Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
02 # Obat Pencahar


__ADS_3

Seluruh pelayan menunduk menyambut kedatangan Noegha dan rombongan. Dengan cepat Noegha menginstruksikan untuk membawa mereka ke area yang cukup luas menampung semua. Pelayan mengerti dan mengarahkannya.


Moura yang mengekor di belakang dengan Keysha masih sibuk menyelidik tempat dia saat ini. Dia begitu norak dan sangat menyukai restoran yang berada di kepungan air laut. Kesemua staff telah duduk di posisinya, namun suara lantang Noegha membuat semuanya senyap.


“Sini Moura!” tukas Noegha menatap Moura dengan instruksi yang menjelaskan bahwa gadis itu harus duduk di sampingnya.


Moura menelan saliva dan gelisah, gunjingan sebelumnya akan asumsi bosnya akan semakin meluas di kalangan rekan kerjanya jika seperti ini. Moura merasa sangat canggung, namun karena dia baru menjadi karyawan di sana maka patuh adalah kunci keberlangsungan hidup!!


Kesemua staff telah merelokasi tempat duduk setelah Moura bertukar posisi dengan supervisor. Moura berhadapan dengan managernya, sedangkan di samping kiri dan kanannya ada bos besar yang tak lain Noegha dan Keysha. Moura sungguh gelisah luar biasa, belum apa-apa dia sudah menelan salivanya berat dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya.


Moura mengatupkan bibirnya kesal, pasalnya dia harus bersikap anggunly tentu saja. Padahal dia sengaja memilih duduk di paling ujung agar bisa makan dengan barbarly. Sudut mata Noegha menangkap reaksi Moura membuat ia semakin penasaran dengannya. Walau tengah bercengkrama dengan pak Khairul, sesekali pandangan Noegha selalu tertuju pada gadis di sampingnya.


Noegha terlibat percakapan serius mengenai perjalanan bisnisnya yang dia habiskan seminggu di negeri yang terkenal dengan sebutan Tirai Bambu dengan pak Khairul dan yang lainnya, sedangkan Moura dan Keysha hanya ikut menyimak saja. Pramusaji mulai menyiapkan makanan di meja mereka dan menghentikan kecanggungan yang melanda. Moura menatap menyelidik setiap menu yang tentu saja di dominasi oleh olahan seafood.


“Ih apa ni?” Moura bertanya pada Keysha dengan menunjuk salah satu piring saji.


“Oh, itu enak loh kamu wajib coba!! Pasti belum pernah karena cuma ada di wilayah Kepri sini aja!!” jawab Keysha tak kalah antusias mengenalkan makanan khas kota mereka saat ini.


“Siput ya?” tanya Moura takut-takut.


“Bukan lah... Itu gonggong.”


“Iya siput!”


“Bukan lah. Gonggong!”


“Iya sejenis siput kan itu?”


“Kalau di sunda itu tutut!”


“HAHAHA!!”


Semua tertawa dengan tingkah keduanya, mereka seolah tengah melakukan komedi di samping bos dingin mereka yang sempat membuat suasana canggung. Noegha sendiri sekuat tenaga tidak tertawa lepas demi menahan imagenya. Namun tubuhnya gusar, dia membetulkan posisi duduknya.


“Bukan lah ini tuh namanya GONGGONG!!!” Keysha yang masih ngotot terus mempermasalahkan penyebutan nama makanan.


“Iya sejenis siput kan iniii?”


“Siput tuh tawar jeng, ini di lauut!”


“Owh siput laut?! Kan tinggal bilang siput laut aja sih...”


“BUKAAAAAN IH!!” Keysha merasa gemas dengan Moura.


“Haha udah Key, Moura kan baru lihat juga kan?”


“Gonggong memang sejenis siput laut karena bentuknya yang mirip dengan keong!”


