
"Terima kasih Gha..." ucap Moura tulus saat Noegha telah mengantarkan Moura kembali ke kediamannya.
"Heh... Sama-sama..." Noegha menatap Moura yang masih terlihat sendu kali ini. "Bagaimana jika dia kembali mengganggumu? Apa dia tahu rumahmu ini?" tanya Noegha perhatian.
"Tidak... Tenang saja dia tidak tahu, lagi pula aku yakin dia tidak akan berani macam-macam padaku." Moura berkata sebaik mungkin, dia tidak ingin menggantungkan dirinya pada pria itu. Hanya karena tadi dia berada di tempat umum Moura tidak bisa melawan Raffa. Lagi pula Moura sangat mengetahui kelemahan pria yang sudah berada di sampingnya selama lima tahun terakhir.
"Huh... Aku kok ngerasa gak tenang... Apa kamu mau tinggal di kediamanku? Aku ada banyak rumah... Kalau-kalau dia tiba-tiba datang dan kembali menyusahkanmu dan memisahkanmu dengan Qilla." Noegha mencoba membujuk Moura, selain memang bentuk perhatian dalam mengejar cinta Moura, Noegha juga mengambil kesempatan untuk selalu berdekatan dengan wanita itu.
"Tidak terima kasih, kalau begitu aku pulang dulu ya... Bye!"
Moura tidak lagi memperlama dirinya berada di dalam mobil Noegha. Wanita itu perlahan membuka pintu dan turun membawa Qilla yang masih terlelap di dalam dekapannya. Dengan berat hati Noegha akhirnya meninggalkan kawasan rumah Moura. Setelah kepergian Noegha, Moura bergegas melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Tiba-tiba saja dia mendengar bunyi klakson mobil lain ke arahnya.
Tiiiin!
"Shiiit!"
"Huaaaaaa..."
"Cup... Cup... Cup... Sayaaang kaget ya... Kurang ajaaar emang mentang-mentang punya mobil seenaknya aja ama pejalan kaki!" rutuk Moura menenangkan bayinya yang menangis karena terkejut.
"Bee!"
DEG!
Seketika tubuh Moura berhenti dan denyut jantungnya berdetak tidak karuan. "Mengapa dia ada di sini?" gumam Moura berniat mengabaikan panggilan Raffa dan meneruskan langkah kakinya. Tapi apa daya lengannya telah di tangkap oleh mantan suaminya dengan segera.
"Bee tunggu!" pinta Raffa mendesak.
"Raf, please ini sudah malam... Tidak enak di dengar tetangga nanti!" sahut Moura menatap Raffa dengan memelas.
"Karena itu, kamu ikut aku sebentar ya... Please... Aku janji tidak akan melakukan apapun lagi padamu. Aku rindu Qilla!" bujuk Raffa tak kalah mengiba dari wajah Moura saat ini.
Moura menelan salivanya, dia tidak ingin menjadi bahan gunjingan para tetangga. Segera dia menuju mobil yang di gunakan mantan suaminya itu, entah milik siapa yang jelas pria itu menyunggingkan senyuman, dia akhirnya menang!
Raffa menuju mobil yang di sediakan kantor untuk dia gunakan selama dia melakukan business trip di Batam. Dia sungguh beruntung memiliki kolega yang memintanya melakukan verifikasi langsung ke lokasi pabrik mereka di Batam. Dia akhirnya bertemu keluarga kecilnya yang tiba-tiba menghilang begitu dia cari di Bandung Moura tidak di temukan bahkan di kediaman orang tuanya yang memang sudah tidak lagi memperdulikan wanitanya.
"Kita mau kemana Raf, Qilla tidur?" tanya Moura sendu. Moura paling mengetahui karakteristik prianya. Raffa juga memiliki tempramen yang buruk jika emosi. Moura harus bisa mengendalikan mood Raffa yang selalu naik dan turun jika dalam kondisi emosi.
"Hotel... Kebetulan ada pertemuan bisnis sama kolega di sini." ujar Raffa tersenyum tampan membuat batin Moura bergejolak.
'Tidak, pria ini sudah tidak bisa di harapkan lagi!' batin Moura menguatkan dirinya kembali pada keyakinannya untuk menjadi single mandiri.
