Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
19 # Daddy To Be


__ADS_3

Sepeninggalan Moura, Noegha kembali menyuruh Michel menemuinya. "Apa yang aku mau udah kamu dapetin?" tanya Noegha langsung sebelum Michel duduk.


"Gak sabaran amat, belum juga gue duduk Bos!" cecar Michel. "Nih, lu bakalan kaget sih lihatnya!" Michel menyodorkan beberapa lembar kertas yang merupakan data profil Moura yang dia minta dari informan terpercaya.


Dengan cepat Noegha menarik kertas yang di sodorkan Michel. Noegha mulai membacanya dengan seksama. Seperti dugaannya, kemampuan Moura di atas standard pegawai biasa. Terlebih gadis itu baru saja lulus dari perkuliahannya. Nilai akademisnya menempati jajaran Cum Laude membuat Noegha semakin mengembangkan senyumannya.


"Gadis ini bodoh apa gimana? Dengan kemampuan luar biasanya kenapa dia cuma ngelamar jadi Clerk?" gumam Noegha yang di dengar oleh Michel.


"Ya kamu juga aneh, dia baru lulus belum punya pengalaman. Terlebih sepertinya dia butuh uang tentu saja. Dia sampai harus menyembunyikan status janda dan anaknya, berarti hidup dia sulit brow!" sahut Michel mencoba menerka, siapa tahu bisa menasehati teman jomblonya ini.


"Oh ya?" Kening Noegha mengerut, dia tidak yakin dia sendiri baru mengenal wanita itu.


"Dia baru aja cerai bukankah ini kesempatan bagus bro? Lu deketin dia beri dia perhatian, simpati dan uang maka aku yakin cepat atau lambat dia akan jatuh di tanganmu... Iya ga brooow!" Michel menggoda dengan menggerakan kedua matanya bersamaan dengan senyum smirknya.


"Nae card-neun BLACK muhandaero ssak keulgeobeoryeo! *) " Michel bersenandung dan menirukan gaya artis KPop kesukaannya.


) Kartu kreditku hitam, isinya tak terbatas (Crayon - GDragon)*


Noegha mengerti dia dan Michel kini tertawa penuh makna. Noegha akan melakukan segalanya untuk menjerat Moura menjadi miliknya sekarang ini. Di satu sisi Noegha merasa iba pada gadis itu, di usianya yang masih terbilang muda dan di masa keemasannya hidup wanitanya sudah seperti saat ini. Menjadi janda dengan membawa seorang bayi, Noegha sempat berpikir pasti ada sesuatu yang terjadi sampai dia harus menikah muda bahkan sebelum ia lulus kuliah. Anehnya setelah memiliki bayi wanita itu justru memilih menjadi janda. 'Pria brengsek mana yang sudah menyia-nyiakan wanita seperti Moura?'


"Raffa Abima?" gumam Noegha kemudian saat membaca bagian mantan suami Moura.


"Oh iya, aku juga nemuin sesuatu yang mengejutkan lainnya!" sanggah Michel kembali membincangkan wanita pujaan sahabatnya.


"Raffa adalah pria yang baik, dia berasal dari keluarga yang cukup berada. Alias ga miskin!" Michel mulai mengaktifkan mode ghibahnya. Walau dia pria tapi ghibah juga hobinya sungguh tidak bisa di duga, dengan wajahnya yang seperti Park Jimin itu ternyata ada sifat kewanitaan yang mengalir di nadinya.


"Raffa Abima adalah CEO Putra Group you know!" ujarnya kemudian.


"Apa?" Noegha menaruh berkas dan menatap Michel yang merupakan bank data miliknya.


"Serius, gue juga retas media sosial Moura dan Raffa, ternyata mereka pacaran dari masa kuliah dan keduanya selalu terlihat mesraaaa!" Michel sengaja melebih-lebihkan agar sahabat sekaligus bosnya ini panas hatinya. "Satu lagi, anak mereka lahir tidak genap sembilan bulan!" Michel berujar persis ibu-ibu komplek yang selalu menggunjing tetangga mereka. Pria itu bangkit dari kursinya dan berbisik mendekat ke arah Noegha.


"What? Prematur?" tanya Noegha mirip tetangga yang tidak percaya akan gosip yang di sebar ibu sebelahnya.

__ADS_1


"Ih lu oon!" ejek Michel gemas. "Artinya dia hamil duluan bego!" pekik Michel kesal kapasitas otak Noegha di saat ghibah selalu loading overload!


Noegha tidak percaya apa yang dia dengar dari Michel. Memang bukan kaleng-kaleng kekuatan Michel dalam mencari data seseorang. Dia harusnya bisa di angkat menjadi Buzzer di medsos Adhiaksa Utama Group.


***


Waktu telah menunjukan pukul 5 sore, Moura dan Keysha bergegas merapikan barang bawaan mereka. Keysha mendekati Moura. "Bareng ga Sis?" tanya Keysha.


"Ga enak lah gue tiap hari minta bareng terus, apa aku bayar bensin aja ke lu ya?" sahut Moura tidak enak.


"Ya elaaaah malah mikirin bensin!! Kek ke siapa aja..." hardik Keysha dengan kekehan. "Kuy, kita kan searah juga, gue justru ngerasa enak ada temen ngobrol di jalan!"


Belum sempat mereka keluar ruangan Noegha telah membuka pintu departement project membuat kedua wanita di sana terpaku menatap pria paling tampan di kantor berada di hadapan mereka.


"Ehmm, Moura kita jadikan pergi keluar bareng?" tanya Noegha membuat kepala Keysha memutar menatap Moura dengan mulut yang terbuka.


