Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
31 # Terikat


__ADS_3

Akhirnya Moura luluh dan bersedia pergi bersama Noegha, mereka menghabiskan waktu bersama benar-benar terlihat seperti keluarga bahagia yang tengah menghabiskan akhir pekan mereka. Qilla tertidur di gendongan Noegha saat Moura sibuk memilih belanjaan bulanannya.


"Maaf ya Gha, kamu pasti cape gendong Qilla..." kata Moura saat mobil Noegha telah sampai di pekarangan rumah Moura.


"Aku justru sangat senang Sayang..." Noegha berbalik badan dan mendekat mencium pipi Moura. "Kita kerumah ku yuk?!" bisiknya kemudian menyentuh pipi Moura dengan ujung lidahnya membuat tubuh Moura bergetar karenanya.


"Ghaa..." Moura bermaksud menghardik dengan mendorong tubuhnya namun wajahnya justru semakin mendekat.


"Mmmm.... Mmmmcchhh!!"


Keduanya terlibat ciuman mesra, Noegha menarik tengkuk leher Moura semakin mendekatkan wajah Moura.


Moura menutup matanya dan membiarkan pria itu melakukan apa yang dia inginkan.


"Moura, kita ke rumahku ya!" kembali Noegha meminta pada wanitanya.


"Aku bawa perlengkapan Qilla dulu ya..." ucap Moura menandakan menyetujuinya.


Noegha begitu senang bukan main, dia mencium bibir Moura lebih dulu kemudian pria itu membantu Moura menurunkan belanjaannya. Qilla juga terbangun, Moura berencana menyusui putrinya lebih dulu sebelum akhirnya mereka kembali pergi.


"Aaarrghhh... Gha! Katanya mau ke rumahmu!" lenguh Moura saat Noegha tidak tahan untuk ikut menyesap salah satu pabrik asi sama seperti Qilla sebelumnya.


"Manis banget Sayaang... Nanti di lanjut di rumah ya Yang?!" bisik Noegha membuat wajah Moura memerah.


Braaak!


Noegha telah memasukkan semua keperluan Moura dan putrinya. Tanpa berlama-lama Noegha melesatkan kuda besinya keluar dari komplek.


Moura berdecak kagum saat pertama kali menginjakkan kakinya di rumah bosnya. Sebuah rumah yang berdiri di tanah kavling seluas setengah hektar dengan gaya minimalis modern yang memanjakan matanya.


"Ayo Sayang..." Noegha merangkul pinggang ramping Moura.


Wanita itu terdiam sejenak dengan menggendong putrinya yang tertidur dalam dekapannya karena lelah seharian bermain di luar.


"Aku malu Gha, di rumah ada siapa?!" tanya Moura menolak masuk.


"Tenang saja, di runah hanya ada security di depan dan satu bude yang bantu bersih-bersih. Dia tinggal di bagian belakang rumah!" bujuk Noegha menenangkan Moura.


"Nanti dia mikir macem-macem lagi terus ngasih tau keluarga kamu!" elak Moura kembali tidak nyaman.


"Orang tuaku tidak tinggal denganku Sayang... Masuk yuk, kasihan Qilla dia harus tidur di kasur!"

__ADS_1


Akhirnya Moura mengalah dan mau memasuki rumah. Di sambut dengan bude yang jadi pengurus rumah di sana Moura bertingkah seramah mungkin.


"Wah, Aden biasanya gak pernah bawa cewek ko sekarang bawa Den?!" canda si bude.


"Ah Bude kepo!" balas Noegha dengan candaan keduanya tertawa. Moura merasa canggung luar biasa.


"Bude kamar tamu di atas minta di bersihin ya." titah Noegha langsung.


"Siap Den!"


Noegha menarik tangan Moura menuju lantai atas dimana kamarnya berada. Moura sungguh berdebar kali ini. Pertama kalinya dia memasuki rumah yang mewahnya udah kayak rumah-rumah yang tayang di sinetron ikan terbang. Malah jauh lebih mewah berkali-kali lipat.


"Selamat datang di duniaku Sayang!! Kamu adalah wanita pertama yang masuk ke dalam kamarku!"


DEG!!


Tersentuh sudah perasaan Moura kali ini, dia hanya mampu menunjukan senyuman manisnya.


"Nanti kamu tidur di sini, Qilla bisa kan bobo di sebelah!" bisik Noegha mencium pipi Moura lembut.


"Sudah siap Den!"


"Makasi Bude, besok pagi jangan lupa siapin sarapan tambahan."


