Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
07 # Gagal


__ADS_3

Sesuai janji Noegha saat ini Moura telah diantarkan pulang oleh bosnya. Selama di perjalanan keduanya hanya berbincang seperlunya. Moura justru mengetahui bahwa Noegha juga sebenarnya pendatang di kota ini.


"Jadi kamu tidak akan mempersulit aku di kantor lagi kan?!" tanya Moura memastikan sebelum ia keluar dari mobil mewah bosnya. Moura menatap pria di sampingnya yang dari sudut manapun pria itu terlihat ganteng maksimal!!


"Hehe... Kamu berani membayarku berapa?!" canda Noegha mendekat ke kursi Moura.


Moura beringsut hingga batas pintu, dia menelan salivanya saat bosnya kembali mendekat menghilangkan jarak di keduanya.


"Jika di banding aku, bukankah kamu tidak kekurangan uang?!" lirih Moura cemas.


"Absolutely, dan aku tidak ingin uang mu tentu saja!" senyum culas Noegha terbit saat ini juga.


"Hah?! Lantas?!" wajah Moura mengerut kebingungan di barengi oleh rasa khawatir yang masih mendominasi perasaannya saat ini.


"Apa kamu tidak paham maksud ku?!" wajah Noegha semakin mendekat, dia sengaja terus memojokan Moura. Bahkan dia juga sengaja menghembuskan nafas beratnya di ceruk leher Moura.


Tubuh Moura meremang seketika, dia tidak menyangka bosnya jauh dikatakan lebih dari sekedar arogan saat ini.


"K-kamu ja ngan kurang ajar!!" hardik Moura berpikir yang bukan-bukan dengan menyilangkan kedua tangan di depan tubuhnya.


"Loh emang aku ngapain?!"


Noegha mengambil sebagian rambut terurai Moura dan menciumnya. Wangi lembut rambut Moura justru menjadi bumerang baginya, semula ingin menggoda Moura nyatanya saat ini dia sungguh tergoda dengan harum itu.


'Sial, gue malah tambah ga pengen dia keluar dari sini!!'


"Sudah sangat malam, aku tidak enak jika harus menerima gunjingan dari para tetangga!!" Moura segera menyudahi sesi bergojalak yang salah-salah bisa menjerumuskan dirinya pada kebathilan.


"Kamu senang lari dari masalah ya Moura, padahal kamu menindas Margareth tidak memperhitungkan konsekuensinya!!" ujar Noegha kembali dingin. "Lain kali jangan pernah mengotori tanganmu sendiri seperti tadi pagi!" Noegha menasehati kembali Moura. "Bagaimana jika dia membalaskan rasa malu yang kamu lakukan pagi tadi? Hmm?!"


Moura menelan salivanya serat, dia membuang wajahnya. Sejujurnya dia tidak masalah jika berurusan dengan Margareth toh dia tidak mengenalnya. Tetapi yang jadi masalahnya adalah seperti saat ini, dia harus di usili oleh atasannya yang dia rasa sangat mesum!!


"Kamu tenang saja aku sangat pandai menjaga diriku!! Jadi kamu tidak perlu khawatir!!" sahut Moura yakin.


Noegha menyunggingkan senyum culas di wajahnya yang kini semakin mendekat dengan wajah Moura.


"Lantas bagaimana dengan ini!" Noegha berkata tepat di depan bibir Moura.


Sontak saja Moura terkejut, dia mendorong dengan cepat tubuh atasannya kemudian pamit keluar.


"Aku pulang sekarang, terima kasih untuk semuanya!! Selamat malaaam..."

__ADS_1


Braaaak!!


Noegha terpaku wanitanya mencampakkan dirinya begitu saja. "Hahaha, kamu tambah menarik Moura. Kita lihat saja sebentar lagi kamu pasti akan menjadi milikku!!"


Noegha terus memperhatikan Moura yang hilang di balik pilar bangunan, setelahnya Noegha menjalankan mobilnya meninggalkan area itu. Moura telah melihat kepergian Noegha, dia segera kembali menuju arah yang benar. Moura menipu Noegha tentang lokasi tempat tinggalnya. Sejujurnya hanya berbeda satu blok di depannya saja. Moura bergegas membawa putrinya.


"Maaf ya Bu saya merepotkan sampai selarut ini!" Moura tidak membawa buah tangan apapun karena memang keadaannya tidak memungkinkan dirinya. Dia berulang kali meminta maaf, dia sendiri berniat akan melebihkan pembayarannya saja nantinya.


Beruntung tempat dimana ia menitipkan putrinya begitu baik dan tidak mempermasalahkannya. Moura kembali pamit dan bergegas menuju rumahnya.


"Sayaaang kamu senang kan hari ini?!"


"Dada.. Dadaa..."


"Aiihh anak Ibu lucuuu bangeet sih!! Selelah apapun ibu, dengan melihatmu semangat Ibu kembali Sayaang!!"


