
Ratu Erlina bersama Jackson masih menunggu kedatangan Weiheng hingga malam hari, sehingga Erlina merasa cukup jengkel dan kesal karna sampai saat ini Weiheng masih belum datang ke istana itu.
"Ini sudah jam berapa coba, kenapa dia masih belum balik?" ucap Nyonya Erlina kesal.
Weng Qi masih setia mengawali mereka di ruangan tamu, ia pun berusaha untuk menenangkan nyonya itu dengan lembut.
"Nyonya yang sabar, mungkin saja tuan sedang perjalanan pulang" ucap Weng Qi.
"Ya ini sudah jam 7 lewat, kalau sudah jam 8 dia tidak balik juga kesini, saya anggap kalau persetujuan saya ini keputusan bulat untuk menguasai istana ini di tangan saya" tutur Erlina.
"Oh begitu?"
Erlina, Jackson beserta Weng Qi cukup kaget dan kompak menoleh ke sumber suara, dan ternyata ialah sosok Weiheng yang baru saja tiba di ambang pintu besar.
Seketika kekesalan di raut wajah Erlina menciut dan berusaha tenang dan kalem.
"Kau sudah balik?" basa basi Erlina.
"Hm, sebelumnya saya minta maaf jika membuat kalian menunggu" ujar Weiheng.
Namun pandangan Erlina sadar melihat penampilan Weiheng seperti orang kampungan seperti layaknya bekerja tani di sawah.
"Kenapa kau mengenakan pakaian itu pas pulang? kau kerja apa?" heran Erlina.
Weiheng tersenyum tipis lalu duduk di hadapan mereka.
"Ada urusan yang agak sulit ku ceritakan dengan mu"
Erlina hanya terdiam heran apa yang di ucapkan lalu mengalihkan topik dengan tujuan utama ke istana tersebut.
"Ih ya, di sini aku ingin membahas tahta yang ada di istana ini"
"Oh, terus?"
"Beberapa hari kedepan nanti, aku dan juga Jackson teman sejati ku, ingin bertinggal sementara di istana ini, pasti kau tidak keberatan kan" ucap Erlina tersenyum tipis.
Sontak Weiheng membulatkan matanya dan tampaknya ia tak terima apa yang dikatakan wanita paruh baya itu katakan.
"Apa maksud mu? untuk apa juga kau menginap disini?"
"Ya hitung-hitung untuk menyelediki putri perak itu, yang sudah hilang berabad-abad"
Weiheng mulai tersulut emosinya namun ia berusaha untuk tidak emosi di depan nyonya itu.
...
Malam yang penuh gelap gulita, sang gadis pengembara itu masih saja mengelilingi hutan yang sangat suram dan juga mengerikan dengan suasana itu, namun tidak dengan dirinya ia tidak ada rasa takut dan gemetar ketika ia berjalan di area itu.
Suara-suara di semak itu semakin kuat bunyi-bunyi aneh yang bersembunyi di balik semak.
"Duh, ini daritadi gak ada tempat penghuni apa, kok rumput semua ya disini" gumam wanita itu.
Karna ia sedang menyamar manusia biasa, ia pun merasakan lelah dan letih ada pada dirinya untuk itu ia memutuskan untuk beristirahat sejenak dengan menggunakan lampion yang ada di tangan nya.
Seketika dirinya mengingat gadis perak itu yang berada di bumi itu. namun tanpa ia sadari ia belum mengantuk berat dan tiba-tiba saja matanya mulai merem, akhirnya ia tertidur pulas di batang pohon besar.
Sementara itu, Zhenglie berjalan menuju pulang dengan melewati pohon-pohon rindang yang ada disekitar nya, namun ia juga sudah terbiasa dengan seorang diri melewati hutan-hutan itu.
Di saat perjalanan, pandangan Zhenglie tak sengaja melihat cahaya itu di sudut sana, mungkin ia mengira bahwa itu orang-orang camping bertualngan di sebuah hutan.