Tanpa pertanyaan apapun Bude penjaga seolah benar-benar mengerti tuannya. Padahal Moura sendiri sudah gelisah takut di sangka macam-macam.


Moura menaruh putrinya di akmar sebelah, dengan melingkarkan beberapa bantal di sepanjang sisinya agar putrinya aman.


"Aku sudah pasang kamera pengawas, kita bisa memantaunya di sebelah. Lagian dia nangsi pasti kedengeran." Noegha memeluk langsung tubuh Moura.


"Ghaaa..." elak Moura mencoba mendorong Noegha.


"Ayok..." Dengan wajah penuh hasrat pria itu kembali menarik tangan Moura segera.


Dengan perlahan Noegha menutup pintu kamar tamu dan kembali menuju kamarnya. Belum ada masuk ke dalam Noegha sudah mencium bibir Moura dengan ganas.


Moura tidak bisa menolak, tangan pria itu telah mengunci pergerakan tangannya.


Bruuk!


"Gha..." seru Moura lirih justru seolah terdengar menggoda di telinga Noegha.

__ADS_1


"Iya Sayaaangku!!" Noegah telah menanggalkan pakaiannya satu persatu.


'Oh ya Tuhan!! Pria ini akan menggila...' batin Moura merasa keadaannya tidak menguntungkannya atau memang ini juga yang ia inginkan sebenarnya.


Noegha semakin mendekat dan Moura semakin beringsut mundur ke belakang pembatas ranjangnya.


"Gha, semalam itu kecelakan..." bujuk Moura kembali memelas pada pria di depannya.


"Aku tahu, apa kamu tidak ingat semalam kamu justru yang memper*kosa aku Honey!!" Noegha menyeringai saat mengingat kisahnya semalam.


"Kamu memaksa aku untuk membantumu menghilangkan gairah dan rasa panas membaramu!" Noegha telah menyentuh wajah cantik Moura.


"Sekarang giliran kamu membantuku Sayang!" Noegha mencium bibir Moura perlahan dan salah satu tangannya perlahan menurunkan pakaian yang masih melekat di tubuh Moura.


"Aarrghh... Ssshh! Gha..." lenguh Moura sama tersulutkan hasratnya.


"Moura... Aku akhirnya mengerti mengapa suamimu masih terus mengganggu mu! Karena milikmu nikmat sekali Honeey!!"


Moura menjerit saat senjata pria di depannya melesak masuk ke dalam hole miliknya. Tak hentinya Noegha meracau dengan kasar menyanjung betapa Moura pandai merawat bagian dari pusat tubuhnya.


Moura mulai membalas menikmati permainan panas mereka. Mereka seperti tengah meresmikan hubungan keduanya. Biasanya Noegha tidak pernah melewatkan dengan menggunakan pengaman, namun kali ini dia sama sekali tidak ingin. Dia sungguh menikmati penyatuan keduanya, berkali-kali juga Noegha menyatakan perasaannya di setiap pelepasannya.


"Aku menyukaimu Moura, aku mencintaimu Moura Putri Sarasvati... Menikahlah denganku!"


Deg!!


Tubuh Moura bergetar hebat, selain karena pelepasannya dan juga pelepasan pria patner ranjang panasnya Moura tidak menyangka Noegha langsung meminta dirinya menjadi istrinya bukan kekasihnya.


"Gha, aku sudah punya anak!"


"Lantas kenapa?! Aku tidak masalah... Aku akan menyayangi Syaqilla Shanum seperti putriku sendiri!!"


"Mengapa sulit membuatmu membukakan pi tu hatimu sayang? Kita berdua sudah seperti ini... Apa kamu ingin bermain-main dan benar-benar di cap wanita murahan hah?!" Noegha begitu emosi kali ini. Moura benar-benar wanita keras kepala.


"Gha, aku belum ingin menikah... Bisakah kita menyederhanakannya..." sungut Moura mempertahankan keyakinannya.


Noegha bangkit dari ranjang, menopang kepala dengan kedua tangannya. Keduanya masih berpenampilan polos. Noegha berbalik badan menatap Moura dengan senyuman.


"Bagaimana jika kita menikah siri lebih dulu. Aku juga tidak ingin terjebak dalam lingkaran dosa ini sayang!"


Mata Moura membulat sempurna dengan ide gila Noegha, kini dia merasa seperti para artis film pendek yang menjadi wanita simpanan para bos. Bedanya bosnya masih muda dan juga lajang!

__ADS_1


To be continue...


*****


__ADS_2