Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
01 # Adhiaksa Group Utama


__ADS_3

“Perkenalkan nama saya Moura Putri Sarasvati, atau bisa dipanggil Moura, Ara juga boleh!” ujar wanita cantik memperkenalkan diri di depan beberapa rekan kerja barunya. “Mohon bimbingannya...,” Dengan menundukan tubuhnya wanita cantik itu memperkenalkan dirinya.


“Hai Ara...”


Salah satu rekan kerjanya yang merupakan satu-satunya wanita disana menyambut kedatangan Moura. Moura tersenyum malu dan canggung dia masih berdiri dengan sedikit gugup di tengah ruangan yang cukup luas. Riuh


ruangan project dengan candaan yang berasal dari 90% populasi di sana yang merupakan para pria paruh baya yang mulai menggoda Moura.


Salah satu inspector bahkan tak tanggung menggoda Moura dengan candaan yang di sambut kekehan dari rekan lainnya pasal status palsunya yang di kira masih seorang gadis. Tanpa menunggu lama managernya mempersilahkan Moura untuk bergabung dengan rekannya Keysha mengenali pekerjaannya. Semuanya kembali sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


“Kamu bisa panggil aku Key sepertinya kita seumuran.” Keysha mengulurkan tangannya pada Moura di sambut hangat oleh Moura yang masih sedikit gugup.


“Kamu melamar jadi Administrator kan?” tanya Keysha membuka komputer di meja yang akan di tempati Moura. “Jadi istilahnya kamu sekretaris di divisi ini atau yang lebih di kenal sebutannya Clerk. Tugasnya adalah...." Keysha menjelaskan semua hal mengenai pekerjaan.


Hari ini adalah hari pertama Moura kembali bekerja di salah satu perusahaan yang terbilang cukup besar di kawasan industrial di kota Batam. Adhiaksa Utama Group tempat di mana Moura bekerja saat ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor kontruksi bangunan dan jalan. Moura Putri Sarasvati adalah seorang single parent yang sudah memiliki buah hati yang masih bayi. Moura mencoba peruntungannya dengan bekerja setelah melahirkan putri semata wayangnya Shaqilla Shanum yang bulan ini tepat menginjak enam bulan.


Moura sendiri masih berusia sangat muda, setelah lulus kuliah dia terpaksa menikah dengan pacarnya yang menghamili dirinya sebelum ada ikatan pernikahan. Tidak di sangka bukan? Moura hamil di luar nikah, demi menjaga nama baik kedua keluarga besar akhirnya dia dinikahkan dengan pacar yang menghamilinya Raffa Abima.


Moura yang tidak menginginkan pernikahan itu memutuskan bercerai setelah putrinya lahir. Demi menghidupi putrinya serta menerima hak asuh penuh atas putrinya Moura terus mencari pekerjaan. Di sinilah dia berada, keluar dari tanah kelahirannya menjauh dari keluarga besar, mantan suami dan semua hal di masa lalunya. Dengan nekat dia menyetujui bekerja di luar pulau Jawa tanpa ada sanak saudara bahkan teman sekalipun.


Braaaak!


Suara pintu terbuka yang membentur dinding samping dengan kerasnya membuat seluruh makhluk yang ada di ruangan mendelik menatap asal suara, tak terkecuali Moura.


“Pak Khairul, mana data tender dengan perusahaan Trinity?!” Suara bariton yang meresahkan langsung mencerca ruangan project. “Sudah sejauh mana progressnya?!”


Suara bariton yang sedikit arogan tanpa permisi atau datang baik-baik itu adalah pria muda yang tak lain presidir Adhiaksa Utama, Noegha Adniakha Bagaskhara. Salah satu sudut matanya menangkap sosok baru di ruangan


itu. ‘Siapa gadis ini? Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya di project?’


“Eh Pak Noegha sudah kembali?” Pak Khairul bangkit dari kursinya, keluar ruangan yang hanya dipisahkan oleh sekat pemisah antara area staff inspector dan juga engineer.


Noegha duduk tanpa dipersilahkan di kursi yang khusus digunakan oleh para staff project dan planer dalam melakukan rapat koordinasi pekerjaan mereka.


“Key, coba kamu bawa Moura sekalian ambilkan berkas milik Trinity.” titah tuan Khairul pada kedua administrasinya.


“Baik pak.”


Keduanya bangkit dan bergegas mengambilkan apa yang di inginkan tuannya sebelum meledak emosinya. Siapa yang tidak tahu perangai bos besar mereka? Noegha Adniakha Bagaskhara adalah pria nomor satu di perusahaan yang di bangun sendiri olehnya semasa ia baru lulus dari sekolah menengah.

__ADS_1


Begitu cemerlangnya pria itu sampai di usia yang sangat muda dia justru memanfaatkan privilege yang di dapat dari keluarga besarnya dengan membangun bisnisnya sedari muda. Noegha terus mengembangkan perusahaannya hingga sebesar saat ini selama tujuh tahun lamanya.


