Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
26 # Level Up!


__ADS_3

Raffa mencari-cari keberadaan wanitanya, dengan menyelusuri lorong akhirnya dia menemukan Moura tengah berhenti di area perlengkapan anak-anak. Senyumnya mengembang, dan bergegas menghampiri Moura. Tanpa rasa malu Raffa memeluk tubuh mantan istrinya yang segera di hardik oleh Moura.


"Pap! Ini di luar!!" pekik Moura merona.


"Jadi kalau gak di luar boleh ya Sayaaang?" tanya Raffa menggoda. "Kamu mau beli lingerie gak? Model yang lebih nerawang dari semalam seperti biasa!" Raffa mengerlingkan mata dengan menaikan kedua alisnya kemudian.


"MATAMU!!!" maki Moura tidak habis pikir pria yang ia sayangi selama ini cabulnya luar biasa.


Raffa sangat senang dengan respon Moura, dari dulu hingga saat ini Raffa memang memiliki hobby menggoda dan membuat Moura kesal. Dia begitu gemas melihat tingkah Moura yang lain depan, lain belakang. Keduanya telah keluar area Mall dan mencari tempat untuk makan malam setelah sebelumnya Raffa memberikan rekomendasi tempatnya dan mengajak Moura kesana.


"Ini udah malam loh Pap, nih Qilla ampe udah tidur pulas gini," saran Moura sebenarnya hanya untuk menghindar saja.


"Hmmm... Ga papa dia tidur di mobil sebentar. Nanti aku suruh Rully kesana tungguin Qilla sebentar di mobil!" Dengan segera Raffa menghubungi asisten selama ia berada di Batam.


"Dah beres, akhirnya bisa ngedate ama ibunya anak-anak!" goda Raffa tidak ada habisnya membuat wajah Moura seperti kepiting rebus.


Moura baru kali ini mampir ke tempat yang Raffa tunjukan saat ini. Moura mengernyitkan keningnya keheranan, mengapa pria ini terlihat sangat tahu tentang Batam jika di banding dengan dirinya. Dia membuang prasangka buruk yang akan membuang energinya.


"Kok kamu bisa tahu tempat ini Pap? Sering kesini ya?" Sekeras apapun Moura berusaha tidak peduli, tetap saja mulutnya tidak tahan untuk mencibir.


"Hahaha, kamu mikir apa coba sayang? Setiap aku ada perjalanan bisnis pasti sama asisten aku di tawarinnya ya ke tempat-tempat yang cocok kayak gini!" sahut Raffa mulai melepaskan seatbelt yang di kenakan Moura.


"Kamu udah pernah belum? Katanya udah jadi orang Bataaaam..." sindir Raffa membuat Moura kesal.


"Terima kasih atas pujiannya." balas Moura dingin.


"Tuh Rully, yuk kita bisa keluar sekarang biar ga makin lama. Tempat ini selalu penuh ama bule!" Raffa mengecup sejenak kening putrinya dan berbisik lirih. "Tidur yang nyenyak ya Tuan Putri, Papap ama Ibu mau ngeDate bentaran doang. Dukung Papap okay!!"


Moura menggelengkan kepalanya geli mendengar ucapan mantan suaminya yang memang senang sekali bercanda.


"Jagain putri aku baik-baik ya, kalo nangis langsung telpon!" titah Raffa pada bawahannya.


"Baik Pak, tenang aja..." ujar asistennya menenangkan keduanya.


Mereka berdua akhirnya masuk menuju restorant yang cukup membuat Moura senang berada di sana. Dari tempatnya saat ini dia juga bisa dengan jelas melihat negri tetangga dengan gemerlap lampu yang memanjakan mata. Posisi tempat mereka makan tak lain tak bukan di pinggir pantai. Lokasi mereka sekarang ini bernama Harbour Bay, tak ubahnya pelabuhan internasional di negri sebrang dengan nama HarbourFront di sini juga  merupakan keberadaan salah satu tempat pelabuhan internasional yang menghubungkan Batam dan Singapore.


Moura bahkan tidak menyangka dia bisa melihat Ferry yang tengah hilir mudik mengantar para pelancong. Dia semakin berbinar dan antusias ingin rasanya cepat-cepat mencicipi melancong ke negri tetangga yang jaraknya sangat dekat itu.


"Enak banget ya di sini, ke Singapore kayak dari Cicaheum ke Ledeng kayaknya. Jangan-jangan jauhan Caheum-Ledeng di banding Batam-Singapore! Haha" canda Moura mencairkan suasana.