"Hutan-hutan begiji kok ada ya orang berkelana malam-malam, Ah sudahlah ngapain saya pikirin" gumam Zhenglie terus berlanjut melangkah menuju ke villa tempat tinggal nya.
Pagi hari, sebuah pasar tradisional Tionghoa kembali beramai mengunjungi ke sana, karna pasar tahunan cukup jarang sekali mengadakan promo harga yang sangat murah pada hari biasanya.
"Yok di beli di beli! harganya terjangkau saja, baju baru baru celana baru baru harganya hemat berkualitas" sorak para penjual itu.
Di saat para pengunjung tengah asik memilih baran gua mereka sukai, kesempatan baik bagi pria kungfu itu untuk membagi brosur lomba yang akan dibagikan ke masyarakat satu desa.
"Yok semuanya, ada pengumuman penting nih! kami mengadakan lomba wushu antardesa! siapa yang merasa paling jago dan berminat yuk! segera ambil brosur nya dan ketahui hadiah pemenang nya disini!" ucap Jing Yi bernada lantang dan keras kepada seluruh warga desa itu.
Para warga-warga itu pun sangat tertarik perhatian apa yang di umumkan oleh pria muda itu, spontan mengerumuni tepat di depan Jing Yi, sehingga dirinya cukup sulit untuk berjarak di antara mereka, karna orang-orang disana sangat ramai dan seperti semut.
Begitu pun dengan Zhenglie, ia juga ikut membagikan brosur lomba nya dengan warga itu. ia juga sulit untuk membagikan dengan warga tersebut saking berimpitnya badannya dengan orang disana.
"Aduh, jangan berimpitan dong, sesat nih kita!" resah Jing Yi.
...
Di sisi lain, seorang wanita itu telah berada di sebuah pasar, ia mencelingak-celinguk suasana sana tampaknya di bagian kanan cukup sepi namun di bagian kiri banyak sekali orang-orang berkerumun di sana.
"Itu ada apa sih kok lebih ramai ke sana?" gumam wanita itu.
Melihat sosok pria itu bubar dari sana dengan membawakan satu brosur di tangannya, ia pun sedikit heran sekaligus penasaran dengan benda itu di tangan orang itu.
__ADS_1
"Eh, eh! itu apa sih? kok heboh banget" heran nya.
"Oh ini kak, tadi ada yang bagi brosur lomba untuk kita, jadi ya rata-rata pada minat dan mau ikut lomba ini"
"Emang nya lomba apa, boleh lihat brosur nya gak?"
"Oh ya, ini lihat aja kak"
Si wanita itu pun mulai tergiur dengan agenda lomba itu, apalagi ia juga sangat jago berbela diri ketika berlatih di dasar langit kemarin.
"Wah menarik, kebetulan nih aku udah jago Wushu, pasti aku bisa ngalahin manusia-manusia disini tanpa harus dengan kekuatan asli ku" gumam nya sembari tersenyum-senyum sendiri melihat brosur itu.
•
•
•
Kabar mengenai perlombaan itu sudah sampai di kerajaan Gold, terutama panglima alis Chen Farzan ia juga terlihat berminat dengan lomba itu walaupun ia sudah jarang melatih Wushu sejak bekerja di kerajaan.
"Jadi panglima ikut juga?" ucap Choi, salah satu prajurit.
"Kenapa tidak? saya sungguh tertarik dengan ini, walaupun tak sepenuhnya yakin tapi apa salah untuk mencoba dengan berpikir positif"
Namun di sisi itu, Hongli juga mendengar pembicaraan mereka di halaman istana, tentu beliau dengan mudah menguping pembicaraan mereka.
"Lomba wushu? tumben sekali adain lomba di desa itu. kira-kira siapa ya prosedur di balik ini"
"Chen Farzan!"
Sontak panglima beserta lain nya melirik ke arah sang raja yang baru saja keluar dari istana menuju ke arah panglima, spontan sosok panglima itu bertunduk sekilas begitu prajurit satu itu.
