
Moura terdiam menatap lekat wajah manis pria di hadapannya. Debar jantungnya berdetak jauh lebih kencang dan pastinya jauh lebih cepat. Moura memastikan Noegha sendiri bisa merasakan dan mendengarnya.
"Moura, maukah kamu jadi wanitaku?" sambung Noegha kembali menyatakan perasaannya.
Mata Moura mulai berkaca dengan pengakuan bahkan perkataan yang terdengar begitu tulus di telinganya.
"Heh... Kamu sudah lihat, aku ini seorang janda aku juga membawa seorang bayi... Mana ada yang mau buy one get one! Orang yang pera*wan aja masih berserakan dan pastinya ngejar-ngejar kamu!" jawab Moura mendorong wajah Noegha.
Pria itu tersenyum dengan jawaban Moura yang sudah ia prediksi. Moura menjadikan status dan putrinya tameng untuk tidak memiliki hubungan dengan lawan jenis.
"Apa kamu juga tidak bisa lihat? Aku tidak mempermasalahkan statusmu, bahkan kehadiran Qilla aku justru senang... Orang tuaku tidak perlu berlama-lama menunggu cucu dia mereka udah punya yang udah jadi!" canda Noegha justru membuat hati Moura entah mengapa merasa tidak terima.
Bagi Moura pernyataan Noegha itu hanya seperti ungkapan pemanis agar memuluskan jalannya saja. "Aku minta maaf, aku belum ingin membina hubungan..."
Moura kembali menolak Noegha untuk kedua kalinya. Noegha menatap lekat Moura serius, tidak mungkin dia tidak kecewa. "Tidak masalah, aku yakin aku yang akan mendapatkanmu Moura!" bisiknya kembali mencium bibir mungil Moura.
"Aaarrghh... Arrghh!" lenguhan Moura keluar saat Noegha memaksa menjadi bayi besar dan meminta mencicipi asi yang biasanya diminum Qilla.
Selain menjadi bayi besar, pria itu juga mulai menggerakkan jemari besarnya di area bawah tubuh Moura yang hanya memakai terusan di atas lututnya.
"Kamu sudah basah sayaang..." bisik Noegha menahan hasratnya yang sudah sangat ingin di keluarkan saat ini juga.
"Aarghh jangan ya... Please!" rengek Moura merasa harga dirinya jatuh begitu saja saat ini.
"Aku pertama kali meminum asi dari pabriknya! Rasanya manis... Aku sangat menyukainya..." Noegha mengerlingkan matanya menggoda ke arah Moura yang terlihat sama tengah menahan hasratnya.
Bagi yang sudah merasakan nikmatnya bercinta tentu saja di beri rang*sangan akan menjadi kelemahan mereka.
"Huuuaaa!"
Tiba-tiba saja Qilla menangis kencang, keduanya saling bertatapan dan kemudian terkekeh bersama. Akhirnya Moura pamit pulang, Noegha meminta ijin menginap sayangnya di tolak mentah-mentah oleh Moura. Dia tidak ingin mengambil resiko dengan amukan masa nantinya. Dia juga harus menjaga nama baiknya di sini.
***
Moura telah bersiap, kali ini dia meminta bantuan pihak Daycare untuk menjaga putrinya hingga larut malam sesuai jadwal yang berada di undangan. Moura berkali-kali berterima kasih pada tetangganya yang begitu peduli dan pengertian akan keadaannya. Moura juga tidak tanggung membawakan beberapa kudapan dan pastinya mempersiapkan segala kebutuhan Qilla.
Sesuai janjinya Noegha menjemput Moura di kediamannya, sehari sebelumnya Noegha membelikan baju pasangan yang akan di gunakan keduanya dalam acara ulang tahun perusahan. Seperti tahun-tahun sebelumnya acara yang di persiapkan adalah makan malam bersama beserta beberapa penyerahan penghargaan bagi karyawan teladan dan juga adanya pembagian doorprize sebagai puncak kemeriahan.