Akhirnya pak Khairul melerai pertikaian keduanya. Semua masih menertawakan kepolosan Moura, bahkan Noegha sungguh tidak tahan ingin rasanya dia menggigit tangan Moura karena gemas. Noegha mengambil satu biji gonggong, seraya menatap Moura.


“Ini namanya gonggong, merupakan biota endemik yang hidup di perairan laut Kepri."


Semuanya memperhatikan bosnya yang tengah mendeskripsikan pada Moura yang polos.


"Gonggong adalah salah satu jenis seafood yang menjadi ciri khas dari Kepulauan Riau, khususnya Tanjung Pinang dan Batam. Biasanya orang di sini mengolahnya hanya dengan direbus di sajikan utuh dengan cangkangnya, cara makannya cukup mudah dengan mencungkil bagian dalam menggunakan tusuk gigi yang disediakan dan di cocol dengan sambal pedas.”


Noegha menjelaskan langsung mempraktekan dan melahapnya di depan Moura. Moura terdiam sejenak, bukan karena penjelasan bos besarnya justru karena dia bisa melihat jelas wajah tampan bosnya yang tidak ada cela sedikitpun di sana. Moura sampai menelan saliva di depan Noegha.


Di tatap seperti barusan oleh Moura, Noegha sendiri salah tingkah saat ini ‘Sialan, kenapa wajahnya seolah godain gitu sih!!!’

__ADS_1


Semua orang disana seolah tengah menonton drama korea, di mana kilatan asmara bos dengan bawahan terpancar di kedua netra keduanya.


***


Semenjak kejadian di restaurant bersama Moura, Noegha selalu diliputi perasaan gelisah dan memikirkan gadis itu terus menerus membuatnya tidak tenang hidup rasanya. Noegha begitu terobsesi dengan Moura sekarang, namun sudah beberapa pekan setelah makan siang itu dia tidak bisa menemui Moura. Moura selalu menghindarinya, entah mengapa gadis itu selalu memiliki alasan untuk menolak ajakannya. Setelah membaca profil Moura yang ia dapat dari bagian resource Noegha memiliki rencana untuk membuat gadis itu terjebak bersamanya saat ini.


“Moura!”


Semua staff di ruangan projek menatap seseorang yang sudah mereka hafal siapa gerangan.


“Iya pak?”


Bruuk!


“Apa-apaan ini!! Masa melengkapi berkas pendukung aja ga bisa!!”


DEG!


Moura yang masih butuh banyak belajar dan beradaptasi dengan pekerjaan yang menyimpang dari jalur akademis yang dia tempuh itu terlihat gelisah. Noegha melempar kasar berkas di meja kerja Moura, Keysha mendekat dan berusaha membantunya.


“Saya tidak mau tahu sekarang juga laporan kerja ini di lengkapi. Perhitungan RAB di beberapa pekerjaan kamu buat salah!!” cecarnya beruntun. “PERBAIKI!” bentaknya kasar kemudian. "Kamu serahkan sendiri keruanganku!!” titah Noegha meninggalkan ruangan begitu saja.


“Sabar ya Ra, beliau memang seperti itu! Tapi beliau sendiri yang datang dan maki-maki sepertinya cuma bisa ke kamu doang. Harusnya yang ngomel-ngomel kalo ga Shaveera ya pak Khairul!"


Moura mendengus kesal dan segera menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak akan menyangka jika bosnya memang memiliki tujuan agar gadis itu lembur hingga malam agar bisa dia dekati tentu saja. Moura kembali mendengus pasrah, dan kembali melengkapi sesuai yang di inginkan bosnya. Moura menghubungi tempat penitipan anaknya, beruntungnya dia diperbolehkan menambah extra jam penjemputan. Moura bergegas menuju ruangan bosnya, tanpa sengaja dia menabrak seseorang!


Bruuuk!


“HEY! JALAN PAKE MATA!!” maki si wanita dengan lantang.


“Sorry, aku buru-buru...,” sahut Moura menundukan tubuhnya.


