hutan tersebut agar tidak ada rasa penasaran lagi pada dirinya.
Ssssssslassh...
Untung saja Yiu Shang dengan cepat mengelak dari serangan itu, dan spontan berbalik arah sembari menjaga-jaga dari benda tersebut.
"Sial, siapa kau, hei!? keluar! jangan pengecut!"
Lagi-lagi tidak ada wujud itu muncul di hadapan nya malah sebuah anak panahan itu terus saja menyerang pada diri sang gadis itu sehingga Yiu Shang cukup berhati-hati dari sebuah panahan itu.
Untuk terakhir kalinya, kini Yiu Shang cukup letih menghindar dari panahan itu saking banyak nya anak panah itu meneror pada dirinya.
"Awhhh..."
Tepat di bagian lengan nya, Yiu Shang cukup prihatin dengan perih nya di bagian lengan nya dan kini ia terjatuh lemas tepat di tanah itu.
"Ahhh...awh..."
"Kurang ajar siapa orang itu"
Karna ia adalah seorang peri, ada keajaiban aneh timbul di luka nya. dan tiba-tiba saja anak panahan serta lukanya kini mendadak hilang dan normal kembali.
__ADS_1
"Kurang ajar! Keluar lah makhluk sialan!!!"
Namun lagi-lagi tidak ada berupa wujud itu tiba, hanya saja suara jangkrik muncul di area sana.
"Ishh... siapa sih" gemerutu kesal.
Yiu Shang mengeluarkan jurus miliknya dan memancing sosok itu keluar dari mantra nya. ia reflek duduk menlipat kedua kakinya lalu kedua tangan nya meletakkan di paha masing-masing. setelah itu, matanya pun ikut terpejam.
Ssssssssslash...
...
An Chu Xia sedang di ambang kebingungan dengan keputusan nya, setelah cukup senang ketika ia mengetahui bahwa paman nya diam-diam datang ke kerajaan Gold untuk menolong dirinya lepas dari sana dengan penyamaran yang tak terduga, namun di sisi lain ia juga khawatir bahwa nanti akan terjadi hal yang tak ia inginkan jika dirinya melarikan diri dari kerajaan Gold tersebut.
Melihat putri nya alias wanita dari istri sah sang raja itu, Weiheng tampak heran sekaligus penasaran mengapa An Chu Xia tidak bersumringah ketika memutuskan untuk kabur dari sana.
"Chu Xia, kau sedang pikir apalagi? paman sudah ada di depan mata mu, ayo lah kita harus segera pergi dari sini! sebelum raja itu datang kembali" ucap Weiheng.
"T-tapi paman, aku juga lagi kurang enak badan, lantaran jika aku pergi dari sini percuma saja karna aku lagi mengandung anak nya, paman!" ujar nya.
"Chu Xia, masalah tahta itu kita pikirkan nanti, yang jelas detik-detik nanti kita harus bisa menyerang raja Fang itu di tempo hari! dan aku akan buat beribu pasukan itu muncul agar peperangan itu terjadi besar dan merebut kerajaan ini di tangan mu" ucap Weiheng.
"Tidak paman, bagaimanapun juga aku akan tetap disini sebelum aku resmi menjadi Gold Queen itu terjadi"
"Chu Xia? kau sudah melupakan asal mu itu? kau tidak mementingkan istana perak di bandingan kerajaan Gold yang sungguh merebut paksa, di culik dan menikahi mu, apa kau sudah meracuni pikiranmu dengan dia?" ucap Weiheng cukup tegas.
"Bukan itu maksud nya paman, aku tahu! aku tahu bagaimana rencana yang sudah ku susun sebelum nya, paman tenang saja! paman hanya melihat aksi ketika aku mulai melakukan apa yang aku pikiran sebelumnya" ucap An Chu Xia.
Weiheng terdiam sembari menatap putri keponakan nya dengan heran, ia tak habis pikir rencana apa yang putri lakukan dengan rencana nya itu.
Lalu Weiheng menghela nafas dan menunduk sekilas dan menatap putrinya kembali.
"Paman sudah berusaha keras untuk menyelamatkan mu dari sini, tapi kalau benar kamu ada rencana yang lebih bagus ya silahkan saja, tapi Paman bingung di sisi lain nyonya Erlina sudah diduduki singgasana mu di sana, paman harus apa, Chu Xia?" ucap Weiheng tampak frustasi sekaligus sendu.
Melihat paman nya seperti itu, An Chu Xia merasa terlalu egois hal itu akan tetapi ia akan tetap tegar untuk misi nya sendiri.
__ADS_1
"Biarkan dia kuasai untuk sementara, kau ikuti saja apa keinginan nya, setelah aku sudah berhasil dari misi ku itu, aku akan menggabungkan kerajaan ini dan istana ku itu, paman! dan jadilah Silver Gold Queen" ucap An Chu Xia tersenyum tipis.
Tentu saja Weiheng terbelalak setelah mendengar ucapan putri nya itu.
"K-kau yakin sayang? Mengapa kau terlihat regional dengan kekuasan mu itu?" ucap Weiheng syok sekaligus heran.
"Ya, karna menurut ku. raja rakus itu akan tetap menjadi karma, paman! siapa suruh dia memaksa ku untuk tetap di bagian nya"
Weiheng hanya menggeleng sembari tertawa kecil mendengar responan nya itu.
•••
"Lapor yang mulia! tidak ada tanda-tanda jejak dari sang panglima ataupun prajurit lainnya!"
Ya kini mereka kembali berkumpul setelah berpencar mengelilingi di area hutan tersebut sesuai dari perintah raja Fang agar tidak kebingungan ketika balik dari sana.
"Apa mereka sudah balik ke istana? hm.." ujar raja Fang.
"Mungkin saja yang mulia, jadi apa kita akhiri saja untuk mencari nya, yang mulia?"
"Hmm... jika benar tidak ada mereka disini, ya sudah kita balik saja ke istana, istriku pasti menunggu ku jika terlama keluar"
"Baik yang mulia!"
Dan mereka pun bergerak cepat menuju ke istana.
Sementara itu, Chen Farzan baru saja tiba di gerbang istana lalu berhenti sejenak untuk memerhatikan kembali dengan kondisi prajurit nya itu.
"Kau sudah mendingan, Qeng?"
"Ah, saya sudah membaik, Raden! kau tak perlu khawatir dengan itu" ucap Qeng Li.
"Baiklah, kalian hampiri ke sang raja dan kasih cepat daun itu dengan beliau" perintah nya.
"Baik, Raden" kompak sang prajurit.
__ADS_1
Setelah para prajurit itu masuk duluan melalui gerbang istana, kini Chen Farzan masih tetap berada di depan gerbang itu, tampaknya ia sedang menunggu sesuatu di sana, entah kenapa dirinya begitu berat ingin masuk duluan ke gerbang itu sebelum memastikan dengan firasat nya itu.
"Mengapa firasat ku sangat kuat ya? seperti nya ada sesuatu datang kesini, tapi apa mungkin ada tamu datang ke istana ini?" gumam Chen Farzan.