
"Heh!" Senyum smirk seorang wanita yang tidak sengaja tengah melintas keluar dari persembunyiannya.
"Thanks GOD! Aku selalu di berikan lagi kesempatan menindasmu Moura!" papar gadis yang tak lain dan tak bukan musuh Moura yang selalu saja ingin menghancurkannya.
Margareth merogoh ponsel di tas mahalnya, dia menghubungi seseorang dengan raut wajah culasnya.
"Aku ingin kamu membantuku mencari tahu profil seseorang."
"....."
"Tenang saja, aku akan mengirimkanmu sejumlah uang sebagai uang muka!"
Margareth menutup ponselnya dan tertawa lirih menuju ruangan di mana ia bekerja. Dia tidak mengenal apa itu namanya kapok atau tobat.
Sedangkan di sisi lain di ruangan Presidir, Moura meringis mendapati pergelangan tangannya di cengkram erat oleh pria yang selalu membuat hari Moura apes semenjak pertemuan mereka di hari ia pertama bekerja.
Braaak!
Dengan emosi Noegha membanting cooler bag Moura di atas meja yang tersedia untuk menerima tamu di ruangan besarnya.
"JELASKAN PADAKU MOURA!" berang Noegha dengan wajah memerah. "Bukankah kamu single? Mengapa kamu memerah ASI HAH?!" bentak Noegha kembali membuat telinga Moura di rasa berdengung.
Tanpa di prediksi sebelumnya, mengapa begitu cepat statusnya terbongkar saat ini juga. Padahal dia sudah melakukannya dengan rapi sejauh ini. Hanya karena Noegha terlalu menempel dengannya sehingga ruang geraknya benar-benar di batasi dia bahkan seperti terhimpit.
"KENAPA KAMU MASIH DIAM JERK!!" maki Noegha sudah sangat emosi hingga ubun-ubunnya. Dia tidak percaya di kelabui dengan mudahnya oleh wanita. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, Moura benar-benar orang yang berani menjungkir balikkan keadaan Noegha saat ini.
Lidah Moura masih terasa kelu, dia justru tengah berderai air mata. Rasanya sesak yang selama ini ia tahan membuncah saat ini juga. Noegha tersadar dia sungguh di luar batas sekarang.
"Maafkan aku membentakmu," tutur Noegha melemah, dia beringsut mundur dan kembali menatap keluar jendela memegang kepala dengan kedua tangannya. "Kamu memiliki bayi berarti kamu sudah bersuami hah?" tanya Noegha langsung tidak ingin memperlama masalah mereka.
Moura mendongak, meneguhkan hati dengan mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Dia sudah siap menerima konsekuensinya, mau bagaimanapun dia memang berbohong pasal statusnya demi mendapatkan pekerjaan instan
"Maaf Pak, aku memang mempunyai bayi yang masih sangat kecil. Aku membohongi statusku demi bisa mendapatkan pekerjaan." jawab Moura lugas. "Saya tahu konsekuensinya, jika begitu mulai hari ini saya keluar dari Adhiaksa Utama," imbuhnya kemudian menundukan tubuhnya. "Sekali lagi maaf dan terima kasih, untuk biaya pinalti anda boleh melayangkannya pada saya. Insya Allah saya siap membayarnya." Tanpa menunggu jawaban Noegha Moura mengambil cooler bagnya dan bersiap meninggalkan ruangan yang seperti ruang hampa udara menyesakan dadanya.
Mendengar ketegasan Moura dalam menyikapi kesalahannya, secepatnya Noegha beranjak dan menahan lengan wanita itu. "Aku kan hanya bertanya? Mengapa kamu pikir aku memecatmu HAH?" cetus Noegha kesal.
'Apa aku harus menjawab ala cepmek? Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya~' Moura sungguh telah kepalang gila.
__ADS_1
"Kamu mempunyai bayi berarti kamu mempunyai suami HAH?" Sudah di pastikan kemana arah tujuan Noegha.
"Saya memang memiliki bayi, tapi tidak dengan suami. Saya sudah bercerai dengannya dua bulan setelah putriku lahir!"
DEG!
Denyut jantung Noegha seolah tengah di remas kencang oleh pernyataan wanita incarannya. Bagaimana bisa dia melewatkan hal detail ini. Dia hanya mengandalkan data dari pihak HR yang merekrutnya, padahal dia sangat mampu menyewa jasa intel untuk memeriksa profil Moura selengkapnya.