"Iya, ada apa yang mulia?"
"Tolong kau Carikan daun sirih di hutan, seperti nya istriku sedang panas di tubuhnya"
Sontak Hongli syok mendengar tutur kata sang raja itu barusan.
"Kenapa bisa Chu Xia demam?" batin nya.
Baru saja nyonya Erlina dan juga Jackson mendudumi di istana, ia mulai berulah dengan orang-orang yang ada istana itu, ya karna tuan istana alias Weiheng itu sedang tidak berada di dalam istana sehingga Erlina sesuka hatinya berbuat apapun di sana.
Sementara para prajurit istana perak pun merasa tidak nyaman dengan perlakuan nyonya itu terhadapdengan mereka.
"Hei, kau! tolong cuciin kaki ku yang kotor ini karna aku sangat lelah sekali mengelilingi istana ini"
"Hey!! apa tidak dengar apa ku barusan? bersihin kaki sekarang"
"Eh, ba-baik nyonya"
Terpampang senyum miring di raut Erlina, ia sangat senang jika saat ini bisa mendadak ratu di istana itu.
Tiba-tiba saja sang panglima alias Weng Qi menyusul ke singgasana yang ditempati oleh nyonya Erlina beserta Jackson di sana.
"Nyonya, mengapa Anda bersikap ratu di istana, kau hanya sebatas tamu dan tak seharusnya duduk di sana" ucap Weng Qi.
"Diam lah kau, jangan pernah mengadu soal ini ke Weiheng, itu sama saja kau akan mempertimbangkan jabatan mu disini" tersenyum licik.
Weng Qi hanya mengalah saat ini, ia kembali putar balik untuk segera pergi dari sana, akan tetapi di tahan duluan oleh nyonya itu.
"Heh tunggu! aku belum siap berbicara dengan mu"
"Apa itu nyonya?"
"Beritahu aku dimana kotak peti itu berada?"
Sontak Weng Qi melebar matanya sekaligus cukup heran, apa maksud nyonya itu bertanya mengenai kotak peti tersebut.
"Untuk apa bertanya seperti itu nyonya? anda tidak ada berhak untuk berhubungan hal itu"
"Kau turuti saja apa kata ku, cepat beritahu aku"
Weng Qi menggelengkan kepalanya dan tak menyangka bahwa nyonya itu sudah mulai berbuat licik di istana ini.
Setelah kerumunanan di tempat pasar itu telah bubar, kini Zhenglie dan Jung Yi beristirahat terlebih dahulu di dekat pasar itu yang ada tempat duduknya.
"Huh, pengat banget ya tadi sampai berkeringatan begini"
"Hu'um, tapi banyak juga yang ikut"
"Ya bagus lah itu tandanya mereka juga punya bakat bela diri. Oh ya, beli minum yuk"
Zhenglie pun mengangguk saja dan mereka pun segera bangkit dari tempat duduk nya menuju ke warung dekat.
__ADS_1
Terlihat wanita asing yang belum pernah ia lihat sebelum nya, Zhenglie cukup terpukau hal itu namun pandangan segera mengalihkan ke arah lain.
Wanita itu pun sadar di perhatikan okeh pria di antara mereka berdua namun ia tidak memerlukan hal itu.
Jing Yi sedang mengambil teh kotak di kemasan, dan menawarkan langsung ke Zhenglie.
"Nih buat mu"
Tiada tanggapan dari Zhenglie malah pria itu melamun ke arah lain.
"Hoy, melamunin apa?"
"Eh Maaf-maaf"
...
"Erlina, kau seharusnya tak seperti itu terhadap orang-orang di istana ini, bagaimana pun juga kau kan sudah terhormat dengan mereka dan bisa saja merusak nama mu sendiri" ucap Jackson menoleh ke Erlina.
"Ya tidak apa apa lah Jackson, ini juga melatih kita jadi calon penguasa di istana perak ini" tersenyum renyah di hadapan Jackson.