Tidak tanggung-tanggu Noegha mempersiapkan satu unit mobil SUV yang akan di bawa pulang bagi karyawan yang beruntung. Sayangnya tahun ini kedua orang tua Noegha tengah melakukan perjalanan keluar negara. Selain melakukan pengobatan bagi ayahnya yang tengah sakit mereka memang jarang berada di dalam negara itu sebabnya Noegha sendiri lebih fokus menjalankan bisnisnya tanpa ada seseorang yang berisik meminta dia mengubah statusnya segera.
Sepanjang jalan Moura berdoa agar dirinya memenangkan hadiah utama, walau tidak begitu berharap tapi dia tetap merasa begitu gelisah entah kenapa. Keduanya berjalan bersama setelah keluar dari mobil mewah dua pintu yang di gunakan Noegha kali ini. Moura sampai tidak ingin menggores apapun disana sebelum dia di bebankan biaya perbaikan yang akan membuatnya jatuh miskin. Noegha sungguh senang berada dekat dengan wanitanya harinya kian berwarna. Kekonyolan Moura menjadi kesenangan tersendiri bagi pria itu.
__ADS_1
Banyaknya pasang mata yang terus menatap kehadiran keduanya, dari mulai yang senang melihat keduanya bersama dan tentu saja sebagian besar lagi menatap sinis tidak suka akan keduanya. Termasuk rekan Margareth yang sudah tidak sabar ingin menjatuhkan harga diri Moura setelah ini.
'Bersenang-senanglah sekarang bi*tch! Karena sebentar lagi kamu akan menangis mendapati segalanya hancur karena kesombonganmu sendiri! Hahahaha' umpat salah satu rekan Margareth yang tempo lalu di permalukan Moura di depan Noegha dan seluruh karyawan Adhiaksa.
Moura berhenti saat Noegha menggandeng tangannya dan membawanya berada di jajaran dewan direksi.
"A-aku duduk di belakang saja ya..." pinta Moura berbisik di belakang tubuh Noegha.
"Kenapa?" tanya Noegha tidak suka.
"Kamu lihat aja, mereka menatapku tidak suka!" ujar Moura tetap tidak bisa melangkahkan kakinya.
"Hehe, kamu tenang saja ya... Tidak ada yang akan mengganggu atau berani padamu selama kamu berada di sampingku." bujuk Noegha menenangkan wanita pendampingnya.
"T-tapi gimana kalo pas kamu ke toilet?" tanya Moura mengada-ngada.
"Pppftt! Aku tidak ingin di bantah!" ancam Noegha kembali menarik tangan Moura untuk merangkul tangannya.
Semua mata terpusat pada keduanya, Noegha dengan bangga menggandeng Moura sedangkan wanita itu sepanjang jalan dia komat-kamit bukan melafalkan ajian melainkan tengah berdoa dan berdzikir agar di jauhkan dari para syaitonirozim!
"Ciee dah go public!" sindir Shaveera mengejek sepupunya.
'Mengapa harus sama Moura Si Janda itu siihhh! Kenapa gak sama gue aja sih yang masih single rapet gini!!' jeritan para netizen wanita yang begitu iri pada Moura saat ini.
'Ya Looorrrd gue beneran bakalan di targetin hater kalo begini jadinya... Bye-bye hidup tenang!!' rintih Moura frustasi.
Acara demi acara berlangsung dengan lancar, Noegha telah selesai memberikan sambutan hangatnya. Dia sendiri tidak ingin melakukan klarifikasi tentang hubungan dia dan Moura. Dia tidak bisa mengambil keputusan sepihak saat ini. Noegha benar-benar belajar sesuatu dari hubungannya dengan Moura. Dia belajar menghargai dan menerima keputusan wanitanya. Bukan berarti dia menyerah, hanya saja dia yakin hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Dia akan terus berusaha meyakinkan Moura bahwa dia benar-benar tulus padanya.