"Jadi Linda juga ikut denganmu?" tanya Moura entah mengapa pertanyaan ini terlontar begitu saja. Dia juga memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Linda adalah sekretaris Raffa, gadis itu penyebab retaknya pernikahan Moura.
__ADS_1
"Hm.." Raffa sedikit terkekeh ternyata wanitanya masih membahas wanita lain berarti Moura masih peduli dan cemburu padanya. "Tidak Sayang, aku sudah memecat Linda semenjak dia membuat kerusuhan!"
"Alaah..." cicit Moura lirih.
"Hahaha... Kamu cemburu ya Sayaaang?" goda Raffa.
"Mana mungkin!" pungkas Moura cepat.
Raffa menyunggingkan senyum tampannya sembari menggelengkan kepalanya. Tak lama mereka sudah berada di pelataran sebuah hotel besar di area Batam Centre yang tak begitu jauh memang dari area tempat tinggal Moura. Bahkan hotel itu hanya berjarak beberapa meter saja dari Mall yang baru saja Moura kunjungi sebelumnya.
Dengan cepat Raffa turun dan membukakan pintu bagi wanitanya. Rafa juga menggantikan Moura menggendong Qilla. Gadis mereka tidak terbangun sama sekali, mungkin bau tubuh ayahnya sudah di hafal oleh gadis mereka. Moura tertegun dengan perlakuan Raffa saat ini. Tanpa sepengetahuan Raffa Moura mengusap sudut matanya yang basah.
"Sayang, ambil kunci ya atas nama Sayangmu!!" goda Raffa di depan wajah lelah Moura.
"Hih!!" hardik Moura namun wajahnya tersipu dan bergegas menuju receptionist Raffa sungguh gemas terhadap wanitanya.
Ketiganya sudah berada di salah satu kamar type president suite. Moura sudah tidak aneh sebenarnya, selama dia menjalin hubungan dengan Raffa sudah tidak terhitung mereka selalu melakukan staycation dalam kota maupun luar kota. Bahkan keduanya berbulan madu ke Cappadocia biar serasa di novel yang sedang booming karena kisah perselingkuhan berbagi suami itu.
Apapun permintaan Moura meskipun aneh Raffa akan mengabulkannya tanpa berpikir panjang, kecuali kebebasan wanita itu tentu saja. Dengan sigar Moura mempersiapkan alas untuk di gunakan Qilla tidur di ranjang berukuran besar. Dengan perlahan Raffa menidurkan putri cantiknya, sebelum ia tinggal dia mengecup kening putrinya yang bersih, lembut dan harum bayi yang membuat siapapun yang menghirupnya selalu ingin terus menciuminya.
Moura beringsut dia memilih beranjak menuju balkon kamar. Akhirnya selama di Batam dia bisa juga relaksasi berada di salah satu hotel mewah dan menikmati pemandangan malam kota. Mata Moura terbelalak saat sebuah rangkulan hangat dari tangan kekar prianya sudah melingkar di sana.
"Raaafff!" pekik Moura berusaha menepis tangan mantan suaminya. Harum Aigner yang samar masih terhirup di hidung Moura sungguh membuatnya melemah saat ini.
"Sebentar aja Bee... Aku rindu kamu...." Raffa semakin mengeratkan pelukannya Moura terdiam tanpa kata. Jika di tanya apa wanita itu juga sama rindunya? Mungkin jawabannya 50:50 di tengah semarak akan rindu dan cintanya yang besar pada pria yang sudah mempersunting bahkan mengahamili dirinya sebelum ijab terikrar. Pria itu juga telah menoreh luka di lubuk hati paling dalam.
Raffa membalikan tubuh Moura. "Kamu selalu terlihat cantik, aku benar-benar pria bodoh! Melepaskanmu begitu saja hanya karena aku sangat emosi pada keras kepalamu. Pada keyakinanmu yang tidak pernah mempercayai tulusnya cintaku padamu Moura!"
Raffa membelai lembut wajah wanita yang akan selalu bertahta di hatinya. Moura telah menjatuhkan ribuan air matanya. Perlahan tangan prianya menyapunya dan tanpa sadar mencium bibir Moura yang sudah bergetar seolah menggodanya.
