Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
13 # Terbongkarnya Status


__ADS_3

Moura kembali terpaku dengan menelan salivanya berat. Baru tadi di dalam mobil mereka melakukan ciuman panas. Pikiran Moura melayang entah kemana, dia tidak fokus apa yang di tanyakan oleh bosnya.


'Ya Tuhan wangi parfume mahalnya menggetarkan jiwa missqueenku... Toloong!' Moura semakin gelisah dia mengatupkan bibirnya erat.


Noegha yang menyadari kegelisahan Moura tersenyum dan kembali mengerjai wanitanya. Menempelkan bibir penuhnya di permukaan bibir lawan di hadapannya.


DEG!!


"Kamu ketagihan berciuman denganku hmm?!" tanya Noegha percaya diri.


"Apa?!" pekik Moura lirih tidak percaya bahwa bosnya tengah kegeeran saat ini.


"Bapak nyosor terus aku mana berana ngelawan. Salah-salah aku di pulangin ga di gaji!" umpat Moura membela diri.


"Hehe, makanya kamu harus patuh padaku Sayang! Jangan panggil bapak kalo lagi berdua!!" ujar Noegha kembali menuju tempat duduknya. "Semalam ada kejadian apa? Kenapa ga ada bilang apa-apa padaku sebelumnya?!" tanya Noegha kembali pada alur dia menyuruh Moura menghadap.


"Huh," dengus Moura berat. "Kemarin salah satu staff IT datang ke ruangan pas aku mau pulang. Dia bilang ada jadwal pemeliharaan komputer." terang Moura jujur.


"Lantas?!" Noegha menyimak dengan seksama.


"Aku sudah merasa curiga, sebelumny tidak ada email pemberitahuan apapun. Terlebih saat aku keluar aku di tarik paksa entah apa maunya. Hanya saja saat melihat cahaya merah sepertinya mereka sudah merencankan membuat pertunjukan untuk menjatuhkanku kembali." Moura benar-benar menjelaskan secara gamblang pada Noegha membuat pria itu berang kali ini.


"SHIITT!!" umpatnya kasar. "SIAPA DIA, AKU KELUARKAN SEKARANG JUGA!!!" imbuhnya masih berapi-api.


Tuuutt!


"Iya Pak?" sahut sekretarisnya.


"Suruh Michel menghadap!" titah Noegha segera menutup saluran telponnya.


Moura semakin gelisah, baru kali ini dia melihat jelmaan Bos Angkuh di depan matanya.


"Apa kamu mengenalnya Sayang?!" tanya Noegha mencari tahu.


"Ehm, namanya aku tidak tahu. Tapi beberapa kali kami berpapasan dan dia selalu menawarkan diri mengantarkanku pulang."


Rahang Noegha mengeras setelah mendengar penuturan wanitanya. Sudah bisa di pastikan bahwa benar kejadian semalam adalah kejahatan terencana untuk melecehkan Moura.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu membuyarkan diskusi keduanya. Noegha mengijinkannya masuk dan Michel segera menghadap.

__ADS_1


"Iya Pak ada yang bisa saya banting?! Eh bantu maksudnya..." tanya Michel dengan candaan.


"Ppfftt!" Moura menahan tawanya saat mendengar suara asisten Michel besenda gurau di saat mereka tengah serius.


"Denger gitu aja ketawa!!" ketus Noegha cemburu.


"Cieee cembokur!" goda Michel tidak ada takut-takutnya pada atasan moodynya.


"SHUT UP!!" maki Noegha merasa kehilangan harga dirinya. "Coba kamu periksa CCTV ruang departemen project semalam siapa yang sudah berani berencana melecehkan Moura!" titah Noegha segera.


"Tadi saya langsung lakukan tapi ada yang aneh, sepertinya CCTV sengaja dimatikan. Aku tidak menemukan apapun." terang Michel.


