Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
35 # Resah Hati


__ADS_3

Lima bulan kemudian...


Sudah lima bulan lamanya Moura dan Noegha hidup berdampingan selayaknya pasutri pada umumnya. Moura sudah menerima mansion baru atas namanya. Sebagai hadiah atas pernikahan keduanya, Noegha merasa dirinya dalam kondisi menikmati hidup dengan pengalaman barunya yaitu melepas masa lajang dengan menjadi suami dan langsung juga menjadi seorang ayah sambung bagi putri Moura.


Kehidupan mereka selama ini adem ayem saja, Moura belajar menjadi istri yang baik selama di rumah, dan wanita karier yang tangguh di tempat ia bekerja. Rumor kedekatan dan hubungan mereka memang tidak akan bisa ia hentikan. Dia sendiri tidak ingin mengambil pusing dengan keadaan itu, dia meyakini bahwa tidak bisa mengendalikan pikiran dan tanggapan orang lain mengenai dirinya. Sebaliknya, dia sendiri yang harus bisa mengendalikan diri agar tidak terbawa emosi yang akan memperburuk suasananya. Dia hanya tengah memperbaiki diri dan menaikkan level dirinya. Beruntung suaminya bisa di andalkan, dia benar-benar menjadi support sistem terbaik. Banyak ilmu yang Moura dapatkan setelah bersama dengan suaminya dan bekerja di bidang yang berbeda dari ilmu yang ia pelajari sebelumnya.


"Gha, hari ini Tante dan Om pulang kan?" tanya Michel pada atasannya di sela pembahasan bisnis mereka.


"Hm... Aku belum memeriksanya juga. Emang kenapa?" tanya Noegha balik.


"Lah, binik lu gimana kedepannya? Masih mau terus di sembunyiin?"


Pertanyaan Michel sukses membuat Noegha terdiam dengan tatapan nanar ke depan. Hati Noegha mulai gelisah, dia sendiri belum bisa memastikan 100% kedua orang tuanya bisa menerima keberadaan Moura menjadi istrinya atau justru menentangnya, terlebih wanita itu adalah seorang janda!


"Ya─" Noegha terdiam seperti tengah berpikir. "Tentu saja aku akan mengenalkan Moura segera," senyum Noegha mengembang saat ini. Dia begitu tidak sabar meminang dengan resmi istrinya.


"Ya baguslah... Gue doain semuanya lancar brooo... Jangan sampai doi hamil duluan dikira kalian zina." kata Michel mengingatkan.


"Ya..." sahut Noegha terdengar setengah-setengah.


***


"Sayang!" pekik Moura.


Noegha diam-diam memeluk Moura saat wanitanya tengah memasak makan malam untuk mereka.


"Aku merindukanmu!" bisik Noegha mesra.


"Apa sih orang baru gak ketemu 5 menit." kekeh Moura pada manja suaminya.


"Ya maunya aku deket terus sama kamu sepanjang hari! Twenty four seven..." gombal Noegha membuat perasaan Moura berbunga-bunga.

__ADS_1


"Aku mencintaimu istriku!"


"Gih sana aku mana bisa konsen masak kalau kamu ganggu begini..."


Noegha begitu beruntung mendapatkan istri hampir sempurna seperti istrinya, semua yang dia inginkan Moura bisa memberikannya. Istrinya selain pandai mengenai urusan pekerjaannya ternyata dia juga pandai memasak. Masakannya selalu menjadi menu favorit Noegha. Bahkan sebulan ini mereka jarang makan di luar kecuali akhir pekan demi membawa jalan Qilla keluar.


"Sayang, orang tuaku akan kemari besok." kata Noegha mengawali perbincangan serius mereka saat tengah melakukan makan malam bersama.


"Uuhuuukk!" Tiba-tiba Moura tersedak dengan perkataan suaminya.


Noegha mendekat menyodorkan segelas air putih pada istrinya. Keadaan berubah menjadi canggung kali ini, pria itu menatap lekat istrinya sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Apa kamu tidak ingin bertemu dengan mereka?" tanya Noegha kemudian.


"Bukan tidak ingin bertemu, lebih tepatnya aku malu." jawab Moura realistis.


"Huh, kita coba ya... Semakin cepat semakin baik... Aku ingin kita meresmikan pernikahan kita."