Hal ini lah membuat Noegha yang penuh ambisi terlihat dingin, arogan dan otoriter dalam menjalankan bisnisnya. Wataknya yang keras di dukung dengan fisiknya yang sempurna membuat siapapun yang melihatnya jelas tergoda bahkan pada pandangan pertama sekalipun. Tidak terkecuali Moura tentu saja, dia sempat tertegun mengagumi pria dengan suara husky menggoda menggetarkan keseluruhan syaraf tubuh untuk segera menatapnya.


Moura sendiri walaupun sudah memiliki putri, sejatinya dia masih berusia sangat muda. Wajahnya jelas tidak terlihat seperti seorang wanita yang sudah memiliki seorang anak. Moura sangat pandai merawat dirinya luar dan dalam. Semua dia lakukan tentu dengan tujuan menuju good rekening, setelah good looking dan good cooking maka target berikutnya adalah good rekening tentu saja!!


Dia bahkan nekat menipu status dirinya yang merupakan single parent dengan menuliskan single pada resume saat melamar pekerjaan. Dia menyadari di jaman yang sulit ini dia harus bisa mencari celah, beruntungnya dia memiliki paras yang cantik dan menarik maka sedikit memudahkan dirinya di terima bekerja. Walau faktor utama dalam menentukan nasibnya tentu karena keberuntungan dan takdir Tuhan tentu saja.


“Ini pak...” Moura menaruh berkas di samping managernya. Terlihat Noegha memperhatikan Moura membuat wanita itu salah tingkah.


“Oh iya pak Noegha, ini karyawan baru saya, kelak dia akan menjadi administrator yang membantu dalam pengelolaan dokumen di bawah saya langsung.” ujar pak Khairul mencairkan suasana.


“Moura pak...” Moura menundukan tubuhnya tanda penghormatan, Noegha bersikap acuh demi mempertahankan gengsinya walau sejujurnya dia ingin menjulurkan tangannya untuk berkenalan.


“Lanjut..,” ujarnya kemudian mengacuhkan sikap Moura yang sudah mencoba seramah mungkin.


“Ehm... Moura kamu ikut aja sekalian disini. Kedepannya kamu yang bantu urus masalah dokumen dan perencanaan undangan meeting berikutnya dengan pihak vendor.”


“Baik pak.”


Mau tak mau Moura duduk di samping pak Khairul tepat di depan Noegha, tanpa ada yang memperhatikan bos besar itu, sudut bibirnya terangkat sedikit. Ada rasa puas di dalam relung jiwanya saat mengetahui bahwa kedepannya dia bisa lebih sering berinteraksi dengan salah satu clerk project yang tiba-tiba membuat dirinya tertarik begitu saja.


Semua staff saling pandang, ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Bahkan beberapa orang sudah membuat praduga atas apa yang terjadi dengan bos besar mereka yang statusnya sudah sangat diketahui satu perusahaan. Walau dia tampan dan kaya, tapi gosipnya pria itu masih melajang!!


Hal apa lagi yang bisa terpikirkan jika bukan karena kedatangan Moura tentu saja. Seluruh staff divisi planner dan project itu tidak terlalu banyak hanya berisikan dua orang inspector project, dua engineer, dan juga dua administrasi yang di pegang oleh wanita serta satu supervisor dan satu manager. Mereka semua di undang Noegha makan siang di sebuah restaurant dipinggir pantai di kawasan yang cukup terkenal disana.


“Tumben banget sih pak Noegha ngajakin maksi, satu divisi pula!!” seru Keysha pada Moura.


Sebelum mereka keluar kantor, Keysha mengajak Moura ke kamar mandi. Mendengar pernyataan rekan kerja yang baru dia kenal beberapa jam itu tentu saja Moura hanya bisa merespon dengan senyuman canggungnya. Dia menginjakkan kaki di kantornya saja baru setengah hari, tentu saja untuk mengenal sifat setiap karyawan apalagi bos besarnya sungguh mustahil bisa dia pelajari sekarang juga.


Keysha menggoda Moura bahwa sikap Noegha saat ini semua karena kehadiran dirinya sebagai new member di project division. Dengan cepat dan wajah yang merona Moura menghardik pernyataan yang unbelievable itu. Keduanya bergegas keluar dari toilet dan segera bergabung dengan rekan kerja satu divisi mereka yang sudah berada di pelataran parkir luar kantor. Mereka menggunakan transportasi yang di sediakan perusahaan sebagai mobilisasi.


Di lain sisi Noegha sendiri tengah menunjukan senyuman penuh artinya menuju mobil SUV miliknya. Dia tidak menyangka hanya karena melihat Moura dia bisa membuat gebrakan besar dengan mentraktir karyawan yang biasanya tidak pernah terjadi selama ia menjabat menjadi presidir.


Ddddrrrrt... Ddddrrrrt...


“Hm...,” jawab Noegha singkat.