"Huh!" dengus Noegha kasar dia juga mengusap wajahnya perlahan menunjukan raut wajah kecewa di hadapan Moura. Si wanita hanya mampu menundukan wajahnya, dia harus kembali meratapi nasib sialnya. Bukannya untung bekerja saat ini, dia malah buntung. Helaan nafas beratnya sampai terdengar di telinga Noegha. Pria itu mulai bisa terkekeh sekarang.
"Aku tidak menyangka ada suami bodoh yang menyia-nyiakan kamu hmm?" ucap Noegha kembali mendekati Moura yang kini berada di dekat pintu. Moura mulai beringsut mundur perlahan. "Tapi baguslah, pria itu memang tidak pantas untukmu. Kamu lebih pantas menerima yang jauh lebih baik lagi!" lanjut Noegha menatap tajam kedua manik bening milik Moura yang selalu menggodanya.
Moura mengernyitkan keningnya. "M-maksud Bapak?"
"Pantas saja kamu selalu menolak aku dekati, bahkan sekedar makan malam saja kamu sangat gelisah. Jadi di mana bayimu di titipkan?" tanya Noegha kembali membuat Moura tertahan di ruangannya. Rasanya kaki Moura sudah lelah berdiri, terlebih batinnya sudah sangat lelah dengan kejadian bertubi-tubi hari ini.
"Ada daycare di dekat tempat aku menyewa rumah." jawab Moura datar, dia tidak mengerti mengapa juga bosnya peduli pada buah hatinya.
"Baiklah, aku tidak mempermasalahkannya. Toh kamu sudah jadi janda bukan istri orang, jikapun istri orang mungkin aku akan sedikit bebal merebutmu jika diperlukan." ucap Noegha tegas kembali menuju kursinya menyisakan Moura yang sudah membuka mulutnya lebar.
"Pergilah, kerjakan tugasmu kembali... Jangan harap kamu bisa keluar dari perusahaanku begitu saja!" usir Noegha dengan masih menyisakan kebingungan di diri Moura.
Sore harinya Noegha kembali menyuruh Moura untuk pulang bersamanya, Moura tidak punya pilihan walau sebenarnya bisa saja dia kabur tanpa peduli. Tetapi, ada rasa lain yang membuat Moura untuk tetap bertahan di usili atasannya selama masih batas wajar tidak masalah pikirnya. Terlebih dengan di antar dan jemput maka dia akan menghemat uang transportasi.
"Jika boleh tahu, kenapa kamu bercerai?" tanya Noegha masih penasaran dengan kandasnya rumah tangga wanita incarannya. Setelah kepergian Moura dari ruangannya pria itu justru tidak bisa bekerja, kepalanya di penuhi oleh Moura. Bagaimana bisa gadis yang masih belia itu jatuh pada pria brengsek?
Moura terdiam, tentu saja dia tidak ingin masalah pribadinya di ekspose. "Apa kamu begitu senang mengurusi hidup orang?" jawab Moura ketus dengan sebuah pertanyaan balik.
Noegha menyunggingkan senyumnya. "Boleh aku mampir?" tanya Noegha kini lebih berani.
"Tiydak!" tolak Moura langsung membuat Noegha kembali terkekeh di perlakukan seperti pengemis cinta oleh seorang janda.
"Ok, tidak mengapa kita pelan-pelan saja Sayang, toh kelak nanti kamu akan jadi milikku!" tukas Noegha yakin. Moura menatap wajah Noegha yang tengah memetakan senyum smirknya.
"Apa kamu gila Gha? Aku janda loh, bawa anak pula!" umpat Moura merendahkan dirinya. "Jika benar kamu tidak mempunyai wanita, maka lebih bagus kamu mencari wanita lain yang jauh lebih baik dari aku. Terlebih cari perempuan yang masih segel!" lanjut Moura dengan sedikit mengeluarkan emosinya.
Noegha telah sampai di pelataran tempat tinggal Moura\, dia menegaskan rahangnya menatap Moura seketika. "Sayangnya\, hati aku tiba-tiba terpaut oleh mu Baby..\," bisiknya lirih di cuping telinga Moura\, tidak sampai di situ Noegha telah men*ji*lat dengan ujung lidahnya membuat tubuh Moura bergetar tanpa perlu jeda.
