Simpanan Boss Lajang

Simpanan Boss Lajang
15 # Bullying


__ADS_3

Semua mata semakin terbelalak dengan kedatangan Noegha yang membantu Moura saat wanita itu kembali tertindas di kantornya. Moura menatap tanpa berkedip dengan respon Noegha dia tidak ingin hatinya baper atas apa yang di lakukan Noegha selama ini.


"M-maaf Paaak," lirih Ratu gemetar ketakutan.


"Arrgh..." Ratu meringis saat lengannya di hardik kasar oleh tangan besar Noegha.


"Kalian sungguh menjijikkan! Sangat senang mencampuri urusan pribadi orang, apa kepribadian kalian sudah paling benar HAH?!" bentak Noegha menatap nyalang pada Ratu kemudian menyapu ke seluruh orang yang menyaksikan mereka.


"Ini yang terakhir kalinya aku melihat dan mendengar kalian menindas Moura!" tekan Noegha mengancam. "Jika sampai terjadi lagi, silahkan kemasi barang kalian Adhiaksa Utama tidak membutuhkan manusia yang tidak berguna seperti kalian. Hanya tahu menindas saja!!" pekik Noegha membuat semua orang menundukan kepala mereka terlebih Ratu dia sangat ketakutan.


'Sialaaaan kenapa harus ketahuan sama si Bos sih! Kayak gini gue mana bisa dapat duid dari Margareth. Misi kita gagal total...' rutuk Ratu dalam hatinya.


"Michel, bawa Ratu dan berikan sanksi yang setimpal. Aku melakukan hal ini agar kalian mengerti bahwa tidak boleh lagi terjadi penindasan sesama karyawan! Ini peringatan buat kalian..." titah Noegha keras pada Michel yang di dengar oleh semuanya.


Noegha menarik tangan Moura kembali keluar gedung perkantoran mereka. Moura mengernyitkan keningnya, "Mau kemana Pak?" tanya Moura takut.


"Michel, bilang pada Pak Khairul pegawai barunya ini terlambat sedikit!" titah Noegha kembali sebelum mereka benar-benar menghilang dari kantor Adhiaksa.


"Baik Pak..." Michel mengerti dia kembali berurusan dengan bagian personalia membawa Ratu untuk menerima sanksi atas apa yang sudah dilakukannya.


Noegha menyeret Moura yang kini seluruh pakaian bagian depannya basah karena siraman air yang di lakukan Ratu sebelumnya. Bisik-bisik beberapa karyawan terdengar di saat mereka membubarkan diri dari pertunjukan hebat barusan.


"Enak ya jadi si Moura, di bela terus ama si Bos!" cicit salah satu karyawan.


"Bener! Kalau mau di bela si Bos lu mesti good looking dulu kek Moura. Hahaha" sahut temannya kembali memperbincangkan rumor kedekatan Moura dan Bos mereka.


"Btw, doi janda loh bawa satu anak pula. Bos kita buy one get one HAHAHA!" tawa ejekan beberapa orang mulai kembali menggema.


"Huss... Ingat kantor itu tidak berdinding, salah-salah tar kita di panggil ke HR tar kek dua orang apes itu kena sanksi." Salah satu karyawan mengingatkan karyawan yang lain yang masih asik mengghibah Moura.

__ADS_1


Di lain sisi Moura dan Noegha sudah berada di pelataran parkir kembali. "Kita mau kemana?" tanya Moura setelah mereka sudah berada di mobil mewah si pria.


"Ganti baju kamu lah, kamu mau masuk angin kayak gitu?!" tukas Noegha perhatian pada si wanita. Moura membuang wajahnya dia menyembunyikan wajahnya yang memerah karena tersipu atas perhatian yang di lakukan oleh bosnya.


'Kamu kayak gitu terus aku tidak jamin bisa bertahan untuk tidak jatuh pada pesonamu!' batin Moura merasa takut kembali merasakan apa itu namanya jatuh cinta.


Noegha kembali fokus mengendarai kuda besinya sesekali dia memperhatikan Moura, sejurus kemudian tubuhnya gelisah saat melihat tampilan depan Moura yang terekspos jelas di kedua netra Noegha. Moura tengah mengenakan kemeja putih polos di padukan dengan blazer abu-abunya dengan celana dasar yang senada dengan warna blazernya. Hanya saja tumpahan air itu menunjukan bagian buah dada yang tercetak jelas di kemeja Moura yang transparan saat terkena air.


'Huh, sialan baru liat dikit aja Si Junior udah menggeliat. Ga kebayang kalaauu... Aaarrrghhh kenapa otak gue jadi nista gini sih!' batin Noegha bergejolak hebat, dia gelisah dan menggigit jemarinya saat tengah menunggu traffic light.


Noegha tidak membawa Moura kembali ke rumahnya melainkan ke sebuah butik untuk membeli pakaian barunya.


"Kok kesini? Rumah aku kan tinggal lurus aja kok belok?" tanya Moura keheranan.