"Ya sudah, terserah mu saja"
Sesuai perintah Erlina terhadap sang panglima, Weng Qi datang membawakan sebuah kitak peti di tangan nya, terlihat wajahnya sangat netral di hadapan nyonya itu.
"Nah good, jadi berikan kotak peti itu di hadapan ku" senyum renyah.
Ya sesuai perintah nya Weng Qi menyodorkan kotak itu di hadapan Erlina, hal itu Erlina sungguh tersenyum senang sesuai ekspetasi nya.
Tak sesuai dengan harapan, Weng Qi kembali menarik kotak peti itu di dada nya tentu saja nyonya itu merasa jengkel dan juga kesal.
"Heh, sini kotak peti itu"
"Tak semudah itu mengambil benda ini dengan mu, nyonya. kecuali jika tuan sudah menyetujui atau sudah resmi menjadi queen si istana ini, nyonya"
"Kurang ajar kau mempermainkan aku?"
"Tapi Aku ada misi untuk mu nyonya, jika kau menang melewati misi itu maka kau boleh menggunakan ini di kepala mu"
Nyonya Erlina mendengus kesal dengan tingkah sang panglima mau tak mau ia menurutinya.
"Apa itu? katakan" ucap nya sedikit judes.
"Kau harus pahami isi mantra kesejarahan istana perak dengan cermat dan teliti, setelah kau sudah mengusai itu semua, maka kau juga berhak mendapati benda ini di kepala mu" ucap Weng Qi tersenyum tipis.
Tampak nya nyonya Erlina cukup berat dengan tantangan si panglima itu, namun beliau juga tak begitu menyerah dengan dirinya walaupun ia juga sedikit paham dengan bahasa Mandarin.
•
•
•
"Nyonya, aku milih bertanya gak?" ucap Xie Li, sang pelayan cukup dekat majikannya beberapa jam yang lalu.
An Chu Xia tengah menikmati angin di sekitar tanaman itu dan menoleh ke pelayan nya.
"Hm? tanya apa?"
"Nyonya hanya sering diri kah datang kesini? kenapa kami tidak melihat saudara nyonya ya"
An Chu Xia hanya tersenyum tipis lalu menghirup kasar lalu menghela nafas nya perlahan.
"Masalah itu kalian tak perlu kenapa, tapi yang jelas aku tidak mencintai raja kalian itu" ucap An Chu Xia tersenyum.
Sontak kedua pelayan itu terdiam heran lalu menanyai kembali.
"Kenapa nyonya? apa karna sebuah perjodohan?"
"Itu tidak juga, ya lambat laun kalian pasti akan tahu. tetapi untuk saat ini aku tidak bisa menjelaskan dengan kalian secara langsung"
Kedua pelayan itu tampak paham apa yang di maksud majikan nya dan tidak bertanya lagi tentang itu.
"Alasan kalian jadi pelayan di sini apa ya? tapi enak bukan tinggal di Kerajaan ini, bisa berkomitmen dengan Ksatria, dengan orang berkelas juga"
"Tidak juga sih nyonya, saya hanya butuh pekerjaan disini dan tidak ada berniat hal lain apalagi penyusup"
"Iya nyonya, saya juga dapat info kerjaan itu jadi ya saya sedang butuh banget"
An Chu Xia hanya terkekeh dengan responnya pelayan nya itu sementara mereka hanya memasang senyuman saja dan masih agak canggung dengan majikan nya itu.
______________________
"Jika ada keajaiban muncul di muka bumi, andai saja makhluk bersifat penggoda itu musnah di alam semesta, pasti para manusia tidak akan terjerumus dengan kesesatan nya."
__ADS_1
_____________________
"Aku hanya ingin bisa dan bisa, dan berguna bagi orang lain, itu saja. jika orang lain memandang good looking akan aku abaikan namun jika seseorang memandang akhlak insha Allah aku akan usahakan dengan sebaik mungkin."