
Setelah diskusi alot, akhirnya Moura menitipkan putrinya bersama bude pengurus rumah di kediaman Noegha. Sejujurnya Moura tidak enak merepotkan, terlebih bude akan berpikir yang bukan-bukan walaupun sejujurnya pastinya sudah berpikir demikian!
"Apa kamu gak risih ya tar Bude mikir apa coba? Tuannya bawa janda satu anak pula!!" cicit Moura masih mempermasalahkan di dalam perjalanan ke kantor mereka.
"Sayang, kamu lucu deh... Toh kan kamu emang wanita aku. Pacar sekaligus calon istri aku!" tukas Noegha datar.
Moura terbelalak, bagaimana bisa pria di sampingnya begitu santai mengatakan hal serius seperti barusan.
"Moura, kita ke KUA dulu sekarang!!"
"What's?! ENGGAK!!"
"Heh, apa mau kita berzi*na Baby?!"
"Dua kali kita sudah melakukannya! Aku tidak ingin melakukannya untuk seterusnya!" ancam Noegha.
Padahal dulu dia juga sering melakukannya dengan wanita panggilan yang dia mau. Sayangnya di hadapan Moura tentu saja imagenya harus bagus. Dia juga yakin dia hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama si janda anak satu ini!
"Wait!! Bukankah bagus... Kita tidak akan lagi perlu apa itu namanya hubungan badan!!" hardik Moura.
Cekiiiit!!
Noegha menghentikan mobilnya tepat di pelataran parkir kantor dengan sedikit kasar.
"Dengar Moura! Aku sudah membuahimu... Kamu pikir kamu mau membawa lari benih Bagaskhara?!" pekik Noegha menentang.
"Hah?!" Mulut Moura terbuka lebar. "Aku sedang tidak subur Pak! Aku pastikan aku tidak akan hamil olehmu!! Aarrghh!!"
Dengan cepat Noegha mengapit wajah Moura dengan satu tangannya. Dia begitu emosi mendengar betapa keras kepala wanitanya!!
"Aku bilang ada maka ada!!" Noegha melepaskan cengkraman tangannya dan mencium paksa bibir Moura sampai keduanya bertautan dengan liar sebelum keluar dari mobilnya.
***
"Apa kamu sudah menjebloskan mereka ke penjara?!"
"Rendi sudah aku dapatkan beserta dua lainnya yang membantu mereka. Kedua karyawan yang lain juga dalam pengawasan. Sedangkan Margareth─" Michel menatap atasannya ragu.
"Kenapa dia?!" tanya Noegha kesal.
"Kamu tahu sendiri, dia anak salah satu anggota dewan yang cukup berpengaruh! Aparat keamanan tentu akan memihaknya!"
Noegha terlihat berpikir, dia tidak menyangka bahwa masalah akan bisa serumit seperti sekarang ini.
"Menurutmu, bagusnya seperti apa?!" tanya Noegha meminta saran pada asistennya.
"Ancam balik! Kita menumpang pada rencanany!" ujar Michel menyeringai.
__ADS_1
"Hahaha!! Lakukan... Aku ingin yang rapi..."
"Aman itu, lu kan tahu sendiri gimana Michel kalau sudah bekerja!!"
"Mantaf betul asisten gue satu ini! Bonus lu minta sendiri ke bagian HRD!!"
"Nah gitu dong buat persiapan lahiran binik gue!!"
Michel dan Noegha terlibat pembahasan random lainnya. Mulai hari ini Moura resmi menjadi sekretaris Noegha menggantikan Shaveera yang tengah cuti melahirkan.
Tring!
[Ra, gue denger gosipnya kemaren lu hilang?!]
Moura menatao layar ponselnya yang berdering. Sudut bibirnya terangkat saat Keishya memberikannya pesan singkat.
[Begitulah, untung gue selamat!]
Tring!
[Maksi bareng yok!! Lu kan udah jadi sekretaris direktur masa iya gak PJ!]
Moura terkekeh kemudian asik membalas pesan bersama Keishya. Sampai akhirnya Noegha membuyarkannya.
"Ayok!"
"Kemana Pak!"
Moura sebal dengan tingkah arogan bosnya yang kini semakin gencar menjerat dirinya. Demi umur dan rezekinya yang lancar Moura patuh akan perintah atasannya. Dia di bawa ke suatu tempat yang tak tahu kemana. Sampai akhirnya dia memekik tidak percaya!
"KUA?! KAMU BENAR-BENAR?!" pekik Moura tidak setuju.