__ADS_1


Raffa terkekeh dengan wanitanya, Moura juga spesies yang seperti kang jahit, dia banyak bahan untuk jadi obrolan random menghidupkan suasana!


"Lain kali kita kesana ya, kalau aku udah free..." sahut Raffa menatap Moura dengan mesra.


"Dih, siapa yang mau ngajak kamu. Aku pasti bisa kesana sendiri!!" sombong Moura seketika ingat percakapannya dengan Noegha.


'Kok tiba-tiba mikir Si Toke sih?!' batin Moura kembali mengingat pria arogan yang semaunya.


"Ye lah... Ye lah... Wanita karier mah beda euy!" goda Raffa.


Moura mengerucutkan bibirnya membuat Raffa gemas, akhirnya menu yang mereka pesan datang juga. Jujur saja Moura tengah lapar saat ini. Dia memesan menu yang paling rekomended disini selain seafood tentu saja. Beruntungnya menu makanan disana terdiri dari berbagai macam pilihan mulai dari lokal bahkan menu western food juga ada.


"Bee," seru Raffa merubah raut wajahnya. "Inginnya aku menemanimu lama di sini. Tapi barusan sekretarisku bilang aku harus pulang dan menandatangani berkas di sana." wajah Raffa berubah sendu. "Bee, aku akan memindahkan kantorku kemari!"


"Uuhhhuuukkk!!" Moura langsung tersedak dengan penuturan mantan suaminya yang datar seolah memindahkan perusahaan semudah pindah rumah.


"Kamu baik-baik aja Bee, ini minum dulu.. Kamu mah ah!" Raffa menyodorkan air mineral. "Ga suka ya aku deket-deket di sini?" rutuknya kemudian.


"Ya kamu mikir atuh, kenapa aku susah payah kerja jauh-jauh kesini buat apa?!!" sergah Moura lantang, tanpa Moura sadari perasaan Raffa sakit mendengarnya. Akhirnya Raffa mengetahui dari mulut Moura wanitanya benar-benar menginginkan menjauh darinya.


Mereka berdua kembali di keadaan canggung setelah insiden barusan membuyarkan kencan romantis keduanya.


"Besok pagi aku pulang Bee..." lirihnya bermaksud pamit. "Aku mengajakmu kesini untuk berbincang serius empat mata tentu saja." Raffa menatap Moura benar-benar serius.


"Aku akan menunggumu Moura Putri Sarasvati! Aku akan setia menunggu kamu kembali padaku... Aku tidak akan mengganggu hidupmu sekarang ini. Silahkan jalani apa yang mau kamu lakukan, kejar mimpimu, gapai asamu! Aku tidak akan membatasi dan mencampuri lagi apa yang jadi ambisimu!"


Raffa menarik kedua tangan Moura dan menggenggamnya erat. "Aku akan buktikan, seumur hidupku hanya kamu wanita yang bertahta di hatiku Sayang..."


Raffa mencium kedua tangannya erat, degub jantung Moura berdetak semakin cepat hanya saja bayangan Noegha kembali sekilas mendatanginya. 'Kenapa muncul bayangan dia!! Jangan-jangan gua kena ajian Nyi Pelet bah!!' batin Moura justru berkecamuk pasal bosnya bukan tingkah Raffa padanya sekarang.


"Raffa, aku minta maaf." ucap Moura menundukan wajahnya sejenak, menghirup udara panjang dan menghembuskannya perlahan. "Aku memang sangat mencintaimu, tapi itu dulu. Saat kamu tidak pernah mengecewakanku. Aku tahu, setiap orang punya kesempatan berubah... Hanya saja─" Kalimat Moura tercekat.


"Apa kamu sudah mencintai pria lain Moura?" tanya Raffa pilu. Hal yang paling di takuti oleh dirinay adalah ada pria lain di hati Moura saat ini.


"Tidak! Aku tidak butuh seorang pria untuk membuat hidupku bahagia!" sahut Moura segera menyanggah prasangka mantan suaminya.


"Huh, aku tenang jika begitu... Toh ada Qilla... Kita akan selalu berhubungan mau bagaimanapun juga. Seperti yang kamu ucapkan sebelumnya!" Raffa menyeringai pedih setidaknya satu hal yang ingin ia pastikan sudah ia dengar.