DEG!


"Sampai kapan Moura? Aku ingin melegalkan keturunanku di mata publik!" emosi Noegha mulai terpancing.


"Gha... Kita sudah sepakat sebelumnya bukan?" ujar Moura lirih dengan tatapan sayunya.


"Moura, ini sudah bulan kelima..."


"Baru bulan kelima? Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan seumur hidup! Ibadah terlama dari seorang muslim..." hardik Moura langsung.


"Kita memulainya karena sebuah kesepakatan dan karena sebuah kecelakan."


"MOURA!!"

__ADS_1


Di tengah tekanan batinnya untuk pertama kalinya mereka terlibat adu mulut kembali seperti saat ini. Moura tertegun. Memang benar ujian awal pernikahan akan terus berdatangan.


"Maafkan aku berkata kasar sayang." sesal Noegha bersimpuh di bawah kursi Moura. "Apa kamu tidak bisa melihat aku begitu mencintaimu, begitu menginginkanmu, begitu serius padamu hm?"


Noegha menarik kedua tangan Moura dan menciumnya. "Apa lagi yang kamu tunggu Sayang, karier? Aku bahkan mengijinkanmu memegang departement sistem. Apa itu kurang?"


"Apa ada yang kamu takutkan Sayang?" sambung Noegha terus mencecar istrinya. "Aku tidak percaya jika kamu belum mencintaiku setelah lima bulan kebersamaan kita hm?"


Moura terpaku dan bibirnya kelu, dia hanya bisa menjatuhkan air matanya sedari sekarang. Bohong jika dia tidak mencintai suaminya. Cinta itu bisa datang kapanpun, cepat atau lambat. Dengan perhatian Noegha tentu saja siapa yang tidak bisa jatuh pada pesonanya. Hanya saja, dia menyadari satu hal mengenai rumor keluarga besar Noegha yang sudah sampai di telinganya. Noegha di gosipkan telah memiliki tunangan, hanya saja saat itu batal karena si wanita tengah mengejar kariernya hingga mancanegara.


"Tenang sayang, apapun yang mereka pikirkan tentangmu itu tidak mempengaruhi bahwasanya aku hanya mempunyai istri bernama Moura Putri Sarasvati seorang!" tukas Noegha menekan.


Moura melengkungkan senyum dengan kekehan lirih di tambah air mata yang masih mengalir disana. Noegha mengusap wajah basah istrinya dan memagut bibirnya segera. Tanpa waktu lama, Noegha menuntun istrinya bangkit dan mereka berjalan menuju sofa dalam keadaan bertautan. Setelahnya, Noegha menanggalkan pakaian keduanya dan bunyi lenguhan serta peraduan kulit keduanya mendominasi ruangan.


Di mansion Moura, hanya berisikan mereka bertiga. Nanny Qilla akan datang saat jam kerja kedua orang tuanya saja. Jadi setelahnya mereka akan bebas melakukan apapun di mansion mereka. Tidak ada tempat yang belum pernah di jadikan tempat keduanya melepaskan hasrat mereka. Bahkan di depan pintu apartement sekalipun, gairah Noegha sungguh di luar nalar Moura.


***


Moura begitu resah, dia terus memainkan kedua tangan di pangkuannya. Mobil melaju seolah begitu cepatnya. Noegha memperhatikan tingkah Moura yang dia prediksi tengah gelisah.


"Sayang..." Noegha menggenggam erat jemari tangan istrinya.


Noegha juga memberikan senyuman penyemangat sampai akhirnya keduanya tiba di kediaman besar Noegha. Kedua orang tuanya berada di kediamannya yang mana Moura pernah tingga sebentar disana sebelum akhirnya pindah ke mansionnya.


"Kamu tenang aja ya sayang, mereka tidak seseram yang kamu bayangkan. Hehehe" Noegha mencium pipi Moura lekat.


Moura hanya mampu menganggukkan kepalanya, hatinya sudah gelisah tidak karuan saat ini. Noegha turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk istri tercintanya. Keduanya berjalan bersama, Noegha tentu menggandeng dan menggenggam erat tangan istrinya menjelaskan hubungan keduanya.


"Noegha!" pekik salah satu wanita muda yang menyambut dia di ruang tengah.


DEG!

__ADS_1


To be continue...


*****


__ADS_2