
"Hey Araaa..." panggilan Noegha membuat Moura kembali tersadar dari kegelisahan hatinya saat ini.
Dengan menatap lekat putrinya yang terlelap pulas dia tersenyum bahagia sejenak, Moura bangkit perlahan dari ranjangnya menuju area tengah rumah.
"Ara? Apa kamu tertidur?" tanya Noegha perlahan memastikan dengan sedikit kesal.
Moura menahan tawanya, dia tidak menyangka bahwa bosnya bisa memiliki sifat kekanak-kanakan yang mendominasinya.
"Bukankah ini sudah jam malam?!" sahut Moura menjawab si pria yang sudah mencecarnya sedari tadi.
"Malah balik nanya lagi!!" kesal Noegha menjawab cepat. Dia selalu tidak bisa menembus pertahanan mendapatkan perhatian dari wanita yang disukainya.
"Besok aku jemput ya Ra, kita kan searah." Noegha harus berpikir cepat mencari bahan perbincangan dengan Moura saat ini di banding di tutup sepihak.
'Setelah itu kamu mengetahui putri dan statusku?! Oh nehi-nehi... Aca... Acaaa!!'
"Tidak perlu, akan sangat merepotkan!! Terlebih aku tidak mau kembali di rumorkan menjadi wanita simpanan kamu!!"
Noegha tertegun dan segera mencerna apa yang barusan di katakan Moura. 'Simpanan aku?! Jadi selama ini yang dirumorkan dengan Moura adalah aku?!'
Betapa girangnya Noegha saat menyadari kenyataannya. 'Segitu aja dia ga mau jujur malah berusaha nutupin dan selesein sendiri!! Tambah lagi hal yang bikin kamu bernilai plus di mataku Moura!!'
"Kamu tenang aja, tidak akan ada yang berani menggosipkanmu lagi kedepannya. Kamu bukan simpananku. Kamu akan jadi wanitaku!!" tukas Noegha tanpa jeda terdengar begitu meyakinkan membuat Moura terbelalak dengan pernyataan sepihak bosnya.
"Wanitamu?! Apa kepalamu kembali terbentur?!" hardik Moura langsung.
"Tentu saja tidak, memang kenapa jika aku ingin kamu menjadi wanitaku hmm?!" ucap Noegha kembali melobi Moura. "Apa kamu keberatan?"
Noegha segera mencecar Moura dengan nada ketusnya, dia heran Moura senang sekali mengajaknya baku hantam. Jika wanita lain pasti senang jika Noegha memperhatikan mereka. Tak jarang justru mereka-lah yang mengejar dirinya untuk meminta perhatian.
"Apa aku tidak begitu menarik Ra?" tanyanya kemudian. "Apa sih kriteria cowok idaman kamu? Apa aku tidak termasuk?!" Noegha terus merayu wanita pujaannya.
Sungguh di luar dugaan Moura, hal ini tidak pernah terpintas sedikitpun terjadi di hidupnya yang baru saja dia tata kembali. Moura merasa perbincangan ini tidak akan selesai dan tidak akan ada habisnya. Mengingat Noegha akan terus memojokannya dengan hal-hal tidak masuk akal akan hubungan mereka.
"Sepertinya hal seserius ini tidak pantas di bahas via sambungan telpon bukan?!" Moura kembali tidak ingin menjelaskan atau memberikan harapan atas status mereka. "Noegha, aku ngantuk... Aku tutup ya.."
Duaaar!!
Rasanya bom cupid di dalam dada Noegha meledak saat ini juga setelah mendengar betapa merdunya Moura mengucapkan namanya.
"Apa Ra?" lirihnya ingin kembali memastikan apa yang ia dengar.
"Heh?!" Moura berkerut kebingungan. "Maksud kamu?!" tanyanya memastikan.
"Aku ingin dengar kamu panggil namaku lagi Ra! Please..," pinta Noegha memelas.