"Keluar atau aku gak akan mempertemukan kembali kamu sama Qilla! Ingat Qilla dirumahku!!"
"NOEGHAAAA!!" jerit Moura tidak menyangka bahwa pria ini jauh lebih berbahaya dari mantan suaminya.
"Turun sekarang juga!" titah Noegha menatap dingin.
Sepertinya Moura tidak punya pilihan, otak dia juga buntu saat ini. Dengan langkah berat Moura menuju kantor urusan agama. Terlihat Michel dan salah satu orang lain yang di ketahui akan menjadi saksi pernikahan keduanya.
"Bagaimana saksi SAH?!"
"SAH!!"
"Alhamdulillah... Dengan─"
Kepala Moura gamang, dia tidak bisa lagi mendengar apa yang sedang di ucapkan penghulu dan petugas KUA. Dia ingin menangis namun ia tahan sekuat tenaga.
__ADS_1
Setelahnya Noegha kembali menyeret tangan Moura dan masuk ke dalam mobil segera. Di sanalah air mata Moura tumpah.
"Maafkan aku sayang!" bisik Noegha mencium bibir Moura lembut.
"Kamu tahu sendiri, aku sangat menyukaimu! Aku juga mencintaimu... Aku menyayangi Qilla juga... Jadi jangan mencoba berpikir sempit!"
Moura hanya terdiam, kemudian dia ingat akan novel-novel yang sering ia baca. "Aku butuh surat pra pernikahan!"
Noegha menyeringai, "Baik sayang, kamu berikan saja draftnya biar Michel yang melegalkannya!" Noegha menarik jemari Moura dan menciumnya mesra.
"Kamu sudah sah menjadi istriku mulai sekarang!"
"Tapi Gha, aku gak mau tinggal di rumah besarmu... Aku juga gak mau ada orang yang tahu status kita! Boleh kan kamu beri aku waktu?!" rengek Moura memelas berharap prianya bisa berbaik hati mengabulkannya.
"Kasih aku alasan logisnya sayang!"
"Karena aku kesini untuk meraih cita-citaku! Bukan tiba-tiba jadi istri orang!!"
"I don't wanna married with rich! I just want to be rich!" tukas Moura menggebu.
Noegha mengangkat sudut bibirnya perlahan, dia begitu bangga akan ambisi wanita di sampingnya.
"Ok, aku mengerti... Tapi ingat, selama di dalam rumah kamu istriku. Lakukan tugasmu sebagai seorang istri hm?!"
"Okey!"
Keduanya saling berjabat tangan tanda perjanjian awal kesepakatan keduanya. Noegha melajukan mobilnya ke sebuah hotel berbintang.
"Kenapa kesini?!" tanya Moura mulai berpikir negatif.
"Makan siang tentu saja!" Kekeh Noegha segera turun dari mobilnya di ikuti oleh Moura.
Keduanya telah duduk di meja restoran di dalam hotel. Keduanya makan siang yang kesiangan dengan khidmat. Sesekali keduanya beradu pandang dan tersenyum malu. Sungguh seperti pasangan baru yang malu-malu.
Di perjalanan kembali ke kantor mereka Noegha kembali mencari bahan perbincangan.
"Kamu pindah saja dari rumah kontrakanmu ya! Aku akan membelikanmu satu unit mansion."
"Hah?!"
Moura membalikkan wajahnya menatap Noegha takjub. 'Fix sih gua dah beneran kek wanita simpanan si bos! Bedanya gua nikah beneran di akui negara!! Duh... Antara keberkahan apa musibah gue sendiri gak ngerti apa h *** rus seneng apa sedih!'
Moura menyelidik prianya, hanya orang bodoh sebenarnya yang melewatkan pesona pria di sampingnya. Tiba-tiba saja debar asmara itu seolah menghampirinya membuat rona wajahnya bersemi dan menyembunyikannya dengan membuang wajahnya.
Moura tidak menyangka pria ini sudah mempersiapkan segalanya. Moura memainkan cincin pernikahan miliknya yang simple namun begitu elegant. Bahkan mas kawin yang di berikan Noegha dalam jumlah yang tidak sedikit. Emas seberat 100 gram, dulu saja Raffa hanya memberikannya sebanyak setengahnya saja.
Di tatap demikian Noegha sama tengah tersipu malu. Akhirnya, dia melepas masa lajangnya demi seorang janda anak satu dia mempertaruhkan segalanya. Bahkan dia mau saja status pernikahan ini tersembunyi seperti mereka sedang melakukan hubungan terlarang!
__ADS_1
To be continue...
*****