"Kita beli baju kamu aja ya, aku yang traktir. Itung-itung ini bentuk permintaan maafku selama di kantor kamu selalu di tindas oleh karyawan lamaku." ujar Noegha menatap Moura dengan senyuman tampannya.


Moura mengerutkan keningnya, Ratu yang menindasnya tapi Noegha yang melakukan aksi permintaan maaf apa ada sesuatu yang Moura tidak ketahui? Apa mungkin ini konspirasi, ah Moura tidak merespon apapun lagi hari ini dia akan mencoba patuh dia sungguh lelah sepagi ini dia sudah menerima masalah.


***


"Kamu gak apa-apa Ra?" tanya Keysha yang sudah mendengar apa yang terjadi di lobby bawah.


Keysha merupakan karyawan teladan, dia selalu datang lebih awal di kantor. Selama beberapa hari kemarin dia selalu melewati kejadian penting seperti barusan.


"Iya Key, gue heran sih ama Margareth and the gank! Senang beneer nindas gue!!" rutuk Moura kesal atas apa yang di alaminya selama kurang dari sebulan dia bekerja selalu menerima pembullyan oleh rekan satu tempat kerjanya.


"Ya wajar Cin, lu adalah saingan berat mereka!" sahut Keysha menjawab kekesalan Moura. "Semua karyawan Adhiaksa tahu kalo Si Ratu Bullying Margareth suka banget ama Si Toke! Sayangnya Si Toke ga pernah ngerespon Selebgram itu..." terang Keysha membesarkan hati Moura.


Moura hanya menganggukan kepalanya beberapa kali dia seolah mengerti apa yang jadi dasar utama cewek-cewek itu menindasnya. Moura mendengus kasar, dia kembali menyalakan komputernya dan mulai mengerjakan pekerjaan yang sudah menunggu di selesaikan dengan cepat.

__ADS_1


"Eh btw, rumor status itu bener ga Ra?" tanya Keysha hati-hati saat ini. "Sorry Ra, gue cuma mau pastiin langsung dari lo. Jadi kalau ada yang ngejek elu gue lawan juga!" imbuh Keysha mengerti bahwa ini masalah pribadi Moura dia khawatir temannya tersinggung atas pertanyaannya.


Moura menundukan wajahnya sendu, kemudian menatap Keysha. "Aku minta maaf, aku kemari bekerja dengan sebuah kebohongan. Aku memang seorang janda dengan satu anak yang masih berusia enam bulan." lirih Moura sendu.


Keysha menutup mulut dan kedua bola matanya membesar tidak percaya ternyata rumor yang beredar benar adanya. Tak lama dari itu telpon ruangan berdering yang berasal dari departemen personalia mengatakan bahwa Moura harus menghadap mereka. Jantung Moura kembali diremas dengan kencang. Apa yang akan dia katakan pada bagian itu? Dia benar-benar berbohong pasal statusnya. Meskipun Noegha mengatakan tidak mempermasalahkannya apa iya dia mencatut nama Noegha saat bertemu manager HRD.


Keysha menguatkan Moura dengan menggenggam jemari tangannya dan mengatakan berada di pihaknya, Moura tersenyum berterima kasih atas perhatian Keysha padanya. Dia segera bangkit dan menuju bagian personalia, sepanjang jalan di lorong dia bertemu beberapa orang dan di sambut dengan tatapan mata jijik ke arahnya, tidak hanya itu mereka tak tanggung berbisik lirih dengan terang-terangan menggunjing dirinya. Moura menghela nafas berat, dia berusaha tersenyum kuat dan berkata ingin menemui manager personalia.


***


Moura sudah menemui bagian personalia benar saja, manager mereka sama memberlakukan sanksi pada dirinya. Dia sungguh apes gara-gara Noegha yang selalu mencoba menempel padanya semua wanita yang menggilainya mengerjainya terus menerus.


"Huh!" Moura mendengus berat, dia segera memasuki salah satu pintu kamar mandi dan menyelesaikan hajatnya.


Ceklek!


Traaak!!


Moura terkejut, dia seperti mendengar pintu masuk area toilet terkunci dan kini lampu ruangan dimatikan.


"Hiisshh!! Ga ada habisnya mereka gangguin gue!!" rutuk Moura sebal masih terjebak di dalam toilet yang kini gelap gulita.


Mudahnya Moura tinggal keluar dari kantor itu dan mencari kantor baru yang lebih berisi manusia yang lebih manusiawi dari manusia-manusia di sini!


Sayangnya, Moura sudah terikat oleh ancaman Noegha terlebih pantang bagi Moura menyerah pada musuhnya kali ini!


"Kalian ingin perang, okey mari kita lihat sekarang siapa yang akan menang sampai salah satu dari kita terusir dari Adhiaksa." gumam Moura menyeringai.


Moura mengulumkan senyuman, dia tiba-tiba memiliki rencana. Rencananya adalah pedang bermata dua. Satu sisi menguntungkannya, di sisi lain membahayakan posisinya. Tapi dia sudah tidak punya pilihan lain.

__ADS_1


To be continue...


*****


__ADS_2