Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
05 # First Dinner


__ADS_3

Moura begitu gelisah dia terus menatap jam di dinding ruangannya. Rasanya waktu berjalan begitu lambat, atau mungkin terlalu cepat. Dia sungguh ingin memekik tanda dia tengah putus asa saat ini.


'Aku harus kembali meminta extra jam penjemputan hari ini huh!' Hal yang jadi kendalanya saat ini tentu saja putrinya yang masih bayi. Dia tidak tega terus meninggalkan putrinya itu, beruntungnya dia mendapatkan daycare yang benar-benar bisa di andalkan.


Pemilik daycare adalah tetangga sebelah rumahnya. Hal yang membuat dia tenang dan merasa aman untuk terus meminta extra tambahan waktu. Hanya saja dia takut bahwa tetangganya berpikir yang bukan-bukan dan mengabaikan putrinya.


Moura putuskan untuk kembali meminta bantuan ibu pengasuh tersebut. Berkali-kali dia meminta maaf sudah merepotkannya. Pemilik penitipan anak merupakan pasangan yang belum di karunia momongan. Maka dari itu menurut mitos, demi memancing keduanya di karunia anak mereka berlatih menjadi pengasuh anak-anak bagi yang orang tuanya harus bekerja seperti Moura ini.


Sang suami bekerja di salah satu pabrik besar di kawasan industrial yang sama dengan Moura. Sang istri justru memilih membuka daycare mereka yang saat ini total sudah ada 5 orang anak yang diasuh olehnya dengan usia yang berbeda-beda.


"Yuk Ra, kamu mau bareng ga ke halte depan?!" ajak Keysha pada Moura setelah waktu menunjukan jam pulang kerja.


Moura menggeleng perlahan dengan berpura-pura memperlihatkan tumpukan pekerjaan yang harus dia selesaikan. Keysha terkekeh kemudian pamit duluan. Moura tengah mengatur pernafasannya, dia juga sangat gelisah. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan di perbuat bosnya kelak.


"Berpikir positif saja Mouraa!!"


Di tengah monolognya terdengar derap langkah kaki yang tiba-tiba saja ketukannya seirama dengan degup jantung Moura saat ini. Dia menggigit bibir bawahnya dengan menggenggam ujung blazernya gelisah luar biasa.


Cekleek!


"Heh, ayok?" Sebuah senyuman tampan nan manis terpeta di wajah rupawan bos nyentriknya. Moura tertegun sejenak, seketika dia linglung. Noegha mengernyitkan keningnya kemudian mendekat ke arah meja kerja Moura.


"Apa aku harus menjemputmu dari sini Nona?" bisik Noegha tepat di samping indra pendengaran gadis yang masih terpana dengan sosok atasan rupawannya.


"Ehm... Aku..." Moura benar-benar terlihat tidak waras saat ini.


"Yuks, aku ingin mengajakmu keliling sekalian kamu jelaskan apa yang membuatmu sungguh berani menindas karyawan tetapku?" ajaknya kemudian. "Apa kamu sudah pikirkan konsekuensinya?!"


Wajah Noegha begitu dekat dengan wajah Moura saat ini. Gadis itu tampak kesulitan berkata bahkan bernafas sekalipun.


'Sikapmu saat ini sungguh menggodaku Moura!!!'


Ingin rasanya Noegha mencium bibir yang tengah bersorak meminta untuk di kecup sejenak oleh permukaan kulit bibir miliknya. Untungnya kesadaran Moura kembali dan mendorong lemah dada bidang bosnya dengan sedikit bergetar.


"Kalau begitu mari..." ucap Moura sedikit terbata dengan menundukan wajahnya. Dia sungguh ingin menyembunyikan rona merah di wajahnya yang dia pastikan tengah mencuat saat ini.


"Wangi vanilla mu, aku sangat menyukainya!!"


DEEEG!!!


Moura kembali terpaku dengan perkataan bosnya yang mengetahui bahwa parfum yang ia kenakan berjenis vanilla yang lembut yang ia sukai. Moura semakin gelisah dia mengatupkan bibirnya semakin erat justru membuat Noegha juga sama gelisahnya.


"Jika kamu terus menggodaku seperti itu, aku tidak bisa jamin aku masih bisa menahan untuk tidak kembali menyentuhnya Moura!"


'Aaarrrrkkkk!'


Moura terbelalak dia langsung saja tanpa berpikir ulang beringsut mengambil ancang-ancang dan berjalan lebih dulu keluar ruangan meninggalkan Noegha di dalam sana yang kini tengah melebarkan senyuman.


"Kamu semakin menarik Moura!!"

__ADS_1


Keduanya telah berada di dalam mobil SUV milik si pria. Di dalam sana Moura mencoba biasa saja walau jiwa missqueennya meronta karena ini kali pertama dia duduk di dalam sebuah mobil mewah besutan Range Rover.


Perlahan namun pasti Noegha meninggalkan pelataran kantor dan keluar kawasan industri menuju suatu tempat yang sepertinya sudah di rencanakan lebih dulu.


"Kamu tinggal dimana?!" tanya Noegha mencairkan suasana.


"Emm kawasan perumahan Plamo..." jawab Moura segera.


"Sewa rumah atau kamar?!"


Demi menghilangkan kecanggungan di dalam kendaraan yang kini suhunya mulai mendingin bahkan jauh lebih dingin dari yang di rasakan semestinya Noegha mencoba membuat Moura nyaman.


'Kenapa pula dia tanya-tanya hal pribadi gini?'


Moura terdiam sejenak sebelum dia menjawab. Dia kemudian melanjutkan jawabannya dengan segera.


"Aku ngekos, sewa kamar gitu..."