Moura mengatupkan bibirnya 'Apa dia beneran serius ngajak makan malam?'


"Tung..." Moura berencana memanggil kembali rekannya namun tatapan tajam Noegha kembali menekan nyalinya.


"Haisssh..." rutuk Moura perlahan dia menyambar tasnya dan bersiap pulang bersama pria arogan di depannya.


"Apa kamu lupa sebelumnya kamu kan minta bonus?!" goda Noegha.


"Nye... Nye... Nye... Nye!!!" cibir Moura dengan mulut kerucutnya membuat Noegha menahan tawanya demi gengsi.


Keduanya sudah tidak canggung lagi keluar masuk kantor bersama. Bagaimana lagi, sudah kepalang basah toh rumor kedekatan mereka tidak mereda sama sekali pikir Moura. Noegha bergegas melajukan mobil SUVnya keluar dari pelataran kantor.


"Kita mau kemana? Aku harus menjemput anakku... Boleh nanti aja gak? Aku juga belum bilang sama pihak daycare!" rentetan kalimat Moura segera utarakan sebelum mereka benar-benar menuju tempat seperti sebelumnya yang jauh dari kota.


Noegha seolah di beri jalan dia mengulumkan senyumnya. "Kita jemput anakmu sekalian ajak dia jalan gimana? Dia pasti ga pernah kamu ajak jalan-jalankan?" saran Noegha tentu sudah jadi bagian dari rencananya mengambil hati Moura mulai saat ini.


Moura terlihat gelisah dengan penuturan Noegha yang sepertinya sudah mulai menerima status dirinya yang merupakan single parent dengan satu bayi. Dengan menghembuskan nafas berat akhirnya Moura menyetujuinya. Noegha bersorak dalam hati, jalannya mendapatkan Moura cukup mudah sejauh ini. Tinggal membuat gadis itu nyaman dan bergantung padanya maka tanpa perlu lama Moura akan menjadi wanita Noegha Adniakha Bagaskhara.

__ADS_1


Noegha semakin menekan pedal gasnya sudah tidak sabar melihat generasi penerus Moura yang sudah dia ketahui bernama Shaqilla Shanum. Kedepannya dia akan belajar menjadi ayah sambung bagi bayi mungil yang baru berusia 6 bulan itu. Noegha merasa geli saat ini, dia bahkan sudah berpikir dia akan menjadi ayah sambung padahal belum tentu juga keluarganya menerima kehadiran Moura dan bayinya terutama ibunya. Keluarga mereka memiliki standard tertendu dalam memilih calon menantu Bagaskhara.


Tiba di sebuah rumah yang di ketahui tempat penitipan anak oleh Noegha, dia memperhatikan Moura dari kejauhan karena wanitanya tidak ingin kehadiran Noegha di ketahui oleh siapapun di wilayahnya. Moura takut akan terjadi fitnah setelah dia memberikan informasi bahwa dia seorang janda sungguh berbahaya jika ada pria lajang dekat dengannya.


Braakk!


Moura kembali memasuki mobil bersama putrinya yang tengah menggigit tangan mungilnya yang sudah banjir dengan air liur. Noegha menyambut kedatangan wanita pujaannya dengan senyuman.


"Hai Princess..," sapa Noegha mencoba dekat dengan putri Moura.


"Deda... Dedaaa..." celoteh Qilla seolah mengerti. Hati Noegha tersentuh, dia terdiam dan menatap lekat bayi manis yang sangat mirip dengan Moura itu. Hatinya seperti di kejutkan dengan perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelum-sebelumnya.


"Sebelum terlambat kamu bisa berubah pikiran." kata Moura membuyarkan pikiran Noegha. "Kamu akan malu membawa seorang wanita dengan bayinya." imbuhnya kemudian.


"Hahaha, apa isi kepalamu itu hal yang berbau negatif aja dari aku hah?" ketus Noegha dia kembali menyalakan mesin mobil dan keluar dari area komplek perumahan yang di tempati Moura.


"Mau kemana bawa bayi? Play ground?" tanya Moura masih tidak bisa menerima dengan kelakuan Noegha saat ini.


"Boleh... Apa dia sudah bisa makan? Apa yang ia makan? Bubur ya? Kita ke resto mana ya yang ada buburnya? Apa dia harus bubur tawar ya ga bisa ke KFC?" cakap Noegha beruntun dengan pertanyaannya.


"Heh..." Moura terkekeh. "Tak mengapa dia sudah makan sore di daycare."


Keduanya terlibat percakapan bersama bayi menggemaskan Moura selama di perjalanan. Hati Noegha sungguh teramat bahagia. 'Apa ini gambaran kehidupan masa depan? Memiliki istri dan putri sendiri... Aku sungguh tidak sabar Moura! Qilla ijinkan om jadi daddymu ya kelak om akan menggunakanmu untuk membujuk ibumu...'


Mereka sudah berada di salah satu Mall besar di pusat kota, Noegha membantu Moura dengan membukakan pintu mobil. Moura sungguh tersentuh oleh perlakuan bos angkuhnya yang ternyata memiliki sisi lembut seperti saat ini yang meminta ijin menggendong Qilla. Bayinya yang biasa rewel jika bertemu orang baru justru sebaliknya dia begitu menempel.


'Dasar bocah, tau aja kalo di gendong cogan bakal keenakan!' rutuk Moura pada putrinya.


Tanpa Moura dan Noegha ketahui ada sepasang mata yang tidak sengata memperhatikan keberadaan mereka yang tengah berjalan menuju salah satu restor di dalam Mall. "Moura, Qilla... Aku tidak menyangka bisa menemukan kalian di sini!"


To be continue...


*****

__ADS_1


__ADS_2