'Astaga dragon!! Bos gue beneran lagi mohon ini teh?'
"Noegha..." lirih Moura malu-malu justru menunjukan perasaannya.
__ADS_1
Di sebrang sana Noegha tengah tersenyum menutup matanya membayangkan Moura di sampingnya mengucapkan namanya dengan merangkul pundaknya.
"Noegha Adhniaka Bagaskhara..." canda Moura justru memperpanjang durasi mereka dengan menyebut nama panjang bosnya seperti seorang guru yang tengah mengabsen nama muridnya.
"Iya Sayaang," jawab Noegha tak kalah merdu saat ini.
DEG!!
Jantung Moura seperti terlepas dari tempatnya. Saat pria itu mengucapkan sayang rasanya seperti seorang pacar yang tengah memanggilnya.
"Kamu ngawur ih, mentang-mentang dah malem makin kesini makin kesana!!" rengek manja Moura.
"Hahaha... Bolehkan aku panggil Sayang, apa ada yang marah mm?"
Moura terdiam, jelas ini tidak benar rasanya semua terdengar seperti jebakan Batman!!
"Tapi kan aku bukan Sayangnya kamu!!"
Noegha sungguh tidak tahan mendengar kata-kata yang dilontarkan Moura seolah begitu manja hanya di tujukan untuknya.
"Kamu mau ga jadi Sayangnya aku?!" ujar Noegha terdengar ragu. Bukan karena ragu menjadikan Moura wanitanya, melainkan ragu Moura akan menerimannya.
"Kamu ni aneh, belum pdkt apa-apa dah duluan nembak!!"
"Dasar crocodile!!" canda Moura dengan kekehan yang di balas sama dengan kekehan malu di sebrang sana.
DEG!
Lagi-lagi Moura merasa dia perlu memeriksakan kondisi jantungnya pada dokter specialis. Pasalnya debar jantungnya selalu tidak menentu di waktu yang tidak bisa di pastikan.
"Jemput ga usah tapi kalo antar boleh aja..." lirih Moura seolah memberi lampu kuning!
Terdengar di sebrang sana ungkapan YES dengan semangat memperlihatkan betapa bahagianya dia mendengar jawaban Moura. Setelahnya sambungan terputus tak lupa keduanya mengucapkan selamat malam mengakhiri sambungan.
Moura mengatupkan bibirnya gelisah, dia sungguh telah melanggar prinsipnya yang tidak ingin lagi berhubungan dengan lawan jenis. Moura bergegas menuju kamar dan segera terlelap dalam sulaman mimpi indah. Nyatanya justru dia tengah bermimpi buruk, bahkan terlihat seperti kenyataan yang di putar kembali.
***
"Bee, aku sudah di depan kosan kamu!"
"Owh iya Beb bentaran aku baru bangun soalnya..."
"Ya elaaah... Aku masuk ya?!"
Sambungan terputus kemudian si pria dengan senyum yang mengembang terukir jelas di wajahnya memarkirkan mobilnya segera di samping kosan Moura yang memang tidak memiliki area parkiran. Bangunan setinggi tiga lantai itu hanya memiliki pekarangan khusus di gunakan oleh para penghuninya. Si pria bergegas membuka pintu dan menemui penjaga tempat mengatakan kamar Moura kemudian diijinkan masuk.
Tok... Tok... Tok...
Dengan semangat si pria mengetuk pintu kamar Moura yang terletak di paling ujung.
__ADS_1
Ceklek!
Moura keluar dengan tampilan sehabis mandinya. Walau sudah mengenakan T-shirt dan celana hot pantsnya Raffa menelan ludahnya serat. Pria itu begitu mengagumi keindahan lekuk tubuh Moura yang profesional menurutnya. Moura memiliki tinggi badan 160 cm dengan berat badan 50 kg dengan ukuran buah dada yang cukup besar serta bokong yang solid dengan warna kulit yang putih bak pualam serta rambut panjang yang sedikit bergelombang. Setiap orang yang melihatnya pasti akan terpesona dan ingin memilikinya. Begitulah dulu Raffa begitu mendamba memiliki wanita pujaan seperti Moura.