"Owh... Rumahku di Bukit Sukajadi sini, dekat denganmu jadi mungkin kita bisa pergi dan pulang bareng itung-itung menghemat biaya transportasi kamu kan?!"


Noegha tidak pernah patah semangat dalam mencari celah untuk terus berdekatan dengan wanita incarannya. Rasanya hidup Noegha saat ini menjadi lebih bergairah setelah sebelumnya dia di landa kebosanan luar biasa dalam kehidupannya.


Noegha hanya tahu bekerja dan bekerja. Bukan dia tidak tahu bersenang-senang melainkan dia sudah bosan. Wanita cantik diluaran yang dengan murahnya mencoba mendekati Noegha tak terhitung banyaknya. Tidak ada satupun yang membuatnya tertarik, sampai ia melihat Moura di kantornya.


Dia sendiri heran, mengapa gadis itu seolah memiliki daya tarik yang berbeda dengan gadis lain. Noegha bisa langsung menginginkannya pada pandangan pertama.


Pikiran Moura melayang-layang saat ini, dia menatap sekilas tingkah pria di sebelahnya yang kini tengah senyum-senyum sendiri. Seketika Moura terbelalak dengan pikiran nistanya.


Moura langsung membuang wajahnya, dia tidak tahu akan di bawa kemana oleh atasannya. Sejauh mata memandang hanya ada beberapa pohon dengan jalan yang lebar namun tidak begitu padat lalu lintasnya. Satu hal lagi yang di sukai Moura dari Batam, di sini dia tidak akan kesal dengan kemacetan, karena hampir tidak terjadi jika bukan karena persimpangan jalan atau terhenti karena traffic light.


Semakin lama mobil yang di kendarai semakin masuk ke dalam entah berantah, meremang seketika tengkuk leher Moura!


"Maaf pak kita mau kemana?! Rasanya tidak sampai-sampai?!" tanya Moura terdengar gelisah.


Noegha menoleh menatap Moura dengan pertanyaan kekhawatirannya.


"Dinner..." jawab si pria singkat dengan senyum tipis yang terlihat di wajah tampannya.


'DAEBAK!!' Moura segera memalingkan wajahnya, dia tidak tahan untuk tidak tergoda. Rasanya sama seperti tengah kasmaran. Dia berpikir si pria tengah menggodanya. 'Oh enyahlah pikiran nistakuuu mana mungkin dia mau sama aku. Selain aku janda aku juga sudah punya anak!!'


Moura kembali menggenggam tangannya erat di atas pangkuan, hal itu terlihat oleh Noegha.


"Apa kamu takut padaku?!"


Moura tidak menjawab dia hanya memalingkan wajahnya dengan sangat gelisah.


"Aku harap Bapak bisa mengantarku pulang sebelum waktu Isya!"


"Bapaak?"

__ADS_1


Cekiiit!


Seketika Noegha menghentikan laju mobilnya, Moura sampai terhenyak ke depan dashboard. Dia terkejut mengapa atasannya tiba-tiba menghentikan mobilnya. Beruntungnya tidak ada mobil lain yang berada disana.


"Aku sudah bilang berapa kali Moura, jangan panggil aku Bapak!!!" maki Noegha sungguh mudah sekali tersulutkan emosinya.


"M-Maaf..." lirih Moura merasa bersalah.


Terdengar deru nafas berat Noegha di indra pendengaran Moura yang kini mendadak lebih sensitif demi keselamatannya.


"Kamu rileks aja sih, kayak lagi di culik aja! Apa kamu berharap aku menculik mu?!"


'Apalagiii ini Tuhaaan?! Kenapa otaknya terdengar seperti seorang remaja yang gampang sekali terprovokasi?!'


Moura tidak habis pikir dengan kearoganan atasannya. Rasanya justru yang tidak bisa santai justru pria itu! Selalu saja berpikir yang bukan-bukan tentang dirinya.


"Aku yakin kamu akan menyesal menculik aku! Makanku banyak!!"


"Ppffttt!!"


Noegha menahan tawanya, setelah barusan dia di buat emosi kini kembali merasakan kelegaan. Ternyata Moura pandai sekali mengatur emosi Noegha. Mobil kembali berjalan tak jauh dari tempat dia berhenti Noegha membelokkan memasuki sebuah Resort.


"Makan aja bisa sejauh ini..." keluh Moura.


'Sengaja!!' dalam hati Noegha tentu saja semakin jauh semakin bagus, karena semakin ia bisa berlama-lama dengan wanita incarannya itu.


"Dinner tuh harus yang berkesan, apalagi ini untuk yang pertama kalinya kan?!"


"Kamu pasti akan menyukainya..."


Noegha menatap kearah Moura kembali dengan senyuman memabukkannya.


'Udaah sih, senyumin aku terus... Nanti kalo aku suka bahayaaa!!'


Moura mendengus kesal rasanya, dia sendiri tidak menyadari bahwa pria di sebelahnya sudah jatuh hati dari awal mereka memandang.


"Wuaaaah!"


Mulut Moura menganga dengan pemandangan di depannya. Hamparan laut lepas dengan gemerlap lampu di ujung sana membuatnya terlihat semakin romantis.


"Maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan Moura!!" lirihnya di dengar oleh Noegha.


"Aku benar bukan?! Kamu menyukainya..."


Moura tersipu malu menundukan wajahnya.


"Yuk..."


Noegha memegang tangan Moura tanpa ragu, Moura tentu saja membatu tanpa bisa menolak sedikitpun, ia akhirnya berjalan mengekor di belakang tubuh pria yang kini menuntunnya.

__ADS_1


To be continue...


*****


__ADS_2