Tidak ada perlawanan dari Moura membuat gadis itu terlihat tidak memiliki pendirian. Apa yang ada dalam benaknya membuat dia mengijinkan mantannya kembali menjamah tubunya?
"Mmmm... Aaarghh... Raf jangaaan..."
Raffa telah menuntun Moura masuk kedalam kamar, merebahkannya di sofa dan kembali menyesap bibir yang selama ini dia rindukan. 'Rasanya selalu sama seperti pertama kali aku menyentuhnya.'
Dengan kekuatan yang ada Moura mendorong tubuh Raffa. "Jangan Raf, kita sudah bukan mahrannya!"
"Hahaha, kamu lucu... Dulu kita pacaran kayak mana bablasnya!" ejek Raffa menarik tubuh Moura dan mereka duduk bersama di sofa besar.
"Apa kamu bahagia setelah berpisah denganku Bee?" tanya Raffa berubah sendu. "Karena aku..., aku menyesal melepasmu... Melepaskan orang yang selalu aku pertahankan mati-matian. Bahkan agar kamu terjerat pernikahan denganku aku menghamilimu! Lantas mengapa kita berpisah sekarang?" Raffa menunduk kedua tangannya menekan kepalanya seperti orang yang teramat depresi.
Sakit sekali rasanya mendenagr pernyataan mantan pacar sekaligus mantan suaminya. Moura kembali menangisi keadaan mereka saat ini. Dia sendiri sudah tidak ingin terjebak di kondisi seperti ini. Alasan kuat mengapa dia nekat terdampar di pulau yang bukan area jajahannya.
"Ini memang berat dan tidak mudah... Tapi kita bisa membuat komitmen baru walau tanpa ikatan pernikahan." ucap Moura begitu saja.
__ADS_1
"Maksudmu apa Bee?" Raffa mendongak menatap wanitanya. Pria itu tengah menangis membuat perasaan Moura mencelos seketika ke dasar jurang.
"Demi Qilla, kita masih bisa berhubungan baik Pap..." imbuh Moura ikut menangis, tangannya meraih wajah Raffa yang bersih. Raffa terkekeh pilu, sampai detik ini wanitanya tidak menerima dirinya.
"Apa kamu tidak mau kita menikah lagi Bu?" sahut Raffa dengan nada konyolnya membuat Moura geli dan tertawa.
Keduanya memiliki panggilan yang tidak mengikuti standard di mana Raffa di panggil papap dan Moura tetap dengan gelar terbaiknya memilih untuk di panggil ibu oleh putrinya. Mengapa Raffa tidak di panggil bapak saja atau ayah? Bukankah hasil akhirnya jadi lebih bagus Ayah-Ibu atau Ibu-Bapak mungkin terlalu kuno untuk generasi zaman now.
"Aku sangat menyukai tawamu Bee... Rasanya kegelisahanku lenyap begitu saja." Tanpa meminta ijin seperti biasa Rafa kembali menarik tubuh Moura dalam dekapannya dan meminta ciuman di bibir mantan istrinya. Semakin lama ciuman itu semakin liar. Bahwan tangan Raffa sudah sangat berani menjamah tubuh yang sudah menjadi mantan istrinya lebih parahnya lagi Moura dengan sadar mengijinkannya.
~ IF YOU
IF YOU
Ajik neomu neujji anhassdamyeon
Uri dasi doragal suneun eopseulkka
~ IF YOU
IF YOU
Neodo nawa gati himdeuldamyeon
Uri jogeum swipge
Gal suneun eopseulkka
Isseul ttae jalhal geol geuraesseo
~ JIKA KAMU
JIKA KAMU
Jika tidak terlambat bisakah kita kembali bersama-sama?
~JIKA KAMU
JIKA KAMU
Jika kamu berjuang seperti saya... Bisakah kita membuat hal sedikit lebih mudah?
Aku seharusnya memperlakukanmu lebih baik ketika aku memilikimu
To be continue...
__ADS_1
*****
Note : Lirik music IF YOU - Bigbang www.celebrities.id