Dia berpikir Moura akan selalu mencintainya, Raffa sendiri lupa bahwa hati manusia itu milik Sang Penciptanya. Tuhan yang Maha membolak-balikan hati manusia. Kita tidak bisa memastikan akhirnya hati ini bertaut dengan siapa.

__ADS_1


***


Keesokan harinya Moura kembali menitipkan putrinya pada daycare sebelumnya setelah beberapa hari suaminya yang menjaga Qilla di bantu oleh asistennya. Moura tengah menunggu angkutan umum sampai ada mobil mewah yang ia tahu milik siapa gerangan.


"Dia lagi..." gerutu Moura. "Datang ga di undang, pulang harus di paksa!" imbuhnya kemudian.


"Masuk!" seru Noegha dingin.


Datang tanpa pendahuluan, dia bahkan berujar sangat arogan. Membuat Moura berdecak kagum dia mempunyai bos yang angkuhnya menyaingi beberapa pemeran utama novel kenamaan yang sering ia baca di aplikasi entun.


Moura seperti sanagt hafal apa yang akan terjadi jika ia menolak, maka demi mempertahankan wajahnya dia menurut begitu saja.


"Heh, apa mantan suamimu kembali bosan padamu?" cecar Noegha setelah Moura duduk di kursinya.


"Bukan urusan anda!" sahut Moura acuh.


"Tentu saja jadi urusan aku, sakit hati oleh pria brengsek tidak di tanggung asuransi perusahaan apalagi BPJS!" rutuknya kesal.


"Ppppfffttt!" Sekuat tenaga Moura menahan tawanya dengan candaan pagi bosnya.


Noegha tidak menyangka candaan yang tidak ia sengaja itu membuat moodnya justru melonjak tajam. Dia juga tidak percaya semalaman dia tidak tidur dengan nyenyak. Ya boro-boro tidur hidup aja dia tidak nyaman, semua serba salah. Saat ingin melampiaskannya dengan wanita panggilan dia justru tidak bernafsu sama sekali!


"Mulai saat ini, Moura akan menjadi sekretaris saya selama Shaveera cuti melahirkan. Sebagai gantinya, ini adalah orang yang akan menggantikan pekerjaan Moura di bagian Project. Karena kedepannya, setelah Shaveera masuk, Moura akan menjabat sebagai Manager System menggantikan Pak Rizal yang sudah mengajukan pensiun dini dua bulan mendatang."


Seluruh staff yang di undang meeting dadakan oleh Noegha terbelalak tidak percaya atas pengumuman yang di bawa Noegha di pagi yang cerah meraka. Apalagi Moura, dia justru seperti berada di dimensi yang salah saat ini. Tiba-tiba saja ia sesak, mata kunang-kunang dengan pikiran yang melayang. Bosnya kesambet apa tiba-tiba mengajukan dirinya menjadi Manager System padahal belum ada satu tahun dia bekerja di perusahaan itu.


Beberapa orang ada yang memberi selamat dengan tulus atas pencapaian Moura, termasuk Keysha dan rekan di team project tentu saja. Mereka tentu saja mengakui kehebatan rekan kerjanya itu. Mereka justru berterima kasih banyak karena Moura, pekerjaan Keysha dan yang lainnya menjadi lebih mudah. Di departemen project sendiri semua data masih dalam bentuk manual di input satu per satu, setelah kedatangan Moura dia membuatkan sistem dalam sebuah aplikasi yang dia rancang sendiri sehingga mengolah RAB (Rencana Anggaran Biaya) hanya tinggal memasukkan data yang di berikan inspektor kemudian dengan sistemnya di olah menjadi laporan siap cetak tanpa perlu susah menghitungnya secara manual menggunakan Ms. Excel.


Tak jarang ada yang mencibir pencapaian luar biasa Moura, bahkan beberapanya mulai kembali menyusun rumor baru yang akan merebak kembali di Adhiaksa Group.


"Cih, gue yakin Si Moura itu bukan beneran pinter. Aslinya dia pasti cuma modal ngang*kang depan si Bos!!" gerutu salah satu rekan Margareth yang masih berada di Adhiaksa Group.


"Bener banget!! Siapa yang gak tahu kalo Si Bos kan pria casanova juga... Moura cerdik banget bisa manfaatin status jandanya. Siapa tahu dia salome ) ih amit-amit jabang babi!!" sahut salah satu rekannya menimpali.


Akhirnya rumor buruk mengenai Moura tidak ada habisnya di goreng netizen di Adhiaksa Group.


To be continue...


*****

__ADS_1


*) Satu lubang rame-rame.


__ADS_2