Moura mencium putrinya lekat, bermain sejenak dengan putri menggemaskannya kemudian menyusuinya untuk mengantarkannya terlelap karena hari telah semakin larut. Moura tak lupa melakukan jadwal pumpingnya. Selama di kantor dia diam-diam melakukan pumping di ruang yang biasa digunakan orang-orang sebagai ruang kesehatan. Demi menghindari kecurigaan orang-orang karena statusnya itu, dia tidak bisa sering-sering kesana. Jadi dia juga kadang melakukannya di mushala saat kantor sepi di jam makan siang tentu saja dengan mengendap-endap.


"Huh lelahnya!!" keluh Moura sejenak. "Kamu rakus sekali Qillaaa... Stock ASIPmu selalu kurang, padahal Ibu sudah berusaha mempompanya setiap hari!" canda Moura melihat stok ASIP putrinya di dalam kulkas.


"Tapi tidak mengapa demi kamu Ibu akan berusaha!!"


Bagi Moura dia ingin terus memberikan ASI dan sebisa mungkin tanpa bantuan susu tambahan. Walau dia tidak memaksakannya saat di daycare. Tetapi sejauh ini menurut ibu pengasuh ASIP yang di persiapkan cukup baginya. Mengingat dia juga sudah mulai memakan MPASI yang bisa membuat perutnya kenyang tidak hanya ASI saja.


Moura orang yang tidak suka menunda pekerjaan atau menumpuk pekerjaan. Baginya capek itu harus tuntas maka dia akan lebih maksimal dalam beristirahat atau istilah kerennya deep sleep. Saat bangun pagi dia hanya tinggal menyiapkan sarapan dan bekal tanpa beban apapun lagi!


Kriiing...


Moura terkejut ponselnya berdering di hampir tengah malam ini. Dia telah selesai mengoleskan seabreg skincare rutinnya segera menyambar ponsel yang ia isi daya di atas nakas sebelah ranjangnya.


"Raffa?!" lirihnya. "Dia sungguh kurang kerjaan jam segini nelpon orang!!"


Moura ragu untuk menjawab panggilan itu. Akhirnya ponselnya kembali mati karena tak kunjung ia jawab. Moura menghela nafas lega. Tak berapa lama ponselnya kembali berdering menangguhkan waktu istirahatnya. Akhirnya Moura memutuskan menjawab sebelum dia membuat Qilla terbangun kembali.


"Halo," sapa Moura langsung.


"Bee... Aku sungguh merindukanmu!"


Deg!!


Raffa memang sering menghubungi Moura, dengan alasan dia masih ingin berhubungan dengan Qilla. Bahkan dulu mertuanya masih sering meminta Moura ke rumahnya demi melihat Qilla.

__ADS_1


"Raf, ini sudah malam. Qilla sudah tidur!!" jawab Moura mengalihkan apa yang di tanyakan mantan suaminya.


"Aku merindukanmu Bee... Kamu jahat padaku!!" Suara di sebrang sana terdengar parau.


"Raf, bukankah kamu sudah punya penggantiku?! Kamu pasti sedang cinta-cintanya bukan?!"


Nyeri dada Moura saat mengatakannya, namun dia berpura-pura biasa saja agar Raffa mengira dia tidak terpengaruh dengan situasi mereka saat ini.


"Aku sudah putus dengannya, dia tidak seperti kamu!! Kita baikan lagi ya Sayang, demi Qilla kita!!" sahutnya segera menjelaskan.


"Raf, aku lelah sekali sekarang. Aku tidur duluan ya... Bye!"


Moura segera memutuskan sambungan, dia menahan air matanya yang sudah menggelayut di bawah kelopak matanya. Buru-buru Moura mengambil tissue menyeka air matanya jangan sampai tumpah mengenai wajahnya.


"Skincare mahal gue ga mungkin gue ulang!!"


Moura segera bersiap untuk tidur namun kembali dia membuka matanya terganggu dengan getar ponselnya. Tanpa kembali melihat layar di ponselnya Moura menjawab dengan rutukan sarkasnya.


"RAFFA Aku mau tidur sekarang!!"


"Raffa?! Siapa dia?" ujar suara berat di ujung sana.


Deg!


Moura terbelalak kemudian memeriksa nomor ponsel di layar ponselnya.


'Tanpa nama!!'


Hanya saja dia sangat hafal suara husky yang beberapa pekan bahkan barusan mengganggu hidupnya.


"Mouraa!!" pekik si pria menyadarkan lamunannya.


"Maaf ini siapa?!" tanya Moura pura-pura tidak mengenalinya.


"Tidak lucu Moura!!" kesal si pria.


"Dih jadi cowok kok baperan!!"


Terdengar suara kekehan lirih di sebrang sana, hati Moura mendadak kembali gelisah. Tiba anaknya merengek karirnya hancur saat ini juga!!


To be continue...

__ADS_1


*****


__ADS_2