"Nih aku bawain sarapan..." Raffa mengulurkan bungkusan plastik yang dia bawa.
"Ah Sayaaang you know me so well deh!!"
Moura menghambur memeluk prianya yang tentu saja di sambut dengan pelukan yang sama. Raffa segera mendorong tubuh wanitanya dan menutup pintu kamarnya sebelum ada yang melihat keduanya.
"Mmmmm..."
Raffa segera memagut bibir kekasihnya yang menggoda dan penuh dengan warna yang alami tanpa polesan apapun.
"Ahh Bee, kamu harum sekali!!" lenguh Raffa merasa hasratnya menggelora saat ini.
"Namanya juga baru mandi... Hehe"
Raffa adalah pacar pertama Moura, keduanya menjalin hubungan setelah saling suka pada pandangan pertama. Raffa adalah kakak tingkat Moura di kampus. Pria itu mengincar Moura saat melihatnya di acara penyambutan mahasiswa baru. Tanpa pikir panjang Raffa melakukan pendekatan dan baru jalan saling mengenal selama satu bulan keduanya jadian. Sampai di usia hubungan mereka yang sudah terjalin selama 4 tahun lamanya, Raffa berniat melamar Moura, dia begitu serius dengan wanitanya.
Dia benar-benar mencintainya, perselisihan tentu saja sering terjadi namun mereka mampu mengatasinya. Selama 4 tahun juga hubungan mereka normal tidak seperti kebanyakan pasangan yang nekat melakukan hubungan bebas sebelum waktunya seperti kebanyakan teman-teman mereka. Raffa dan Moura memegang teguh prinsip mereka juga sebagai bentuk tanggung jawab mempertahankan kepercayaan keluarga mereka.
"Bee..."
"Hm?!"
Moura mendongak menatap wajah prianya. Raffa memeluknya dengan merebahkan dirinya di ranjang. Bukannya Raffa tidak tergoda, apalagi dengan kemolekan dan harum tubuh Moura yang selalu menguji imannya. Dia sudah sangat menahan hasratnya jika bersama dengan kekasihnya.
"Love you..." Raffa mengecup kening wanita serta memeluknya erat.
Moura terpana dan segera membalas kata cinta prianya. "Love you too Babe!"
"Setelah kelulusan ku bulan depan, aku ke rumah mu ya Bee?!" tanya Raffa dengan nada serius.
"Oh oke... Kamu mau traktir Ibu sama Ayah ya?!" sahut Moura menggoda. "Apa mau nyogok Laila?!"
Moura menggoda prianya dengan menggigit dagunya. Raffa juga termasuk kategori pria menawan, di dukung dengan status keluarganya yang merupakan keluarga berada. Meski berada sikap mereka begitu baik dan menerima keberadaan Moura yang berasal dari keluarga menengah.
"Kamu godain aku gitu aku makan kamu nanti!!" ujar Raffa mencengkeram dua squishy kesukaannya.
"Aaarghh Ayaang ih nakaal!!" pekik Moura namun tidak mencegah atau menghardiknya.
"Aku akan melamarmu sayang..." bisik Raffa tepat di cuping telinga Moura.
Bergetar tubuh Moura, bukan karena terharu lantas bahagia. Melainkan sebaliknya, dia sungguh sangat takut. Dia masih memiliki mimpi yang masih ingin ia kejar, menjadi wanita karir, menjadi seseorang yang masih bebas kesana-kemari tanpa menghiraukan status pernikahan. Moura belum siap jika harus menerima pernikahan di usianya yang masih belia dan menyukai kebebasan bahkan saat ini dia sendiri belum lulus kuliah.
To be continue...
*****
__ADS_1