"Shiit!!" Noegha kembali mengumpat dengan berkacak pinggang menatap keluar jendela kesal.


Moura mengernyitkan keningnya, sepertinya memang sudah direncanakan tentu saja!


"Hanya saja Margareth bukannya sudah bilang kalau pria itu adalah Rendi?!" ujar Michel. "Sudah bisa di pastikan Rendi IT Server pelakunya. Cuma─" Michel mendelik Moura kali ini.


Noegha menatap Michel kesal karena melihat Moura dengan tatapan seolah tengah menduga yang tidak-tidak. "Cuma apa hm?!" tanya Noegha kesal.


"Cuma, Si Rendi di larikan ke rumah sakit. Margareth dan temannya berencana memergoki kalian di ruangan. Tapi dia terkejut menemukan Rendi dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan beberapa luka patah tulangnya." jelas Michel. "Kamu apakan dia Moura?!" tanya Michel menyelidik tajam.


DEEG!!


Noegha terkekeh saat ini, benar saja wanitanya memang bukan kaleng-kaleng. Dia bahkan bisa menghajar pria sampai babak belur begitu.


"Aku cuma membela diri, aku lebih baik mati di banding menyerah di lecehkan!" ujar Moura sendu. Dia harus menjual air matanya agar dua pria di depannya iba padanya.


"Sudah, aku mengerti sekarang kamu pergi sekarang. Jika Rendi menuntut aku yang akan menjamin Moura!" titah Noegha membuat Michel dan Moura terbelalak berjamaah dengan pernyataan bosnya.


"Kalian kenapa HAH?!" pekik Noegha sebal. "Setelah ini pecat Rendi, dia sudah melanggar perjanjian kontrak dengan bersikap tidak senonoh!" Noegha kembali memberi perintah pada Michel.


"Tapi Bos, kita ga punya bukti bahwa Rendi melecehkan Moura. Justru bakalan berbalik Moura menindas Rendi." ujar Michel.


"Haiissh..." Noegha terlihat berpikir keras, dia memijit keningnya. Moura tampak kebingungan dengan sikap atasannya yang memikirkan masalah pribadinya.


'Ko dia kayak gitu ya? Ngapain repot coba... Lagian ga di pecat juga aku masih punya taktik buat menghindar. Yang ada kalo di pecat gue makin di incer habis-habisan. Duh Gustiii...' keluh Moura bermonolog dalam hatinya.


"Tidak apa Pak, setidaknya saya baik-baik saja dan Rendi juga belum ada tindakan apapun. Kalo memang dia melapor di jalur hukum saya siap bersaksi. Saya tahu mereka memiliki rekaman kejadian di ruangan. Hanya saja, rekaman itu ada di tangan saya mereka tidak akan berani menuntut!" Dengan tersenyum Moura menunjukan handycam yang dia simpan di laci mejanya sebelum dia pulang semalam.


Noegha dan Michel kini bergantian terbelalak menatap Moura. 'Kok aku seperti tidak berguna di depan wanitaku!' kesal Noegha Moura memiliki solusi atas masalahnya sendiri.

__ADS_1


'Mengapa sangat sulit wanita ini mengandalkan ku sekarang!' rutuk Noegha dalam benaknya.


"Baiklah, jika begitu saya pamit!" Moura bangkit bersiap keluar ruangan. Begitu pula dengan Michel mereka kembali pada kesibukan pekerjaan masing-masing.


Waktu berlalu dan sudah tiba saatnya makan siang. Moura menghentikan pekerjaannya, Keysha menghampirinya. "Tadi kenapa Sis?!" tanya Keysha ingin tahu.


"Pak Khairul ampe khawatir, jadi dia tanya ke aku. Lah aku aja gak tahu!" terang Keysha kembali duduk di depan Moura. "Emang bener ya rumor lu nindas Rendi semalam? Kok gue ga tau, lu juga ga ada tuh bilang apa gitu nanya atau curhat kek!!" kesal Keysha temannya ini spesies diam-diam menghanyutkan.


