Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
06 # Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Moura hanya mampu terdiam atas tindakan yang di lakukan pria yang dia namakan atasan dengan debaran jantung yang seolah berdetak lebih cepat sama seperti di arena sirkuit balap!


"Selamat malam Tuan dan Nona... Apa ada yang bisa saya bantu?!" Salah satu pelayan area resort menghampiri keduanya.


Moura masih membisu dengan terus membiarkan Noegha menggenggam tangannya, seolah keduanya mengisyaratkan memiliki hubungan yang serius!


"Reservasi atas nama Noegha!"


"Oh tuan Noegha, mari saya antar ke tempat."


Moura kembali di kejutkan hari ini, ternyata bosnya ini sudah mempersiapkan segala rupanya. Semua sudah terencana begitu sempurna rasanya. Benar saja, setelah kepergian Moura dari kantornya pagi tadi dia segera melakukan reservasi makan malam romantis di bibir pantai. Pria itu memilih area private di salah satu resort terkenal di Batam. Dari areanya bisa melihat megahnya negeri tetangga dari sana. Dia pikir Moura akan takjub dan semakin mengaguminya.


Tibalah di mana tempat yang sudah di persiapkan pihak resort. Satu meja bundar yang hanya cukup untuk makan berdua itu telah di hias sedemikian rupa membuat Moura benar-benar takjub dan terpana. Dia bahkan tidak sanggup lagi menggerakan kakinya kesana.


"Silahkan Tuan, sebentar lagi kami persiapkan makan malamnya..." Pelayan menerangkan kemudian menunduk pamit dari sana.


"Ayo Moura..."


Noegha mengernyitkan keningnya, tubuh Moura tidak bergeming dari sana. "Kenapa?!"


"Mengapa kamu melakukan hal ini?!" Moura bertanya dengan tatapan menyelidik pria tampan di depannya.


Noegha tersenyum sejenak dengan memegang tengkuk lehernya. "Apa kamu keberatan?!"


"Bukankah kamu hanya ingin tahu mengapa aku menindas karyawan seniormu? Mengapa sampai repot seperti ini?!" Moura berniat menolak dan semua hal ini salah.


"Suka-suka aku MOURA!!" Bukannya menjawab Noegha kembali terdengar arogan. "Sekarang kamu duduk dan kita akan menunggu makanannya datang!! Menurut atau kamu tidak bisa keluar dari sini!!"


Noegha begitu kesal dengan Moura, dengan sifatnya yang mudah emosi sungguh menjadi tantangan besar Moura mengatasi *boss*moodynya itu!


Moura mendengus pasrah, kesenangan Noegha sirna berubah kesal saat ini.


'Wanita ini mengapa sungguh senang membuat aku emosi sih!! Bukankah harusnya dia terharu dan menyukai semua hal ini?!' batin Noegha merasa Moura memiliki kelainan jiwa.


Mereka kini telah duduk berhadapan, Moura menundukan pandangannya. Dia kesal pria didepannya begitu arogan dan semena-mena terhadap dirinya.


"Apa kamu tidak menyukai tempat ini?!" selidik Noegha mencari topik pembahasan. Dia sendiri lupa hal apa yang seharusnya mereka bahas.


"Suka... Tapi aku ngerasa semua ini seperti penjamuan untuk pasangan!!" dengan polosnya Moura berujar justru membuat Nogeha merona saat ini.


"Jika begitu bagaimana jika kita menjadi pasangan?!" ujar Noegha spontan tanpa basa-basi.

__ADS_1


"HAH?!" Mata Moura terbelalak dengan ucapan santai bosnya itu.


"Aku memang mengajakmu kesini bukan untuk membahas Margareth, aku memang sengaja menjadikan dia untuk mengajakmu makan malam berdua!" ucap Noegha akhirnya jujur.


Moura menelan salivanya serat, seketika isi kepalanya berhamburan. Dia bingung harus menyahut pria di depannya seperti apa.


"Apa kamu mabuk?!" tanya Moura bingung.


"Kamu kan lihat aku tidak mabuk!" sahut Noegha menegang.


"Apa kamu salah minum obat?!" tanya Moura lagi.


Penat rasanya kepala Noegha mendengar ocehan wanita di depannya yang seperti berpura-pura bodoh.


"Apa kamu bodoh?!" umpat Noegha jengah mendengar pertanyaan yang tidak berguna Moura sebelumnya. "Hal seperti ini saja kamu ga faham!!" Noegha sungguh kembali meledak. "Aku suka sama kamu!! Kamu mau ga jadi wanitaku?!"


DEEEEEG!!