__ADS_1
"NOEGHA!!" pekik Moura tidak terima di perlakukan demikian dia segera menghindar dengan mengusap bekas sapuan lidah Noegha oleh tangannya. Noegha menikmatinya, dengan cepat dia menghempas tubuh Moura mendekatinya.
"Sekarang, kamu milikku Moura!" bisiknya sebelum Moura merutuk pria itu sudah mendaratkan bibirnya di bibir seksi wanitanya.
'Pantas saja ciumannya terasa pro dia sudah berpengalaman tentu saja!' umpat Noegha merasa kesal bukan dirinya yang mendapatkan yang pertama dari tubuh Moura.
***
Keesokan harinya seperti biasa Noegha menjemput Moura lebih dulu kemudian mengajaknya sarapan bersama. Kali ini Noegha mengajak Moura ke tempat lain yang sering di panggil kopitiam di banding pujasera dengan arti yang sama.
Seperti sebelumnya Moura lebih dulu keluar dari mobil Noegha dan bergegas menuju kantor. Moura tidak lagi berpikir bahwa dirinya sudah aman dari ancaman. Kenyataannya tidak ada habisnya orang-orang mengerjai Moura, kali ini baru saja Moura menginjakan kakinya di lobby salah satu rekan Margareth dengan sengaja menyiramkan minumannya ke arah Moura.
"Upss, sorry..." cicit Ratu teman Margareth berujar di depan Moura yang kini pakaiannya basah terkena cipratan air. Moura mendengus kesal ingin rasanya ia menjambak Ratu segera saat ini juga. Di edarkannya pandangan Moura dia tidak melihat Margareth, mengapa rekan yang lain begitu berani melakukan hal ini padanya tanpa ada dalangnya.
"Tangan gue gatel soalnya pengen nyiram orang yang ga tau diri bohongin statusnya di depan orang-orang demi apa gak tau juga!" Suara nyaring Ratu membuat orang-orang kembali berduyun-duyun menyaksikan penindasan yang terjadi pada Moura.
"Moura lagi ya? Emang idola banget sih doi terus di kejer ama team Si Margareth." salah satu orang yang senang melihat pertunjukan berbincang dengan temannya.
"Ya wajah dong, dia cantik kalah saing lah Si Selebgram yang followernya baru tak seberapa! Haha," sahut teman yang lain menimpali.
"Ada masalah apa ya kamu selalu berurusan dengan saya!" umpat Moura merasa Ratu sudah di luar batas.
"Dih mulai keliatan kan arogannya, awal-awal sok lugu taunya tidak tahu malu!" sarkas Ratu bersidekap tangan di depan Moura. "Asal kalian tahu ya, Moura ini seorang janda! Tapi di aplikasi melamar kerja dia tulis single dong!! Belum lagi doi udah punya anak, dia sering banget kedapetan abis pumping ASI!" cecar Ratu membuat keberanian Moura merosot tajam saat statusnya mulai terbongkar.
'Bagaimana bisa? Apa mungkin kemarin ada orang yang memergokiku?' rutuk Moura dalam hatinya.
"Kasihan sih, ga ada yang bantuin ngabisin ya, makanya gatel tebar pesona sana sini!"
PLAAAAAAK!
Tanpa berlama-lama Moura menampar wajah Ratu. "Mulutmu di jaga ya Nona!" sungut Moura emosi.
"Kau berani menampar emang ga tau malunya ketulungan!" Ratu bersiap membalaskan tamparan Moura tanpa mereka sadari Noegha kembali membantu Moura. Pria itu menahan pergelangan tangan Ratu yang akan memukul ke arah Moura. Moura tertegun, padahal dia sendiri sudah bersiap menahan serangan.
"Kalian sungguh semakin hari semakin ngelunjak ya!" tekan Noegha dengan tatapan tajam seolah tengah memangsa.
Tubuh Ratu bergetar seketika dengan keberadaan Noegha 'Sialaan, tiap kali kita nindas cewek ini pasti Si Bos dateng di belakangnya segera. Apa mungkin mereka datang barengan?' Ratu memiliki prasangka atas sikap Noegha yang selalu ada di waktu mereka membully Moura suatu hal yang aneh, biasanya Bosnya itu tidak pernah terlihat kedatangannya.
__ADS_1
To be continue...
*****