"Hihi, iya gue di panggil ke ruangan Toke gara-gara Si Rendi masuk rumah sakit gue bikin dia pingsan ama patah tulang!" sombong Moura.


"AH SERIUS DEMI APA?!" pekik Keysha dengan membuka mulutnya lebar.


"Demikian sekilas inpoh!" jawab Moura kini terkekeh mengeluarkan kotak bekalnya dan berencana makan siang sekarang juga. Dia tidak ingin membuang waktu demi jadwal pumpingnya. Hanya saja hari ini kedua PDnya membengkak berlebihan tidak seperti biasa. Mungkin karena ketakutan mempengaruhi hormon pikirnya. 'Lupaa pula pake Pad!' Moura berharap ASinya tidak merembes keluar.


"Bekal lagi..." protes Keysha dia tidak mempunyai teman makan siang karena teman satu ruangannya selalu membawa bekal.


Keysha meninggalkan ruangan, Moura tengah menikmati makan siangnya. Dengan buru-buru Moura menyiapkan peralatan pumping dari tas besarnya. Hari ini dia bisa menggunakan ruang kesehatan setelah hampir 3 hari dia tidak kesana semoga tidak ada yang mencurigainya. Masalahnya dia tidak mungkin ke Mushola dia tengah mendapat tamu palang merahnya.


Moura melakukan pumping segera "Shiit merembes pulaaa!!" umpat Moura saat melihat rembesan asi di kemeja gelapnya. Dengan begini akan membuat orang curiga. "Gimana ngilanginnya?!" Moura gelisah, dia sendiri tengah merasa meriang. PDnya membengkak membuat keadaan tubuhnya menjadi sedikit demam dan nyeri di sekitar buah dadanya.


Moura menatap jam tangannya, sudah waktunya dia keluar ruangan sebelum semua orang pulang dari makan siang mereka. Saat akan menutup pintu dia di kejutkan dengan panggilan seseorang.


"Mouraa..." panggil si pria dengan suara bariton seksinya.


DEG!!


Moura berbalik badan menyembunyikan cooler bagnya yang tidak terlalu besar namun cukup mencolok.


'Apa Moura sakit? Kok dari ruang kesehatan?!' Noegha menyelidik tampilan gadis di depannya dari atas hingga bawah. Matanya tertuju pada bagian yang membuat tubuhnya bergetar. Dengan ukuran yang cukup membuatnya panas dingin kini bagian itu sepertinya terkena percikan air, tapi air apa Noegha tidak mengerti.


"Eh b-bapak kenapa kemari?!" tanya Moura gelisah luar biasa. 'Please Gusti udah cukup hari ini ujiannya ya... Besok-besok lagi boleh ga di postponed masalahnya.' keluh Moura tidak tau diri.


"Kamu sakit Ra?! Ko ga ada bilang apa-apa?! Kamu udah makan?" Noegha langsung mencerca Moura dengan khawatir bahkan sekarang sudah memegang bahu wanitanya memperhatikan wajah Moura lekat.


"E-enggak Pak... A-aku─" Ingin rasanya Moura menghilang saat ini juga.


"Apa itu di belakang kamu?!" Dengan arogan Noegha menarik cooler bag Moura. Moura yang harusnya bisa mempertahankannya tiba-tiba lemas.


"APA INI MOURA?!" bentak Noegha saat telah mengetahui isinya berupa ASIP. Dia sendiri tidak bodoh, walau tidak pernah melihatnya tapi dia tahu apa yang ada dalam bungkus plastik bening dengan gambar baby serta petunjuk takaran.


Moura menundukan wajahnya, tenggorokannya sudah tidak mampu lagi mengeluarkan kata. Dengan segera Noegha menyeret tangan Moura menuju ruangannya.

__ADS_1


To be continue...


*****


__ADS_2