Acara selanjutnya akan di teruskan setelah break time. Seluruh orang tengah menikmati hidangan yang tersedia, termasuk Moura.
"Gha, boleh gak aku temui Key temen aku dulu?" tanya Moura sedikit merengek manja.
"Kamu ngomong gitu beneran pengen cium kamu!" bisik Noegha tepat di depan telinga Moura.
Moura segera menjauhkan tubuhnya dari Noegha membuat pria itu tertawa menampilkan sederet gigi putih rapinya.
"Astagaaa Pak Noegha tertawa di depan Moura!" pekik lirih salah satu karyawan yang selalu saja memusatkan pandangan pada bos tampannya.
'Wah, Moura benar-benar special ternyata ampe bikin si beruang es ini mau tertawa begitu!' batin Shaveera merasa senang ternyata sepupunya benar-benar dalam mode jatuh cinta.
"Hiishh!" Moura memukul bahu Noegha tanpa canggung. "Aku pipis pun gak boleh kah?" tanya Moura mencoba untuk sejenak terlepas dari Noegha.
__ADS_1
"Oke yok aku antar!" canda Noegha terlihat posesif kali ini.
"Issh c a b u l!" Moura menutup tubuhnya yang sedikit terbuka di depan Noegha membuat pria itu semakin gemas di buatnya.
Tanpa Moura sadari, sedari awal melihat tampilannya pria itu bagai jatuh hati dalam pandangan pertama. Wanitanya tidak begitu memperlihatkan lekuk tubuhnya karena memang Noegha meminta designer untuk menutupi bagian yang mungkin jadi pusat perhatian orang. Hanya saja bagian depan Moura yang memang jauh lebih besar membuatnya mencetak jelas, beberapa kali Noegha menelan ludahnya setiap menatap belahan dan bentuk bulat sempurna di depannya. Itulah alasan kemanapun Moura pergi harus dalam jarak pandang dirinya.
'Moura, betapa aku tidak tahan lagi untuk milikin kamu Sayaaang!' batin Noegha menatap lekat penuh cinta ke arah Moura.
Di tatap begitu Moura salah tingkah dengan wajah merona merah semakin membuat Noegha gemas dan refleks mencium punggung tangan Moura.
"Aaarrghh" Beberapa wanita tengah memekik kepanasan di meja barisan paling belakang.
Moura terpaku, dengan otak sengklek Michel dan Shaveera keduanya tambah memanasi ruangan itu dengan menyuruh bagian musik memutarkan sebuah lagu. Demi membantu saudaranya keduanya melakukan berbagai cara agar Moura mau terjerat pada Noegha.
Lying here with you so close to me
It's hard to fight these feelings, when it feels so hard to breathe...
Caught up in this moment... Caught up in your smile...
I never open up to anyone...
So hard to hold back when I'm holding you in my arms...
We don't need to rush this
Let's just take it slow...
Noegha menatap lekat mendalami dalamnya manik bening Moura yang mulai berkaca tanpa mampu berkata.
"I love you Moura Putri Sarasvati!" lirih Noegha tak terdengar namun gerak bibirnya jelas terbaca oleh Moura membuat wanita itu tak kuasa menjatuhkan air matanya.
'Bagaimana bisa dia mengucapkan cinta saat kita baru beberapa kali bersama? Apa dia tidak ingin mengetahui sifat asliku? Atau dia memang tengah bermain-main saja menarik simpatiku?'
Setiapkali pria manapun tertarik padanya, bahkan mantan suaminya sekalipun dengan cepat Moura menarik diri untuk mencari pembenaran atas penolakannya. Dia benar-benar tidak ingin kembali berurusan dengan lawan jenis. Sudah cukup dia kecewa pada mantan suaminya. Dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, yang akan membuat dia kembali merasakan apa itu merana.
To be continue...
*****
Note : Lirik lagu Just A Kiss - Lady Antebellum by lirik.kapanlagi.com
__ADS_1