"Fix anda kerasukan!!" ucap Moura lirih menatap Noegha dengan wajah annoyingnya.


Noegha mengerutkan keningnya, kemudian menghela nafas berat. Dia tidak ingin jamuan makan romantis ini sirna begitu saja. Akhirnya untuk pertama kalinya dia mengalah hanya demi memenangkan hati wanita di depannya yang sudah membuatnya segila ini mendambakannya!


"Sudahlah..." lirih Noegha memijat keningnya frustasi.


"Makanlah... Setelah ini aku akan mengantarmu pulang." ucap Noegha datar.


"Terima kasih... Selamat makan Pak Noegha Adniakha Bagaskhara!" sahut Moura dengan sedikit candaan.


"Pppffftt!"


Noegha menahan tawanya, dia tersenyum menatap Moura lekat. Rasa kesal sebelumnya hilang melihat wanita di hadapannya tengah minum dan makan dengan antusias.


'Kamu sungguh moodmakerku Moura...'


Setelah puas memakan santapan makan malam, keduanya berencana segera pulang. Berkali-kali Moura mengangkat tangan menatap jam tangannya dengan perasaan gelisah.


"Apa ada seseorang yang menunggumu?!" Noegha penasaran mengapa wanita di depannya begitu gelisah saat ini.


'Tentu saja!!'


"T-Tidak, hanya saja ini sudah larut. Ga baik keluar terlalu malam."

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin berjalan melintasi pantai?!"


"Maksudnya?!"


"Di sana ada jembatan sepanjang kurang lebih 200 meter, kamu bisa berada jauh ke tengah laut sana."


"Benarkah?!" Kini wajah Moura berbinar, dia merasa penasaran hal apa yang menakjubkan di sana.


"Yuks!" Noegha kembali menarik tangan Moura segera sebelum wanita itu berubah pikiran. Ternyata tidak begitu sulit menahan keberadaan wanita itu.


Moura kembali mendengus, dia pikir bosnya mengambil kesempitan dalam kesempatan!


"Waaaaah!!! Indahnya..." pekik Moura setelah berada di tempat yang di tetukan.


Moura berjalan mesra dengan Noegha hanya ada mereka berdua di sana. Noegha membawa Moura melintasi pantai sejauh 200 meter kedepan sana. Moura yang baru pertama kali melihat semua keindahan ini begitu takjub dan terus mengucap syukur.


'Terima kasih Tuhan, di balik kesialanku selalu saja ada hal baru yang bisa aku nikmati. Bahkan ini pertama kalinya aku mendapatkan perlakuan seperti ini dari seorang pria. Aku tidak menyangka dia adalah atasanku!!'


Moura mencuri pandang ke arah Noegha, pria tampan itu juga tengah menikmati pemandangan di depan matanya. Moura memberanikan diri menutup mata, menghirup udara malam dia bahkan tidak menyangka di sisi kiri kanan lokasi mereka adalah lautan lepas.


Cup~


Moura membuka matanya seketika, pria disampingnya kembali berulah! Dia mencium pipi Moura perlahan dan singkat.


"Kamu tidak sopan!! Kamu semakin kurang ajar!!" umpat Moura kesal merasa dia tidak memiliki harga diri di mata Noegha.


"M-Maaf Ra... Kamu sungguh menggoda!" lirih Noegha di hadapan Moura. "Kamu tahu ga ini di mana?!" seketika Noegha mengalihkan perhatian kekesalan Moura sebelum wanita itu protes dan membuyarkan atmosfir mereka saat ini.


"Tentu saja tidak!!" sungut Moura kesal membuang wajahnya.


"Namanya Turi Beach, Batam terbagi menjadi beberapa wilayah. Nama daerah ini adalah Nongsa, di sini kita bisa melihat jelas negara Singapore di depan sana."


Mata Moura menyelidik, beruntung cuaca terang dia kemudian tersadar langsung menutup mulutnya dengan bola mata membulat. Noegha benar, dia kemudian menatap Noegha saat ini.


"Serius itu Singapore?!" dengan logat daerahnya dan mimik menggemaskannya Moura bertanya pada pria tampan di depannya.


"Tentu saja, apa kamu sudah punya paspor?! Lain kali aku akan mengajak mu kesana. Hanya 40 menit saja dari sini."


Mulut Moura semakin terbuka lebar dengan perkataan Noegha, semangatnya kembali membara. Bahkan pikiran nistanya sudah terbang kemana-mana. Dia sudah membayangkan saat pulang kampung dia akan menyombongkan dirinya bahwa dia pernah menginjakan kakinya di negeri kepala singa dengan kaki ikannya itu!


To be continue...

__ADS_1


*****


__ADS_2