“Aku bilang maaf kan tadi, aku buru-buru!!” rutuk Moura lirih.


Wanita yang di tabrak Moura itu bernama Margareth salah satu staff keuangan. Ia menyelidik Moura yang sedang mengambil beberapa berkas yang terjatuh. Dari penelusuran yang Margareth terima dari beberapa orang di kantor bahwa Moura selalu mendapat perhatian lebih dari bosnya.


“Mau kemana lu di jam pulang gini?” Margareth bersidekap tangan menatap jutek pada Moura dan menghalangi jalannya tentu saja. “Mau godain pak Noegha ya?!” ujarnya sinis ke arah Moura.


“Hah?” Moura mendongak dan berdiri dengan kerutan di dahinya tidak mengerti. Moura mencoba mengabaikan pertanyaan rekan satu kantornya dan segera melesat menuju ruangan bosnya.


“Ishh... Berani sekali dia cuekin gue!!” Margareth menatap dengan seringai ke arah punggung Moura yang kini hilang setelah memasuki lorong di mana ruangan bosnya berada.


Bruuk!


Lagi-lagi Moura yang sangat takut terlambat menjemput putrinya tidak menyadari bahwa bosnya telah berada di luar ruangan dan tengah berjalan ke arahnya. Tubrukan itu lumayan membuat tubuh Moura hampir terjatuh


karena sepatu hak tingginya membuat ia terkilir. Noegha menangkap tubuh Moura agar tidak terjerembab. Adegan mereka terjadi seperti kebanyakan drama korea yang selalu di tonton oleh Moura.


Mata keduanya saling beradu pandang, dengan debar jantung yang berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Moura bahkan tidak bersuara atau bergerak sedikitpun, suasana menjadi semakin panas saat tiba-tiba saja bibir Noegha menyuntuh bibir Moura.


“Aaark!” Secepatnya Moura tersadar dan mendorong tubuh bosnya dan berusaha berdiri dengan benar.


“Maaf Pak saya buru-buru barusan." Moura menundukan pandangan. "Semua berkas sudah saya lengkapi dan laporan RAB sudah saya perbaiki.” ujarnya kemudian. “Saya permisi!!”


Moura menyerahkan berkas miliknya dengan cepat berbalik badan setelah berkas di terima tangan Noegha. Ia berlari menjauh dari pria yang barusan mencuri satu ciuman darinya.


“Hah?”


Noegha tercengang tidak percaya wanita itu masih bisa terlepas dari jeratannya hari ini.

__ADS_1


“Bibirmu manis sekali Moura, padahal cuma nempel dikit aja... Semakin membuatku penasaran mengejarmu!”


Walau masih sangat kesal pada wanita incarannya, tapi Noegha merasa beruntung bisa sedikit menyentuh wanitanya.


***


‘Ada apa sih? Gue salah kostum gitu?’


Pagi ini Moura seperti biasa kembali bekerja setelah menitipkan putrinya di salah satu daycare yang tak jauh dari tempat ia menyewa rumah. Sesampainya di lobby kantor Moura merasa sedikit aneh hari ini. Banyak pasang mata yang meliriknya dengan tatapan ketidak-sukaan mereka padanya.


Moura memperhatikan dirinya di cermin toilet saat ini. Rasanya dia memakai pakaian biasa saja, setelan kemeja dan celana dasarnya yang dipadu dengan blazer yang mempermanis tampilannya. Moura tidak menemukan yang aneh, ia memasuki salah satu toilet untuk menuntaskan hajatnya segera.


Braaak!


Suara pintu toilet terbanting keras membentur dinding belakangnya.


“Baru kali ini ya ada anak baru langsung jadi perhatian pak Noegha!!” salah satu wanita memulai mengomel memasuki area kamar mandi.


“Iya bener... Kesel gua!! Ampir tiap hari gue liat tiap jam pulang pak Noegha ngajak dia pulang bareng!!” sahut rekannya sama menggebu.