“Dimana lu? Kuy maksi...” ujar si penelpon.

__ADS_1


“Ni mau otw ke Barelang!”


“Ngapain lu maksi jauh banget kesana?!! Sama siapa?”


“Gue lagi happy aja, karena lagi happy gue traktir semua departement project!”


“EH BUSYEEET!! Lu kesambet?!”


Noegha menutup sambungan yang berasal dari asisten yang tak lain sahabatnya sendiri dengan masih menyisakan senyuman tampan di wajahnya.


“Moura... Hehe” Senyumnya terbit di wajah tampannya. “Nama yang unik, semenarik orangnya!!”


***


Keseluruhan team project dan planner telah berada di sebuah resto pinggir laut yang cukup terkenal di kota Batam. Lokasinya berada di salah satu ikon wisata terkenal di sana. Mata Moura menatap takjub keindahan sang pencipta yang menampilkan hamparan laut lepas di depan matanya. Dia juga bisa melihat jelas dari tempatnya berdiri salah satu ikon kota Batam yaitu Jembatan I Barelang yang begitu indahnya.


Sedikit informasi yang diketahui oleh Moura dari pulau Batam yang menarik hatinya selain akan menjadi tempat ia mengais rezeki kedepannya. Batam merupakan salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Riau (Kepri). Kota Batam merupakan kota terbesar di provinsi Kepri yang mencakup pulau Batam, Rempang, Galang dan beberapa pulau kecil lainnya. Ketiga pulau besar itu terhubung oleh jembatan yang semuanya terdiri enam jembatan.


Hal yang paling istimewa dari Batam adalah kekhususan kawasan perdagangan bebas dikarenakan memiliki basis industri yang beragam dan bernilai ekonomi tinggi. Konon Moura pernah mendengar salah satu peserta recruitment bersama dengannya mengatakan bahwa pulau batam ini bentuknya menyerupai kepiting, konon mitosnya tempat yang sangat cocok bagi orang yang ingin mengais rezeki di kota yang mendapat julukan Singapore-nya Indonesia.


Semua menjadi motivasi Moura yang tidak sabar mendapatkan pundi-pundi keuangannya. Dia juga bermimpi bisa di bayar dengan mata uang asing, ya minimal dollar Singapore pikirnya. Dia harus memiliki batu loncatan, tentu saja beberapa pengalaman bekerja juga.


Disinilah Moura akan kembali memulai kehidupannya, membuktikan pada semua orang dia bisa berdiri sendiri tanpa perlu bantuan seorang pria hanya karena dirinya seorang single parent dengan membawa bayi. Orang-orang berfikir karier seorang wanita akan berhenti saat mereka telah menjadi seorang istri dan ibu. Bahkan Moura di cemooh hanya karena dia sudah berstatus janda dengan anak satu. Mereka selalu berpikir hidup Moura tidak akan berkembang tanpa bantuan seorang pria yang akan menyokong kehidupannya. Moura akan buktikan mereka salah besar!!


“Kamu kenapa Ra?” Tepukan bahu rekan kerjanya membuyarkan lamunannya.


“Eh, enggak... Seneng aja bisa langsung di ajak liat laut!” sahutnya segera. “Aduh noraknya aku!!” pekiknya tersipu malu.


Moura menutup wajahnya malu di hadapan Keysha yang di sambut kekehan beberapa bapak-bapak inspector yang tidak sengaja mencuri dengar percakapan mereka. Mereka juga menjelaskan pada Moura bahwa rata-rata penduduk Batam berisikan pendatang dari berbagai wilayah di Indonesia. Moura kembali menundukan wajahnya, satu hal unik lain yang dia ketahui dari kota tempatnya saat ini.


Semua orang belum berani memasuki lebih dulu restoran yang di tentukan, mereka tentu saja menunggu bintang utama yang kini menjadi bahan perbincangan di antara mereka. Sang manager kini menilik Moura dengan tatapan menggoda, sama seperti pemikiran Keysha mereka berasumsi bahwa ajakan makan siang ini di sponsori oleh kehadiran gadis baru di divisi mereka. Moura hanya bisa tersenyum masam menanggapi olokan di antara rekan kerja barunya yang kesemuanya merupakan pria yang sudah berumur bahkan berkeluarga. Tidak berapa lama sang bintang utama pun tiba, dengan noraknya juga Moura menatap takjub mobil yang digunakan bos besarnya.


“Aku pikir cuma Raffi Achmad aja yang punya...,” lirih Moura yang di dengar Keysha.


“Dih ini mah belum seberapa, kemaren doi bawa McLaren!”


Moura semakin membuka mulutnya lebar, Noegha yang sudah turun dari mobilnya terlihat begitu menggoda seperti oppa-oppa korea. Bahkan dalam hati Moura dia sudah menjerit kencang, penampilan Noegha terlihat seperti salah satu aktor korea yang di idolakan olehnya.


To be continue...

__ADS_1


*****


__ADS_2