“Kecentilan banget tu bocah! Dia ga tahu senior disini siapa?"


Margareth dan salah satu temannya memasuki area kamar mandi dengan menggosipkan seseorang yang tidak mereka ketahui bahwa orangnya berada di tempat yang sama. Moura tertawa dalam hatinya, nasib baik dia bisa mendengar sendiri rumor buruk dirinya selama ini!


“Lebih parahnya kemaren doi kedapatan ciuman ama Pak Noegha!” sungut Margareth kesal, kembali menaruh lipstik di tasnya. “Brengsek, JA*LANG!” umpatnya kemudian masih merasa tidak terima.


Moura yang belum ingin keluar dari tempatnya, membuka mulutnya lebar ‘Berarti dia cewek kemaren yang gue tabrak! Dia ngikutin gue dong!!!’


Dengan mengepalkan tangan Moura merasa emosi mendengarnya namun dia harus bertahan. Tak terdengar lagi suara dari luar setelah beberapa menit berlalu, Moura keluar dari tempatnya. Dia tidak menyangka sudah hampir satu pekan dia mencoba menutup telinga dari gosip miring tentangnya, sekarang ditambah dengan gosip baru yang di goreng sedemikian rupa oleh para hater yang mengatakan dirinya berciuman. Moura mengumpat sejenak kemudian kembali keruang kerjanya dengan mood yang rusak.


Baru saja dia menghidupkan komputer miliknya, bosnya sudah mengajak Moura pergi. Hari ini mereka ada meeting bersama vendor, Moura mengekor di belakang pak Khairul kemudian dia dengan sigap mempersiapkan ruangan sebelum para tamu undangan datang. Dia menuju pantry dan menyuruh bagian OB menyiapkan beberapa minuman yang sudah dia jelaskan, dan juga menyerahkan satu box kudapan yang akan di sajikan saat mereka meeting nanti.


“Siapa yang meeting?” tanya Margaret pada si OB yang tiba-tiba berada di area pantry.


“Mba Moura dari team projek mba.” terang si OB.


Margareth tersenyum penuh arti, kemudian si OB sibuk kembali menyiapkan pekerjaannya tanpa memperhatikan apa yang di lakukan Margareth.


Setelah rapat berjalan beberapa menit Moura merasakan bahwa perutnya tidak nyaman. Dia ijin keluar bergegas ke kamar kecil. Semua terulang beberapa kali membuat semua yang mengikuti rapat memperhatikannya dan rapat


menjadi tidak kondusif.


“Kamu sakit Moura?” tanya pak Khairul pada akhirnya.


“Entahlah pak, perasaan tadi saya baik-baik aja.”


“Abis makan apa kamu?”


“Belum ada pak cuma─”


Moura menatap cangkir kopi yang sudah hampir kosong. Dia memang baru meminum kopinya sesaat setelah persentasi project berlangsung. Semuanya terlihat kecewa dengan meeting yang baru jalan setengahnya, kejadian tak terduga dari Moura membuat mereka tidak fokus bahkan sepakat untuk diselesaikan dengan segera. Moura segera bergegas keluar kantor setelah diberikan ijin pulang dan pergi menuju klinik serta beristirahat di rumahnya.


“Aku yakin ada yang mengerjaiku, sebelumnya aku sangat sehat!”


Moura dinyatakan diare oleh team medis, dia mengantongi beberapa obat. Sesampainya di rumah Moura menyambar laptop miliknya, dia mengotak-atik benda itu dan memasuki salah satu server kamera pengawas yang berada di perusahaan dimana ia bekerja. Moura tidak percaya apa yang sudah ia lihat, dia sendiri tidak mendendam namun jika dia diam maka wanita jahat itu akan semakin menjadi mempermainkan dirinya.


“Kamu harus sedikit diberi pelajaran, kamu pikir kamu bisa seenaknya HAH?!”


To be continue...

__ADS_1


*****


__ADS_2